Agus Lenyot

Apakah Anda Cinta Udayana?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 2, 2010

ruang teater ini sebenarnya sangat representatif. selain luas dan nyaman, tempatnya pun strategis. sayang, harganya mencekik kantong mahasiswa


suatu waktu, saya pernah berpikir ketika melintas di sebelah bus kampus unud. di salah satu kacanya tertempel setiker “aku cinta udayana”. beranjak beberapa meter dari tempat itu, saya berpikir, apakah kita memang mencintai universitas udayana? apakah tindak tanduk kita memang mencerminkan kecintaan kita terhadap universitas udayana?

sejatinya pertanyaan itu untuk mengawali kegelisahan saya terhadap dinamika kampus belakangan ini. sebagai mahasiswa yang pernah menjadi, katanya, orang yang dipercaya menjadi pimpinan mahasiswa di udayana, rasanya kegelisahan ini tidak akan tuntas jika tidak disalurkan. lebih khusus lagi, saya ingin menyoroti permasalahan manajemen dan perencanaan pembangunan di udayana dan kaitanya dengan dinamika mahasiswa.

dulu, ketika masih menjadi presiden bem, saya mengakui betapa berbelitnya birokrasi kampus. keruwetan ini seringkali membuat saya mengutuk keruwetan ini entah dengan teman atau lewat jejaring sosial fesbuk. Keruwetan birokrasi kampus membuat saya pernah diteror penagih hutang ketika melaksanakan kegiatan student day . bahkan ketika melakukan unjuk rasa mengenai salah satu soal di negeri penuh masalah ini, salah satu kambing hitam yang paling kami sukai adalah birokrasi.

nah, persoalan mengenai birokrasi ini kemudian berputar-putar kembali di kepala saya. beberapa waktu yang lalu, adji prakoso, presiden bem 2010 berkata begini pada saya, “aku tidak tahu mesti ngelakuin apalagi agar rektorat bisa segera mencairkan dana kemahasiswaan.” Menurut adji, hingga hampir dua bulan kepengurusan berjalan, belum ada sepeser pun dana yang turun untuk membiayai kegiatan operasional bem.

perbincangan dengan adji kala itu bermula dari, konon, dihilangkannya dana perbantuan kemahasiswaan. selama ini beberapa kegiatan mahasiswa memang mengandalkan dana itu ketika mengadakan kegiatan. bahkan, bem di masa saya, banyak terselamatkan oleh dana per bantuan itu. beberapa kegiatan bisa dilakukan karena memang ada dana bantuan dari rektorat. sebab dana operasional bem sangatlah kecil dan proses pencairannya berbelit.

keluhan adji bisa saya pahami.

dalam suatu rapat di pers kampus akademika, saya mendapatkan informasi, bahwa dana per bantuan itu akan dialihkan untuk pembangunan rumah sakit di kampus bukit. nah, mendengar kabar ini, saya seperti mendapat angin segar. walaupun kabar pengalihan dana belum tentu benar, namun mengulur pencairan dana kemahasiswaan apalagi mengalihkannya tanpa pertimbangan mahasiswa, bukanlah tindakan bijak.

saya pun sempat mengutarakan ide saya kepada adji. “coba aja tembak rektorat dengan permasalahan ini. mengapa, ketika student center, gedung fakultas pertanian, parkir di kampus sudirman dan fkh belum selesai dibangun, rektorat malah akan membangun rumah sakit di bukit? apalagi dana yang digunakan adalah dana yang, sekali lagi konon, dana kemahasiswaan?”

saya melontarkan kritik untuk unud dalam hal ini. pertama, unud seakan-akan tidak memiliki perencanaan yang matang ketika akan membangun sesuatu. perencanaan itu meliputi dana, aksesbilitas gedung, keterfungsian dan lokasi gedung. salah satu contoh konkret adalah mangkraknya pembangunan gedung student center. gedung ini awalnya dibiayai oleh pemerintah provinsi. namun ketika pucuk pimpinan berganti dan tidak adalagi kebijakan subsidi kepada perguruan tinggi, gedung ini tidak memiliki akhir.

ini menjadi bukti sakti kalau pembangunan gedung ini tidak mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga. akibatnya, gedung ini sekarang menjadi gedung kosong yang tidak jelas peruntukkannnya. contoh yang kedua adalah gedung fakultas pertanian dan fakultas kedokteran hewan. gedung ini pun mengalami nasib yang sama: mangkrak!

kedua, saya pernah mendengar bahwa master plan pembangunan unud adalah di kampus bukit (walaupun sebenarnya, konon, banyak mendapat tentangan dari mahasiswa kala itu). namun, fakta akhir-akhir ini memperlihatkan, unud justru sangat gencar membangun di kampus sudirman. gedung pertanian dan fkh menjadi contoh. ini menjadi pertanyaan besar, kenapa pembangunan fisik kembali diarahkan ke denpasar?

ketiga, salah satu hal yang tidak bisa dipahami adalah pembangunan gedung parkir lantai empat di kampus sudirman. pembangunan ini, setidaknya buat saya, justru kontraproduktif dengan semangat penyelamatan lingkungan. pembangunan ini saya katakan hanya melegitimasi polusi udara di denpasar. hal yang masih menjadi tanda tanya super besar di kepala saya. apalagi pembangunan ini telah mengorbankan beberapa sekretariat ukm tanpa ada konversi ruangan yang memadai.

tindakan ini sama saja mencampakkan dunia kemahasiswaan dalam ketidakpastian. ketika anda membongkar rumah, namun tidak menyediakan rumah baru buat penghuninya, bukankah ini adalah pengusiran? inilah yang dilakukan oleh rektorat. kita diusir dari tanah milik kita hanya untuk memberikan ruang pada benda tak bernyawa yang bernama mobil?

pertanyaan besar yang bergelayut, bukankah kampus seharusnya menjadi contoh teladan bagi perilaku masyarakat? ketika masyarakat ramai-ramai beralih ke kendaraan pribadi, seharusnya kampus memberikan solusi mengenai bagaimana menciptakan transportasi publik yang ramah lingkungan. bukannya justru melegitimasi tindakan yang makin membuat lingkungan menjadi polutif dan jalanan sudirman makin semrawut.

saya pikir inilah bentuk ketidakmampuan pengelola dan birokrat kampus dalam mengelola kampus yang saya cintai ini. ketika para petinggi universitas ramai-ramai mencanangkan akan menjadikan kampus ini sebagai research universty atau world class university, dinamika kemahasiswaan justru dicampakkan dalam ketidakpastian? contoh paling konkret adalah ketidakmampuan birokrat kampus menyediakan fasilitas kemahasiswaan yang terjangkau dan represantatif dan bertele-telenya pencairan dana kemahasiswaan. kecurigaan saya, ini adalah pola-pola baru untuk mematikan dinamika kemahasiswaan.

saya pernah malu setengah mati, ketika masih menjabat sebagai presiden bem, tatkala harus mengadakan kegiatan di luar kampus. kata seseorang, “sudah sedemikian parahkah unud sehingga tidak ada gedung untuk kegiatan seminar yang hanya menghadirkan seratus orang?”

ini pertanyaan menohok. dan saya kembali berpikir. iya, di unud (khususnya denpasar) tidak ada gedung yang bisa dipakai dengan murah. ada satu gedung yang sangat lumayan sebenarnya. gedung teater fakultas kedokteran. tapi, dengan segala hormat, harganya sangat tidak mahasiswa. inilah ironi kampus terbesar di bali.

pertanyaan saya itu seharusnya bisa dijawab oleh pengelola kampus. bagaimana pengelola kampus membantu mahasiswa dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. dengan itu akan tercipta iklim akademik yang hebat pula. tanpa itu, mahasiswa hanya akan disiapkan menjadi pekerja-pekerja yang menghamba pada tuan kapital.

atau, jangan-jangan memang itu tujuan pendidikan kita? kita boleh curiga tentu saja, sebelum ada niatan serius dari pemangku kepentingan..

dan pertanyaan, apakah aku benar-benar cinta udayana, kembali mendenging di telinga saya.

Iklan

16 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. adji prakoso said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    gw sukaaa bgt tulisan lo bosss,, udahh harus ada revolusi di unud… hancurkann birokrat2 kampus sang penghisappppp…… doain yaaa semoga perjuangan bem unud bisa kuat melawan arus ketertindasan ini,, kita tidak akan lelah untuk melawan ini….

    • Agus Lenyot said, on Mei 2, 2010 at 4:27

      ayooo dji.. semangat.. mari kita gempur dengan segala bentuk perlawanan. nyata atau dunia maya. bisa sebarkan link ini untuk kawan-kawan lain…
      biar semakin banyak mahasiswa yang tahu bagaimana perjuangan organisasi mahasiswa untuk mempertahankan eksistensinya..

  2. didit said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    manteepppp,,,, lapor KPK aja,,,, hahaha

  3. Agus Lenyot said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    hahaha, mari kita hajar..
    lawan!!
    tapi pelan-pelan… hehehe..

  4. A.J.I said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    thanks infonya sangat bermanfaat, hampir sama terjadi di kampus saya

    TELKOMSEL UNLIMITED ready stock

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      salam kenal..
      iyah, rata2 semu kampus mengalami perlakuan yang sama,
      namun semua juga sama, tidak mampu melakukan perlawanan..
      ayooo, kita bangkitkan semangat perlawanan itu..

  5. adji prakoso said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    benar, biar mereka tidak seenaknya sama organisasi mahasiswa…

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      ayo dji, perjuangan masih panjang,.
      tangan2 tirani akan selalu berusaha mengcengkram..
      cuma bisa ngasi spirit.. heheh 🙂

  6. daniel kefas truman said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    coba lihat http://www.unud.ac.id!!!
    disana diulas berbagai berita dan kegiatan yang dilakukan oleh unud…
    tapi, tampaknya sangat omong kosong kalo kita lihat dan rasakan!!!

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      makanya kita bikin informasi alternatif,
      bukan untuk menjelek2an, tapi bagaimana memberi kritik yang membangun,
      bukankah kritik itu perlu dalam pembangunan kan? ayooo,
      kita kritisi proyek2 bermasalah yang, khususnya, merugikan kepentingan mahasiswa..

  7. .gungws said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    wah..ternyata dimana-mana sama…

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      iya gung. sama aja dimana2..
      dulu aku pernah ketemu sama si tiger, yang akhirnya dia pindah ke unmas..
      disana lebih gawat katanya..

      mari kita bersatu ….. untuk makan siang.. 🙂

  8. wajib said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    mantap sekali tulisannya
    kalo dipikir2 sepertinya emang harus ada bertindak serius

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      terima kasih bung, masih belajar.
      salam kenal..
      yup, harus ada yang berjuang..
      mari kita berjuang bersama,
      kalau saya hanya bisa berjuang lewat kata2 ini..
      🙂

  9. Mang Ana said, on September 27, 2010 at 4:27

    Lebih jauh lagi dari sekedar gedung-gedung yang mangkrak di atas….

    ada satu gedung lagi, Skill Lab FK Unud yang juga masih mangkrak dari tahun 2006.
    melalui penjelasan Bapak Rektor saat Rapat dikatakan pembangunan mangkrak akibat dana Pemprov yang tidak berlanjut mengucur

    Birokrasi manakah yang salah? Unud atau Pemprov?

    Pendapat pribadi saya, setelah tanya keliling kemana-mana di semua saudara yang bekerja sebagai PNS di instansi pemerintahan.
    “memang begitulah birokrasi segala kantor-kantor pemerintahan yang ada di negeri ini” kata mereka-mereka.

    Sebagai bahan pertimbangan saja mohon dicek juga bersama apakah memang birokrasi negeri ini yang salah (termasuk Unud di dalamnya) ataukah memang birokrasi negeri yang sudah salah diperparah lagi dengan kesalahan birokrasi yang juga dilakukan oleh pihak-pihak tertentu di Unud. (alasan saya menyebut pihak-pihak tertentu adalah karena kenyataannya tidak semua pihak di Unud bermasalah, tapi dari semua yang bermasalah ini ternyata jumlahnya “sekianlah, you know that”

    Sekedar pendapat pribadi dengan beberapa fakta yang saya ketahui….
    THX

  10. Rijal said, on Mei 9, 2013 at 4:27

    tuh fakultas pertanian n ftp masih mangkrak banget… katnaya sih sebelum ayam berkokok di tahyn 2013, gedung agrokomplek udah jadi… masalahnya disini jadi apa, jadi dalam arti sebenarnya atau emang bener2 jadi mangkrak….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: