Agus Lenyot

Bukan Cerita Tentang Patah Hati

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 6, 2010

Tentang Pagi yang Sudah Lewat.

Lalu apakah yang terbersit dalam benakmu ketika masa lalu, yang sudah kamu simpan dengan begitu rapi, datang menghampiri hari ini dan bercerita betapa indahnya pagi yang sudah kita lewati?
Masa lalu yang pahit, ketika dikenang hari ini akan selalu manis. Sepahit apapun dia. Kita masih bisa bernafas hari ini meskipun kita pernah mengalami kenyataan yang begitu pahit. Sedih dan menyesakkan.
Enam tahun yang lalu misalnya, ketika masih berseragam abu-abu, saya pernah menyukai seorang perempuan (jelaslah perempuan karena saya laki-laki normal!). Waktu itu bukan pertama kali sebenarnya saya mengalami ketertarikan fisik kepada seorang perempuan. Namun entah kenapa, rasanya tidak cukup kalau saya hanya memendam perasaan ini dan tidak mengutarakan perasaan saya dan menjadikannya pacar. Pacar, waktu itu buat saya bukan sebuah kebutuhan, tapi sebuah deklarasi kalau kita adalah laki-laki tulen.
Meskipun sadar saya masih bau kencur, namun naluri kejantanan saya bergejolak. Naluri kejantanan yang saya maksud adalah saya harus membuktikan kepada kawan-kawan lain bahwa saya laki-laki yang bisa tertarik dengan perempuan (meskipun setiap mandi saya selalu memastikan bahwa saya laki-laki namun saya merasa tetap harus membuktikan bahwa saya ini jantan).
Ternyata menyukai perempuan itu menyusahkan. Sumpah! Saya merasa harus selalu tampil sempurna di depannya. Saya mandi lebih lama. Mematut diri di cermin lebih lama untuk memastikan bahwa jerawat dibawah bibir sudah dipencet. Rambut, yang susah diatur ini, sudah seperti artis Bollywood (waktu itu saya menjadi pengagum berat Hritik Roshan dengan filmnya yang berjudul Kahoo Na Pyar Hae). Baju nggak ada yang kotor. Sial. Padahal, biasanya saya nyaris tidak peduli dengan apa yang saya pakai. Saya yang biasanya tidak pernah pakai pengharum (bukan pengharum ruangan atau toilet, meskipun bau badan saya juga tidak kalah dengan toilet umum di Terminal Negara), tiba-tiba menjadi begitu peduli dengan bau badan. Akibatnya jelas, saya harus pandai-pandai mengatur anggaran keuangan agar bisa menyisihkan uang untuk beli parfum. Jatah maen PS harus berkurang. Jatah maen bola berkurang. Jatah belanja berkurang. Dan semuanya karena satu hal: wanita!
Namun, menyukai sesama jenis (maksudnya sama-sama manusia), tidak selamanya menyusahkan. Saya menjadi lebih rajin datang ke sekolah. Lebih rajin baca buku. Kalau di kelas menjadi lebih aktif, meskipun otak saya yang pas-pasan ini lebih sering membuat guru bingung, karena ada anak idiot yang tiba-tiba jadi rajin angkat tangan. Ketika di lapangan olahraga, saya menjadi begitu super powder. Meskipun malamnya saya harus meringis-ringis kecapekan. Itulah nikmatnya menyukai seseorang. Mungkin itulah yang dinamakan cinta monyet. Cinta yang dilakukan oleh keturunan Pithecantropun Erektus (Erectus=begitu ereksi meletus).
Pokoknya, hari-hari menjadi lebih indah. Matahari seakan-akan selalu bersinar cerah. Namun, saya yang memang belum berpengalaman, ternyata menjadi terlihat bodoh begitu berhadapan dengan cewek yang saya taksir. Lutut menjadi kaku. Keringat, entah kenapa berproduksi dengan begitu cepat. Bibir menjadi kelu. Dan mata selalu berkunang-kunang setiap berhadapan dengannya. Inilah kebodohan saya sebagai seorang laki-laki. Namun, berhadapan dengan wanita ternyata itu memang tergantung dengan pengalaman (yang menyadarkan saya kenapa lelaki dewasa, seperti Om-Om begitu gampang mendapatkan gadis bau kencur). Setelah kebersamaan-kebersamaan yang aneh (karena saya lebih banyak diam dan membisu), saya menemukan kepercayaan diri juga pada akhirnya. Obrolan mulai bisa saya kuasai dan dia selalu tertawa ketika kita berbincang (yang sebenarnya saya tidak yakin, dia tertawa karena obrolan saya atau karena wajah bodoh saya: masa bodo!). Dan dunia menjadi berwarna.
Namun, saya ternyata memang belum berpengalaman. Perempuan ternyata butuh kepastian. Saya, yang sudah menikmati hari-hari indah bersamanya, ternyata melupakan satu hal: lupa mengatakan bahwa saya menyukai dia. Saya lupa, bahwa cinta tidak hanya kita tunjukkan tetapi juga harus dikatakan. Bodohnya, saya tidak melakukan itu. Setelah merasa mampu merebut hatinya, saya kembali ke habitat lama. Berpakaian seenak hati. Mandi ala kadarnya. Sisiran jarang. Parfum juga lebih sering masuk keranjang sampah. Dan, karena merasa sudah memenangkan hatinya, saya menjadi tidak peduli lagi dengan yang namanya tampilan artifisial. Yang penting esensial. Dan esensial bagi saya adalah yang penting otak berisi (meskipun saya yakin apakah otak berisi atau tidak masih bisa dipertanyakan).
Kekonyolan ini ternyata membawa petaka. Cewek yang saya taksir jadi bersikap masa bodoh terhadap saya (yang pada akhirnya saya tahu bahwa apa yang saya lakukan adalah menggantung suatu hubungan). Saya yang begitu yakin akan merebut hatinya merasa kalah bersaing. Dia akhirnya lebih memilih cowok yang bisa mengatakan: “Aku sayang kamu dan maukah kamu jadi pacarku?”. Hal yang tak pernah terpikirkan dalam benak saya sebelumnya.
Mulailah hari-hari saya menjadi kelam. Makan serasa nggak enak. Mata ini entah kenapa menjadi lebih sulit lagi untuk dipejamkan. Mungkin inilah yang dinamakan sakit hati. Untunglah saya belum mencapai tahap frustasi. Mungkin, jika saya sudah mencapai tahap itu, sabun pencuci piring yang warnanya hijau, akan saya teguk untuk mengakhiri penderitaan ini. lalu bagaimana nasib cewek yang saya taksir? Dia sepertinya berbahagia dengan pasangannya.
Sampai pada akhirnya, kita dipertemukan lagi pada pernikahan kawan sekelas (yang pernyataan sungguh menakjubkan: kawin itu enak! Saya belum sempat menanyakan enaknya dimana). Sejujurnya saya agak jengah dengan pertemuan itu. Pertama, waktu empat tahun ternyata cukup mengubah seorang perempuan menjadi lebih terlihat menarik. Dia menjadi semakin cantik. Mungkin getar-getar yang pernah saya rasakan sudah hilang, tetapi sebagai lelaki sejati, saya harus mengapresiasi bahwa dia semakin cantik dan matang (meskipun saya tidak bisa mendefinisikan dengan jelas apa makna matang yang sebenarnya).
Dan cerita konyol tentang saya yang sempat naksir kawan saya itu pun menjadi topik yang hangat malam itu. Ternyata cerita pahit di masa lalu, ketika masa-masa patah hati sewaktu berseragam abu-abu, menjadi sangat konyol ketika diceritakan hari ini. Saya tidak membayangkan jika peristiwa memalukan ini diceritakan enam tahun yang lalu. Sejujurnya, agak malu juga kalau ternyata kawan-kawan membongkar kisah itu secara gamblang dan terbuka. Karena waktu saya berpikir, yang mengetahui cerita ini hanya saya, dia dan sahabat curhat saya. Tapi teman-teman dengan cepat menyambar, “Kalian pikir kami buta? Siapa yang nggak berpikiran macam-macam kalau kalian berdua sering duduk berdua dan kaget malu-malu kalau ketahuan?”
Tentu saja tidak semua cerita-cerita yang saya alami pahit. Ada manis dan mengasikkan tentunya. Namun, itu adalah pelajaran berharga buat saya kelak bagaimana menghargai dan menghadapi wanita.
Dan masa lalu, sepahit apapun, pernah menjadi bagian hidup kita.

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. handikas said, on Januari 6, 2010 at 4:27

    ng

  2. Ridoi said, on April 4, 2010 at 4:27

    nulis lagi………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: