Agus Lenyot

Bali (Bukan) Pulau Gigolo

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 2, 2010


ada yang memijat. ada yang bermain bola di pantai. ada yang berbincang dengan turis asing. itulah cuplikan film semi documenter cowboys in paradise. film ini dianggap membuat heboh. tentu saja saya tidak perlu disebutkan alasan kenapa film ini membuat heboh. liputan di semua media, yang sebenarnya kontennya diulang-ulang, sudah membuktikan kalau film itu membuat gaduh. padahal film ini sejatinya sudah diputar tahun lalu, pada pertengahan oktober 2009, di korea international documentary festival.

sejatinya yang menarik, setidaknya buat saya, adalah begitu film ini mencuat di media, sontak pula mereka yang berkepentingan terhadap pariwisata bali. lebih banyak yang membantah namun tidak sedikit pula yang mengiyakan. ketika film itu berkata, bali (atau lebih tepatnya, kuta) menjadi sorga seks bagi ribuan turis wanita, itu bisa saja benar adanya. sebab, kehadiran turis di kuta, lengkap dengan latar belakang yang sangat terbuka, tentu sangat berbeda dengan masyakat kita yang tertutup, terutama terhadap hal yang dianggap tabu.

turis asing, bisa jadi, akan lebih bebas mengekspresikan sesuatu terkait hal ihwal yang berbau seksual. kalau kemudian ini tersambut oleh pria lokal, yang memang gagap dengan keterbukaan karena sekian lama terperangkap dengan ketabuan seksual, ditambah kebutuhan materi yang ditawarkan turis itu, maka pertemuan ini akan menemukan titik simpul: bisa jadi keberadaan gigolo itu benar adanya.

buat saya, tidak penting gigolo itu ada atau tidak. namun yang membuat saya heran, betapa reaktifnya polisi begitu kasus ini mencuat di media. tentu saja saya juga tidak akan menyalahkan polisi karena tugas mereka adalah mengayomi dan melindungi masyarakat . sikap ini di satu sisi, menuai pujian di kepala saya (tentu saja karena ini blog pribadi, maka semuanya pemikiran datang dari perspektif saya) karena polisi sangat tanggap terhadap situasi yang berkembang di masyarakat.

namun disisi lain, saya selalu punya pikiran, jangan-jangan sikap polisi ini, hanya untuk meredam sikap reaktif masyarakat. polisi bersikap responsif untuk sekadar meredakan kemarahan masyarakat pariwisata, menunggu kasus ini mereda, lalu pelan-pelan melupakannya dan mengubur dalam-dalam. saya tiba-tiba teringat dengan kasus penghinaan nyepi beberapa waktu lalu. polisi, melalui polda bali, juga direncanakan akan menghadirkan si pelaku penghina nyepi di fesbuk itu. namun, hingga hari ini, tidak terdengar bagaimana akhir cerita itu.

nah, ketakutan saya kali ini juga sama. apalagi yang ingin dihadirkan kali ini adalah warga negara asing yang, konon, tinggal di singapura. jangankan menghadirkan orang dari singapura, menghadirkan yang ada di tanah air sendiri polisi kelihatan tidak serius. apalagi menghadirkan orang yang tinggal di negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan kita.

banyak pelajaran yang mungkin bisa saya petik dari kejadian ini. kita, terutama orang yang bergantung dari pariwisata, kadang tidak suka dengan berita jelek, walaupun kadanng-kadang apa yang terpaparkan adalah nyata. bagi saya, terimalah itu dengan lapang dada. kalaupun fakta bahwa gigolo memang ada, bukankah itu menjadi tugas kita untuk meminimalisirnya, karena mustahil rasanya menghilangkan bisnis paling tua di muka bumi ini. apalagi, bukan mustahil pula, di bali ada industri yang jauh lebih esktrem daripada sekadar gigolo kacangan. kemungkinan itu tentu selalu ada bukan?

saya pikir, film ini mengajak kita untuk berefleksi terhadap nasib pariwisata kita yang bersandar pada keindahan alam. alam, bukanlah sesuatu yang abadi. bali dengan lanskap keindahan alamnya tidak selamanya akan indah, kalau pola-pola eksploitasi dilakukan seperti sekarang. dimana ada tebing eksotis, munculah villa. dimana ada sawah yang indah, munculah resort. dimana ada pantai yang menawan, dihancurkanlah dia untuk memenuhi ambisi materialistis.

ketakutan saya adalah, ketika semua itu menjadi sejarah, jangan sampai gigolo ini yang menjadi daya tarik utama pariwisata bali. saya pikir, mulai sekarang, segenap masyarakat bali, baik yang menikmati kue manis pariwisata, yang mengaku mencintai bali, atau mungkin yang hanya ingin mendapatkan keuntungan materi dari pariwisata bali mulai berpikir untuk mengembangkan yang berbasiskan sosioreligius. berbasiskan pada budaya yang sejati dengan meminimalisir pola-pola eksploitasi yang menghancurkan ekosistem alami.

pertanyaannya, apakah kita memiliki keinginan untuk itu? tinggal bagaimana kita menyikapi dengan bijak.

Iklan

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wimas dinasty said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    well , bener juga sih. mestinya kita ngliat ke dalem dulu. kalo memang benar kenyataanya kayak yg di film dokumenter itu, ya kan harus dipikirin gmana cara untuk menyikapinya. daripada ngluarin reaksi keras yg ndak jelas juntrungannya kmana..

    • Agus Lenyot said, on Mei 2, 2010 at 4:27

      betul itu. daripada membantah sesuatu yang memang benar ada, bukankah lebih baik kita diam lalu memperbaiki kejelekan itu? nggak usahlah kita menuding saudara sebangsa sendiri..

  2. unick said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    ho oh,,,, miris bgt klo ngedeenger berita itu diulang2 dan dikupas secara tajam setajam S***T!! hehehehh,,,
    bli foto yang header to jelek kali posenya,,, keliatan genduuuuttt hhaahhahahaha^^

  3. Agus Lenyot said, on Mei 2, 2010 at 4:27

    hahaha, sengaja tuh aku pasang poto yang itu.. wkwkwk, itu membuktikan kalau anak indonesia sehat dan cerdas. lhoooooo???

  4. daniel kefas truman said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    hmmm…
    mungkin adakalanya kita melihat tentang sebuah realita…
    dan ada juga waktu untuk menyikapi hal-hal yang dianggap tabu…
    tetai lebih baik kita menyikapinya dengan berpikir secara positif aja lah dulu…
    hhahaha…
    emang ga sejalan pemikiran gw sama u nyot!!!

  5. Andy said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    bihh wawu tiang unig bli lenyot wenten ngelah blog
    mantapsss
    bukannya qe salah satu yang melakukan pengakuan di film doku itu??alah pake mukanya diblur2 lagi ..tapi kok item ya>???udagh jadi beachboy kak???wkwkwkkwkwk

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      hahaha, saya mah nggak level gigolo kelas pantai,,
      kalau saya mah gigolo kelas pejabat,
      wkwkwk..
      baru belajar nie, mohon bantuannya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: