Agus Lenyot

sepak bola, drama dan air mata

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 29, 2010

banyak yang menuntut penggunaan teknologi dalam pertandingan sepak bola. alasannya, wasit sering melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan untuk peristiwa yang berlangsung dengan cepat. tuntutan ini menguat setelah pertandingan inggris melawan jerman. tendangan frank lampard yang sudah melewati garis gawang dinyatakan tidak gol oleh wasit jorge larrionda asal uruguay. wasit kembali menjadi kambing hitam setelah mengesahkan gol carlos teves yang berbau offside melawan meksiko.

namun, sebelum meminta maaf pada inggris dan meksiko, presiden fifa sepp blater menolak mentah-mentah penggunanan kamera untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan. alasannnya, “biarlah sepakbola tetap mengandung kesalahan,” kata blatter.

saya sepakat dengan blatter. sisi yang menarik dalam sepakbola seringkali justru datang dari drama yang dia ciptakan. perebutan satu bola oleh dua puluh dua pemain justru sering kalah menarik dibandingkan drama yang diciptakan oleh pertandingan itu sendiri.

jerman tentu tidak akan lupa pada final piala dunia seribu sembilan ratus enam puluh enam. tendangan george hurst yang belum melewati garis gawang dinyatakan gol oleh wasit gottfried dienst asal swiss. jerman meradang dan inggris pun memenangkan piala dunia satu-satunya negara itu meskipun mereka selalu mengklaim penemu sepakbola modern. perisitiwa ini akan menjadi luka yang tidak akan terlupakan oleh jerman.

Banyak yang bilang, “inggris kena karma!”

lalu, public inggris tentu tidak lupa dengan aksi maradona ketika meninju bola dengan tangan untuk menjebol gawang peter shilton pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh enam. meskipun setelah itu maradona menciptkana gol terbaik sepanjang masa, inggris tidak akan melupakan gol maradona itu. apalagi maradona dengan enteng bilang, “gol itu tercipta berkat tangan tuhan.”

drama inggris dengan argentina tidak berhenti di situ. pertarungan dua negara itu dibumbui dengan perang malvinas. perang untuk memperebutkan kepulauan falkland terus menjadi bumbu pertemuan inggris melawan argentina. drama ini berlanjut ketika david beckham menendang diego siemone yang berujung pada kartu merah untuk beckham pada sembilan delapan.

mereka pun kemudian harus bertemu pada penyisihan piala dunia di jepang. dramanya: argentina keok di babak penyisihan meskipun digadang-gadang akan menjadi juara. seorang kawan bahkan bilang, “argentina hanya menang gondrong!”

bagi saya inilah drama sepakbola.

lalu, siapa yang menyangka jika zinadine zidane yang dikenal sebagai pesepakbola karismatik dan ayah yang bijak tiba-tiba menyundul marco materrazi pada final dua ribu enam. hingga hari ini public tidak pernah tahu secara jelas apa yang diucapkan materazzi hingga zidane harus berperilaku brutal. zidane harus mengakhiri karier dengan tragis dan orang sedikit melupakan dia sebagai seniman sepakbola abad dua satu.
atau jangan lupa kedipan cristiano ronaldo kepada wasit setelah kartu merah wayne rooney pada piala eropa dua ribu delapan. semua ini akan menjadi peristiwa yang dikenang publik.

saya pikir, inilah drama sepakbola. ada yang tertawa atas perilaku wasit dan ada pula yang meneteskan air mata. menurut saya, disinilah salah satu daya tarik sepak bola. sepakbola merupakan salah satu olahraga yang menunjukkan sisi primitif dari manusia. jika kemudian teknologi digunakan untuk membantu pertandingan, tentu sepakbola akan kehilangan salah satu daya tariknya: drama.

drama itulah yang selalu saya nanti dari setiap penghelatan piala dunia. tahun ini beberapa drama sudah terjadi. apakah sepp blater tega membuang drama yang menjadi daya tarik sepakbola?

Iklan
Tagged with: , ,

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mochammad said, on Juni 29, 2010 at 4:27

    Kalau sepakbola di Indonesia mengandung unsur drama action, ya…

    🙂

    Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    • Agus Lenyot said, on Juni 29, 2010 at 4:27

      sepakbola indonesia paling komplit. ada lari, karate, pencak dan taekwondo..

      • Mochammad said, on Juni 29, 2010 at 4:27

        Aku link blogmu ya, nanti silakan dicek.
        Biar bisa saling tukar pikiran…
        Terima kasih

        “Mochammad”

  2. Agus Lenyot said, on Juni 29, 2010 at 4:27

    oke mas.. nanti saya juga pasang linknya…
    mari kita berdiskusi lebih banyak mas..
    terima kasih…

  3. hepicahyadi said, on Juni 30, 2010 at 4:27

    salam kenal mas agus,…

  4. Agung Pushandaka said, on Juni 30, 2010 at 4:27

    Saya setuju, dan selalu mendukung untuk tetap menjaga sisi manusiawi dari sepakbola. Sepakbola ndak cuma sekedar olahraga, tapi juga olahrasa.

  5. Cobra Resto said, on Juli 2, 2010 at 4:27

    Lebih pilih jadi komentator bola aja… bisa keliatan di tipi plus duitnya bagus….. 🙂

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      hahaha, indonesia kan emang menang jadi komentator…

  6. isnuansa said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    Drama terulang ketika Ghana harus kalah adu pinalti, karena bola ditangkap Soares….

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      yah, suarez sudah mendapatkan hukuman dengan kartu merah. tidak adil memang kelihatannya, tapi ghana mendapatkan dua hadiah atas tindakan suarez tapi sayang dia membuang hadiah itu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: