Agus Lenyot

yes, my name is khan and i’m not a terrorist

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Mei 26, 2010

mengutip rizva khan, “dulu barat menggunakan bc dan ad dalam periodisasi waktu. kini ada satu lagi; 9/11.” begitu kira-kiran ucapannya. yap, ide film ini sederhana. bagaimana pandangan barat terhadap islam pasca peristiwa 9/11 (agak mirip dengan kemunculan ajeg bali dan sentimen terhadap pendatang pasca bom bali pertama).

tokoh utamanya rizvan khan. pelafalannya, khan, dengan katup tenggorokan ditekan ketika mengucapkan nama ini. khan menderita sindrom asperges, ketakutan terhadap warna kuning dan keramaian (beruntung khan tidak hidup di jaman orde baru). sindrom ini membuat dia kesulitan berinteraksi dengan orang lain. dan seperti kisah dalam film india, datanglah seorang wanita cantik dalam hidup khan, wandira, janda dengan satu orang anak, sammer.

dan peristiwa 9/11, versi film ini, mengubah hidup seluruh muslim di amerika. peristiwa ini juga menunjukkan betapa paranoianya amerika terhadap islam. ada seorang india, pemilik hotel yang dilempar dengan warga amerika kulit putih karena dianggap teroris. hanira, kakak ipar khan, kerudungnya direnggut dengan paksa oleh seorang amerika. ini sejatinya menunjukkan betapa buramnya perlakuan hak asasi di amerika. negara yang mengklaim dirinya sebagai negara paling demokratis.

ketika tetangga khan dan mandira, mark, seorang penyiar berita meninggal ketika meliput perang irak. kematian sang ayah membuat anaknya, reese, menjadi benci dengan sammer. persahabatan beda warna, beda agama ini berubah menjadi kebencian. lalu monumennya, sam akhirnya meninggal karena dikeroyok empat remaja amerika setelah cekcok dengan reese.

kematian sam melahirkan kambing hitam. mandira menuduh khan menjadi sebab kematian anaknya. sebabnya, “nama keluargamu khan dan kamu muslim.” muslim lalu menjadi musuh amerika. ditengah emosi yang bergulat dalam kepala mandira, munculah permintaan sederhana yang diterjemahkan secara mentah oleh penderita asperges. ”katakan pada presiden amerika, kalau namamu khan dan kamu bukanlah teroris.” inilah misi khan dan film ini.

sesungguhnya, saya ingin membandingkan kondisi ini dengan apa yang kejadian sehari-hari saya. betapa tidak mudahnya kita menerima perbedaan. di kampus, dikotomi antara nak bali dengan nak jawa begitu terasa. bahkan, ketika saya terpilih dulu menjadi presiden bem, salah seorang ketua bem fakultas berkata, “untung nak bali yang jadi preseiden bem.” bahkan di tembok kampus muncul tulisan. “kami mayoritas!”

saya terharu ketika menyaksikan mandira yang hindu sembahyang ala hindu india sementara khan sedang melaksanakan sholat. atau misalnya khan dalam perjalanannya menemui presiden amerika terdampar di wilhelmina dan bertemu dengan mama jenny dan joel si rambut lucu. adegan ketika joel dan khan bercerita tentang dampak serangan 9/11 dan perang irak di sebuah gereja hampir pasti menguras air mata. hampir sepanjang adegan film ini mampu mencabik-cabik emosi penonton.

sesungguhnya, banyak sekali kutipan menarik dalam film ini. simak saja, ketika ibu khan mengatakan, “di dunia ini hanya ada dua manusia, yang baik dan yang jahat.” perkataan sang ibu, masuk ke alam bawah sadar khan dan mengendap di kepalanya. apapun agama dan ras seseorang, yang membuatnya berbeda hanyalah apakah dia orang baik atau orang jahat.

pasca bom bali pun sentimen terhadap pendatang menjadi begitu tinggi. pecalang disiagakan. di setiap banjar satgas-satgas dengan berbagai nama begitu galak ketika melakukan razia. hingga hari ini, sentimen itu masih terus ada karena bombardir media melalui tagline ajeg bali.

saya tidak pernah mengalami perlakuan diskrimatif karena agama dan ras, namun saya bisa merasakan penderitaan warga islam di amerika pasca 9/11. saya pun kuatir, misalnya, dengan perlakuan orang bali di tanah sendiri kepada penduduk pendatang yang terlalu berlebihan. bagaimana kalau orang bali di perantauan, yang jumlahnya amat minim itu diperlakukan serupa?

isu agama memang isu yang sensitif. apalagi belakangan ini di bali sempat dihebohkan dengan isu pelecehan agama melalui akun jejaring sosial fesbuk. ada ibnu rachel dan julianto madura yang menghina agama tertentu di fesbuk. padahal, mengutip perkataan khan, “jalan tuhan adalah jalan cinta, bukan jalan kebencian atau peperangan.”

meskipun resensi ini telat, tapi jujur, saya baru menonton film ini karena punya makna spesial. dulu, ketika saya dan kadek ridoi rahayu ditabrak sepeda motor di jalan teuku umar selepas makan wedang ronde, film inilah yang kami bicarakan. yah, setidaknya film ini mengobati kekecewaan saya karena tidak sempat menonton film alangkah lucunya negeri ini di wisata karena sudah ditarik.
yes, my name is khan and i am not a terrorist.

Iklan
Tagged with: ,

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Isnaini Kharisma said, on Mei 26, 2010 at 4:27

    bliiiii,,sayang bgt kamu gk ntn film ini d bioskop,,hehehhe..untungnya na sempat ntn,,hohoho..
    tapi gpp la yg ptg kamu uda tau ceritanya..
    aq suka banget cara kamu mendiskripsikan cerita d film ini,,salut deh buat bolywood,,
    banyak banget yg bs dijadikan pelajaran dr film ini..
    kita seharusnya sebagai bangsa yg besar bisa memahami begitu banyak suku dan agama d negara kita ini,,dan kita bisa berpikir seharusnya tidak ada lagi kekacauan d negeri apabila kita memahami begitu indahnya sebuah perbedaan,,

    dan benar yg dikatakan khan “kalau jalan tuhan adalah jalan cinta, bukan jalan kebencian atau peperangan.”

    • Agus Lenyot said, on Mei 27, 2010 at 4:27

      kocik… keren filmnya. yah, inilah hollywood rasa bollywood. film india dengan setting barat, tapi nggak meninggalkan kesan india (walaupun kesan film india konservatis jauh ditinggalkan dengan hilangnya adegan menari meliuk-liuk di pepohonan serta hilangnya air mancur. keren dah.

  2. putriastiti said, on Juni 1, 2010 at 4:27

    loh, ternyata bagus ya…
    aku pikir ini film india biasa….
    tentang perantau gitu.
    boleh kalo gitu buat sewa vcd selanjutnya.

    • Agus Lenyot said, on Juni 2, 2010 at 4:27

      bagus kok,, yah meskipun film sebenarnya datang dari perspektif islam terhadap amerika,
      tapi sepanjang adegan, banyak pesan moral yang aku dapat,,
      jauhlah dari kesan film india yang banyak nari, pohon dan air mancur,
      penontong di belakang saya bahkan sesenggukan meskipun sudah keluar dari bioskop…

  3. indablu said, on Juni 30, 2010 at 4:27

    temen-temen bilang bagus & rekomended..
    tapi tetep juga belom nonton 😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: