Agus Lenyot

Pers Mahasiswa: Mencari Bentuk Ideal

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 6, 2008

Eksistensi pers mahasiswa di Indonesia telah banyak memberikan kontribusi positif. Dalam setiap peralihan rezim, hampir selalu dia menjadi pioner bersama-sama dengan gerakan mahasiswa. Perselingkuhan antara pers mahasiswa dengan gerakan mahasiswa menjadi kekuatan massa yang bisa menumbangkan kekuasaan rezim. Mulai dari keruntuhan Rezim Orde Lama Soekarno dengan Gerakan 66’ dan yang paling fenomenal adalah peristiwa Mei 1998. Penumbangan rezim otoritarianisme Orde Baru dan turunnya Soeharto seolah menjadi ‘kemenangan abadi’ aktivis mahasiswa yang dimitoskan hingga hari ini. Saat itu, pers mahasiswa berperan besar dalam menyampaikan informasi yang mengakomodasi kepentingan rakyat yang selama ini terkungkung akibat represivitas militer ala Orde Baru.
Kini, setelah sembilan tahun reformasi berjalan, cita-cita perubahan yang didambakan tak kunjung bisa dinikmati. Kebebasan pers yang diberikan tidak cukup akomodatif untuk mengkaver masalah kerakyatan. Kebebasan yang dimiliki oleh berbagai media umum membuat pers mahasiswa kebingungan menentukan langkah. Pers umum jauh lebih berani dan vulgar dalam menyampaikan pemberitaan. UU Pokok Pers memang tidak lagi membedakan pers umum dengan pers mahasiswa. namun, kenyataannya Permenpen no.01/per/menpen/1975 yang menyatakan pers mahasiswa adalah penerbitan khusus yang berada dalam koordinasi birokrat kampus dan rektor sebagai penanggung jawab belum dicabut. Setidaknya dua peraturan ini membuat kawan-kawan penggiat pers mahasiswa masih dalam posisi dilematis.
Pers yang seharusnya bisa menjadi fungsi kontrol belum sepenuhnya bisa dilaksanakan. Kesejahteraan wartawan dinafikan. Akibatnya, wartawan menggunakan kartu persnya untuk mendapatkan uang dari narasumber sehingga muncul istilah ‘amplop’. Contoh lain adalah munculnya pers partisan, pengkapitalismean media, penggunaan media sebagai alat kampanye politik. Akibatnya, fungsi ideal yang seharusnya dijalankan menjadi mandul. Polarisasi kekuatan dan disorientasi ini merambah ke kalangan aktivis pers mahasiswa. Secara general, permasalahan yang dihadapi pers mahasiswa adalah kebingungan dalam penentuan ideologi dan cita-cita. Sebab, fungsi yang sudah mereka lakukan bertahun-tahun diambil alih secara frontal oleh media umum. Lalu apa yang seharusnya dilakukan pers mahasiswa?

Mencari Format Ideal
Pasca keruntuhan Soeharto, gerakan mahasiswa mulai melakukan pembenahan dan penataan orientasi gerakan. Pembenahan ini dilakukan untuk mencari formulasi yang tepat agar sinergis dengan realita yang ada. Fungsi dan peran sebagai pers alternatif sudah diambil alih oleh pers umum sehingga aktivis pers mahasiswa perlu melakukan reorientasi gerakan.
Persoalan ini sendiri masih menjadi diskursus internal dikalangan aktivis pers mahasiswa sendiri. Ruang gerak yang semakin sempit hingga seolah tidak ada ruang lagi untuk kritis dan progresif dan persoalan karakter pers mahasiswa secara umum sampai sekarang merupakan masalah yang belum terumuskan.
Alasan diatas seolah menjadikan pers mahasiswa mandul, apatis dan memilih kembali ke persoalan internal kampus. Sehingga muncul indikasi, saat ini pers mahasiswa hanya menjadi sarana atau batu loncatan untuk menyalurkan minat dan bakat kejurnalistikkan. Akibatnya, muncul paradigma di sebagian aktivis pers mahasiswa, bahwa pers mahasiswa hanya menjadi media untuk asah kemampuan jurnalistik dan sekadar laboratorium belajar dengan asumsi setelah lulus bisa langsung diterima di media umum. Pola pikir ini, tanpa pernah tahu dan mencari tahu esensi pers mahasiswa, menjadikan pers mahasiswa sebagai lembaga kosong tanpa ideologi. Dia hanya menjadi semacam diklat atau tempat magang bagi mereka yang ingin terjun ke media.
Bagi saya pemikiran sempit dengan menjadikan pers mahasiswa hanya sebagai belajar jurnalistik adalah salah besar. Pemaknaan terhadap ideologi dan cita-cita pers mahasiswa harus tetap menjadi fundamen ketika memasuki dunia pers mahasiswa tanpa terjebak mitos yang diwariskan oleh angkatan sebelumnya. Harus ada penyesuaian dengan kodisi riil yang dihadapi. Penjabaran kehebatan dan kisah sukses tidak harus serta merta diikuti dengan tindakan yang serupa tapi tanpa arah. Hal ini akan menjadikan pers mahasiswa menjadi gerakan yang liar dan tanpa orientasi. Dibukanya kran demokrasi dan kebebasan pers sedikit banyak berpengaruh terhadap eksistensi pers mahasiswa.
Dalam situasi kebebasan yang sedang coba dibangun oleh bangsa ini, dimana fungsi kontrol dan kritik sosial diambil alih oleh pers umum, LSM dan badan kehormatan lembaga, pers mahasiswa harus kembali ke kampus. Mitos dan heroikme ‘para leluhur’ tidak bisa diterima secara mutlak karena kondisi dan realita yang dihadapi juga berbeda. Namun, semangat untuk kritis dan keberanian untuk mengungkap ide tanpa tendensi dan intervensi dari pihak lain, itulah yang harus dipertahankan. Dengan kembali ke kampus, maka pers mahasiswa akan kembali mendapatkan posisi tawar di kalangan birokrat kampus dengan mengakomodasi kepentingan mahasiswa. Idealnya, pers mahasiswa bisa menjadi oposisi atau sebagai fungsi kontrol terhadap kebijakan kampus yang merugikan kepentingan mahasiswa.
Setelah ada penyadaran posisi dan ‘daerah permainan’ pers mahasiswa bisa bermain ke daerah yang lebih berani. Misalnya, dengan mengkritisi sistem pendidikan kapital yang menghasilkan sarjana-sarjana pekerja dan bukan sarjana pemikir. Sistem ini menempatkan mahasiswa sebagai obyek yang dipaksa untuk menyuplai kebutuhan pasar. Dari sini, pers mahasiswa bisa melakukan perselingkuhan lagi dengan gerakan mahasiswa untuk menentang segala kebijakan kampus yang menghasilkan mahasiswa apatis dan hedonis. Namun harus diingat, pers mahasiswa agat tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis oknum aparat kampus. Pers mahasiswa harus konsisten dengan independensinya dan sebagai pendidikan penyadaran bagi mahasiswa.
Halangan bagi pers mahasiswa adalah keterbatasan waktu yang dimiliki karena dibatasi oleh berbagai kewajiban akademik. Sehingga acapkali waktu terbit pers mahasiswa tidak rutin atau periodik. Untuk mengantisipasi hal ini, maka alternatif pilihannya adalah membuat buletin mini yang periode terbitnya sebulan sekali atau dua minggu sekali. Contohnya, Balairung UGM sukses dengan Balkon (Balairung Koran)-nya. Tentunya hal ini sangat bagus mengingat dengan rutinitas ini, pengelola pers mahasiswa tidak akan ketinggalan isu-isu yang muncul setiap waktu. Media ini sangat urgen sebagai refleksi kritis kehidupan kampus. Namun harus diingat karena pangsa pasar adalah mahasiswa, isu yang diangkat adalah yang mempunyai relasi dengan kehidupan mahasiswa.
Terakhir, dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi, wilayah atau kemasan pers mahasiswa harus selalu dinamis. Artinya, tidak selalu hadir dalam konsep konservatif seperti buletin, tabloid atau majalah. Pengelola pers mahasiswa bisa saja memakai blog atau jurnal sebagai media pertukaran informasi. Kehadiran media baru diharapkan bisa mengambil simpati mahasiswa sehingga terjadi sinergi antara kepentingan mahasiswa dengan pers mahasiswa sebagai jembatan.
Jadi, tidak ada alasan lagi buat pelaku pers mahasiswa untuk apatis. Hanya menjadikan sekretariat sebagai tempat nongkrong tanpa ada refleksi kritis terhadap kebijakan kampus. Dengan kondisi yang dihadapi seperti sekarang, pers mahasiswa harus sadar bahwa dia merupakan alat perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan aspirasinya kepada rektorat atau birokrat kampus. Strategi keberpihakan ini harus jelas. Kenapa ruang ini tidak dimanfaatkan?

Agus Lenyot

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: