Agus Lenyot

Menanti Kiprah Kepemimpinan Kaum Muda

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on April 7, 2009

Rakyat sedang menunggu transformasi kepemimpinan nasional. Barack Obama (47), di Amerika, Nicolas Sarkozy (53) di Prancis, di Australia dan Dmitry Medvedev (43) di Rusia yang terpilih menjadi presiden dari kaum muda seharusnya menjadi inspirasi bagi bangsa ini untuk melakukan reformasi kepemimpinan nasional.
Namun, yang terjadi pada bangsa ini justru sebaliknya. Tokoh-tokoh yang mendeklarasikan diri menjadi calon presiden justru didominasi tokoh-tokoh tua (the sunset generation). Padahal, generasi pertama pascaproklamasi yang memegang kepemimpinan nasional dipenuhi oleh kaum muda yang energik dan progresif. Sebut saja Soekarno (44), Moh. Hatta (43), Sutan Sjahrir (36), Amir Sjarifoedin (40) dan Muhammad Natsir (42).
Pendeklarasian ‘kaum tua’ sebagai calon presiden memperlihatkan betapa lambannya regenerasi kepemimpinan nasional bangsa ini. Secara teori, ini mengindikasikan alur politik kita masih didominasi politik patronase dan paternalistik. Partai politik masih belum lepas dari hegemoni seorang figur. Kenyataan ini menyebabkan  perubahan yang dinantikan rakyat semakin jauh dari harapan. Sebab figur tua identik dengan politik konservatif dan konvensional yang tabu terhadap perubahan.

Oligarki Partai Politik
Penyebab kelemahan transformasi kepemimpinan nasional adalah sedikitnya partai politik yang memiliki ideologi yang tegas. Persoalan partai politik, sebagaimana dikatakan oleh Giovani Sartory dalam Parties and Party Systems: A Framework for Analysis, tidak hanya persoalan kuantitas namun juga pertarungan ideologi. Tidak ada perbedaan ideologi yang tajam menyebabkan partai politik hanya memiliki perspektif tunggal. Sartory menyebut sistem ini sebagai predominant party system. Sistem ini hanya menghasilan sistem multipartai tanpa ada perbedaan pandangan ideologis untuk memecahkan persoalan kebangsaan dan hanya akan mewadahi kepentingan yang sama. Hasilnya, sistem politik yang terbangun adalah partai yang berusaha mepertahankan konsensus politik yang ada dan cenderung mempertahankan status quo.
Ketiadaan ideologi yang jelas dan tegas secara nyata menyebabkan partai politik gagal melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas. Pola-pola kaderisasi, perekrutan dan regenerasi calon pemimpin tak bisa dilepaskan kentalnya budaya feodal. Contoh paling nyata, pengisian calon legislator di banyak partai politik didominasi oleh istri, anak, anggota keluarga atau mereka yang dekat dengan pimpinan partai. Proses ini tidak dilakukan dengan transparan dan partai politik menjadi tempat lahirnya dinasti-dinasti baru.
Ini menandakan kaderisasi partai politik masih tersumbat dan tak berjalan maksimal. Oligarki partai politik ini tentu menjadi preseden buruk bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Padahal, partai politik, menurut Gino Concetti  dalam I partiti politici e l’ordine morale (1981), merupakan sarana modern yang memudahkan partisipasi politik rakyat. Budaya feodal ini menyulitkan akses kader-kader potensial untuk mengisi posisi sentral dalam kelembagaan partai politik.
Salah satu tugas utama partai politik, tulis Concetti, adalah membangkitkan kembali peran partai sebagai radar yang bisa menangkap, menyerap, serta mengerti aspirasi dan tuntutan rakyat. Partai politik sering abai dengan masalah ini. Pemimpin yang dihasilkan dari partai politik belum sungguh-sungguh menjadi penyambung lidah rakyat. Dia masih terjebak pada kepentingan pragmatis partai politik, yaitu melanggengkan kekuasaan semata.
Ini menjadi ironi. Sebab, kita punya instrumen demokrasi yang lengkap yakni partai politik, pemilu, parlemen, pers dan Mahkamah Konstitusi. Konstalasi demokrasi kita hanya berputar pada demokrasi prosedural tanpa pernah menyentuh substansi demokrasi itu sendiri. Tak heran, sebab kontestasi politik hari ini adalah politik demagogi yaitu politik penghasutan terhadap massa dengan kata-kata dusta untuk membangkitkan emosi masyarakat.
Proses politik yang terjadi bukan politik pemikiran tetapi hanya mengendus dan mengintai kekuasaan. Kekuasaan itu kemudian digerakkan dengan sirkulasi modal dan keyakinan religius yang membabi buta. Padahal nilai politik yang seharusnya dikembangkan adalah politik pedagogis yakni pendidikan dan kaderisasi politik dengan bertumpu pada kemanusiaan yang universal untuk membantu rakyat keluar dari neokolonialisme, fasisme dan feodalisme.
Rakyat sudah jenuh dengan pola kepemimpinan partai politik yang selama ini mendominasi parlemen. Tingginya angka golput dalam setiap pemilihan, entah pemilu atau pilkada, menjadi indikasi rakyat sudah jenuh dengan janji-janji politik tanpa realisasi. Rakyat hanya dijadikan komoditas politik menjelang pemilu. Kesejahteraan rakyat hanya menjadi isu penarik massa tanpa ada upaya konkret untuk mewujudkannya. Setelah terpilih, kepentingan partailah yang dominan. Aspirasi rakyat diurutkan pada nomor sekian. Hasilnya bisa ditebak, kesejahteraan dan keadilan sosial menjadi sebuah mimpi dan jualan paling laku menjelang pemilihan.
Parlemen sudah seharusnya bebas dari kaum-kaum anti perubahan dan oportunis. Parlemen hendaknya diisi dengan kaum yang berani mendobrak tradisi feodal dan progresif dengan semangat perubahan untuk kepentingan rakyat.

Kepemimpinan Kaum Muda
Bangsa ini sejatinya menantikan pemimpin, tanpa ada dikotomi tua atau muda, yang bersih, jujur, berjiwa reformatif dan berani melakukan perubahan. Sebab, rakyat menantikan pemimpin yang berani mendobrak tradisi feodalistik yang merugikan bangsa ini. Keberanian itulah yang tak dimiliki oleh kaum tua. Kaum tua gagal meneguhkan keindonesiaan modern dalam negara kesejahteraan (welfare state) sebagai cita-cita bangsa.  Kekuasaan yang dipegang kaum tua hanya mereproduksi disfungsi kelembagaan, kegagalan, kemiskinan dan kebangkrutan sosial.
Dominasi kaum tua, sudah seharusnya didobrak dengan keberanian kaum muda untuk bersaing memperebutkan kepemimpinan nasional, baik di legislatif maupun eksekutif. Kontestasi politik di banyak negara selalu diidentikkan dengan kepemimpinan kaum muda. Meskipun tak ada garansi kaum muda lebih baik dari kaum tua, namun kaum muda memiliki spirit yang tidak dimiliki kaum tua. Argumentasinya, ketika kaum muda tampil dalam panggung politik, perubahan yang siginifikan diharapkan akan lebih mudah dicapai.
Sifat yang dinamis, energik dan transformatif merupakan modal utama kaum muda untuk memimpin. Nyaris tidak ada visi kepemimpinan kaum muda di berbagai bidang yang bernuansa konservatif. Kepemimpinan kaum muda, dengan kemampuan memahami masalah secara komprehensif dan kontekstual, akan meniscayakan perubahan yang ditunggu bangsa ini.
Calon pemimpin masa depan adalah mereka yang memiliki program visioner. Rakyat menantikan pemimpin yang super partes, mampu berdiri di semua golongan. Dia tak terjebak dalam politik mayoritas-minoritas. Idealnya, dia adalah nasionalis, berani stand for change dan tidak mempertahankan status quo yang selama ini merugikan rakyat banyak. Dia harus menjadi motor pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi dan penegakkan pelanggaran HAM masa lalu. Dia berani merangkul semua kalangan termasuk lawan politik. Barack Obama bisa menjadi contoh. Dia tidak segan menjadikan rival politik sebagai menteri. Penyusunan kabinet disandarkan pada kualitas, talenta, loyalitas dan dedikasi terhadap bangsa dan negara, dan mereka yang terbaik di bidangnya.
Kita hanya bisa mengingatkan kepada setiap calon pemimpin, siapapun dia, untuk benar-benar bekerja untuk rakyat. Legitimasi masyarakat modern hanya bertumpu pada dua titik, kemakmuran dan pemerataan pertumbuhan ekonomi. Tanpa keberhasilan membangun dua pilar itu, pemimpin telah gagal mengemban amanat rakyat. Rakyat sudah lama menderita akibat sistem birokrasi kita yang bertele-tele dan feodalistik. Keberhasilan mewujudkan pemerataan ekonomi membuat rakyat akan menaruh respek kepada pemimpinya.
Kebutuhan rakyat sebenarnya sangat sederhana yaitu, kemudahan menjalankan roda ekonomi, kebutuhan pangan terpenuhi, pendidikan terjangkau dan kesehatan terjamin. Tapi untuk menjalankan amanat ini, pemimpin wajib bekerja keras untuk rakyat. Bukan untuk partai atau kepentingan golongannya.
Nietzsche, dalam The Birth of Tragedy (1993), mengajak kita untuk membayangkan sebuah generasi yang sedang bangkit dengan tatapan yang tak gentar, dengan kecenderungan berpikir heroik yang begitu rupa kepada hal-hal hebat. Generasi yang berani membela kaum tertindas dengan bertindak tegas. Harapan itu hanya dimiliki oleh kaum muda. Semoga!

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. STR said, on April 7, 2009 at 4:27

    Ah, kamu lagi … kamu lagi!

  2. lenyot said, on April 11, 2009 at 4:27

    kenapa emangnya??
    ah sirik aja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: