Agus Lenyot

berani tidak pintar atau pintar tapi tidak berani?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 22, 2010

saya tertarik mengutip tulisan sukardi rinakit di kompas hari ini (22/6). isinya lebih kurang seperti ini, “salah satu yang hilang dari kekayaan purba kita adalah keberanian. padalah menurut alfred wallace, penduduk nusantara memiliki harga diri tinggi, tidak hanya unggul di laut tetapi juga tegak di darat.

kalimat ini sontak mengusik sekaligus menghentak pikiranku. mulailah saya mencari-cari aktualisasi kebenaran kutipan sukardi ini. saya mulai dari kampus. setelah saya pikir-pikir, barangkali iya, kita telah kehilangan keberanian. termasuk keberanian mengambil risiko dan berpikir berbeda dengan pendapat umum. saya memutar pikiran saya (yang memang kadang muter ngga jelas), apa kira-kira yang bisa menjadi contoh.

kawan satu angkatan saya, yang sudah hampir lima tahun kuliah, kebanyaka sudah lulus, bekerja, masih mencari kerja atau sekolah lagi untuk menutupi kalau dia tidak bisa mencari kerja. kawan-kawan saya itu, banyak yang pintar. ada yang menjadi juara karya ilmiah atau juara debat. tapi iya itu, semua hanya berakhir di situ. mereka pintar tapi tidak berani. padahal di kampus saya, fakultas hukum, sangat banyak persoalan yang tidak terselesaikan. tapi tidak ada yang berani mengkritisi. lalu, mengutip kata wiji thukul, untuk sering baca buku kalau mulut kau bungkam melulu?

kawan-kawan saya yang pintar itu ternyata tidak memiliki keberanian untuk melakukan perubahan. pada akhirnya mereka memilih jalan hidup yang sangat normative. belajar, kuliah, lulus lalu mencari kerja. jarang yang berani terjun ke organisasi mahasiswa lalu mengkritik keras kebijakan dekanat atau rektorat kampus. pada titik ini, saya membenarkan ucapan sukardi hari ini.

pada akhirnya, silakan dikoreksi analogi saya jika berlebihan, yang berkecimpung di dunia organisasi adalah mereka-mereka yang ‘kurang pintar’ , saya salah satunya. tidak heran, kegiatan mahasiswa, terutama di udayana, lebih banyak kegiatan seremonial bak pejabat macam seminar dan jarang ada kegiatan advokasi. toh kalaupun ada, juga kadang minim rasionalisasi dan dasar argumentasi yang kuat. mereka yang pintar, jika indikasi pintar adalah menang lomba dan ipk tinggi, menjadi manusia normatif, senormatif dikat kuliah yang mereka pelajari.

ini ironi, padahal yang kita butuhkan adalah orang pintar yang berani. namun yang terjadi justru sebaliknya. yang pintar tidak berani. yang berani tidak pintar. jika kita beranjak ke wilayah yang lebih luas, ini juga menimpa arena politik elit negeri ini. yang memimpin kita adalah orang yang berani, tapi tidak punya nurani. pintar? realtif. bisa jadi pintar menyembunyikan aib. pintar mematikan musuh. pintar bersilat lidah. itulah politisi.

yang pintar? mereka umumnya bekerja di sector yang aman-aman saja. tidak mengambil risiko. menjadi pekerja, berkeluarga dan mati masuk sorga. toh kalaupun ada yang pintar masuk sistem yang busuk, umumnya tidak mampu melawan arus. pilihannya, ikut basah karena lumpur yang kotor karena tidak punya keberanian melawan sistem. atau keluar dengan hormat dari sistem yang kotor karena tidak memiliki keberanian untuk mengubah sistem.

saya rasa, logikanya seperti itu makanya negeri ini nggak pernah berubah. dikendalikan oleh orang yang tidak pintar, tidak memiliki hati nurani tapi memiliki keberanian (untuk mengorbankan orang lain).

Iklan
Tagged with: , , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. rizalihadi said, on Juni 22, 2010 at 4:27

    betul juga, om

    • Agus Lenyot said, on Juni 23, 2010 at 4:27

      makasi dah mampir dan meninggalkan jejak.. salam kenal…

  2. camera said, on Juni 22, 2010 at 4:27

    bener…

    aneh juga…

    orang tidak pintar mengatur orang pintar,,,

  3. doi said, on Juni 28, 2010 at 4:27

    berdasarkan hasil diskusi panjang dan fakta2 yg tersaji
    akhirnya aku tahu,,aku tipe yg mana??hahahaha,,,

  4. sultan said, on Oktober 28, 2010 at 4:27

    thanks …
    tulisan mu membangunkan tidurku
    tidur panjang yang di selimuti ketakutan .
    takut untuk maju…
    takut untuk bertindak
    takut, taku, takut dan takut lagi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: