Agus Lenyot

Aku (selalu) Suka dengan Wanita Cerdas

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on April 29, 2010

Aku (selalu) Suka dengan Wanita Cerdas
Malam itu, dia bercerita tentang langit. Tentang tanda-tanda yang datang, pergi dan selalu nyaris tanpa pamit. Tentang langit yang bercerita pada hari kemarin. Tentang langit yang selalu setia menjadi peneduh sang terang. Tentang sebuah pekat yang menuju kemudian. Kemudian yang entah berlalu menjadi apa, dimana, kapan, karena langit selalu segan bercerita banyak. Tapi kita harus selalu tahu. Sebab, langit selalu bercerita dengan tanda-tanda. Dengan senyumnya yang menawan, dengan angkuhnya yang menjanjikan.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Aku pernah bersua dengan wanita cantik, seksi dan aduhai. Fisiknya nyaris sempurna. Tongkrongannya mobil negeri matahari keluaran terbaru. Pakaiannya aku yakin, pilihan terbaik dari butik ternama di pulau mini ini. Bibirnya tipis menggoda. Tekstur wajahnya begitu agung dan mengagumkan. Tapi apakah itu cukup? Untuk menjadikan sebuah rasa tumbuh, berbunga lalu bersemarak? Bagiku, pencipataan rasa tidak sesedehana logika matematika. Selalu ada nuansa unik yang bermain menjelma. Yang datang tiba-tiba, membuatmu kalang kabut dan sewaktu-waktu bisa menghempasmu.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Yang selalu bercerita tentang datangnya hari, tentang harapan, kemungkinan dan masa depan. Aku selalu terpesona pada wanita yang hangat, cerdas dan bersahaja. Yang tak ragu duduk berdebu dan berkeringat untuk sebuah kenyataan. Yang tak ragu menjadi berbeda karena pemikiran. Aku selalu kagum pada wanita yang tak mudah patah. Yang berani beradu, berdebat lalu bermain dengan logika sederhana. Dia tidak mudah kalah dan pantang menyerah. Tidak ragu menjadi lawan tapi tak sungkan pula tatkala harus berkawan.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Pada langit dia sedang bercerita tentang tentang awan yang merintih, yang muram, yang menunggu turunnya air mata dewa. Eh, mungkin saja air mata dewa itu tumpah tadi pagi. Aku bisa melihatnya di depan pikuk yang selalu enggan untuk berhenti. Di depan bapak tua buta yang kehilangan pegangan karena kehilangan arah, saat melintas di perbatasan. Bapak tua buta yang selalu dituntun oleh anak kecil nakal tapi baik hati. Di sebuah perbatasan. Di sebuah tempat bercerita. Di depan kerlip lampu tiga warna tempat sang kakak mencari penghidupan.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Sepiring nasi mungkin saja mengganggu obrolan kita, tapi perutku berteriak nyaring waktu itu. Lalu berceritalah kita tentang hari ini. Tentang kekonyolan dua hari yang lalu. Tentang cerita hari esok. Aku suka dengan caranya menangkap ceritaku. Aku suka dengan gayanya untuk membuatku berdinamika. Dan kenyamanan ini, ternyata mampu kita pertahankan seiring waktu yang berpacu.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Mungkin saja dia tidak cadas, tapi aku yakin dia terlihat berkelas. Tak ragu berkelakar, tapi bisa menjadi tawar ketika waktu beranjak enggan. Berani melawan tanpa malu-malu, berani datang tanpa pernah menunggu pergi. Berani tertawa tanpa ragu pada suasana.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Bukan karena apa yang dia miliki, tapi karena dia berbuat apa. Yang fasih berbicara tentang angin yang berlalu, tentang pantai yang selalu menebar debar, tentang awan yang berkeluh menunggu hujan, tentang api yang tak bosan menemani asap bercerita. Tentang pagi yang tak pernah berhenti menyeruak, dan tentang senja yang selalu sabar menunggu malam.

Aku selalu suka dengan wanita cerdas,
Ingatkah pada perbincangan kita dimalam yang membisu? Saat sang pujaan hati pergi dan tapi dia tetap tertawa meski sudut mata tak mampu membendung laju air yang mengalir? Sebuah cerita tentang sepasang purba yang menggeliat, mengeluh lalu berpeluh dan merintih dalam keterpaksaan menjadi bincang kita malam itu. Di dalam rumah kita, ditemani dering nyamuk yang tak bosan berputar mengincar kehidupan kita. Sebuah cerita tentang masa lalu, tidak tentang hari ini dan dia selalu tetap bisa memperlihat giginya yang berbaris rapi.

Aku suka dengan wanita cerdas,
Yang berani berhenti di luar jalur karena perbedaan. Ingatkan, saat perbicangan kita di malam yang dingin? Sebatang rokok menjadi penghangat kenangan. Saat pikuk kota menjadi teman. Diatas jembatan penghubung dua kota. Dengan kaki berdebu laksana manusia purba. Ingatkan kamu dengan cerita itu? Saat sang jantan berteriak nyaring dan fajar merangkak dengan lamban? Secangkir kopi hangat menjadi teman dan perbincangan berjalan hingga waktu berhenti pada titik nol.

Aku suka dengan wanita cerdas, itu saja..

Iklan

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. fatimah vannasrun said, on November 9, 2010 at 4:27

    kereeeennn……

  2. kadekdoi said, on Desember 2, 2010 at 4:27

    ^_^ dan semua tentang wanita cerdas itu akan menjadi elegi, dan melodi ruangkata dalam benak… tulisan yang menarik…

  3. maria said, on Januari 11, 2011 at 4:27

    wanita cerdas adalah impian setiap laki-laki, bukan hanya cantik fisiknya tapi yang lebih penting hati,sikapnya menentramkan jiwa pasangannya. Aq akan selalu berusaha menjadi wanita cerdas.

  4. via maheswari said, on November 21, 2011 at 4:27

    Ehmmmm

    Sosok yg cerdas memang sll bs membangkitkan hasrat
    Akupun suka dengan pria cerdas 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: