Agus Lenyot

Pura dan Hegemoni Pariwisata

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 6, 2008

Bali merupakan sebuah sosok dengan naluri dan emosi budaya sosial yang khas. Karena kekhasannya ini, masyarakat Hindu di Bali memfalsahfahkan hidupnya dengan Satyam Sivam Sundaram. Kebenaran, kebajikan dan keindahan. Tidak hanya itu, dalam berperilaku pemeluk agama Hindu berlandaskan pada konsep Tri Hita Karana. Termasuk dalam membangun sthana untuk manifestasi-Nya.
Keunikan Bali terbentuk karena adanya kearifan lokal yang dihiasi perpaduan antara ketajaman sistem religi dengan kepekaan rasa. Untuk mewujudkan keseimbangan, keserasian dan keharmonisan dalam konsep parahyangan masyarakat Bali selalu bersandar pada kearifan ini. Dalam mewujudkan hubungan dengan Sang Pencipta, konsep ini menjadi benteng terdepan.
Namun seiring dengan perkembangan pariwisata, disokong dengan kapitalisme global, kultur dan budaya Bali mulai terusik. Pelaku bisnis pariwisata berusaha mengekploitasi semua bentuk kultur dan budaya yang bisa ditukar dengan kepingan dolar. Karena besarnya peranan industri pariwisata itu maka pariwisata seringkali dikatakan sebagai mesin ekonomi Bali. Tidak jarang kultur lokal dipertaruhkan. Akibatnya ketika semua itu kehilangan gairah, Bali pun kehilangan arah dalam membangun ekonominya.
Nyawa pariwisata Bali sendiri tidak bisa dipungkiri dilandasi atmosfer khas yang dibangun diatas konsep religiusitas agama Hindu. Atmosfer ini terlihat dari gerak, perilaku dan sistem sosial serta tata ruang masyarakat Hindu di Bali. Dominasi peran ini menjadikan Bali begitu unik dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Ornamen dan perilaku lokal masyarakat Bali selalu bisa dijadikan ‘barang dagangan’ oleh pelaku pariwisata.
Akhirnya ketika wisata alam sudah tidak mampu merangsang wisatawan untuk datang maka pelaku pariwisata pun melirik pariwisata budaya termasuk pura didalamnya. Entah itu hanya sekadar dijadikan ‘barang tontonan’ untuk para wisatawan atau malah menjadikan dia sebagai obyek yang bisa diperlakukan sebagaimana obyek wisata lain. Tentu menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Bali, apakah ditengah kegerahan pariwisata menjadi sebuah kewajaran menjual wilayah sakral atau pura sebagai obyek?
Pura yang dalam bahasa Sanskerta disebut sebagai mandira, dharmasala atau sivalaya merupaka wilayah suci yang harus dijaga secara sekala maupun niskala. Pura sebagaimana tempat yang dianggap suci lain berdasarkan kitab Weda merupakan tempat yang bertujuan menarik kekuatan suci Sanghyang Widhi. Tempat suci itu juga menjadi tempat untuk mendapatkan wahyu atau ajaran-ajaran suci. Hal ini bisa dimaklumi mengingat sebelum dan sesudah dibangun pura selalu diupacarai secara periodik dan simbolik.
Ketika wilayah suci itu dijadikan komoditas dagangan kita pantas berteriak. Pada akhirnya pura bukanlah menjadi wilayah suci yang sarat dengan sakralitas. Keheningan dan kedamaian yang bisa didapat dari kesunyian pura semakin menyusut. Tentu menjadi dosa besar ketika pura yang dibangun dengan keluhuran tinggi oleh leluhur harus lenyap oleh sebuah hegemoni.
Tidak bisa dipungkiri memang, pura dengan segala ornamen dan komponen pendukungnya merupakan sebuah obyek yang mempesona dan karismatik. Begitu pula dengan segala bentuk tata upacara sebagai ritual suci. Belum lagi letak atau lokasi pura itu sendiri yang terkadang menambah nilai sakralnya. Sayangnya, ‘perusakan’ terhadap ornamen dan tata ruang itu mengindikasikan ketidakpahaman implementasi kebijakan pariwisata dalam partisipasinya menjaga spiritualitas.
Tentu butuh pemaknaan lebih akan esensi pura itu sendiri. Bukan hanya menjualnya untuk kepentingan pariwisata semata. Tapi lebih pada hakikatnya sebagai sthana Sanghyang Widhi. Pemikiran matang disertai landasan yang cukup fundamental harus selalu dikedepankan ketika pemerintah berani menjadikan pura sebagai obyek wisata. Namun, bukan berarti kita saklek untuk malarang pura sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Harus ada batasan-batasan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam perwujudan pura sebagai sebuah wilayah suci.
Perlu keberanian lebih memang bagi kita untuk menjaga kesucian Bali. Jangan sampai ekonomi menjadi penghancur karisma budaya yang sudah tertanam sekian lama. Keunikan Bali hanya akan terselamatkan manakala ada keberanian melakukan reformasi kepariwisataan. Keberhasilannya tentu bergantung kita sebagai pewaris budaya tersebut.

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on November 24, 2011 at 4:27

    Sekarang ini sudah semakin banyak tamu (bule) yang ikut nimbrung di pura ketika ada upacara-upacara tertentu, tidak salah memang ketika mereka ingin melihat langsung bagaimana prosesi dan keunikan sebuah upacara di sebuah pura.

    Tapi perlu sebuah kebijakan yang matang dari kita sebagai tuan rumah, sejauh mana tamu bisa ikut didalamnya agar nilai-nilai kesucian pura bisa terjaga.

    Demikian, semoga saya ndak jauh melenceng.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: