Agus Lenyot

masih adakah pendidikan berkeadilan?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 3, 2010

smp ini terletak di kecamatan muara bengkal, kutai timur, kira-kira 3 jam dari kota kecamatan naik sepeda motor. daerah juga, waktu itu, hanya terjangkau oleh satu provider. tidak ada jalan aspal, karena terletak di tengah-tengah perkebunan dan hutan produksi.


saya cukup sedih ketika membaca kompas hari ini, senin tanggal tiga mei dua ribu sepuluh. halaman pertama mengulas mengenai pendidika tinggi. intinya, perguruan tinggi semakin banyak menyediakan pintu masuk untuk masuk perguruan tinggi. bahkan, di beberapa perguruan tinggi favorit, jalan baru ini lebih tinggi persentasenya. alasanya, secara kualitas mereka yang masuk melalui jalur khusus ini lebih baik. padahal daya tampung perguruan tidak mungkin akan bertambah.

jalur khusus ini bisa multi makna. dia khusus karena memang memiliki prestasi. sepakat! dia khusus karena berasal dari keluarga tidak mampu tapi berprestasi. wajib ini. nah, ada khusus yang lain. dia disebut khusus karena mengalokasikan dana yang lumayan menggiurkan. nah, ini yang kemudian santer terdengar dan mendominasi pemberitaan serta lebih benar adanya. mahasiswa punya banyak alternatif. artinya, calon mahasiswa bisa memilih jalan mana yang dianggap lapang untuk menyandang status mahasiswa. ini buat saya, peluang perguruan tinggi untuk memaksimalkan kemampuan orang tua calon mahasiswa.

sekadar ingin bercerita. saya ingin membagi pengalaman saya ketika akan masuk kuliah dulu. buat saya, lulus sma adalah mimpi buruk. betapa tidak, nyaris tidak ada satupun anggota keluarga saya yang merestui untuk melanjutkan pendidikan tinggi. waktu vonis keluarga besar saya: kamu harus jadi polisi. namun karena usia saya waktu itu belum mencukupi, saya harus menunggu setahun.

nah, waktu setahun inilah yang menjadi beban pikiran saya berhari-hari.

selesai ujian nasional dua ribu lima, saya menjadi kenek paman saya yang jadi sopir truk jakarta-bali, sambil menunggu pengumuman kelulusan. kalau tidak salah, rentang waktunya sebulan dari selesai ujian akhir hingga pengumuman. waktu yang lumayan untuk mengumpulkan uang dan mencari pengalaman. hasil dari menjadi kenek selama sebulan, rencananya, saya gunakan untuk mengumpulkan uang untuk beli handphone baru. maklum, handphone saya diambil oleh paman waktu itu. setelah satu bulan berlalu, terkumpullah uang yang bisa membeli hape berwarna dan poliponik waktu itu.

selama perjalanan hampir lima kali bolak balik jakarta itu, saya sering termenung. inilah nasib saya selama setahun ke depan sambil menunggu pendaftaran jadi polisi. iya kalau lulus. kalau tidak lulus? sepertinya, seumur hidup saya akan menjadi kenek dan berharap bisa naek pangkat jadi sopir. waktu itu sya berpikir, itulah nasib saya.

ketika kembali ke sekolah, dan menanti kelulusan, semua teman sekelas bercerita tentang universitas dan mahasiswa. ada yang diterima di universitas favorit namun tidak sedikit pula yang tidak lulus di perguruan tinggi tujuan. spmb masih lima hari lagi kala itu. semua bercerita. dan hanya saya yang tersenyum kecut ketika ditanya kemana akan kuliah.

rupanya pertanyaan kawan-kawan ini membuat saya jengah. masa setahun dihabiskan dengan naik truk ke jakarta? tidur di emperan toko, nginep di kawasan pelacuran, tidur di pinggir rel kereta, menikmati warung remang-remang dengan kehidupan malam kelas bawah, bertemu dengan bajing loncat atau menyuap polisi lalu lintas di sepanjang pantura? owh tidak! saya bergidik membayangkan akan melakoni rutinitas seperti itu. dan niat itu pun membulat menjadi tekad: baiklah saya harus kuliah!

uang di tabungan saya waktu itu hanya satu juta tiga ratus. pikiran untuk membeli ponsel baru seketika menguap di kepala saya. hilang tanpa bekas. saya pun ke denpasar untuk menyambangi kakak sepupu saya. keluarga besar tidak ada satupun yang saya beritahu. saya cuma bilang, mau main-main saja ke denpasar. esoknya saya pun datang ke kampus bukit untuk membeli form spmb yang penuh perjuangan (nanti saya akan ceritakan betapa hampis mengenaskannya dan tragisnya nasib saya ketika mendaftar dulu). harganya seratus epuluh ribu rupiah plus ongkos calo lima ribu rupiah.

akhirnya, saya lulus. status mahasiswa sudah di depan saya. saya pun mendaftar ulang di kampus bukit. biaya pendaftaran ulang waktu itu delapan ratus ribu rupiah plus spp.bisa dihitung sendiri berapa sisa uang saya jika dikurangi dengan ongkos bensin dan uang makan.

saya pun mendaftar gempita dua ribu lima. biayanya seratusan ribu rupiah, saya lupa. celakanya, begitu membayar biaya gempita, uang saya sudah habis. padahal saya harus mendaftar opspek di kampus (namanya genta dan kersos) dan pengenalan bahan hukum di kampus. biayanya lagi lima ratus ribu untuk opspek dan lima ratus ribu untuk pengenalan bahan hukum. jadi totalnya sejuta. menyerahlah saya dengan kondisi ini karena saya tidak tahu harus mendapatkan uang darimana lagi.

dengan keberanian yang cukup besar, saya pun bilang ke keluarga besar kalau saya diterima di fakultas hukum unud. dan saya kesulitan untuk bayar biaya opspek.

dengan mengutang sana sini, keluarga besar saya pun memberikan uang sebanyak yang saya butuhkan. total biaya yang saya keluarkan untuk bisa menyandang nama mahasiswa unud tidak hanya sekitar dua jutaan rupiah. mungkin bagi sebagian orang angka itu hanya digunakan untuk sekali makan satu keluarga. tapi buat keluarga saya uang itu mengubah status sosial keluarga.

biaya pendidikan adik-adik angkatan saya membuat saya tercengang. bayangkan ada yang membayar hingga delapan juta, sepuluh juta, hingga sebelas juta bahka puluhan juta disesuaikan dengan kantong masing-masing untuk bisa mendapatkan satu kursi di universitas udayana. saya yakin seyakin-yakinnya, jika biaya itu dihadapkan pada saya hari ini, saya yakin akan menjadi kenek. karena saya yakin, keluarga saya tidak pernah memiliki uang sebanyak itu. uang sebesar itu, buat keluarga di desa seperti keluarga saya, sangatlah besar.

kenyataan ini membuat saya merasa, pendidikan tidak ubahnya seperti barang dagangan. semakin bagus kualitas yang diinginkan maka kita harus membayar mahal. pendidikan kemudian menjadi komoditas. pendidikan ibarat barang dagangan di etalase toko, dikemar semenarik mungkin agar mampu menarik minat pembeli. tidaklah mengherankan berbagai promosi lewat media dilakukan oleh perguruan tinggi guna menarik calon mahasiswa.

saya sepakat, pendidikan yang berkualitas membutuhkan biaya yang sangat besar. biaya itu tentu akan digunakan untuk meningkatkan kualitas pengajar, meningkatkan kualitas sarana prasarana, melakukan penelitian atau menyekolahkan pengajar keluar negeri. saya sangat sepakat itu. namun yang tidak pernah saya sepakati, kenapa biaya pendidikan yang mahal itu mesti dibebankan kepada rakyat? rakyat sudah diwajibkan membayar pajak masih pula harus disuruh bayar pendidikan mahal. lalu rakyat mendapatkan uang dari mana? ini menjadi pertanyaan besar yang menggelayut di benak saya.

mahalnya biaya pendidikan menjadi kesedihan besar terhadap kondisi pendidikan hari ini. kenapa mesti rakyat yang menanggung beban sebesar itu? lalu mana tanggung jawab negara? mana tanggung jawab pengelola negara?

saya cuma sedih, di luar sana, pasti banyak ribuan pelajar lulusan sma yang mengalami nasib seperti saya. tidak memiliki uang banyak untuk melanjutkan kuliah. mereka kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. ketika kehilangan kesempatan itu, hilang pula kesempatan untuk lepas dari jeratan kemiskinan yang melilit.

saya masih percaya bahwa pendidikan adalah sarana untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan dan ketertindasan. saya masih ingat dengan kisah seorang mahasiswa universitas gajah mada yang orang tuanya menjadi pemecah batu. ketika dia tidak bisa melanjutkan sekolah, maka selamanya keluarga itu akan menjadi keluarga pemecah batu. namun, untunglah ada seorang dermawan yang bersedia untuk membiayai anak tersebut. dengan kesempatan itu, dia punya kesempatan untuk melepaskan diri dari lingkaran setan pemecah batu.

tentu, tidak semua orang punya kesempatan itu. saya yakin masih banyak pelajar yang memiliki nasib lebih buruk dari itu. mereka kehilangan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan. negara melalui pemegang kebijakan gagal memenuhi tanggung jawab dan amanat yang diberikan konstitusi.

inilah ironi. pendidikan pun tak ubahnya sebagai alat penghisapan. pendidikan menjadi sarana untuk mereproduksi orang kaya, melegitimasi penindasan dan kemiskinan. saya pikir, negara harus berani bertanggung jawab terhadap kondisi ini. mulai menata sistem pendidikan dengan orientasi dan sasaran yang jelas berdasarkan mutu dan kompetensi. tidak hanya sekadar mengejar kuantitas lulusan yang melihat indeks prestasi sebagai parameter.

pendidikan, sekali lagi, adalah sarana untuk memanusiakan manusia, mengajak manusia untuk memasuki realitas sosial, membebaskan manusia dari ketertindasan dan kemiskinan dan bukan alat untuk melegitimasi penghisapan.

negara bertanggung jawab untuk itu.

Iklan
Tagged with: , , , ,

10 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. lightedheart said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    setuju banget. salut le… 🙂

    • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

      makasi dian.. eh, gimana sih caranya biar foto kita nongol di link kayak kamu itu? maklum gaptek aku dian..

      • lightedheart said, on Mei 3, 2010 at 4:27

        hahaha….jegeg kan aku ya,,,. ckckckck… :p
        itu, di my account yang disamping itu… diklik..
        trus ada tulisan edit profile.
        trus di gravatarmu itu ganti.
        aplot dah foto untuk gravatarmu.
        kalo udah, kan ada disuruh pilih kategori gravatar.
        ada kode G, X, dll…
        pilih kode G aja untuk blog umum. udah deh..
        it’s just that easy.
        aku jg coba2 kok kmaren2 ituw. bru bkin blog lgi. hihii…
        coba aja. 😀

        tpi sumpah, aku ngga prnah tau klo km pny prjuangan hdpu se-oke itu.
        ckckck… (jgn ge-er dlu ya.)

      • Agus Lenyot said, on Mei 3, 2010 at 4:27

        hoooo, yah seenggaknya lebih baiklah timbang yang berkebaya itu.. hehehe..
        okeh, nanti aku coba dah.. siippp..
        beginilah hidup,
        kalau kata efek rumah kaca, ‘hidup bagai balerina..”

  2. dian purnama said, on Mei 3, 2010 at 4:27

    wkwkwkwk…. okkkkeeeee……
    tapi masalahnya aku suka pke kbaya.

    hahay… you did it. itu ftonya udah nongol.
    anak pintar. 🙂

    • Agus Lenyot said, on Mei 4, 2010 at 4:27

      tengkyu dian.. maklum, aku kan agak gaptek kalau masalah teknologi.
      eia, dimana kamu kerja sekarang? hehehe..
      selamat yah udah jadi sarjana..
      sukses…

  3. Perveltdruddy said, on Mei 30, 2010 at 4:27

    Just want to say what a great blog you got here!
    I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

    Thumbs up, and keep it going!

    Cheers
    Christian, iwspo.net

  4. rahmanwahyu said, on Juni 4, 2010 at 4:27

    Saya juga kecewa dengan dunia pendidikan negeri ini. Untuk sebagian besar kita, tak banyak yang kita kecap di bangku pendidikan tersebut.
    Sebut saja, kita belajar tidak membumi dan menyentuh kebutuhan belajar kita. Cuman dipake untuk mengisi kertas ulangan dan lembaran2 UN

  5. Perveltdruddy said, on Juni 9, 2010 at 4:27

    Just want to say what a great blog you got here!
    I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

    Thumbs up, and keep it going!

    Cheers
    Christian,Earn Free Vouchers / Cash

  6. Khoirul said, on Agustus 21, 2014 at 4:27

    itu gambar sekolah saya waktu smp hehehehe masih ada gak ya sekarang sekolahan itu??? 13 tahun sudah tak melihat desa ini… Kalo SD nya masih tercatat di dinas pendidikan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: