Lompat ke isi

Salah Kaprah Bahasa Indonesia

Januari 24, 2012

Bahasa yang terdengar lumrah kadang justru yang salah.

Baiklah, kali ini aku ingin berbagi tentang pelajaran Bahasa Indonesia. Aku termasuk orang yang menaruh perhatian lebih terhadap bahasa. Maklum, aku bekerja di sebuah media. Tahu sendiri kan, kekuatan media adalah kemampuan mengolah kata-kata. Salah satunya ya penggunaan bahasa.

Tadi pagi kebetulan dapat unggahan dari redaktur bahasa. Ada beberapa salah kaprah terkait penggunaan kata setelah kutipan, terutama bagi teman-teman jurnalis. Aku ingin sarikan dan bagi di sini. Mudah-mudahan berguna.

Kata yang sering kita pakai untuk mengakhiri kutipan adalah ujar (ujarnya), tutur (tuturnya), kata (katanya) dan ucap (ucapnya). Ini adalah kata benda. Sementara ada beberapa kata dasar non benda yang sering dipakai untuk mengakhiri kutipan. Misalnya tegas (tegasnya), terang (terangnya), jelas (jelasnya), beber (bebernya), pungkas (pungkasnya), dan tutup (tutupnya). Akhiran kutipan yang berasal dari kata non benda ini tidak dipakai di media tempatku bekerja. Read more…

Sedikit Mitos tentang Profesi Wartawan

Januari 22, 2012

Banyak yang salah sangka tentang pekerjaan wartawan.

Begitulah, sesuatu yang berkilau di luar kadang pengap di dalam. Termasuk profesi wartawan (iya, AJI mengkategorikan wartawan sebagai kerja profesional). Saat kecil, kakekku bilang kalau mau sering muncul di televisi dan jalan-jalan ke luar negeri jadilah wartawan. Faktanya? Tidak sepenuhnya benar.

Dulu, mungkin ya, menjadi wartawan bisa jadi adalah profesi bergengsi. Bayangkan saja, media cetak terbatas. Kalau mau bikin, perlu segala ijin. Sementara, televisi juga tak banyak. Makanya, kita hafal sampai sekarang penyiar berita macam Desi Anwar dan Dana Iswara. Portal-portal berita nyaris nggak ada. Wartawan juga otomatis tidak sebanyak sekarang. Read more…

Nama Alias Lelaki Bali

Januari 20, 2012

Mengapa kebanyakan lelaki Bali memiliki nama alias?

Tulisan ini ringan saja. Oke, jadi kali ini aku akan bercerita tentang diriku dan sedikit orang-orang yang kuketahui. Tentang lelaki Bali. Ide ini terlintas begitu saja ketika aku ngobrol dengan seorang kawan di DPR. Dia bertanya, kenapa namamu Lenyot? Agak bingung juga jawabnya. Kenapa ya? Aku sendiri balik bertanya.

Nama ini sendiri sudah disematkan, ceilah, sejak kelas 6 SD. Sudah bertahun-tahun. meskipun kedengaran aneh, nama ini tidak mengganggu. Bahkan, orang yang memanggilku dengan nama ini sudah meninggal dunia. Jadi, kenapa dia memanggilku “Lenyot” sudah tidak bisa dijelaskan lagi dan memang tidak perlu diperjelas. My name is Le, Lenyot! Read more…

Bola Panas Ruang Banggar

Januari 17, 2012

Hati nurani beberapa anggota DPR kadang harus kita cari di lubang pantat

Aroma kayu bercampur pelitur meruap di ruangan seluas lapangan voli itu. Bentuknya tak bulat, tak pula persegi panjang. Sudutnya lebih dari empat. Posisinya persis berhadapan dengan ruang rapat Komisi Hukum DPR. Hampir berada di pojok gedung Nusantara II. Agak dekat toilet dan gudang. Beberapa perangkat pengeras suara tergeletak di lantai. Sepertinya belum selesai dirakit. Tiga CCTV dipasang di sudut bagian atas untuk memantau pengunjung ruangan.

Karpet dibuat seempuk mungkin. Pada bagian tengah yang lengang, penutup lantai berwarna merah kombinasi warna gelap. Di barisan kursi, dipasang karpet abu-abu tua. Sementara meja berwarna cokelat kayu dengan ornamen abu-abu. Masih licin dan mengkilap lengkap aroma cat. Dinding berwarna putih dan krem berkonsep minimalis untuk membuat kesan berwibawa. Read more…

Perempuan Tua yang Tak Lelah Mencari Keadilan

Januari 14, 2012

Menyerah pada keadaan bukan pilihan yang bijak.

Suatu malam di tahun 1968.
Matanya baru terpejam. Lelah sudah bergemuruh di sekujur tubuh. Penat dengan mudah membawanya terlelap, dalam sekejap. Sayup-sayup telinganya mendengar suara gaduh. Pukulan benda keras menghantam kayu. Suara popor senjata yang beradu. Dia terjaga, mengerjapkan mata. Kesadarannya belum pulih benar.

Perlahan, dia beringsut dari tempat tidur. Di ruang tamu, dia melihat sang ayah sudah siaga. Matanya awas. Lelaki tua itu menempelkan telunjuk di bibirnya. Pertanda diam. Gedoran pintu tak berhenti. Mereka saling pandang. Tegang. Pintu dibuka. Tiga senapan laras panjang langsung menunjuk hidungnya. Dia dibawa ke mobil yang menunggu di halaman depan. Gerakan 30 September sudah hampir tiga tahun berlalu. Riuhnya masih terasa hingga malam itu.Titik itulah yang mengubah hidupnya. Read more…

Kamseupay, Gelar dan Mereka yang (Tak) Peduli

Januari 9, 2012

Penghibur sejati, bisa membuat kita tertawa terbahak-bahak hanya karena satu kata.

Itulah yang dilakukan Marissa Haque. Lontarannya, Kamseupay, membuat kita melongo. Dari bahasa mana itu? Aku membaca blognya. Rupanya di situlah kata berbau agak Melayu itu ditulis. Dengan emosi kentara. Kamseupay mendadak tenar. Dia menjalar dan merembet di linimasa. Konon, kosakata ini pernah populer pada era 1980-an. Lewat media yang bernama twitter, kata ini kita kenang. Kita tertawakan.

Kamseupay ditujukan kepada seorang perempuan cantik, Dee Kartika. Aku tidak paham siapa dia. Tapi dia sering berbalas kicau dengan beberapa selebtwit cowok. Cewek cantik memang lebih gampang memikat. Di bio-twitter, dia menulis dirinya dengan berbagai macam jabatan. Aku kira dia orang yang hebat dan terkenal. Read more…

Sandal Jepit dan Perlawanan Itu

Januari 7, 2012

Kekuasaan dan kesewenang-wenangan harus dilawan.

Suatu ketika di tahun 1793 di sudut kota Paris. Satu kelompok berpidato dalam sidang. Mereka berkata, “Kamilah kaum yang miskin dan berbudi. Kami tahu siapa kawan kami, mereka yang melepaskan diri dari sistem feodal, mereka dijuluki kaum anarkis.” Revolusi Prancis pecah sesudahnya.

Pada kita hari ini, perlawanan itu datang dari sandal jepit. Kasta terendah juga termurah dari semua bentuk alas kaki manusia. Tapi, untuk sejenak dia menjadi primadona. Ribuan sandal jepit dikumpulkan menjadi simbol perlawanan. Lucu sekaligus ironis. Read more…

Dua Tahun Penuh Cerita

Januari 4, 2012

Awalnya hanya sebuah kata. Lalu berakhir dengan cerita.

Dua tahun memang bukan waktu yang panjang. Selama dua tahun ini terlalu banyak hal terjadi. Mungkin juga banyak yang terlupa. Terlewat karena hari yang selalu beranjak dengan tergesa. Bergegas karena tak pernah mau menunggu.

Lucunya, mata kita tak pernah bertatap setiap hari ini. Ujian? Bisa jadi iya. Kemungkinan? Itulah yang sebenarnya. Aku ingin mengutip EndahnRhesa: meskipun berjauhan, kita sebenarnya sedang menatap bulan yang sama. Dengarkan lagu, Wish You Were Here. Kita berjumpa di sana dan mendendangkan lagu yang sama. Read more…

Mengenang Gus Dur dengan Tawa

Januari 4, 2012
tags:

Jujur saja, aku tidak tahu banyak tentang Gus Dur.

Suatu ketika di tahun 1999. Aku berangkatlah ke sekolah. Hari penerimaan raport. Aku berangkat dengan sepeda motor butut ke Jalan Denpasar Gilimanuk. Di jalan inilah, aku menumpang angkutan umum ke sekolah. Tapi, suasana pagi itu sangat pikuk. Pohon-pohon bertumbangan di sepanjang jalan. Mobil tidak ada yang melintas. Aku melihat tulisan pada sebuah tembok: Turunkan Gus Dur! Gus Dur presiden buta. Rupanya, masyarakat Bali kecewa dengan kekalahan Megawati dalam pemilihan presiden.

Saat itulah pertama kali aku tahu nama Gus Dur. Sejalan bertumbuhnya usia, aku semakin rutin mendengar namanya. Dia presiden, mengalahkan Megawati, lalu diturunkan dengan paksa. Bukunya juga tidak pernah aku baca. Itu saja. Nyaris aku tidak memiliki kekaguman pada tokoh yang satu ini. dulu. Read more…

Kenapa Pacaran Harus Saling Mengekang?

Januari 3, 2012
tags:

Aku justru ingin menyatakan sebaliknya: pacaran seharusnya saling membebaskan.

Kenapa? Bagiku, ini karena hubungan akan terbentur pada dua kemungkinan. Pertama, karena ada kemungkinan akan putus. Kedua, karena akan langgeng terus dan berlanjut ke jenjang lebih serius.

Adalah lucu buatku jika pacaran harus diikuti segala macam larangan terhadap pasangan. Larangannya macam-macam: tidak boleh bergaul, tidak boleh berkegiatan, atau tidak boleh berorganisasi. Prioritas waktu pertama, untuk pacar. Kedua untuk pacar. Ketiga buat pacar. Beberapa kawan, setelah pacaran harus menghilang dari pergaulan karena ‘sibuk pacaran’. Lihat, ternyata pacaran itu menjadi semacam kesibukan. Lucu. Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.