Agus Lenyot

masihkah bangga dengan udayana?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 22, 2010

“bali itu dibangun dari kampus. kalau kampusnya mati, lalu siapa yang akan membangun bali.” waktu itu, sedang istirahat makan siang pelatihan investigatif dari lembaga pers dr. soetomo. ucapan ini sontak membuat saya terdongak. rasa kantuk saya seketika hilang. seorang bapak dengan begitu bersemangat bercerita.

“bagaimana membangun bali kalau jam lima sore kampus unud sudah kayak kuburan?” bapak itu melanjutkan. ini tentu menggelitik. lalu keluarlah romantisme masa lalu dari bapak itu. bagaimana dulu unud masih jadi universitas favorit. fakultas kedokteran unud masih jadi idola dan diperhitungkan di kancah nasional. tapi sekarang,”susah mencari dokter lulusan unud yang humanis,’ katanya.
komentar bapak ini ditanggapi dengan sinis oleh peserta lain. “pokoknya kalau kuliah, hindarilah unud. mending kuliahin anak saya di undiksa, jadi guru biologi,” kata seorang perempuan, yang dalam kata bapak tua itu, adalah dokter lulusan unud yang masih memiliki humanis.
lontaran ini sontak menampar muka saya sebab masih menyandang status mahasiswa unud. namun, lebih dari itu, pendapat bapak ini setidaknya menyadarkan saya bahwa masih banyak yang mencintai udayana. sepulang pelatihan, iseng-iseng saya main ke kampus, benar, jam lima sore kampus sudirman memang sepi seperti kuburan (agak lebay melambai dikit ).
saya tercenung. dulu, ketika masih menjadi presiden bem, kegelisahan ini sering saya lontarkan kepada kawan-kawan saya. bagaimana susahnya menghidupkan dinamika mahasiswa unud yang nyaris mati sempurna. dulu, ketika membuat diskusi jumatan di bem, peminatnya nyaris itu-itu aja. mungkin dulu kami kurang publikasi atau tema yang kita angkat terlalu berat untuk mahasiswa yang hidup di jaman yang serba virtual ini. tapi, minat mahasiswa untuk membicarakan sesuatu yang di luar kepentingan dirinya susah bener.
rasa kuatir ini sejatinya berangkat dari keegoisan saya pribadi. kenapa saya katakan egois? yang saya kuatirkan, mungkin, bukan bagaimana lulusan unud nantinya dihargai di masyarakat? namun, pertanyaan besar yang menghantam kepala saya adalah, apakah saya masih akan dihargai oleh masyarakat sebagai lulusan unud? Inilah ketakutan saya.
mahasiswa unud, dalam otokritik ini, menjadi mahasiswa ekslusif. dalam bayangan saya. ketika di awal kuliah dulu, dalam perkuliahan saya akan diajarkan untuk memecahkan persoalan di masyarakat. Bagaimana bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan kepentingan masyarakat. Namun, ternyata semua itu omong kosong belaka. Jangankan memperjuangkan kepentingan masyarakat, memperjuangkan kepentingan kaum sendiri mahasiswa nggak mampu. Lebih sederhananya, mahasiswa unud tidak bisa melihat, mana kebijakan yang merugikan dirinya sendiri.
Uang sks ketika melakukan perbaikan naik, mahasiswa manggut-manggut saja. Dilarang menginap di kampus atau melakukan kegiatan di kampus sampai malam, mahasiswa juga manggut-manggut. Akibatnya jelas, birokrat kampus makin leluasa menindas kita. Padahal, ketika mengospek mahasiswa baru, pengurus bem bukan main sadisnya mengajari juniornya. Inilah ironi calon intelektual di udayana.
dalam perjalanan saya, bapak dan ibu dosen, terutama para birokrat kampus lebih mengajar saya untuk bagaimana cepat lulus, bagaimana mencari kerja, atau bagaimana melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
tentu ajaran ini tidak salah. namun, buat saya, ajaran ini menjadikan saya manusia yang egois. kampus hanya berkeinginan agar saya cepat kerja demi mengejar akreditasi. kampus menganjurkan saya untuk kuliah lagi agar angka pengangguran bisa disembunyikan dengan halus.
pada akhirnya, makin dekat dengan perjalanan akhir saya sebagai mahasiswa, saya makin menyadari, kebanggaan menjadi mahasiswa udayana makin menipis. untuk daerah pedesaan, okelah, mahassiwa unud masih dianggap prestisius. namun, bagi masyarakat kota, yang nyaris tidak pernah permasalahannya tidak pernah tersolusikan oleh saya dan kawan-kawan, kita tidak lagi memiliki posisi tawar.
saya lalu teringat dengan perkataan seorang kawan yang menjabat posisi inti di fakultas dengan jumlah mahasiswa diatas dua ratus ini di kampus ini,”program kerja bem nyaris hanya mengulang kegiatan tahun lalu. kegiatan yang dilakukan jarang ada kegiatan yang baru.”
bagi saya, kegagalan mahasiswa untuk keluar dari permasalahan berangkat dari titik ini. mahasiswa gagal membebaskan dirinya dari belenggu masa lalu. kegiatan mahasiswa menjadi statis, mengulang dan itu-itu saja. pernyataan lebih sinis ada lagi, “kalau mahasiswa bikin kegiatan, sebenarnya kopi paste dari kegiatan tahun lalu.”
sejujurnya saya sedih. saya berharap, saya dan kawan-kawan berani mendobrak kemapanan dan kenyamanan yang ada di kampus. bahwa banyak persoalan di luar kampus yang perlu kita lihat. bahwa kita kuliah tidak hanya untuk diri kita sendiri. bahwa banyak isu di bali yang perlu disikapi. bahwa kita kuliah bukan untuk mengejar setan yang bernama skp. itulah kegelisahan saya.
pertanyaan saya, ketika kita tidak lagi bisa memecahkan persoalan di masyarakat, masih adakah kebangaan terhadap udayana?

Iklan

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Made said, on Mei 22, 2010 at 4:27

    Sekilas memang benar bahwa jaman sekarang serba “instan”, dunia digital/virtual seperti virus yang menjangkit setiap mahasiswa. Namun dibalik itu, respon positif terhadap dunia iptek karena mahasiswa sudah lebih update walau masih terhanyut suasana digital hingga miris terdengar bahwa teman nyata bisa terlupakan (syukurnya teman nyata jg punya semacam social network,setidaknya cuma lupa suaranya,hahaha). Baiklah, balik lagi ke topic yg atas-atas, kampus Unud setelah jam 5 sore sepertinya tidak layak disamakan dengan kuburan, karena di depan kampus Unud saja sudah ada dagang bertaburan, ditambah didalamnya mahasiswa extensi / s2 yg berkuliah, jadi bila dikatagorikan ini namanya semi kuburan lah… (no offense). Terkait keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi & kegiatan organisasi yang dilakukan ini dipengaruhi oleh beragam faktor, yang paling utama adalah pribadi, keluarga & senior di kampus. Dari Pribadi sendiri apakah ada niat/tidak, dari keluarga apakah mendukung/malah sebaliknya (mengingat orang tua sekarang juga menginginkan anaknya tamat cepat & cepat kerja & cepat memberikan cucu), serta dari senior sendiri, jika dari setiap angkatan masih terlalu mengikuti pakem kegiatan dari senior, maka terwujudlah kegiatan yang “itu-itu-itu-saja” (terlebih dari kekurang kreatifitasan pemegang organisasi saat itu). Namun, sampai saat ini saya masih bangga menjadi mahasiswa Unud, karena saya sudah mendapatkan pengalaman organisasi kemahasiswaan yang sangat berharga, materi kuliah yang membuat saya “melek” hingga bisa berargumen terhadap studi kasus dalam dunia nyata, serta pengalaman mengenai beberapa tipe teman yang bisa dijadikan contoh keperibadian baik/benar…

    • Agus Lenyot said, on Mei 22, 2010 at 4:27

      wah, terima kasih bli made atas atensinya.. dunia virtual juga membuat kita menjadi manusia individual, pdhl kita berangkat dari manusia komunal. sekarang, tinggal mahasiswa unud menyikapi, siap atau tidak menggunakan teknolgi, memadukan dengan intelektualitas dan berharmoni dengan kepekaan sosial untuk memecahkan persoalan, minimal di kampus, sebelum ke wilayah yang lebih luas..

  2. okanegara said, on Mei 22, 2010 at 4:27

    Kampus yang dimaksud yang mana le? kampus fisiknya yg di jimbaran, atau di sudirman atau di jalan pulau bali? karena kalau secara waktu dan fisik, sepertinya dari dulu juga seperti itu kok. Jam lima sudah sepi. Nggak pernah ada kehidupan, sejak dulu. Kalaupun ada yang berdinamika memang di dinamisasi mahasiswanya. Tapi mungkin saja yg terjadi adalah perubahan tempat dan figur. Kalau dulu mau ngumpul dan diskusi bisa di kampus, rumah kos teman dan rumah figur (tokoh dosen, tokoh masy, atau tokoh mahasiswa), sekarang bisa jadi ini yg berubah. Diskusinya di mal, di warnet, di dunia maya, di tempat main playstation, sebagian kecil ikutan di LSM mungkin, di di kafe, di tempat dugem, dan bisa mungkin diskusi di tempat tidur juga sambilan, hehe. Bisa berdua atau bertiga :p

    Perubahanlah yang terjadi. Tapi sialnya tiap perubahan tadi membawa konsekuensi. Diskusi menjadi tidak fokus dan seringkali tanpa figur sentral. Dan bisa jadi ini yang terjadi, dan makin membawa perubahan menggelinding ke hal yang makin tidak jelas arah, tidak fokus, tidak bersama-sama lagi, tidak berbasis komunitas yang kuat. Bisa jadi ini yang dimaksud sama si Bapak itu. Tapi sikap optimis untuk membawa perubahan baru menjadi lebih baik dan mengejar ketertinggalan itu adalah justru yang paling utama saat ini, walau sialnya lagi, tidak bisa dilakukan bersama-sama sering kali.

    Mari membawa perubahan yang baik.

    Btw, saya masuk ke golongan dokter yang humanis nggak le? hehehe.

    • Agus Lenyot said, on Mei 24, 2010 at 4:27

      tenks dok atas atensinya,,
      untuk pertanyaaan terakhir, nggak perlulah dijawab lagi, kayaknya semua yang kenal dr. oka akan menjawab sama, hehehe…

      kalau misalnya saya lihat dok, figur sentral itu kan lahir dari komunitas yang kuat,, nah, komunitas ini yang kemudian nggak lahir dari dinamika mahasiswa. mahasiswa lebih cenderung bergerak sendiri2. kalaupun ada dinamika, paling hanya dinamika sesaat yang insidental.
      yap, saya sepakat dok, jika ada yang punya kemauan dan selalu menyuarakan kemauan untuk menjadi lebih baik, pasti perubahan itu akan terwujud.
      semangat, saya berharap pengkerdlan peran unud terhadap pembangunan bali tidak dimulai di generasi saya..

      • okanegara said, on Mei 24, 2010 at 4:27

        sepakat le,
        orang melupakan kekuatan sebuah komunitas. padahal mahasiswa kan sebuah komunitas yang kuat, independen, dan intelek lah. pendistribusian mahasiswa atas dasar minat-minat yg berbeda ke dalam komunitas kecil2, membuat sentralitas komunitas dan lahirnya figur itu menjadi sebuah hal yang tidak berbuah manis lagi. Lahirnya satu atau dua orang saja seperti Lenyot, untuk saat ini sudah merupakan sebuah hal yang luar biasa. Salut deh, bila masih ada mahasiswa2 seperti Lenyot yg kritis dan berpikir untuk sebuah komunitas. saya pun suka ini. saya pernah membuat komunitas dan ingin tetap bisa mendukung komunitas ini tetap bisa berperan. Yuk, semangat….

  3. pandebaik said, on Mei 29, 2010 at 4:27

    Hehehe… pertama, terkait komentar si Bapak, saya jadi ingat komentar orang”tua dirumah, tentang masa muda mereka di Sekaa Teruna. Tentang yang rame dan erat hubungan pertemanannya. Berbeda dengan jaman sekarang ya terlalu individual. Bagi saya ya jelas beda lah. Zaman dulu mana ada siy yang namanya tempat nongkrong bejibun kaya’sekarang. Gak ada FB, gak ada PS dsb dsb dsb…
    kedua, saya sendiri masih bangga dengan almamater saya kok. Bagaimanapun juga, Udayana punya andil dan peran bagi jalan hidup saya sekarang. Demikian pula saat menyelesaikan pendidikan Pasca. ya terserah deh orang mau bilang apa…
    ketiga, pas baca yang nyinggung”soal Kedokteran, terlintas dibenak saya, wah ini sepertinya wajib dibaca ma dr.okanegara. eh pas turun ke komentar, sudah ada ternyata… Hehehe…

    • Agus Lenyot said, on Mei 29, 2010 at 4:27

      tentu saya juga masih mencintai almamater ini,
      termasuk banyak lagi civitas akademika unud yang punya kecintaan yang sama,

      namun, menurut saya, kecintaan itu kemudian tidak selaras dengan perilaku penghuninya sehari2, termasuk mahasiswanya. peran mahasiswa udayana, khususnya saat ini, untuk menyelesaikan persoalan atau minimal mendiskusikannya, nyaris tidak pernah terdengar di masyarakat. kawan-kawan saya, mungkin juga saya, terlalu asik untuk belajar, belajar, belajar dan belajar. lupa kalau teori itu digunakan untuk memecahkan persoalan.

      kalau untuk dijual di bali, okelah, udayana masih dipandang, tapi ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi luar bali, perguruan tinggi asing, tentu kita harus pikir2 lagi untuk bertarung.

      ini, kadang membuat saya berpikir, membuat lulusan unud hanya menjadi jago kandang (mungkin saya juga nantinya). hehehe. tapi apapun itu, masih banyak memang yang bangga dan mencintai udayana, termasuk bli yang satu ini. hee hehe 🙂

  4. Shaumi Slamiaty said, on Juli 17, 2014 at 4:27

    ini postingnya udahlama… tapi boleh nanya gak? emang bener kalo ada diskriminasi antara anak jakarta danbali? jadi lebih ke bali gitu.

  5. Ginanjar Ilham said, on Maret 6, 2015 at 4:27

    Smk Teknologi Wirabhakti/Multimedia kelas XI.
    # Punya Niat ngelanjutin ke Unud FEB jurusan Manajemen. Pertama baca artikelnya Jadi Fikir2. Tapi baca komen2nya Jadi Tambah semangat+jadi termotifasi untuk masuk Unud.
    # Tergantung Individunya bisa bawa diri atau nggak.
    # Emmm,,, mau cari informasi lebih tentang Snmptn lewat jalur Bidikmisi. Ada yang Berpengalaman tentang Ini ,,, 🙂
    Ilhambiru55@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: