Agus Lenyot

berikan kami pilihan pak pemerintah!

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 27, 2010

pemerintah acapkali tidak adil ketika membuat kebijakan. dari berita di kompas, dikatakan pemerintah akan mencabut subsidi premium kepada pengguna roda dua. ini sangat tidak adil buat saya. pertama, saya adalah pengguna setia sepeda motor. sebab, inilah satu-satunya kendaraan yang saya punya. kendaraan ini memiliki daya jelajah dan mobilisasi tinggi untuk orang yang tidak punya pekerjaan seperti saya.

kedua, pemerintah tidak memberikan pilihan lain ketika subsidi ini dicabut. dalam bayangan saya, subsidi dicabut artinya harga bensin akan naik. ini ketidakadilan dan ketidakpekaan negara terhadap saya selaku warga negara. pemerintah tidak memberikan pilihan lain jika benar-benar kebijakan ini dikeluarkan. artinya, saya tetap harus beli bensin non subsidi.

ini mengingatkan saya dengan konversi minyak tanah ke elpiji beberapa waktu lalu. nenek saya jadi korban. pemerintah mencabut subsidi minyak tanah tapi pemerintah tidak tahu banyak rakyatnya, contohnya nenek saya di kampung yang tidak mengerti menggunakan kompor gas. alhasil, hingga hari ini dia tetap setia menggunakan minyak tanah dengan harga yang sangat mahal untuk ukuran nenek saya.

padahal menurut saya, pemerintah seharusnya menyiapkan pilihan kepada masyarakat sebelum membatasi penggunaan premium bersubsidi.

pertama, pemerintah harus membenahi sarana angkutan umum. ini mutlak. pemerintah harus menyiapkan sarana transportasi massal yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. maksudnya, aksesnya bagus, harganya terjangkau, keamanan terjamin dan kenyamanan terjaga. ini mutlak. karena transportasi adalah sektor publik, pemerintah tidak boleh mencari untung dari sektor ini.

kedua, setelah pemerintah menata sarana transportasi massal, barulah pemerintah membatasi penggunaan premium bersubsidi. misalnya, yang boleh menggunakan premium dan solar bersubsidi hanya angkutan umum atau kendaraan jenis tertentu. sementara, mobil dengan kapasital dua ribu cc keatas, misalnya, tergantung bagaimana nanti pemerintah merumuskan, diwajibkan untuk memakai premium non subsidi. adil kan?

artinya, ketika seseorang sudah berani membeli mobil jenis tertentu yang dianggap mewah, dia artinya sudah berani menasbihkan dirinya berada pada level ekonomi tertentu. logis rasanya dia harus membeli premium atau solar non subsidi. kalau kelompok ini protes, pemerintah tinggal menjawab: “kalau tidak mau membeli bahan bakar non subsidi, gunakanlah angkutan massal yang sudah kami sediakan!” rasanya ini lebih fair.

saya selalu membayangkan, angkutan massal itu selayaknya kereta api atau trem yang mengubungkan satu kota dengan kota lain. atau satu lokasi strategis dengan lokasi strategis lain. namun, ini juga harus diimbangi dengan penyediaan lapangan parkir buat mereka yang rumahnya ada jauh dari jalur angkutan itu (kayaknya ini adalah masalah baru yang harus dipikirkan pemecahannya).

melihat tayangan di tipi, khususnya di kota besar dunia, saya juga membayangkan kota-kota besar seperti jakarta, surabaya termasuk denpasar juga akan seperti itu. pagi-pagi ketika jam kerja, orang-orang akan hilir mudik untuk berangkat kerja dengan menumpang angkutan ini. setelah lewat lewat jam masuk kerja, jalanan kembali sepi karena masing-masing orang akan disibukkan dengan kerja masing-masing.

keramaian kembali memuncak pada saat jam makan siang. orang-orang yang kelaparan kembali hilir mudik untuk mengisi perut yang keroncongan. setelah jam makan siang lewat, kembali jalanan sepi. puncaknya, orang-orang akan kembali hilir mudik ketika jam pulang kantor. ini siklusnya. saya membayangkan betapa teraturnya kondisi lalu lintas kita jika pemerintah bisa menyiapkan sarana transportasi massal ini.

tapi, satu hal yang mungkin saya lupakan. kota-kota di negara maju itu penduduknya sudah memiliki pekerjaan tetap nan mapan. jadi kebutuhan terhadap transportasi yang menjangkau tempat kerja memang mutlak diperlukan.

nah, kalau di indonesia yang penganggurannya banyak? ini tentu merepotkan. karena banyak pengangguran justru menghabiskan waktu di jalanan tanpa tujuan yang jelas (termasuk saya ). kalau sudah begini pemerintah punya pekerjaan rumah lain: sediakan lapangan kerja yang jelas!

Iklan

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. dismas not dimas said, on Mei 27, 2010 at 4:27

    satu lagi bos, transportasi massal juga kudu tepat waktu…

    oya, agak oot nih. Kalau di luar negri, saya ambil contoh Malaysia, kenaikan harga bbm kadang nggak diberitau. Tau-tau dah lebih mahal, ngikut harga minyak dunia. terus bbm nya oktan 90an ke atas n harganya nggak jauh beda dengan premium. Kadang lebih murah dari pertamax plus.

    sekian dulu… salam kenal 🙂

    • Agus Lenyot said, on Mei 28, 2010 at 4:27

      tengs brate,,
      iya, untuk itulah, karena masyarakat kita termasuk cengeng, pemerintah wajib memberikan pilihan lain sebelum mencabut subsidi..

      salam kenal juga..

  2. pandebaik said, on Mei 29, 2010 at 4:27

    “…yang boleh menggunakan premium dan solar bersubsidi hanya angkutan umum atau kendaraan jenis tertentu. artinya, ketika seseorang sudah berani membeli mobil jenis tertentu yang dianggap mewah, dia artinya sudah berani menasbihkan dirinya berada pada level ekonomi tertentu”
    Saya setuju dengan ini. Minimal bisa dilihat dari jenis atau brand mobil. 🙂

    • Agus Lenyot said, on Mei 29, 2010 at 4:27

      betul bli. ketika seseorang berani beli mobil dengan kapasitas mesin tertentu dia harus siap menanggung konsekuensinya, termasuk konsekuensi sosial dan konsekuensi kebijakan pemerintah..
      terima kasih sudah mampir bli…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: