Agus Lenyot

Pesona Air Terjun Nungnung

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Januari 6, 2008

Keheningan alam khas pegunungan dengan semilir angin yang mengusap setiap pori menyapa kami ketika menginjakkan kaki di sana. Kicauan burung yang terdengar nyaring memecah kesunyian tapak-tapak langkah kami. Kelelahan selama hampir 45 menit perjalanan sepeda motor terbayar lunas dengan apa yang kami lihat, dengar dan rasakan. Impas!
Itulah Air Terjun Nungnung. Namanya memang tidak sepopuler Air Terjun Gitgit yang terletak setelah Kebun Raya Bedugul dari arah Denpasar. Namun pesona Air Terjun Nungnung (yang dalam papan obyek wisatanya disebut Nungnung Waterfall) tidak kalah dengan apa yang disajikan oleh Gitgit Waterfall. Apalagi Air Terjun Nungnung tidak seramai Air Terjun Gitgit sehingga kebisuan alam serasa membawa kami ke sebuah ruang penuh kedamaian.
Terletak di desa Nungnung, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Nungnung, begitu penduduk lokal menyebutnya, menjadi obyek wisata dengan daya tarik tersendiri. Entah dengan keheningan, kicauan burung yang mengalun merdu, atau gemericik tetes air yang jatuh dari dinding-dinding tebing. Sebagai daerah yang dikembangkan menjadi daerah agrowisata (karena berdekatan dengan Desa Plaga) Nungnung memiliki potensi sebagai pesaing Badung Selatan untuk perkembangan pariwisata Bali yang selama ini mengandalkan deburan ombak dan pasir putih untuk meanari wisatawan.
Bagi masyarakat Bali yang notabene pengguna sepeda motor secara mayoritarian, mencari Nungnung tidaklah terlalu sulit. Cukup dengan menyusuri jalan Ahmad Yani ke arah utara dengan waktu 45 menit. Begitu mencapai Pasar Petang, kita perlu melanjutkan perjalanan ke utara sekitar sepuluh menit untuk mencapaiu desa Nungnung. Memasuki kawasan Desa Nungnung, kita harus sedikit hati-hati karena bagi pengunjung yang belum pernah ke Nungnung, papan penunjuk Nungnung Waterfall tidak terlihat begitu mencolok di kanan jalan.
Nungnung terletak sekitar 500 meter dari jalan utama. Dengan hanya membayar Rp 3000 per orang untuk dewasa dan Rp 1500 untuk anak-anak kita sudah bisa memasuki kawasan Nungnung. Sayangnya, pengunjung tidak mendapatkan tiket atas uang yang sudah dikeluarkan. “Sudah biasa,” ucap pemuda tanggung dengan rambut dicat emas yang memungut retribusi itu. Padahal, menurut cerita beberapa kawan yang pernah berkunjung ke Nungnung, mereka mendapatkan tiket yang dikeluarkan oleh Desa Nungnung.
Walaupun matahari bersinar cerah, sinarnya tidak bagitu terasa menyengat akibat dinginnya hawa gunung yang menyentuh kulit. Pagi itu, hanya ada tiga sepeda motor di tempat parkir. Kami adalah pengunjung kedelapan karena di setiap sepeda motor terdapat dua buah helm. Perjalanan untuk bisa melihat Nungnung di mulai dari tempat parkir yang tidak begitu luas ini. Tangga demi tangga yang sudah menantang untuk ditapaki tidak menyurutkan niat kami. Di sepanjang perjalanan, terdapat beberapa gazebo (yang di Bali sering disebut bale bengong) sebagai tempat peristirahatan.
Tetapi, gazebo ini kadang-kadang menjadi multifungsi. Sebagai tempat peristirahatan oke, menjadi media untuk memadu kasih pun tidak masalah. Tetapi lumrahnya tempat plesiran di Indonesia, gazebo inipun tidak sepi dari tangan-tangan usil. Mulai dari yang sekadar mengukir nama, menyatakan cinta bahkan ada yang mengiklankan nomor handphone mereka.
Perjalanan ke bawah untuk mencapai Nungnung tidak sekadar perjalanan biasa. Anak tangga yang sempit dan lumutan (yang pastinya akan sangat licin di musim hujan) menjadi cerita tersendiri ketika kita menuruninya. Apalagi di beberapa lokasi terdapat beberapa anak tangga yang rusak dan besi tempat pegangan yang sudah keropos. Tidak hanya itu, pada satu titik kemiringan anak tangga yang harus kita lalui mecapai 75 derajat. Lumayan curam. Jika ditambah dinding tebing yang terlihat rapuh dengan beberapa pohon yang sudah tumbang dan siap tumbang yang seolah siap menimpa kita, romantisme perjalanan akan lebih terasa. Begitu melewati anak tangga yang terbawah, maka kelegaan terpancar di wajah kami. Nungnung sudah di depan mata. Lelah sangat!
Hebatnya, kelelahan itu dibayar lunas oleh Nungnung. Air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 70 meter serasa siap menimpa tubuh kami. Gemuruh yang ditimbulkan bahkan mengubur suara kami. Ketika telapak tangan kami sentuhkan ke beningnya air yang mengalir dari air terjun itu, dinginnya serasa menusuk kulit.
Khas pemandangan air terjun, nyaris tidak ada lagi yang ditawarkan oleh Nungnung. Apalagi fasilitas yang terdapat di dekat air terjun sangatlah minim. Hanya terdapat sebuah gedung tua yang bahkan tidak jelas fungsinya untuk apa. Tetapi Nungnung memberikan suasana alam yang sungguh mempesona. Kami sebenarnya ingin merasakan bagaimana rasanya air yang langsung dari sumbernya menyentuh setiap inchi tubuh kami. Tetapi, layaknya tempat asing di Bali yang bagi kami keramat, kami urung melaksanakan niat itu. Disamping karena tidak membawa baju ganti, tentunya.
Sayangnya kami tidak membawa bekal makanan. Padahal, setelah menempuh ribuan anak tangga, perut kami keroncongan minta diisi. Tapi sebotol air mineral yang kami beli dari penduduk sekitar cukup menjadi obat dahaga kami.
Setelah hampir setengah jam kami menikmati keindahan pancuran air buatan alam itu, waktunya bagi kami untuk kembali ke atas. Dan kelelahan yang kami rasakan ketika turun harus kami ulangi lagi. Bahkan, di pikiran kami sudah terlintas perjalanan yang lebih berat. Melewati titik tangga 70 derajat, keringat sudah meluncur deras di dahi kami. Dan kami harus melewatkan sepuluh menit di gazebo paling bawah. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan untuk mencapai tempat parkir yang tiba-tiba terasa begitu jauh. Dan tampaknya, bagi mereka yang tidak pernah menggunakan ototnya, perjalanan ini adalah sebuah perjuangan. Melelahkan tetapi nikmat. Setelah melewati ratusan anak taggaa, di depan sebuah gazebo kami menemukan hembusan angin yang begitu menyegarkan pikiran. Kami lalu memutuskan untuk beristirahat agak lama di gazebo ini. Dan benar saja, view yang kami dapatkan di gazebo keempat dari atas ini sangat menarik. Di belakang kami menganga sebuah jurang dan di sekeliling kami terdengar kicauan burung yang tidak kami ketahui sumber suaranya. Tuhan, Engkau memang Maha Pencipta. Setelah puas menikmati pemandangan kami meneruskan perjalanan ke atas.
Dan ketika anak tangga terlewati, rasa puas terpancar di wajah kami.

Agus Lenyot

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on November 24, 2011 at 4:27

    Saya pernah sekali ke air terjun NungNung ini, kalau tidak salah sekitar tahun 2007 atau 2008, masih cukup alami disana. Pas saat itu hari raya di Bali, pengunjung yang datang disana kebanyakan masih orang lokal Bali. Sarana dan prasarana juga masih minim, padahal sebenarnya pesona air terjunnya tidak kalah dengan Gitgit.

    Sebenarnya saya ingat pernah nulis di blog tentang air terjun ini, tapi setelah saya cari2 kok ndak ketemu ya 😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: