Agus Lenyot

Harry Potter dan Kastil Tua Skotlandia

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Maret 1, 2017

dsc05805
Udara dingin di akhir musim gugur langsung menyergap begitu saya keluar dari kendaraan dan menginjak halaman Kastil Stirling, akhir November tahun lalu. Penasaran, saya merogoh ponsel pintar mengecek suhu pagi itu. Lima derajat di bawah nol. Terik matahari tak kuasa mengusir dingin untuk makhluk tropis seperti saya. Saya pun segera merapatkan syal dan jaket, mencegah dingin menyelinap ke tengkuk.

Juan Jose Bermejo Dorado cuma tersenyum melihat kami, rombongan jurnalis dari Indonesia yang menggigil kedinginan. Juan Dorado merupakan sopir yang mengantar kami selama di Skotlandia. Dia terlihat amat antusias. Hari itu, kami berangkat dari Glasgow menuju Edinburgh. Di tengah perjalanan, Juan bercerita dengan semringah soal aneka kastil tua yang ada di Skotlandia. “Di sini juga lebih banyak hantu ketimbang di London,” kata Juan menakut-nakuti kami.

Saya bersama empat wartawan Indonesia diundang oleh Kedutaan Besar Inggris di Jakarta dan Garuda Indonesia untuk mengelilingi sejumlah kota di Inggris. Selain mengunjungi kampus-kampus dan berdiskusi dengan mahasiswa Indonesia, kami menyinggahi sejumlah tempat bersejarah. Kami menempuh perjalanan darat dari London, kemudian ke Oxford. Dari Oxford, kami beranjak ke Birmingham dan Coventry. (more…)

Iklan

Resensi Dangal: Mimpi-Mimpi Sang Ayah

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 3, 2017

dangal

Di pertandingan terpenting dalam hidupnya, sang ayah justru tak hadir untuk menyemangatinya. Hari itu, Geeta Phogat mesti berhadapan dengan pegulat Australia dalam Commonwealth Game 2010. Lalu kita tahu apa hasilnya jika pertandingan sepenting itu tak dihadiri oleh sosok yang sangat kita harapkan kehadirannya.

Itulah adegan di babak-babak akhir film Dangal, film besutan sutradara Nitesh Tiwari. Sebuah film yang menguras emosi penonton, yang mampu mengocok perut sekaligus membuat penonton mewek tersedu sedan di sepanjang cerita. Mohon siapkan tisu sebelum masuk ke bioskop. Saya penasaran menonton film ini karena skornya yang begitu tinggi di IMDB. Alasan lain, film ini dibintangi Amir Khan, yang sebelumnya tampil memukau dalam film PK.

Film Dangal terinspirasi dari kisah nyata Mahavir Singh Phogat, seorang pegulat amatir dari Haryana, sebuah kampung kecil di India. Dia meraih medali emas untuk kejuaraan nasional namun mesti memupus ambisinya menjadi juara internasional akibat ketidakbecusan pemerintah. Karirnya berakhir sebagai pegawai kantoran. Tekadnya tak pernah padam, keinginan mempersembahkan emas untuk negaranya tak pernah hilang dari kepalanya. (more…)

Buzzer Bayaran alias Pasukan Tanpa Ideologi

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 29, 2016

Di masa pemilu presiden, orang menjadi gila setelah pencoblosan selesai dan pemenang diumumkan. Tiga tahun berlalu, fragmentasi pendukung tak kunjung kembali ke titik netral. Kicauan pembenci dan pemuja Jokowi, baik yang berpikir menggunakan otak maupun dengan dengkul bersliweran setiap hari di media sosial. Beruntunglah mereka yang masih memiliki akal sehat untuk menikmati perpecahan ini dan melanjutkan hidup.

Situasi agak serupa, terulang di pemilihan gubernur DKI Jakarta. Bedanya di ajang ini, orang sudah menjadi gila jauh sebelum pertarungan dimulai. Caci maki dan tuduhan bersemburan sejak jauh-jauh hari dari pendukung maupun penghujat Pak Gubernur di media sosial. Aneka profesi tiba-tiba menjadi ahli di bidang tata kota hanya karena mendukung calon inkumben, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Seorang aktivis liberal bahkan menuding seseorang lainnya sebagai ‘penjual kemiskinan’ karena mengadvokasi masyarakat masyarakat korban gusuran. Para pendukung calon inkumben punya energi melimpah untuk menggebuk siapa saja yang menyenggol Pak Gubernur. Rachel Maryam salah satu korbannya. Foto semasa menjadi artis, yang sudah tak relevan dengan jabatannya sebagai anggota DPR diumbar ke publik.

Siapa yang paling militan? Tentu saja kubu yang berkuasa. Sejak awal mereka disokong pesohor Twitter yang mempunyai puluhan sampai ratusan ribu pengikut. Kelompok ini beririsan dengan kubu pendukung Jokowi di pemilu presiden. Narasi yang mereka bangun adalah para pesohor alias selebtweet ini bergerak murni karena gerakan moral tanpa bayaran.

Saya bertanya-tanya apa yang membuat orang-orang ini sedemikian berenergi mendukung calon gubernur? Benarkah hanya aspirasi murni bermodal ketulusan dari lubuk hati yang terdalam? Sulit membayangkan orang-orang ini bergerak secara tulus dan sukarela mengingat mereka juga mulai berekpansi ke Jawa Barat. Lingkarannya masih orang yang itu-itu saja. Apalagi yang bisa menjelaskan spirit ini kecuali ada kepentingan yang menguntungkan kelompok atau diri mereka sendiri?

Narasi inilah yang dibangun lewat Teman Ahok. Ada kelompok anak-anak muda yang khawatir Ahok tak bisa maju lalu membentuk gerakan mengumpulkan KTP. Awalnya kita dibuai, betapa adiluhurnya gerakan ini. Teman Ahok berawal dari kesadaran personal lalu viral menjadi kesadaran kelompok. Mereka adalah relawan, bergerak tanpa bayaran sama sekali. Begitulah narasi yang ingin mereka bangun.

Belakangan kita tahu, seperti ditulis Majalah Tempo, kelompok ini didesain oleh konsultan politik dengan modal yang lumayan besar. Ini adalah mesin yang diinjeksi modal sehingga bergerak menjadi besar, konon berhasil mengumpulkan sejuta KTP, walaupun tak pernah diverifikasi kesahihannya. Saya memahami mengapa belakangan aktivis Teman Ahok dan lingkaran dekatnya marah dengan Tempo. Sebab, narasi yang ingin mereka bangun akhirnya porak poranda.

Pola yang dibangun oleh buzzer ini nyaris sama yakni menghancurkan instrumen penting demokrasi lalu memunculkan satu tokoh yang dianggap hero. Konkretnya, mereka bakal membunuh karakter lawan politik sedemikian rupa. Mereka menggebuk DPRD DKI Jakarta sebagai begal anggaran, membangun opini bahwa semua DPRD adalah maling dan yang bersih hanya calon yang mereka dukung. DPRD, yang memang payah dalam soal korupsi, akhirnya menjadi bulan-bulanan publik.

Musuh kedua mereka adalah partai politik. Sejak awal mereka membangun jarak dengan partai politik. Lihat saja pernyataan awal kelompok buzzer ini terhadap partai politik. Partai politik dicap korup, pemeras dan sumber segala kebusukan republik. Kelompok ini pula yang paling gemar membully Setya Novanto ketika kasus Papa Minta Saham. Meskipun kita tahu Ahok memilih jalan dan siapa yang menjadi sponsor dalam pemilihan gubernur kali ini.

Pola mereka berikutnya menggebuk media massa yang kerap melancarkan kritik dan lawan politik. Tempo sudah menjadi korban. Media online lain pernah juga digebuk meskipun tidak semassif risak terhadap Tempo. Mereka juga nyinyir dengan tokoh yang bisa dianggap sebanding dengan penantang Ahok. Anies Baswedan sudah kena semprit, meskipun ketika itu menjadi calon gubernur saja belum. Risma juga pernah. Ridwan Kamil yang tak maju di Jakarta juga disikut entah karena apa.

Siapa pasukan terdepan mereka? Tentu saja pasukan di Twitter, yang mengklaim tak pernah dibayar. Sulit membayangkan di akal sehat saya, seseorang hidup di Jakarta, ngetweet sepanjang pagi hingga malam, menggebuk siapapun tanpa ada unsur kepentinyan lain. Tentu ada yang bergerak sukarela. Tapi lebih banyak mana yang bergerak karena komando dan strategi yang didesain matang?

Buat saya, buzzer bayaran adalah pasukan tanpa ideologi yang berpotensi merusak demokrasi. Ada buzzer yang dulu jadi pendukung calon A di pilkada DKI 2012, kini menjadi pendukung Ahok kelas wahid. Target mereka adalah membunuh karakter pilar demokrasi seperti partai politik dan media massa, lalu berusaha memonopoli kebenaran. Dari situlah mereka mengeruk keuntungan finansial.

Pasukan buzzer ini hanya melekat pada tokoh, bukan pada ideologi. Ketika si calon memilih jalur independen mereka menepuk dada sembari mencaci partai politik. Ketika calon memilih jalur partai, mereka kembali bersorak sorai memuji partai politik karena dianggap memilih tokoh yang tepat. Lalu, di manakah letak sebuah prinsip jika mencla-mencle dimaklumi? Integritas tak lagi penting selama sang calon mencapai tujuan, bagaimana pun caranya.

Mereka tak memiliki pertanggungjawaban moral apapun sehingga layak disebut perusak demokrasi yang sedang kita bangun pelan-pelan. Mereka tak punya pertanggungjawaban apapun terhadap publik. Bandingkan dengan partai politik memiliki mekanisme reward and punishment lewat pemilu. Jelek mereka bertindak, mereka tak bakal dipilih dalam pemilu. Media massa pun begitu. Ceroboh memberitakan, media bakal ditinggalkan pembaca.

Lalu, apa pertanggung jawaban orang-orang ini? Sama sekali tak ada. Contoh paling anyar soal buzzer kebakaran hutan. Mereka mengais rezeki di atas penderitaan korban asap. Kalau tak ketahuan, uang masuk kantong sembari berteriak-teriak soal penyelamatan lingkungan. Ketika ketahuan, mereka ramai-ramai mencari pembenaran lalu ketawa-ketiwi.

Lihat, apa hukuman mereka? Mereka masih bisa hahaha-hihihi karena tak memiliki prinsip dan mungkin juga urat malu. Seorang kawan-kawan menyebut kelompok ini sebagai orang-orang yang bakal tega, maaf saja, hidup dengan memakan bangkai manusia lainnya.

Seorang akun Twitter menyebut orang-orang ini sebagai penjual jempol ketengan. Saya kira ini adalah istilah yang tepat.

Mereka gagah berani mengumpan kicauan sehingga berbuah bully pada lawan politik. Mereka bekerja secara berkelompok, mencari target untuk dirisak. Untuk menunjukkan betapa berpengaruhnya mereka, mereka merapat ke gubernur hingga menteri. Sebab, berada di lingkaran kekuasaan akan memudahkan kepentingan kelompok mereka.

Rupanya mental orang-orang ini belum cukup kuat untuk terjun ke politik. Nyali mereka tak sebesar kicauan di Twitter. Ada dua pendukung Ahok yang mengunci akun karena dibully di Twitter. Lha, bagaimana mau memperjuangkan demokrasi kalau dicaci maki saja langsung ngumpet? Apalagi info terakhir, ada seorang pendukung Ahok stres dan down akibat ribut-ribut ini. Alamaaaak….

Jadi kesimpulannya begini, dulu makelar politik bersembunyi dalam ruang senyap-senyap yang tak terjangkau publik. Kini mereka berkeliaran di lini masa, mengais rezeki di atas penderitaan korban. Mereka nyata dan tak lagi punya malu.

Sudah saatnya partai politik mewaspadai gerombolan dan para makelar politik ini.

*Ditulis di keheningan Gunung Leuser*

Jangan Nonton Batman v Superman Sebelum Baca Ini!

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Maret 26, 2016

batman-v-superman

Ekspektasi berlebihan menimbulkan kekecewaan. Film ini menyumbang salah satunya.

Bruce Wayne (Ben Affleck) memacu mobilnya dengan lihai, meliak-liuk di sela jalanan Kota Gotham yang terimbas perang. Nun jauh di udara sana Superman (Henry Cavil) dan Jenderal Zod sedang berkelahi dengan amat hebat. Pertarungan ini merupakan lanjutan film Man of Steel.

Perkelahian ini memakan banyak korban. Seorang karyawannya gagal terselamatkan meskipun sempat dia telepon. Kemudian seorang laki-laki kehilangan dua kakinya meskipun juga sempat ditolong. Yang paling heroik, Wayne menyelamatkan seorang gadis kecil dari reruntuhan bangunan. Pertarungan Superman vs Zod menghancurkan Wayne Enterprise, simbol kekayaan keluarganya. (more…)

Dua Film tentang Jurnalisme

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Maret 14, 2016

Kill the Messenger

Keduanya berdasarkan kisah nyata. Menyoroti bagaimana jurnalisme investigasi bekerja.

Saya menonton dua film bertema jurnalistik beberapa waktu yang lalu. Selain Kill the Messenger, film lainnya adalah Spotligth yang meraih Piala Oscar. Spotlight tentu saja bagus, meskipun seharusnya tak menang Academy Awards sebagai film terbaik 2015. Ada film lain yang lebih layak memenangkan Oscar: The Revenant.

Sudahlah.

Saya ingin membahas dua film ini, karena erat dengan pekerjaan saya saat ini.

Jurnalisme investigasi adalah pekerjaan yang tidak selamanya menyenangkan. Setidaknya bagi Gary Webb, seorang jurnalis di media San Jose Mercury News. Suatu ketika dia mewawancarai seorang pengedar narkoba. Di tengah tanya jawab, segerombolan polisi menggerebek mereka. Hasilnya? Webb mendapatkan reportase yang amat basah. (more…)

Tagged with: ,

The Sixth Sense Review: Drama Psikologi yang Mengejutkan

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Februari 22, 2016
Cole dan Malcolm

Cole dan Malcolm

Film thriler psikologis, dialog yang intens dan mendalam serta gagasan yang eksekusi dengan brilian. Diakhiri dengan kejutan yang menakjubkan.

Cole Sear (Haley Joel Osment), 8 tahun, adalah bocah yang menderita. Kemampuannya melihat sesuatu yang gaib, membuat hidupnya tersiksa. Berkali-kali sang bocah, yang tinggal dengan ibunya Lynn Sear (Toni Collette), didatangi arwah penasaran. Datang kapanpun mereka mau tanpa bisa Cole hindari. Lynn pun frustasi menghadapi kelakuan sang putra semata wayang.

Selanjutnya kita tahu, ada hantu gentayangan yang menakut-nakuti seorang anak kecil. Kelakuan para arwah ini menakutkan Cole. Dia menciptakan benteng berkain merah, di dalam kamarnya. Akibatnya bocah cerdas ini menjadi introvert, digelayuti ketakutan setiap saat, dan penyendiri. Seorang bocah aneh yang sepanjang harinya berwajah muram. Modal yang cukup untuk menjadi film horor. (more…)

Terinjak-injak di Konser Iwan Fals

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 29, 2015

iwan_fals_konser_iwan_fals_panggung_utama_prj_jakarta_18_juni_2013-20130619-022-bambang
Pekan lalu, sembari menunggu seorang narasumber aku iseng membuka linimasa Twitter. Dari akun seorang kawan, aku memperoleh informasi Iwan Fals bakal konser di Pekan Raya Jakarta. Segera aku membuka webiste resmi PRJ dan mendapati jadwal konser Iwan Fals: Sabtu, 27 Juni. Akhir pekan. Aku sontak kegirangan.

