Agus Lenyot

Aku Benci Mengakui Kekalahan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on April 29, 2010

Mungkin baru kali. Biasanya tidak lain kali. Tapi aku benci mengakui kekalahan. Bukan pada sebuah masa. Untuk matahari esok hari, aku berharap masih bisa tetap tersenyum. Walau kadang penuh kepalsuan. Untuk sebuah ketidakpastian yang menjelang, aku berharap masih bisa tertawa meskipun tawa pahit.

Aku berharap menjadi pemenang. Meskipun bukan untuk orang lain. Tapi kali ini, aku harus mengakui. Aku kalah. Bukan untuk sebuah sebab. Tapi karena akibat yang tak mungkin bisa dibantah.

Untuk kenyataan yang bergelayut manja pada sebatang cermin retak, aku terpaksa berbicara jujur. Pada sebuah sebatang rokok di malam yang gelap. Aku harus mengakui. Aku benci mengakui kekalahan. Aku berharap bisa tersenyum manja. Pada udara pagi yang tak pernah mengeluh. Atau pada lembayung senja yang tak pernah meratap. Aku berharap bisa seperti mereka. Tidak kecewa pada mentari yang selalu pergi meski pagi menanti.

Aku ingin mengusir nyamuk ini pergi. Biar dia berhenti berdenging di telinga. Merobek mulutnya agar dia tidak menghisap darahku dan membuatku lemah. Tapi dia selalu datang dengan kerumunan. Memenuhi lorong telinga dan membuatku terngiang ketika terjaga di subuh yang merenung.

Aku berharap menemukan hari yang lain. Tidak dengan bajingan-bajingan tengik yang menggangu tidur malamku. Pada kutu loncat yang tak pernah menghargai arti pengorbanan. Pada anjing liar yang menjilat pantat sang tuan demi sebuah tulang busuk. Aku benci dengan anjing kurap yang tak tahu terima kasih ini.

Aku tak pernah berharap kotak kaca ini bisa menjadi penghibur. Aku berharap dia membisu lalu mati terbujur kaku. Menjadi mayat. Lalu mengganggu tidur malamku. Bukankah dia lebih baik mati daripada menjadi benalu kusut yang tak lelah mengisap sari.

Terlalu aku diam mengalah. Pada sebuah kesunyian yang tak mengaduh. Pada sebuah pisau kecil pejemput maut. Dia yang tak berarti. Lalu pergi dengan senyum terkepal. Aku ingin membenturkan kepala si anjing kecil. Membuatnya bersimbah darah. Lalu menjerit kesakitan. Untuk sejenak eraung-raung kesetanan.

Aku ingin mengubah semua pandang terhadap tubuh renta ini. Bahwa mesin tua ini bukanlah orang yang hebat. Yang tak layak dijadikan kagum karena toh semua itu tiada guna. Yang tak pantas bahkan untuk siapapun. Dan aku berharap ada sebuah benci yang kemudian mengendap menjadi dendam membara. Menjadi api dan membakar semua ingatanmu terhadapku. Karena, sekali lagi, aku benci mengakui kekalahan.

Pada sebuah harap, aku ingin membuangnya ke dalam tong sampah. Menunggu sang pemulung kecil datang dan berharap aku bertemu dengannya di lautan yang tak bertepi. Pada sebuah janji usang, yang bagimu adalah sebuah dosa, aku sudah menyimpannya dalam kotak rapi yang tak akan kubuka kembali. Aku akan membakarnya, agar hilang semua ingat terhadapnya.

Dan aku akan mengubur semua bincang. Karena aku tak percaya lagi pada sebuah janji. Pada sebuah kata-kata busuk yang tak pernah tertepati. Karena aku benci mengakui kekalahan.

Aku berharap tidak lagi menjadi orang bijak. Yang pura-pura tegar. Yang pura-pura bisa menerima kekalahan. Cukup!

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nanang kusrianto said, on Mei 8, 2010 at 4:27

    Sebenarnya tidak ada kamus kalah dalam hidup ini, artinya setiap kekalahan yang kita terima ada ilmu yang kita dapatkan, setiap kekalahan yang kita dapatkan pasti ada hikmah didalamnya, semua kekalahan yang di anggap orang lain kalah sebenarnya kemenangan bagi kreatifitas otak kita untuk selalu bergerak.

    Sobat Hidup ini tidak terbatas pada bulatan dan hijaunya bumi serta luasnya alam sejauh pandangan mata, hidup adalah visi dan misi yang harus di lakaukan setiap individu manusia , manusia dengan segudang peradaban , dengan segudang kemauan dan kemampuan menjawab segala hal yang berhubungan dengan hidup dan sang Kholik pencipta alam yang tak pernah berharap keuntungan, hanya manusianya mau melakukan atau tidak…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: