Agus Lenyot

Bukan Tentang Dia, Mereka Atau Mantan Pacarmu

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Maret 22, 2009

Kamu tak sadar. Sejak kita pertama bersua, kamu sudah membekas di belahan otakku. Otak kananku. Karena aku ingin mengenangmu dalam waktu tak hingga. Saat kita bertemu di ruang tengah itu. Surya Jakarta berterik-terik siang itu. Keningku berpeluh tanpa jenuh. Tapi bukan karenamu, tentu. 22 Januari. Tanggal belum tersadar kalo kamu berarti. Kamu tertawa atas kekonyolanku. Kamu pasti tak sadar. Aku yakin seyakin-yakinnya. img_6211

Kamu ingat, malam itu, saat kamu menarik tanganku ke atas tangan jingga di depan ruang makan? Mengajakku untuk menikmati malam bersahabat asap? Hey, kamu menyibak ponimu menuju sang peraduan. Mudah-mudahan kamu tak lupa. Atau saat kuketuk kamarmu satu kali, dan kamu dengan wajah tegang, memberiku penyulut kagalauan.

Ingatkah kamu saat seorang sahabat bertanya? Saat aku berkeringat dingin? Di hamparan ladang hijau dekat sarang? Kamu tertawa. Bukan karena apa. Tapi atas kebodohanku.

Di tempat perjemputan, kamu menarik tanganku. Mengajakku bersahabat asap. Di depan pak polisi yang tak selalu garang. Kita menikmati senja. Senja terakhir di Jakarta sebelum kita bertanya ke negeri seberang. Ingatkah kamu dengan ikrar kita sore itu? Tak sejenak kita pun mulai berkisah. Tentang dia. Tentang mereka. Dan tentang mantan pacarmu. Aku pun begitu. Kita bercerita tentang semua. Tentang mimpi. Tentang harapan. Tentang hari ini. Tentang mentari apa yang menyambut kita esok hari. Tentang hati kita.

Malam itu, aku sudah meringkuk di bawah selimut. Menikmati malam Bangkok yang tak selalu datang. Tapi kamu mengetuk kamarku. Mengajakku berasap-asap dibawah temaram langit tak berbintang. Aku tersadar, sahabat. Di kota penuh senyum ini tak ada satu bintang pun yang bersinar. Anugerah kuasa kadang berjalan tak linear. Keadilan yang tak imbang.

Kita berjalan di antara deru Tuk Tuk (aku bilang Tung-Tung karena karena suaranya dan kamu tertawa untuk sebuah entah. Kenapa kamu selalu tertawa atas kosakata yang kubuat?). Sebatang rokok menjadi penghangat cerita kita. Di kota yang tak lelah tersenyum, kita menghabiskan kisah. Ingatkah kamu? Berbekal semangkok sup hangat, kita berbagi demi kebersamaan. Demi persaudaraan. Persahabatan tak mencari ujung.

Hey, apakah aku sudah mengembalikan uang yang kupinjam malam itu? Kalau belum, aku akan membayarnya di tanah surga.

Kita duduk sembari menunggu mata penat. Dan ternyata cerita pagi ini membawaku kepada kenangan yang tak terlupa.

Ingatkah kamu saat kita berdua berada di puncak Pagoda? Saat hangat mentari senja menyilau mata kita? Saat tangga demi tangga menyuruh kita untuk segera berlabuh? Aku tak ingin turun sahabat. Karena ketika anak tangga terakhir sudah terinjak, semakin dekat pula waktu perpisahan kita. Sadar kamu?

Aku tak ingin bercerita. Aku hanya ingin mengenang kisah ini. Sebuah kesejatian tentang persahabatan. Bahwa kita pernah dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sama. Bukan untuk membuatmu menangis. Tapi membuatmu sadar kalau ternyata kamu begitu berarti. Apalagi saat lelaki tua gemuk berkacamata itu menggodaku untuk memilikimu. Aku hanya tersenyum bias. Untuk apa, aku balik bertanya?

Malam itu, di depan bis merah yang menunggu, aku melihat senyum itu. Senyum yang aku rindukan dan aku sampaikan di dunia yang tak bertepi itu. Sadar kamu?

Saat pria bertopi koboi mulai berdendang, kita tertegun sejenak. Kita lalu berirama mengikuti nada. Dalam kebersamaan, aku merasakan kehangatan tak terkira. Di bawah reruntuhan embun pagi, kita berjalan dalam keterasingan. Walau kantuk menyerang, aku rela bertahan, sahabat.

Sahabat, aku tak ingin bercerita tentang dia, mereka atau mantan pacarmu. Tapi aku ingin bercerita hanya tentang kita. Hanya tentang kita. Tentang aku. Tentang kamu. Tentang kesepian. Tentang harapan. Tentang cita-cita. Tentang masa lalu. Tentang hari ini. Tentang masa depan.

Kamu datang lagi malam itu. Tapi tak sendiri. Kamu datang bersama serombongan gagak kecil kehilangan induk. Gagak-gagak kecil yang tak ingin menemukan jalan pulang. Malam itu, tatkala Bangkok masih tak berbintang, kita kembali bercerita. Di tengah penatnya jalanan Bangkok. Di antara remang gadis penjaja surga derita. Toh, kita tak peduli. Meskipun tangan kita tak bertaut, bersama serombongan gagak kecil itu, ada kebersamaan tak terkira yang kita rasa.

Lalu pagi itu, saat semua mata menunduk tunduk, kita tetap tegar bertepuk. Di pojok kanan bersama beberapa sahabat. Kita bertepuk untuk kemunafikan. Kita bertepuk untuk ketidakjujuran. Kita bertepuk untuk kebebasan. Untuk tanggung jawab. Kamu lalu menarik tanganku. Untuk berkawan asap, kamu berkata. Lalu kita berjalan di antara kemewahan. Di antara gemerincing rupiah yang menguap jadi kentut busuk.

Ingatkah sahabat, saat berasap-asap di depan air tak berbuih itu? Di bangku kayu dengan rimbun daun jadi atap? Kita kembali bercerita. Tentang aku. Tentang kamu. Tentang kebebasan. Tentang tanggung jawab. Tentang kemunafikan. Tentang moralitas. Kita bercerita tentang semua. Dan kita adalah sama. Tiba-tiba kita menjadi satu dalam Fira Basuki. Larung. Saman. Ingatkah kamu?

Kita menjadi berbeda atau sama memandang kebebasan. Ternyata aku menemukan sesuatu yang entah apa. Dan tahukah kamu, itulah aku. Kamu. Kita. Karena kamu dan aku adalah kita. Pada akhirnya aku merasa ketersadaran.

Pagi itu, saat ayam masih pucat dalam sarangnya., kita kembali berjalan dalam keremangan. Bintang pun masih enggan muncul. Tak mau melihat dosa dunia, barangkali. Atau enggan bersaksi untuk kemunafikan. Diantara keriuhan malam, serombongan gagak kecil kembali berceloteh. Sekadar untuk mengecap persahabatan. Kamu, kalian, mengajarkan betapa bagaimana menghargai arti sebuah kisah. Sebuah pertemuan yang akan berakhir.

Aku tak ingin meninggalkanmu. Saat kamu memanggilku ke ruang itu. Untuk menemanimu, malam itu. Kotak kecil tak guna pun menjadi pelampiasan. Sekadar menutupi kalau aku masih ingin disampingmu. Bahkan, aku ingin menemanimu menuju kelelapan. Saat pintu itu tertutup, inilah malam terakhir kita. Lambaian tangan di malam perinduan. Aku tak ingin berangkat ke nirwana. Aku ingin tetap di dunia nyata.

Pagi itu, saat mentari mengurai pelita, kamu datang memanggilku. Matamu masih merah. Bukan karena malam. Tapi karena sesuatu. Aku tak mau menduga. Pelukan terakhir. Dan satu kecupan terakhir. Sahabatku. Satu pemberianmu, akan menjadi kenangan. Namamu akan kubawa. Tak akan kulepas. Saat aku duduk malam ini, kenangan yang kamu berikan berukir namamu membuatku menghela. Kenangan ini akan kubawa kelak, ketika kita bersua di hari kemudian. Di hari ketika mimpi menjadi masa lalu.

Sahabatku, aku menunggumu. Di pulau surga. Saat hari sudah lelah mengiba. Saat kenangan menjadi perekat persahabatan kita. Ketika kata tak lagi dieja.

Sahabatku, simpanlah aku. Di hatimu yang tak bertuan..
Bangkok, 5 Maret 09

Iklan
Tagged with: , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. doi_bali said, on Oktober 22, 2009 at 4:27

    i like this one : “Kita menjadi berbeda atau sama memandang kebebasan. Ternyata aku menemukan sesuatu yang entah apa. Dan tahukah kamu, itulah aku. Kamu. Kita. Karena kamu dan aku adalah kita. Pada akhirnya aku merasa ketersadaran.”

  2. chitralolypoly said, on April 29, 2010 at 4:27

    waaaaaaaaaaaaaawwww….
    yeah! bener2 menyentuh 😦
    aaaaaahhh…ga bs ngmg apa2!
    bener2 indah…

    blh tukeran link??
    btw salam kenal 🙂

  3. lenyot said, on April 29, 2010 at 4:27

    sippp, baru belajar ngeblog niee…
    salam kenal juga..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: