Agus Lenyot

Saat Kembali ke Sarang

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Maret 22, 2009

Setiap momen akan tercatat sebagai waktu yang tak tertinggal. Dia mengendap dalam kepala kita. Bisa jadi akan membusuk. Tapi mungkin saja mewangi yang mengharukan. Suatu waktu bisa jadi akan menjadi luka menganga dan perih. Membuatmu menangis. Merasa terbuang. Seperti anak hilang.
img_6008
Tapi kenangan bisa saja menjadi tawa. Membuatmu terbahak mengenang kekonyolan silam. Mengenang kebodohan yang tersisa, yang kadang tak kita sadari. Tergantung bagaimana hari ini melihat kemarin. Semua datang dengan setiap nostalgia.

Aku pernah punya momen yang membuat menangis. Saat ditinggalkan orang yang kita sayangi. Ketika kakakku pergi untuk selamanya. Kelas 2 SD. Kehilangan pertama yang begitu menyakitkan. Meskipun waktu itu aku belum mengerti. Aku menangis karena melihat kakekku menangis. Nenekku meraung di pojok halaman. Kakakku yang lain sesenggukan yang tak kupahami maknanya, waktu itu.

Lalu ayahku pergi tanpa pernah mengelus kepalaku sejak lahir. Tanpa pernah aku rasakan kasih sayangnya. Aku terpukul. Bukan karena kepergiannya. Tapi karena aku tak bisa bercerita tentang ayahku. Seperti bagaimana kawan-kawanku berkisah tentang ayahnya. Kebanggaan akan seorang ayah tak pernah aku alami. Ketidakberuntunganku yang lain.

Setahun setelah abu ayahku ditabur ke laut, kakek yang merawatku sejak bayi pergi menuju kesempurnaan. Sosok yang begitu berharga. Yang menjitak kepalaku saat cukuran. Yang memukul pantatku saat ketahuan mandi di sungai. Yang rela bergadang demi mengerjakan tugas kesenianku. Dia pergi. Tanpa pamit. Dia pergi dengan senyum. Senyum khas yang benar-benar aku rindukan malam ini. Aku ingin menangis.

Kemudian kesedihan itu datang lagi. Entah kenapa. Pagi itu. Saat semua terlelap dalam nirwana. Kita saling bercerita. Tentang aku. Tentang kamu. Tentang kekasih yang belum terbuang. Tentang cita-cita. Tentang sahabat. Tentang wanita yang mengusik kepalaku. Bercerita tentang segala tentang.

Sebatang rokok yang kita sulut bersaksi. Kita akan berpisah besok. Setelah dua minggu kita bersama. Setelah berhari-hari di ruang yang sama. Ditempat duduk yang sama. Di atas bus putih dengan ornamen merah berhiaskan huruf Thai. Bahkan bersama merasakan goncangan setelah setiap sadar dengan setiap dunia.

Pagi itu matamu masih merah. Dan liur di sudut bibirmu belum kamu bersihkan. Kamu lupa cuci muka, barangkali. Tapi aku akan merindukan masa-masa ini. Kita bercerita lagi. Sekadar untuk memperpanjang pertemuan kita. Sekadar untuk mengejar kebohongan manis. Dan lagi-lagi sebatang rokok bersedia menjadi saksi.

Kita bercerita di tengah pikuk. Di tengah kekacauan pagi yang, bagiku sangat menyesakkan. Kamu tahu kenapa, kawan? Karena kita akan segera berpisah. Karena kita harus kembali pada rumah masing-masing. Aku sedih. Sejujur-jujurnya. Aku tak ingin kembali ke sarang. Aku tak ingin menemukan jalan pulang. Aku ingin kembali tersesat. Bersamamu kawan.

Kamu ingat kawan, saat kamu memukul pundakku? Selasa pagi saat matahari Bangkok tersenyum girang. Kita terlambat. Semua sudah pergi. Tinggal kita berdua terasing dalam keremangan. Tak apa. Kita masih sempat menikmati semangkuk ransum segar. Padahal waktu sudah terengah memanggil kita.

Kita berjalan di tengah pikuk. Tak peduli pada terik. Padahal hati kita bergejolak.

Pada akhirnya kita sampai pada tujuan. Kita tertegun saat masuk ke ruang itu. Semua mata memandang kita. Mungkin bingung. Bisa jadi heran. Atau malah memandang remeh. Maklum kita telat. Gara-gara berbatang-batang rokok di depan toko musik semalam. Gara-gara berpuluh-puluh sinar blitz di atas jembatan penyeberangan subuh tadi. Gara-gara berlembar cerita tentang kita. Tentang segala tentang.

Semua orang gagah dengan setelan merah putih bagian atas dan hitam bagian bawah. Sementara kita, pakaian batik. Bukan bermaksud nasionalis. Tapi memang seperti pengumuman yang kami dengan kemarin. Alhasil, kami menjadi tontonan dan tertawaan menarik sepanjang dua jam dialog itu. Sebagian lagi meledek kami sebagai Atase Pendidikan di Thailand. Konyol memang. Keringat dingin tak lelah mengucur di dahi. Malu. Ngenes. Bingung. Konyol.

Kawan-kawan tanpa ampun mengganjar kami dengan sebuah cerita berjudul “Dua Pemuda”. Cerita ini menjadi senjata ampuh untuk membuat mulut kita bungkam. Ketika makan. Ketika dalam bus. Ketika di objek wisata. Pengalaman konyol yang tak akan kami lupakan sepanjang hidup. Kisah yang akan abadi dan menjadi peneguh bahwa kami bersaudara.

Pada akhirnya kita tahu, kita banyak memiliki kesamaan. Kalau kita grogi, kita sama-sama menggigit kuku. Kalo aku semua kuku menjadi sasaran empuk untuk digigit. Dia, Saudaraku itu hanya mengigit bagian ibu jari dan telunjuk. Kita adalah Interisti. Hidup Inter!

Dan sebatang rokok memang menjadi perekat persaudaraan kita. Kita akan berjumpa. Pasti. Aku merindukan momen kebersamaan kita. Pada malam yang selalu berpamit. Pada senja yang selalu beranjak. Pada pagi yang selalu berlari. Semua berlalu meninggalkan kita dan mendekatkan kita dengan waktu perpisahan.

Pada Sabtu pagi.

Saat koper sudah dikemas. Saat rokok terakhir diselipkan ke bibir. Saat pintu mobil hitam itu dibuka. Lambaian tanganmu mengantarkan aku kepada kegalauan. Pada akhirnya aku sadar, momen ini terlalu berharga. Terlalu berarti. Aku ingin mengenang ini. Aku menjadikan kenangan ini sebagai sesuatu yang tidak tergantikan.

Dan kamu, Saudaraku, ingatlah, kita akan bersua di hari esok. Saat mentari masih menjadi saksi pertiwi. Saudarakau, Hanif Kuncoro Adi, si Bungsu dari Belitung..

Iklan
Tagged with: , ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Yodie said, on April 2, 2009 at 4:27

    nyot, kenalin sama cewek di atas. cakep tuh

    btw, kamu ngerokok?

    • sugawa said, on April 2, 2009 at 4:27

      yoa..
      kenapa??
      baru nyadar ya??
      emang keliatannya aku imut dan menggemaskan..
      hahahaha

  2. Yodie said, on April 2, 2009 at 4:27

    sugawa itu kamu nyot? atau cewek yang di atas?

    hakakakkaka

  3. lenyot said, on April 2, 2009 at 4:27

    sugawa ya itu aku..
    nama lengkapku kan lenyot sugawa..
    nih,
    udah aku ganti..
    biar nggak bingung lagii..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: