Bola Panas Ruang Banggar
Hati nurani beberapa anggota DPR kadang harus kita cari di lubang pantat
Aroma kayu bercampur pelitur meruap di ruangan seluas lapangan voli itu. Bentuknya tak bulat, tak pula persegi panjang. Sudutnya lebih dari empat. Posisinya persis berhadapan dengan ruang rapat Komisi Hukum DPR. Hampir berada di pojok gedung Nusantara II. Agak dekat toilet dan gudang. Beberapa perangkat pengeras suara tergeletak di lantai. Sepertinya belum selesai dirakit. Tiga CCTV dipasang di sudut bagian atas untuk memantau pengunjung ruangan.
Karpet dibuat seempuk mungkin. Pada bagian tengah yang lengang, penutup lantai berwarna merah kombinasi warna gelap. Di barisan kursi, dipasang karpet abu-abu tua. Sementara meja berwarna cokelat kayu dengan ornamen abu-abu. Masih licin dan mengkilap lengkap aroma cat. Dinding berwarna putih dan krem berkonsep minimalis untuk membuat kesan berwibawa.
Di depan pintu masuk, berjejer empat buah kursi, lebih tinggi dibanding kursi di ruangan itu. Merknya VITRA. Buku panduan kursi ini menggunakan dua bahasa, Jerman dan Inggris. Dari buku panduan, kursi ini bisa menyesuaikan dengan tulang punggung, leher dan ukuran tubuh penggunanya. Kursi anggota sedikit lebih pendek. Formasinya dibuat agak melingkar, menghadap kursi pimpinan. Dari sampul kursi tercantum nama sebuah perusahaan: PT Dekorindo Selbytra. Perusahaan ini beralamat di sebuah Plaza di kawasan Pondok Indah.
Tiga layar LED datar terpasang di masing-masing sudut. Besar dan mencolok. Begitu masuk, mata langsung tertumbuk huruf kapital warna perak mengkilat: RUANG SIDANG BANGGAR DPR RI. Disamping tulisan, ada sejumlah ornamen peredam suara. Inilah Ruang Banggar yang dibangun dengan dana sebesar Rp 20 miliar. Hari ini, ruangan itu itu menjadi primadona. Dari anggota DPR hingga wartawan.
Proyek ini menghebohkan tidak hanya karena nilainya yang fantastis. Bukan pula karena pengerjaannya yang dilakukan saat reses. Seolah-olah ingin menghindari sorotan media. Tetapi, setelah mencuat di publik, semua pihak seakan-akan ingin lempar tanggung jawab. Badan Urusan Rumah Tangga menuduh Sekretariat Jenderal DPR. Sekretariat Jenderal menuding Badan Anggaran. Bolak-balik mereka saling melempar tudingan. Aku sih berharap mereka akan berjumpa di KPK.
Satu hal yang bisa jadi terlupa. Nilai Rp 20 miliar itu melukai hati publik. Hati kita semua. Mereka sama sekali tak peduli. Bagi anggota DPR, yang segalanya serba terjamin, barangkali menghabiskan dana sejumlah itu bukan persoalan. Tapi bagi orang yang membayangkan uang sebesar itu saja tidak pernah apalagi berpikir digunakan untuk merenovasi sebuah ruangan. Akal sehat kadang letaknya di pantat. Khusus untuk anggota DPR lho ya.
Aku berharap sih, ini jadi momentum buat KPK untuk masuk ke DPR. Isu yang beredar, pembangunan ini memakai dana siluman. Dulu, mantan aktivis yang sekarang duduk di urusan rumah tangga pernah dikecam akan dikeluarkan. Toh nyatanya, ancaman itu cuma pepesan kosong. Aku sih curiga, dia jadi tambang emas buat partainya.
Seorang anggota Dewan bilang ke aku, melihat spesifikasi ruangan, cukup dengan dana 20 persen dari pagu yang ada. Aku sih sepakat. Kursinya sih kalau kata seorang kawan akan awet selama 50 tahun. Tapi apakah kita yakin dalam kurun waktu itu tidak akan ada proyek sejenis? Berdasar pengalaman sih aku ragu. Lagipula, memakai produk impor ini semacam ironi paling najis yang ditunjukkan oleh DPR. Produk Jepara nggak kalah oke. Lebih artistik dan ergonomis malah.
Seperti lintah. Tentu saja kita mahfum kinerja birokrat kita.Menghisap. Sekaligus menjilat. Prinsip paling lumrah yang sering kita dengar: habiskan saja anggaran yang ada. Bagaimanapun caranya. Siapa tahu yang uang itu lari kemana?
Bola panas renovasi ruangan banggar masih telur disepak. Muaranya belum tahu hendak kemana. Mudah-mudahan penegak hukum segera mencetak gol dan mereka bersua di KPK…












ngeri deh. coba itu dananya dipake buat benerin sekolahan. atau membangun jembatan yg baik. bukannya mau menyelesaikan masalah, eh mereka kok malah cari masalah. harusnya pake tagline pegadaian donk ‘ mengatasi masalah tnpa masalah’ kenapa baru dibuka sekarang? setelah semuanya jadi. atau ini cuman pengalihan isu semata. ahhh lagi-lagi sandiwara. pemain drama semua ah!
Wah, wah, wah,… Tampaknya anggota DPR ni pada melankolis non produktif gitu ya?! Maunya yang bagus2 n sesempurna mgkin (fasilitasnya aja) n “niatnya” biar mendukung kinerja, tapi ya gitu deh, anak TK aja mgkin tau kinerja mreka semacam gmn. Kadang uang ada banyak jd bikin pembelanjaan ga sesuai “KEBUTUHAN” tapi cuma keinginan. Ini konyol. Tetap bagi info ya kak le,,, ditunggu deh info ttg peng-KPK-an oknum2 busuk terkait.. Hehe
elus-elus pantat deh ngeliat kelakuan mereka…
Ayo dukung ruang banggar masuk MURI sebagai ruang hasil renovasi paling mahal di Indonesia bahkan di dunia.
http://dreamindonesia.wordpress.com/2012/01/22/ayo-dukung-ruang-rapat-banggar-masuk-muri-sebagai-ruang-termahal-di-indonesia/
bingung sama anggota DPR sekarang. namanya aja yang wakil rakyat, tapi sama sekali tidak mencerminkan rakyat yang diwakilkannya
Weleh2 dananya 20 milyar bos? gila… banyak amat…