Lagu-lagu Iwan Fals sudah lama menjadi teman hidup. Aku pertama kali mendengar lagu ‘Orang-orang Pinggiran’ saat masih kelas 2 SD. Liriknya, yang ‘hidup gue banget’, langsung menancap di kepala. Seketika aku merasa terwakili dengan lagu itu. Setelah itu, aku mulai mencari tahu lagu-lagu Iwan Fals, menelusuri segala informasi tentangnya meskipun tak pernah bergabung secara resmi dengan Orang Indonesia, organisasi resmi penggemar Iwan Fals. Aku hafal sebagian besar lirik lagunyanya karena kerap menemani saat aku kerja. Tema lagunya lintas batas. Mulai kisah cinta anak SMA, pengangguran yang sedang mencari kerja hingga cerita orang gedongan. (more…)

Dua Telepon dan Dua Tangan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 26, 2015

Seorang kawan kehilangan telepon genggamnya. Karena tak ingin direpotkan persoalan administrasi yang memang menjemukan, kawanku ini memilih sebuah nomor baru. Nomor berbeda dari penyedia jasa layanan seluler yang berbeda pula. Karena hanya bersifat sementara, aku sengaja tak menyimpan nomor baru kawanku ini di daftar kontak ponselku.

Lama berkomunikasi dengan nomor tanpa nama ini, sebuah notifikasi percakapan masuk ke layar ponselku. Nomor lama kawan yang beberapa waktu kehilangan ponsel. Setelah berbincang sejenak, akhirnya aku bertanya, “Nomor mana yang lebih sering kamu pegang?”

Kawanku menjawab, dua-duanya.

Aku mahfum. Di Indonesia orang lazim memiliki banyak ponsel. Setiap nomor, memiliki fungsi yang berbeda-beda pula. Satu nomor untuk keluarga, nomor kedua untuk rekan bisnis, nomor berikutnya untuk kawan lama hingga dan nomor selanjutnya buat kawan arisan. Mereka yang memiliki banyak telepon genggam, barangkali berpikir praktis saja: jika satu telepon berdering dia sudah tahu siapa yang menghubunginya. (more…)

Learn from Rolling Stone Article

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 20, 2015

Rolling Stone’s article about rape in campus realized us that how important to critical our anonymous resources. Even, they were reliable sources or closed friends. A Rolling Stone reporter Sabrina Rubin Erdely wrote an article, A Rape on Campus. This story told about gangbang rape befall a student was called Jackie, just Jackie, without her last name. Jackie told Erdely that she was raped by many students after the party in fraternity house called Phi Kappa Psi.

This article was amazing story, about faced rape brutally. Ederly believed in her and forgot to crosscheck to other sources that was mentioned by Jackie, people who was accused as a rapist. Immediately, Rolling Stone realized that this article infringes a standard procedure in journalism: verification. And then they asked Columbia Journalism School to investigating the making process of this article. Eventually, Rolling Stone acknowledge that this story was hoax, which was being recorded as new scandal in America’s history journalism. (more…)

Tagged with: , ,

Menjadi Jurnalis Kagetan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on April 7, 2015

Jurnalis yang terkaget-kaget mendapati suatu peristiwa bisa disebabkan sejumlah hal. Kurang baca, kurang riset atau memang pada dasarnya tak tahu.

Aku teringat dengan wartawan kagetan saat membaca kicauan Bagja Hidayat, editorku di media tempatku bekerja. Dia sedang membahas soal wartawan kagetan. Di dalam akun Twitternya, sepekan lalu Bagja menulis, “Menulis kagetan juga membuat kesan wartawan miskin, meskipun memang begitu faktanya. Kaget melihat pelayan warteg berbelanja tas Rp 2 juta.”

Screenshot_2015-04-07-18-41-17-1

Usai membaca beberapa kicauan itu, aku teringat bahwa ada banyak berita yang mengesankan wartawan kaget dengan fakta yang mereka temui. Di jurnalisme daring, indikator paling nyata soal jurnalis kagetan adalah berita berjudul dengan awalan, ‘Wow’, ‘Wah’, atau ‘Wuih’. Bisa jadi maksudnya adalah untuk menarik pembaca. Seolah-olah ada peristiwa luar biasa yang jarang diketahui publik. Sehingga perlu ditambah diksi yang, menurutku, lebay. (more…)

%d blogger menyukai ini: