Agus Lenyot

Kita Berbicara tentang Pilihan

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on April 29, 2010

Apakah hidup itu pilihan? Pertanyaan ini mungkin bisa diperdebatkan. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Targantung dari kacamata siapa kita memandangnya. Mungkin kita tidak pernah diberi pilihan lain ketika kita lahir ke dunia. Tuhan hanya memberikan satu pilihan: kau harus lahir dan menjalani kehidupan. Tidak pernah mungkin Tuhan mendengar permintaanmu kalau kita ingin dilahirkan menjadi kaya, cantik, ganteng dan tanpa kekurangan sedikitpun. Pada titik inilah, kadang, banyak orang menyesal menjadi manusia. Menyesal lahir menjadi anak keluarga miskin. Menyesal kenapa harus lahir menjadi jelek. Dan menyesal kenapa harus lahir menjadi orang bodoh. Dan sederet penyesalan lain yang sesungguhnya menjadi sesuatu yang mustahil kita pinta pada Tuhan.

Tapi mungkin kita lupa: hidup juga menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan itu mengharuskan kita memilih, apakah kita akan memilih atau tidak memilih. Sebab tidak memilih pun adalah sebuah pilihan. Seorang kawan pernah berucap: berani menentukan pilihan adalah sebuah keberanian. Namun, dia melanjutkan, berani menghadapi risiko dan konsekuensi sebuah pilihan adalah sebuah keberanian yang bijak.

Saya termenung mendengar pernyataan kawan saya yang bijak itu. Maklum, otak saya terlampau keras untuk menerima hal-hal yang bijaksana seperti itu. Sebab saya tidak hanya suka bijaksana tapi juga bijaksini alias ’semua bisa diaturlah’.
Ternyata kawan saya benar. Saya pun mengorek-orek beberapa penggal cerita orang-orang yang saya kenal untuk membenarkan pernyataan kawan saya itu.

Lalu teringatlah saya dengan masa akhir SMA dulu. Teringat membayangkan nasib saya yang akan menjadi pengangguran karena tidak punya dan tidak ada yang bersedia menanggung biaya kuliah, waktu itu. Namun, keberanian itu entah darimana datangnya, tiba-tiba saya memutuskan untuk kuliah. Dan jedueeer! Jadilah saya anak kuliahan. Tentu saya senang. Tapi saya lupa bahwa kuliah itu bukan cuma membuka kunci dengan menaklukkan SPMB tetapi juga beli buku, biaya hidup dan tetek bengek lainnya.

Jadilah saya seperti sekarang, pontang-panting membiaya kuliah demi sebuah gelar yang bernama sarjana (yang ironisnya, sudah empat tahun dikejar, tapi belum bisa saya raih). Saya mungkin berani memutuskan untuk memilih akan kuliah, tapi saya hampir nggak mikir waktu itu, bahwa kuliah juga memerlukan biaya dan perjalanan yang lumayan panjang. Hal yang terlupakan karena dikalahkan semangat lulus SPMB. Untunglah saya bukan orang yang mudah menyerah. Kalau termasuk orang yang gampang frustasi, mungkin saya akan berhenti di pertengahan tahun pertama karena keuangan cekak melulu.

Saya juga teringat dengan keberanian seorang kawan. Keberanian untuk memilih dan kepengecutan untuk menjalani risiko yang diambil sendiri. Catat: dia sendiri yang memilih namun dia juga yang akhirnya takluk oleh ketakutannya sendiri.

Seorang kawan pernah bercerita tentang betapa egoisnya kekasihnya. Betapa tidak mau mengalahnya dan betapa-betapa lainnya yang mungkin kalau dideretkan itu adalah sifat buruk yang dimiliki oleh manusia. Betapa cowoknya sering main kasar kalau marah. Ringan tangan ketika bertengkar (jangan bayangkan ringan tangan itu rajin ya? Sangat tidak lucu dong kalau sedang bertengkar sang pacar ringan tangan=rajin, tiba-tiba dengan sigap membersihkan halaman rumah kita). Dan setelah cerita panjang lebar kali tinggi dia memutuskan: lebih baik kami putus (kami yang dimaksud adalah dia dan pacarnya ya?). Saya dengan sok bijaksana mengatakan: aku dukung apapun keputusanmu! Padahal maksud perkataan saya, waktu itu, adalah; hore, akhirnya ada yang menemani saya jomblo karatan lagi.

Dan jadilah kawan saya itu jomblo beberapa saat. Dan cewek, kalau untuk urusan cinta, otaknya emang letaknya dipantat. Susah dibedakan dengan kentut. Pengen dibuang takut bunyi dan berbau. Nggak dibuang malah bikin sakit. Dan saudara-saudara sekalian, mulailah derai air mata mewarnai kehidupan kawan saya itu. Tiada hari tanpa tangis.

Saya menganggap sesuatu yang wajar. Karena baginya kehilangan pacar, mungkin sama dengan kehilangan satu kaki. Dan bagi saya, kawan itu sedang berteriak: lihat, kaki saya lepas sambil menjerit-jerit kegenitan, eh, kegirangan, eh, kesakitan ding!

Namun, tangisnya tak berhenti hingga satu minggu ke depan. Saya masih membiarkannya. Karena cewek emang selalu lebay melambai kalau urusan putus memutus (saya tidak membayangkan gimana cewek kalau disunat hingga salah satu bagian penting dalam tubuhnya harus dibuang). Meskipun dia berusaha mengatakan membenci (mantan) cowoknya, dan tidak mau berhubungan lagi dengannya, namun di situs pertemanan yang sangat populer, saya menemukan kalimat ini: bodoh ya aku. Udah tahu aku benci ma kamu. Ngapain aku mesti liatliat statusmu. Ngapain aku mesti nulis di wallmu? Itulah wanita, kawan.

Kawan saya itu mungkin berani memilih namun ternyata dia nggak berani menghadapi risiko dari pilihan yang dia ambil. Endingnya jelas: ketika diajak balik, diapun langsung luruh. Meskipun dia tahu bahwa pernah diselingkuhin adalah pengkhianatan, pernah ditampar rasanya sakit dan pernah nggak dihargai adalah penghinaan.

Saya tidak sedang menghakimi seseorang atas putusan yang sudah dibuat. Tapi waktu mendengar dia balik saya hanya berucap: kenapa nggak kamu coba dengan orang lain? Toh, kamu nggak akan menikah hari ini? Dan keluarlah alasan paling klise: aku masih sayang ma dia. Jiaaaah….

Beberapa waktu yang lalu, saya bersua dengan kawan masa kecil. Setelah sekian lama, kita bertemu tatkala saya pulang kampung. Dia datang dengan anaknya yang masih balita (saya masih takjub, bahwa teman yang sering nangis dan ngadu ke ibunya waktu masa ingusan dulu, akhirnya bisa membuat anak). Kita pun bercerita panjang lebar. Tentang istrinya. Tentang anaknya. Tentang keluarganya. Saya pun bercerita tentang kuliah saya yang belum selesai. Lalu kita pun bernostalgia tentang masa kecil yang penuh dengan kekonyolan.

Lalu sebuah kalimat meluncur dari mulutnya: mungkin kalau saya tidak menghamili pacarku, saya tidak perlu menimbang bayi di usia segini muda. Aku seharusnya masih bisa melakukan banyak hal. Lalu saya bertanya: menyesal? Dia hanya menganggukkan kepala.

Kembali saya teringat dengan keberanian terhadap pilihan. Kawan saya mungkin berani kawin, karena membayangkan kawin itu enak. Melakukan hal-hal yang diinginkan antara dua pasang manusia beda jenis menjadi tidak berdosa. Punya anak. Namun, ternyata kawan saya belum siap kehilangan masa muda. Belum siap untuk bertanggungjawab terhadap pilihan yang sudah diambil. Namun, diakhir pembicaraan dia berucap: semua sudah terjadi.

Saya tidak akan menghakimi orang-orang yang gagal mengatasi ketakutan terhadap pilihan yang sudah diambil. Karena bisa saja saya pernah berada pada fase yang sama. Misalnya, saya kadang malu ketika harus dituntut segera lulus. Masa studi saya terlalu lama bagi ukuran keluarga. Dan ini, pada suatu waktu tertentu, menjadi beban psikologis yang amat hebat. Dan kadang menyesal, kenapa harus menunda waktu studi. Padahal, saya sudah meyakinkan diri sendiri, bahwa pilihan ini tidak salah. Bahwa saya melakukan banyak hal yang tidak semua orang bisa lakukan (ini hanya alibi orang-orang yang lulusnya lama. Bahasa sederhananya: sebenarnya saya bodoh makanya susah lulus!) Namun, kadang itu tidak bisa menguatkan diri kita. Dan kita menjadi gamang terhadap hidup kita.

Itulah kawan. Hidup selalu menghadapkan kita pada pilihan. Dan setiap pilihan datang dengan konsekuensi masing-masing. Pertanyaanya: siapkah kita dengan pilihan yang kitaambil? Entahlah!

Iklan
Tagged with: , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nanang kusrianto said, on Mei 7, 2010 at 4:27

    Tuhan (Allah SWT) menciptakan manusia dan segala ciptaanya yang ada di jagat yang super nan luas ini, tentu tidak akan di biarkan begitu saja , Tuhan (Allah SWT) juga memberikan atura-aturan kepada manusia , dan aturan hanya dua pilihan aturan :

    pertama :
    manusia disuruh memilih pilihan yang bisa menghantar kepada ke abadian hidup (surga)

    kedua :
    manusia disuruh memilih pilihan yang sebaliknya

    Dan pilihan-pilihan tersebut tentu sudah tersirat dan tersurat dalamkitab suci (AlQuran,bagi ummat Islam),tentu kedua pilihan ini,… kita harus pilih salah satu, seorang manusia biarpun jahatnya setengah mati ….kalau disuruh milih antara surga dan neraka ,..pastinya akan memilih surga..,nah… kalo manusia sudah memilih sesuatu di antara pilihan tersebut , dia harus bertanggung jawab dan juga berani menanggung akibat….rasa -rasanya kalau kita sebagai manusia yang punya kelebihan diantara makhluk hidup yang lain, …..kalau manusia itu hanya makan -minum,kerja cari uang sebanyak-banyaknya,kemudian berkembang biak dan cuek akan pilihan-pilihan hidup ,lalu apa bedanya dengan ayam yang setiaphari diberi makan supaya gemuk dan cepat bertelor, atau yang lainnya……..

    Kaya, miskin,cantik,jelek,pendek,tinggi itu adalah anugerah dan nikmat yang wajib dan kudu di syukuri sedalam-dalamnya,.. dan juga merupakan ujian yag bernilai, kalau seorang manusia dia di cipta dalam keadaan cacat misalnya itu adalah bentuk kasih sayang Nya Tuhan dan sekaligus ujian kekurangan fisiknya tinggal pada diri orang tersebut menggali potensi besar yang ada padanya, dan jangan sekali-kali dia berfikir dia banyak kekurangan dan merasa harus di kasihani……disinilah posisi manusia ketika dia mengahadapi persoalan yang rumit akan goyah akan pilihanya yang semula telah di pegang teguh..karena merasa Tuhan tidak adil pada dirinya..maka bisa jadi orang tersebut beralih pada pilihan yang menyesatkan….

    Anda hari ini mangalami perlakuan kasar, dibenci,difitah selama itu tidak benar…tersenyum sajalah pada keadaan tersebut……..maka akan jadi pemenang……

  2. Lafi Munira said, on Juli 5, 2012 at 4:27

    Reblogged this on aku dan bintang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: