Agus Lenyot

Pahlawan!

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 6, 2008

Semaun dan Tan Malaka. Nama itu hampir tidak pernah saya temukan dalam pelajaran sejarah ketika saya sekolah dulu. Tetapi di kalangan aktivis kekiri-kirian, nama di atas tentu tidak asing lagi. Semaun adalah tokoh PKI ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun bersama Muso. Oleh Soekarno, Semaun ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Namanya tenggelam hanya berembel-embel PKI! Bangsa ini memang tidak pernah menenggang sesuatu yang berbau kiri. Tan Malaka sendiri merupakan salah satu pemikir Indonesia modern.
Dia ikut meletakkan fondasi negara kebangsaan. Dan oleh Soekarno pula, Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Menyedihkan lagi, hingga hari ini, tidak ada satu orang pun yang tahu dimana jasad Tan Malaka dimakamkan. Tetapi dalam perjalanan sejarah, mereka terlibat dalam pertarungan politik dan ideologi sehingga harus berbenturan dengan kekuasaan yang ada.
Yang menang, akhirnya melenggang dan yang kalah harus tersisih. Pertarungan antar elit membuat mereka memiliki posisi yang berbeda dengan ratusan pahlawan nasional. Ada yang diagung-agungkan dan dipuja-puja tetapi tidak sedikit juga yag dilupakan (lebih tepatnya sengaja dilupakan).
Tanyalah kepada generasi muda siapa yang mengenal sosok Kartosuwiryo? Kita hanya mengenal Kartosuwiryo adalah pemimpim pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) terhadap kedaulatan NKRI di era Soekarno. Tetapi adakah yang tahu jika Kartosuwiryo adalah salah satu peserta Konggres Pemuda II 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda?
Sejarah memang beragam dan tidak bisa diseragamkan. Dia hadir sebagai sebuah perspektif dan berjalan beriringan dengan kekuatan politik yang sedang berkuasa. Siapa yang berani menyebut PKI ketika Soeharto berkuasa? Bersiap-siaplah dijuluki komunis atau tidak Pancasilais. Penerbit mana yang berani menerbitkan buku-buku Pramoedya Ananta Toer ketika segala sensor dan bredel diberlakukan secara membabi buta terhadap produk-produk yang (katanya) berbau komunis? Padahal, tetralogi mahakarya Pram menjadi sebuah warna sendiri tentang sejarah bangsa ini. Dunia internasional begitu menghargai karya-karya Pram dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Ironisnya, penerbit Hasta Mitra harus berurusan dengan pihak yang berwajib karena berani menerbitkan karya Pram. Alasannya: buku Pram mengandung paham Marxis. Tetapi ketika disuruh menunjukkan bagian mana yang mengandung paham Marxis, sang introgator tidak mampu menjawab.
Sejarah dan kekuasaan adalah dua sisi yang berjalan beriringan. Kita dibuat terhenyak ketika mendengar Bung Tomo, penggerak rakyat Surabaya dalam peristiwa 10 Nopember belum dianugerahi pahlawan nasional. Bayangkan, orasinya yang diperdengarkan setiap Hari Pahlawan, yang membakar spirit arek Suroboyo, hanya menjadi seremonial setiap tahunnya tanpa penghargaan layaknya seorang pejuang kemerdekaan. Sikap kritisnya terhadap pemerintah membuat Bung Tomo tetap dalam kederhanaan tanpa gelar Pahlawan Nasional. Atau yang cukup kontroversial, ketika DR. Ide Anak Agung Gde Agung ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Nopember lalu. Gelar ini menyulut kontroversi di tanah kelahirannya, Bali, akibat sikap sang pahlawan yang berdasarkan kesaksian beberapa pelaku sejarah sering memihak Belanda. Perdebatan panjang kembali mengemuka karena tidak da transparansi dalam kriteria penetapan gelar pahlawan nasional.
Tetapi pahlawan juga manusia. Di satu sisi dia memiliki sikap patriotik yang patut menjadi teladan. Tetapi di sisi lain, dia juga manusia lengkap dengan segala kekurangannya. Tidak jarang sang pahlawan juga punya sisi gelap dalam hidupnya. Tan Malaka dan Semaun identik dengan komunis. Pram merupakan aktor dalam konflik antara Lekra dengan Manikebu. Soekarno pernah berbuat dosa dengan menobatkan dirinya sebaqgai presiden seumur hidup. Tokoh diatas hanya sekadar ilustrasi. Yang bisa dipertanyakan, sampai sejauh mana keberimbangan antara heroisme dengan noda yang dibuat selama hidupnya?

o0o

Kekuasaan melahirkan kekuatan. Kekuatan menimbulkan kesewenang-wenangan jika berjalan tanpa kontrol. Jika begini lahirlah dikotomi menang-kalah dalam demokrasi. Yang berontak harus menyingkir. Itulah yang dialami sebagian besar pemikir besar negeri ini. Harus menjadi pecundang hanya karena menjadi antitesis kekuasaan.
Kekuasaan tiba-tiba bisa menjadi dogma jika tidak ada kekuatan yang berani mendobraknya. Soeharto tiba-tiba menjadi Bapak Pembangunan dan orang-orang bertepuk tangan. Nyonya Tien Soeharto mendapat gelar Pahlawan Nasional dan ribuan menitikkan airmata ketika pemakamannya. Pembalak liar dianggap sebagai pemacu ekonomi rakyat padahal dijadikan kebun kelapa sawit untuk memperkaya kroni-kroninya. Koruptor dibiarkan merajalela sepanjang tidak mengganggu kekuatan utama. Banyak anak pejabat seketika menjadi komisaris perusahaan negara. Pejabat militer aktif juga bisa menjadi kepala daerah. Tetapi begitu Orde Baru lengser, tiba-tiba saja semua pihak memusuhinya dan menghujatnya. Hartanya dihitung beramai-ramai. Asetnya ditelusuri hingga ke negeri antah berantah. Sebuah media terbitan luar negeri bahkan harus memberi cuma-cuma uang senilai satu triliyun kepada Soeharto karena dianggap menghina Bapak Pembangunan. Aneh! Kebebasan pers harus mati di tempat mencari keadilan. Tetapi satu hal yang mungkin terlupakan. Apakah sistem yang membuat Soeharto begitu jumawa selama 32 tahun juga ikut dirobohkan? Atau yang selama ini dibabat hanya pucuk-pucuknya saja? Akar dan batangnya dibiarkan hidup dan secara tidak sadar sudah merasuk menjadi perilaku yang mendarah daging di sebagian elit negeri ini.
Bangsa ini memang dituntut untuk kembali membuka luka lama yang ditutupi dan dipencundangi pada masa Orde Baru. Meskipun sakit, luka itu harus diobati. Membuka luka lama memang akan kembali membuat bangsa ini meringis. Bukan tidak mungkin tangis mereka yang terpinggirkan akan kembali pecah. Tetapi kebenaran memang harus dibuka. Kesadaran bahwa bahwa bangsa ini krisis dan butuh solusi harus segera dilakukan. Pengorbanan untuk sebuah kemajuan memang memerlukan pengorbanan. Meskipun sakit…

Agus Lenyot

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: