Agus Lenyot

Kapan ya Denpasar punya Transportasi Publik Massal?

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Mei 1, 2010

mimpi tentang transportasi publik yang nyaman, aman dan terjangkau di bali
dua hari bolak-balik nusa dua denpasar untuk meliput konggres geotermal dunia 2010 menjadi perjalanan yang sangat menyebalkan buat saya. kenapa? pertama, jarak denpasar-nusa dua buat saya amatlah jauh. kalau dalam hitung-hitungan bisnis , motor biru beracun saya menghabiskan kira – kira satu setengah liter bensin untuk perjalanan bolak-balik itu. artinya uang sebesar 6000 rupiah harus melayang karena jarak yang harus ditempuh itu. kedua, jalan by pass ngurah rai sangatlah panas dan berdebu
(saya pernah mikir, mereka – mereka yang bolak-balik kuliah di bukit pasti wajahnya berkarak karena debu di sepanjang perjalanan). ini menyebabkan kulit saya yang sudah karatan dari sononya, menjadi semakin karatan. ketiga, dan terakhir, alasan yantg paling menyebalkan adalah kemacetan setiap saat, setiap waktu di sepanjang jalan (sangat terutama di perempatan bandara ngurah rai, depan surf factory outlet hingga simpang siur). mobil pribadi, sepeda motor, taksi, bus pariwisata hingga truk pengangkut berjejer memenuhi jalan by pass ngurah rai.
jujur, setiap pulang dari wilayah bukit atau jimbaran, hati ini selalu dongkol. selain karena lapar, saya juga ingin cepat pulang, lalu mandi dan ganti pakaian. kedongkolan saya karena banyak rupa. selain karena saya harus berdebu dan kotor karena asap knalpot, saya juga iri dengan mereka yang duduk nyaman di kursinya lengkap dengan pendingin yang semriwing  (sindrom makhluk tak berpunya materi).
perjalanan panjang nan melelahkan ini membuat mimpi saya tentang transportasi massal kembali berputar – putar. otak saya pun menari – nari (meskipun saya juga tidak yakin tarian apa yang bisa dilakukan oleh otak saya yang bebal ini) mencari kambing hitam atas perjalanan menyebalkan ini. pertama yang saya salahkan adalah, pemerintah. kedua pemerintah. ketiga pemerintah. kelima pemerintah. hingga hitungan keseribu, otak saya masih tetap menyalahkan pemerintah. kadang, saya pernah mikir, kenapa pemerintah yang selalu disalahkan. kenapa kita tidak menuntut kesadaran masyarakatnya?
lalu otak saya yang dodol ini mulai bermain-main diantara debu jalanan (meminjam lirik lagu bang iwan fals). saya selalu membayangkan dan berharap kita akan memiliki angkutan transportasi massal yang terjangkau , nyaman dan representatif. saya membayangkan, ketika bepergian dengan angkutan itu, akan bertemu dengan banyak orang, mengobrol dengan siapa saja yang saya temui di angkutan itu. saya membayangkan akan bertemu dengan pegawai hotel, pedagang, bisnismen hingga mahasiswa. saya membayangkan, ketika kita melalui ruang dan waktu secara periodik, mau nggak mau kita akan membuka obrolan tentang apa saja. mulai politik, gosip, lingkungan, bali atau apa saja yang bisa diperbincangkan.
kita lalu berbincang tentang bank century, tentang kelambanan dan ketidakberanian kpk untuk memeriksa pak boediono dan buk mulyani di kantornya, kita akan berbincang tentang janji-janji busuk calon kepala daerah, kita akan berbicara tentang gigolo di pulau dewata, kita akan berbicara tentang penculikan anak dan ketidakmampuan polisi untuk mengungkapnya atau kita akan berbicara tentang hancurnya lingkungan bali. pembicaraan seperti itulah yang saya impikan dari transportasi massal itu.
saya ingin mendengar kesah pegawai hotel, penjual makanan, mahasiswa, ibu-ibu pedagang atau sopir angkutan itu. bukankah ini hakekat manusia, bisa saling berbagi dan saling membagi. saya membayangkan akan ada yang pacaran karena jalinan pertemuan ini, lalu menikah, punya anak lalu punya cucu dan merayakan hari jadinya mereka yang kedualima di angkutan itu. saya membayangkan akan memiliki teman baru yang, saya yakin, kita tidak pernah bayangkan sebelumnya.
dan itulah bayangan saya tentang transportasi publik yang mampu mengangkut banyak orang. mempertemukan orang dengan beragam latar, beragam rupa dan beragam warna. saya membayangkan kita akan memiliki ikatan emosional karena kita dipertemukan dengan begitu intens. saya membayangkan tumbuhnya ruang-ruang sosial, tumbuhnya sikap egaliter karena semua mendapat perlakuan yang sama. sama seperti yang saya bayangkan ketika pengguna kereta prameks jogja solo menemukan ruang sosial yang baru karena intensitas pertemuan yang begitu tinggi. ruang itulah yang tidak bisa saya temukan ketika saya asik sendirian naik sepeda motor ke nusa dua.
itulah bayangan saya sebelum akhirnya saya diklakson keras-keras oleh sebuah toyota fortuner di belakang saya. mobil mewah yang hanya membuat nyaman satu individu.
tapi kenyataannya, yang saya hadapi adalah, makin menjamurnya kendaraan bermotor di kota denpasar. makin sempitnya ruas jalan karena dipenuhi dengan aneka mobil aneka harga aneka rupa. yang saya hadapi sekarang adalah ketidaksabaran, kebencian terhadap pengguna jalan lain karena semua ingin paling pertama sampai tujuan. ketidaksabaran itu ditunjukkan dengan naik trotoar yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki atau membunyika klakson kenceng-kenceng hanya agar mobil di depan bergerak maju padahal yang di depan juga susah bergerak. yang saya hadapi sekarang adalah hilangnya rasa kepedulian terhadap sesama karena masing-masing sudah nyaman di kendaraannya tanpa peduli ada yang berkeringat dan kelaparan di luar sana. banyak mobil dan motor menyebabkan udara makin kotor,pengap dan semakin tidak sehat. dan ini bagian dari pemanasan global. lalu siapa yang harus bertanggungjawab? kita? orang lain? atau pemerintah?
dan pemerintah, bagi saya selalu salah. pemerintah tidak mampu dan sepertinya tidak punya niat untuk mewujudkan sistem angkutan massal yang bersih, terjangkau dan representatif. pemerintah membiarkan secara membabi buta mobil-mobil bekas masuk bali dan tidak menyeleksi kepemilikan kendaraan padahal kita tahu jalan di bali sangat sempit. pemerintah membiarkan jalan-jalan rusak tanpa pernah peduli berapa nyawa yang harus ditebus karena jalan rusak itu. pemerintah sudah membunuh ruang sosial karena membuat setiap individu membuat zona nyaman sendiri tanpa peduli dengan orang lain padahal katanya kita negara yang ramah tamah. pemerintah membiarkan kita saling curiga karena terbunuhnya ruang publik itu.
pemerintah hanya perlu menyediakan anggaran. selanjutnya mengajak seluruh stakeholder, untuk bersama-sama membangun ini. selanjutnya pemerintah membuat rute yang mampu menjangkau seluruh kawasan dari denpasar utara hingga nusa dua. namun, pemerintah juga harus memastikan bahwa tidak ada istilah keterlambatan, tidak ada istilah pemotongan jalur dan kita juga harus siap berjalan dalam sistem yang teratur. pemerintah wajib menyediakan halte yang nyaman, sistem pembayaran yang terjangkau dan transparan hingga tempat parkir yang memadai buat mereka yang rumahnya tidak dekat dengan jalan raya. bukankah dengan ini kita bisa mengurangi polusi dan menciptakan ruang interaksi sosial. saya merindukan itu. saya ketakutan anak cucu kita nanti menjadi pribadi yang introvert karena besar dengan permainan individual di kendaraan pribadi.
memang tidak mudah untuk mengubah watak kita yang memang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi. tapi kalau memang kita punya niat dari sekarang, bukankah mimpi ini pasti diwujudkan suatu kelak?
menghadapi kenyataan ini, saya hanya bisa pasrah, melanjutkan perjalanan dan menulis begitu di rumah. 

Iklan
Tagged with: , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Agus Lenyot said, on Mei 1, 2010 at 4:27

    berharap mimpi ini bisa segera terwujud sebelum denpasar benar-benar hancur..

  2. .gungws said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    setuju bung,le…!!

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      yeah, kita menunggu pemerintah daerah buat sarana angkutan yang bisa mempertemuan heterogenitas.. hehehe 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: