Agus Lenyot

kamu atau saya yang porno?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 27, 2010

saya tertarik dengan apa yang dilakukan dengan farhat abbas, suami nia daniati sekaligus pengacara yang getol melaporkan nazril ilham alias ariel, cut tari dan luna maya ke polisi melalui lembaga swadaya masyarakat hajar indonesia yang dipimpinnya. tapi, saya harus menggarisbawahi, tertarik bukan berarti bersimpati.

sepak terjang farhat cukup menarik untuk disimak. dia pengacara muda dan berbakat, sepertinya. namun, kadang saya juga mangkel dan jengkel dengan tingkahnya yang, seolah-olah, paling alim di dunia ini. kali ini dia melakukan uji materi terhadap undang-undang nomor empat puluh empat tahun dua ribu delapan tentang pornografi. sasaran tembaknya adalah pasal satu.

mari kita simak bunyinya, ”setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: persenggamaan, kekerasan seksual; masturbasi, ketelanjangan, alat kelamin dan pornografi anak”.

tujuan farhat, saya akui, memang mulia. dia ingin memberantas pornografi. menurut farhat, sebagaiman dikutip vivanews, dia terganggu dengan penjelasan pasal itu. penjelasan itu menyatakan, yang dimaksud dengan ’membuat’ adalah tidak termasuk untuk kepentingan pribadi. bagi farhat, pasal ini bertentangan dengan pasal dua puluh sembilan undang konstitusi kita.

kata farhat, meskipun kita bukan negara agama, tapi negara kita memiliki agama. logika berpikir yang aneh menurut saya.

undang-undang pornografi sendiri melalui jalan terjal yang sangat panjang sebelum disahkan. klausula ’membuat’ sendiri itu, konon diperjuangkan oleh pdi perjuangan. ”untuk melindungi hak privat,” begitu alasan yang dikeluarkan oleh politisi partai berlambang banteng itu.

tentu ini menjadi perdebatan yang sangat menarik. kita ditarik kembali pada persoalan batas ranah privat dan ranah publik. jika pasal yang diujimaterikan itu dikabulkan oleh mahkamah konstitusi, maka akan terjadi bencana besar di negeri ini. akan semakin banyak muncul polisi moral yang berjuang mengancama ruang pribadi individu lain atas dalih moralitas. ujung-ujungnya? tentu justifikasi bahkan pengadilan sipil terhadap moralitas seseorang.

oke, mari kita berandai-andai jika pasal itu dikabulkan. seorang suami istri merekam aktivitas perkawinan mereka, untuk koleksi pribadi. lalu apa yang salah jika mereka membuat film itu untuk kepentingan pribadi? toh, mereka adalah manusia yang oleh hukum dianggap sudah mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. tontonan itu juga bukan untuk disebarluaskan tapi bisa jadi digunakan sebagai album kenangan layaknya sebuah foto kenangan. pada konteks ini, saya mengkritisi pola pikir penganut paham moralis itu yang memasuki batas privat seseorang.

atau misalnya, seorang bapak yang mengkoleksi video porno untuk dia tonton sendiri. lalu apa salahnya? toh, sekali lagi, dia adalah pihak yang oleh hukum dianggap memiliki tanggung jawab pribadi. namun undang-undang pornografi membatasi ruang gerak privat ini. negara, menurut saya, memasuki ranah privat warga negaranya tanpa terkecuali.

padahal, menurut saya, memberantas pornografi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yuridis yang kaku dan legalistik macam undang-undang pornografi. seperti dikatakan gus tulang, pornografi ada dalam pikiran kita, lingkungan sekitar adalah stimulan.

saya justru lebih tertarik untuk mengajak warga negara untuk bertanggungjawab terhadap tontonannya sendiri. artinya, kita tidak menyalahkan pihak lain atas dampak negatif tontonan yang kita miliki. kalau merasa belum siap untuk menonton tayangan yang berbau pornografi, ya jangan ditonton. bagi saya ini jauh lebih bijak ketimbang menyalahkan ariel atau luna maya atas maraknya perkosaan yang terjadi.

bahwa luna maya dan ariel adalah salah karena mereka melakukan seks pranikah saya sepakat, meskipun saya yakin sebagian besar remaja kita juga melakukan itu. mereka wajib mendapatkan sanksi sosial sebab, selain mereka publik figur mereka juga lalai melindungi barang pribadinya. ini yang kemudian yang tidak tercantum dalam undang-undang pornografi.

mmemproduksi konten yang berbau pornografi untuk konsumsi pribadi bagi saya sama sekali tidak salah. tapi ketika dia lalai, baik sengaja atau tidak sengaja, sehingga barang pribadi itu tersebar luas, maka dia bisa dijerat dengan aturan hukum. saya pikir, kita harus bijak melihat konteks setiap kejadian.

saya sungguh bingung dengan negeri ini. selalu mencari kambing hitam atas setiap bencana. lha, padahal negara ini ada banyak agama, dan semua agama itu mengajarkan sesuatu yang mulia. lalu kenapa masih juga ada yang berperilaku porno? ini saya yang kadnag membingungkan saya. saya jadi berpikir, jangan-jangan agama di negara kita hanya simbol untuk dilekatkan pada kartu tanda penduduk.

saya lebih sepakat untuk melokalisasi konten pornografi seperti rencana sekarang dalam domain dot xxx. artinya, pemerintah akan lebih bisa mengawasi peredaran pornografi tanpa perlu munafik, seakan-akan kita tidak ingin melihat pornografi.

televisi kemudian menghancurkan batas ruang privat seseorang dengan dalih dia adalah seorang publik figur. maka tidak hera, persoalan kawin cerai, maki-memaki, urusan ranjang seorang artis menjadi tontonan sehari-hari masyarakat kita. media membuat bias mana ruang pribadi yang menjadi kepentingan umum dan mana kepentingan pribadi. bukankah ini juga persoalan moralitas?

lalu kenapa tidak ada yang menggugat televisi atau media yang mengungkapkan kebobrokan pribadi seseorang? bukankah itu bisa memicu perilaku yang sama dari penggemarnya? ini ironi negeri yang saya cintai ini.

yang lebih mendesak menurut saya sekarang adalah bagaimana melindungi anak-anak dari tayangan yang berbau porno. ini tentu melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, orang tua dan pengelola warnet. anak-anak juga harus ditanamkan bahwa pornografi adalah sesuatu yang belum bisa dilakukan.

sekali lagi, aktivitas seksual adalah ekspresi privat. selama dia bisa menjaga ruang itu agar tidak dimasuki dan diintip orang lain, itu bukan masalah. yang bermasalah justru orang yang sibuk mengurusi moralitas orang lain.

sungguh, saya bingung siap sebenarnya porno.

Iklan

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nanang kusrinto said, on Juni 27, 2010 at 4:27

    Indonesia adalah lengkap di segala bidang : ada orang termiskin,orang terkaya, katanya negara miskin tapi mobil paling mewah ada juga yg beli, apalagi sepeda motor seperti jualan kacang goreng hari ini pesan hari itu juga di bungkus..dari yang super alim…,alim….setengah alim,…pura-pura alim….semuanya ada …ada yg suka nyolong ada yg suka bohong, ada yg suka ngomong ada yang selalu bengong……

    Permasalahan tema yg tertulis di atas bagi saya adalah hal yang biasa kalo hidup itu mulus tanpa ada persaingan mungkin bumi akan kiamat, kalo semua orang alim, dunia akan tamat, kalo tanah yang kita pijak isinya orang jahat pasti datang azab….

    Dua sisi yang harus kita mengerti…. manusia punya pedoman hidup masing2 ,masalah yg paling benar apa yg diyakini sebagai agama pembawa keselamatan di akhir ,tinggal buktian nanti di akhir kelak…

    Kalo orang islam di Al-quran gak boleh/haram makan daging babi, kemudian ada orang islam melanggar ya memang itu urusan pribadi, karena bersaudara seagama atau senegara harus bisa mengingatkan hal – hal yang tidak baik untuk tidak dilakukan, termasuk di perjuangkan dalam UU itu adlah upaya baik membangun moral bangsa , artinya klo ada orang islam yg tidak sholat kemudian di ingatkan temannya bahwa sholat itu wajib bagi umat islam bukan berarti masuk dalam ranah pribadi , karena memang ada perintah untuk berbuat baik ini anjuran Allah maka dia yang yakin karena Allah pasti akan mengingatkan bagi teman ataupn orang lain yang terlihat lalai dalam menjalankan ibadah2 agamanya masing2..

    Pun halnya dg UU yg ada saya kira semangatnya sama, orang bejat tentunya ingin agar UU perjudian,perkosaan,perampokan,dll hal yg jahat ingin dilindungi juga supaya kejahatannya tidak di jamah hukum…

    Itu adalah realita hidup kalo seseorang melakukan kejahatan yg terlihat kalo tidak kita tegur atau kita ingatkan padahal kita melihat jelas lalu siapa lagi yg akan menegur , klo kita biarkan mungkin dia akan beranggapan hal kejahatan yg ia lakukan sudah biasa…itulah titik ambang kehancuran nilai bangsa seperti telur di ujung tanduk…

    Untuk berbuat baikpun untuk jaman sekarang ini banyak tantangannya, tapi sebenarnya dibalik tantangan semua itu ada nilai lebih sebagai Raport hijau kita menuju akhir jaman yang kekal(Syurga).

  2. hepicahyadi said, on Juni 29, 2010 at 4:27

    salam kenal …

  3. nanangkusrianto said, on Juni 30, 2010 at 4:27

    salam kenal juga….

  4. Wy. Waja said, on Agustus 21, 2010 at 4:27

    Maksudnya begini : kita tidak perlu yang namanya harga diri yang penting hidup senang entah dengan cara apapun. Soal kita dilecehkan oleh Malaysia, Australia, Arab, dan berbagai negara lainnya itu dianggap nasib, bukan perjuangan manusia, artinya Allah telah menciptakan seperti itu. Setuju?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s