Agus Lenyot

wajib atau hak?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 30, 2010

dua kata ini kembali berputar-putar di kepala saya. soalnya kembali pada soal sepele yang sebenarnya sudah sangat sering saya alami; tukang parkir. topik ini hampir selalu menjadi perbincangan setiap saya keluar dengan kadek ridoi rahayu. kemanapun kami pergi, tukang parkir adalag momok menakutkan buat kami. bukan karena kami nggak mau bayar pajak, namun bayar parkir sangat memberatkan kantong kami yang sudah pas-pasan.

tukang parkir di denpasar jadi lebih mirip dengan tukang palak timbang petugas yang mengawasi dan membantu saya parkir. beberapa waktu lalu, ketika saya mencari ponsel baru, saya menghabiskan hingga delapan ribu rupiah untuk bayar parkir. dari delapan tukang parkir yang saya temui tak lebih dari dua orang yang memberikan karcis parkir. selebihnya bengong, berdiri menunggu saya memberikan uang dan ngeloyor pergi begitu uang di tangan. ada juga sih yang membantu menyeberangkan saya. itupun juga tak lebih dari setengahnya.

sejujurnya saya sudah berkali-kali meminta karcis parkir kepada petugas. dan selalu diberikan jika saya pinta. tapi lama-lama saya capek juga. masa setiap saya parkir dan sudah membayar harus mengeluarkan tenaga lagi untuk meminta karcis? bahkan pernah suatu kali saya harus berdebat dengan tukang parkir soal ini. “cuma lima ratus juga,” sungut tukang parkir di jalan hayam wuruk itu. okelah, cuma lima ratus. tapi kalau ada seratus orang yang parkir silakan kalikan saja berapa uang yang masuk kantong tukang parkir.

setelah itu saya jadi malas meminta karcis parkir.

“hitung-hitung amal,” pikir saya.

saya mikir, petugas parkir digaji dari uang parkir yang saya bayarkan. jadi dia termasuk pelayan masyarakat. sebagai pelayan masyarakat dia punya kewajiban untuk melayani saya, yang menggunakan jasa parkir. salah satu bentuk pelayanannya adalah memberikan karcis parkir. saya berhak untuk mendapat karcis karena saya sudah melaksanakan kewajiban saya dengan membayar uang parkir.

oke. bagi yang saya yang tidak terlalu cerdas ini, itulah kewajiban dan hak. dalam bayangan saya, hak itu adalah sesuatu yang otomatis kita terima begitu kita melaksanakan kewajiban. ini agak mirip dengan perjanjian jual beli. jika sudah bayar kita akan dapat barang. kalau salah satu melanggar maka pihak yang melanggar itu bisa dikatakan melakukan penipuan. analogi ini rasanya tepat.

kalau misalnya kurang puas, mari kita lihat ccontoh lain. suatu ketika, saya belanja di department store terkemuka. saya membayar dan tanpa saya pinta, kasir selain memberi barang yang saya beli dia juga memberikan struk belanja. ini penting, karena tanpa struk itu, uang yang saya bayar bisa jadi masuk ke kantong tak bertanggung jawab. di minimarket dari amerika yang berjamuran di denpasar bahkan ada tulisan: belanja anda gratis jika kasir tidak memberikan struk belanja.

tapi di indonesia, sepengalaman saya, hak yang seharusnya kita dapat, harus ditagih terlebih dulu sebelum kita dapatkan. contoh paling sederhana, kakek saya dulu seringkali lupa sudah berjanji akan memberikan barang yang dia janjikan padahal saya sudah melakukan apa yang kakek saya minta. ini contoh paling sering saya alami. termasuk hingga besar kini.

contoh lain misalnya, kita seringkali rancu ketika mengartikan makna wajib belajar. ini sering menimbulkan pertanyaan dalam benak saya, “pendidikan itu hak atau kewajiban?” kalau dia suatu kewajiban, berarti benar, akan ada keterpaksaan untuk mengikuti pendidikan itu. kata kewajiban, buat saya, mengandung konotasi ada sesuatu yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan pendidikan itu. membayar misalnya. jadi jangan salahkan juga pemerintah ketika membebankan biaya pendidikan yang mahal karena kita tidak protes ketika pemerintah menggunakan kata wajib belajar. wajib juga dalam bayangan saya, kita harus patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh kata dibelakang wajib itu. misalnya wajib militer. ya, kita harus ikut militer.

padahal, menurut saya, pendidikan itu adalah hak. konstitusi sudah mengamanatkan ini. mencerdaskan bangsa dengan menyelenggarakan pendidikan adalah kewajiban negara. karena pendidikan adalah hak, maka pemerintah tanpa dituntut dengan demonstrasi sudah seharusnya menyediakan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau kepada masyarakat. tidak mesti lagi dituntut macam-macam oleh mahasiswa. jadi waktu yang digunakan untuk demo, bisa digunakan untuk belajar atau berdiskusi. nah, hak belajar dan wajib belajar ini kadang membingungkan saya.

tidak hanya itu. ada juga soal hak dan kewajiban yang dipahami rancu oleh sebagian masyarakat. pengalaman saya sebagai surveyor suatu lembaga survey untuk pemilu, saya sering mendapatkan pernyataan begini, ketika mengajukan pertanyaan, apakah anda akan memilih dalam pemilu, “ya harus memilih, itu kan hak.” begitu kurang lebih yang saya dengar. kok kalau memilih adalah hak, ya nggak ada lagi kata harus.

saya tentu malas berdebat dengan bapak-bapak atau ibu-ibu yang menjawab demikian. padahal dalam bayangan saya, memilih dalan pemilu adalah hak. hak, buat saya, bisa kita terima bisa kita abaikan. tergantung apakah kita akan menggunakan hak itu atau tidak. pengabaian terhadap hak tentu tidak mengakibatkan konsekuensi apapun. paling hanya kerugian pribadi karena hak itu berlalu begitu saja. beda halnya dengan pengabaian kewajiban yang selalu diikuti dengan sanksi.

nah, pada konteks inilah saya sering berpikir, apa sanksi atas tukang parkir yang tidak melaksanakan kewajibannya? sepanjang yang saya tahu; tidak ada. paling tukang parkir menjadi makhluk paling dihindari oleh mahasiswa berkantong cekak seperti saya.

prriiiiiit!! dan tukang itupun datang menghampiri, berdiri, menerima uang lalu pergi….

Iklan
Tagged with:

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. deny marisa said, on Juni 2, 2010 at 4:27

    pertamaxxxxxxxxxx

  2. deny marisa said, on Juni 2, 2010 at 4:27

    beda tipis sih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: