Agus Lenyot

dan saya pun menjadi alumni akademika..

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 4, 2010

tidak terasa, hampir lima tahun saya berada di akademika. namun, pada musker tahun 2010 ini, saya resmi dinyatakan sebagai alumni (jika tidak ada perubahan di anggaran rumah tangga). senang karena saya merasa tanggung jawab di akademika sedikit berkurang. sedih karena hingga dinyatakan sebagai alumni masih menyandang status mahasiswa dan tidak bisa hadir di musker. musker kemarin saya masih ada acara di bandung, baru datang kemarin malam dengan kondisi capek. musker tahun lalu saya juga sedang di jakarta. praktis, cerita tentang musker hanya saya dengar lewat kawan-kawan.

saya ingin beromantika sedikit tentang perjalanan di akademika selama hampir lima tahun. boleh kan saya bercerita kawan-kawan?

saya lupa kapan pertama kali ke sekretariat akademika. namun yang pasti, kondisi akademika tidak pernah berubah. selalu berantakan! saya masih ingat reaksi orang-orang yang ada di sana waktu itu. ”ada kembaran komang!” begitu kira-kira reaksi regina dengan heboh di tempat pendaftaran sebelah barat padmasana kala itu. setelah sekian lama, saya baru tahu, ternyata saya dibilang mirip dengan komang adnyana, cerpenis muda berbakat bali. saya juga ingat dengan kehebohan trio ftp yaitu ade, ratih dan febi kawan yang lama sekali tak bersua.

waktu pjm di gdln (lokasi pjm termewah yang pernah saya tahu), ketika mas anton memberi materi dan melihat saya, spontan dia menyapa, ”eh, ada lenyot.” saya bangga sebab dia maish ingat. saya adalah korban gema jurnalistik 2000 yang diadakan akademika di negara sekaligus workshop jurnalistik 2003 di kota yang sama. beberapa kawan akademika yang masih saya ingat adalah mas heru, mas anton, bang tamba, regina, mpok santi dan mbak meydianawati.

saya, ketika di akademika, membayangkan rumah yang sempit ini selalu membayangkan akan menemukan sesuatu yang damai dan ‘baik-baik’ saja. pikiran saya, toh orang-orangnya segini-gini aja. tapi dugaan saya meleset. ketika wisata jurnalistik di lovina, saya terhenyak dengan perdebatan paling ajaib dalam hidup saya kala itu. beberapa alumni mengkritik (untuk mengganti bahasa mencaci) kinerja panitia pengarah dan panitia pjm 2005. diujung perdebatan, sedikit ada perkelahian kecil (entah disengaja atau tidak hingga hari saya tidak tahu).

saya syok! terkejut sekaligus ngeri. apakah saya mampu bertahan dengan orang-orang yang berani berkonflik dengan terbuka. tapi keterkejutan saya langsung mengendap. sebab setelah itu, kawan-kawan yang terlibat konflik itu bisa cair membersihkan tubuh dan makan bareng lagi. ajaib! habis gontok-gontokan bisa makan bareng. ini membuat saya semakin tertarik dengan rumah akademika.

saya mendapat banyak pelajaran di akademika. sungguh! saya menemukan keluarga baru. saya pernah menemukan cinta di sana meskipun pada akhirnya harus kandas karena perbedaan prinsip. saya pernah menemukan konflik yang terbuka dan yang diam-diam. saya pernah merasa senang. saya pernah merasa tidak bisa melepaskan hari tanpa berkunjung ke akademika. saya pun bisa pertama kali naik pesawat terbang karena akademika. akademika memberikan banyak hal buat saya. saya juga bisa bertemu banyak orang hebat di akademika. ada bli artha dan bli ngurah yang tulisannya sangat memikat. banyak orang yang menjadi inspirasi saya di akademika. beberapa diantara mereka bahkan pernah saya temui dan mau membagi ilmunya dengan saya. akademika mengajarkan saya untuk berkorban demi organisasi.

saya masih ingat ketika akademika mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut di tahun kedua saya di akademika. panitia yang hanya sedikit harus pontang-panting mengadakan kegiatan skala nasional itu. saya harus bolak-balik mengantar proposal, menjemput peserta dan mengajak peserta jalan-jalan. saya tidak tahu berapa bensin dan uang yang sudah saya habiskan. namun, saya tidak pernah menghitung itu semua. buat saya, saya tidak akan bisa mendapatkan pengalaman hebat ini jika saya harus menghitung kerugian materi. akademika hanya mengganti uang transpor sebanyak sepuluh ribu rupiah sebagai uang bensin.

tapi, di pelatihan ini saya akhirnya mendapat banyak cerita dari amarzan loebis, redaktur senior tempo kawan pramoedya ananta toer dan mas buset alias mas budi dari yayasan pantau. bertemu mereka adalah pengalaman berharga buat saya.

karena mengenal kawan-kawan balairung di pelatihan itu saya akhirnya punya mimpi untuk menerbitakn buletin bulanan. saya bersama ketua umum kala itu, mas andi akrimil, akhirnya mencoba mewujudkan itu dengan meminimalkan penerbitan tabloid meskipun ada beberapa suara sinis dari alumni yang mengatakan tabloid memiliki historis di akademika. tapi saya pikir, setiap jaman punya karakternya masing-masing. kami jalan terus dengan ide ini.

akademika juga tidak pernah lepas dari konflik. buat saya, konflik itulah yang menjadikan akademika tetap bertahan hingga hari ini. di musker dua ribu enam, pada pemilihan pu, terjadi perdebatan yang alot (hingga hari ini itulah satu-satunya musker yang tidak diiringi dengan rayuan kepada calon pu yang saya ikuti). perdebatan itu benar-benar alot menjurus keras. tapi saya menikmati itu. itulah dinamika yang seharusnya kita hidupkan di akademika. bermusuhan dalam forum itu wajib. tapi setelah itu, kita biasa makan malam bareng dan jalan bareng. ini yang membuat saya betah di akademika.

saya teringat dengan sebuah rapat anggota. mas andik harus menerima kritikan tajam dari anggota waktu itu. semua kritikan dijawab dengan tenang. sementara okrina dan ari yang waktu masih anak baru sepertinya bengong dengan cara akademika mengkritik kawan lain secara terbuka.

di akademika ada juga permusuhan diam-diam. yah, saya tidak perlu sebut namanya. saya yakin, orang-orang akademika akan mengerti sendiri siapa yang saya maksud. tapi belakangan ini, saya banyak melihat konflik di akademika. namun, tidak ada yang dikelola dengan baik. pada akhirnya, konflik-konflik itu menjadi permusuhan pribadi. silakan direnungkan kawan-kawan. saya percaya, akademika mengajarkan kita pada proses pendewasaan diri.
saya kangen dengan suasana rapat yang hangat penuh kritik. hal yang nyaris tidak saya temui belakangan ini. semua memendam konflik diam-diam. ketika mereka tidak tahan dengan konflik, merekapun pergi diam-diam.

peristiwa yang mungkin tidak akan saya lupakan sepanjang perjalanan saya di akademika ketika saya mencalonkan diri sebagai ketua senat di kampus. hati kecil saya bertarung hebat. apakah saya mesti mundur atau bertahan? terus terang saya waktu itu ingin menemukan tantangan baru di luar akademika. sementara, saya pun belum tega meninggalkan akademika. namun, setelah melalui pergulatan yang panjang saya memutuskan mundur dari akademika.

rapat akademika di sore itu pun menjadi ajang penghakiman buat saya. saya berusaha tegar. saya sudah memilih dengan sadar dan harus siap dengan cacian kawan-kawan. benar saja, rapat sore itu diiringi dengan tangis yang membuat saya cukup terharu. terima kasih kawan-kawan saya ucapkan terhadao penghargaan atas kehadiran saya. meskipun saya gagal maju menjadi ketua senat di kampus, saya tidak menyesali keputusan besar untuk mundur dari jabatan pemred.

saya masih ingat. karena benar-benar terinspirasi dari balairung saya berniat menerbitkan jurnal. kerangka acuan sudah saya siapkan. namun, energi yang saya miliki ternyata terbatas. saya bersama intan, ku/pu kala itu pun berniat menjadikan ide ini sebagai seminar. atas saran beberapa alumni, kami pun menghadirkan calon-calon gubernur bali. jadilah, akademika menjadi organisasi pertama yang bisa menghadirkan calon gubernur/wakil gubernur dalam satu forum.

yah, kalau boleh saya bilang akademika berperan besar dalam perjalanan hidup saya. jika mungkin tidak mengenal akademika, mungkin saya tidak akan bisa menikmati apa yang saya dapatkan sekarang. sekali terima kasih akademika. banyak yang menemukan cinta. banyak pula yang menemukan nestapa. saya pikir, itulah dinamika yang wajar. ada yang bertahan ada pula yang mati pelan-pelan. tapi saya percaya, kawan yang menyingkir pelan-pelan akan menemukan dirinya di tempat lain.

cerita di musker tahun ini pun sepertinya harus berujung tragis. dua pimpinan harus hilang dengan alasan yang berbeda. pemimpin redaksi harus berhenti karena telah menjadi sarjana sementara sekretaris umum mundur hanya dua menjelang musyawarah kerja. mundurnya pemimpin redaksi mungkin bisa dipahami. tapi mundurnya sekretaris umum hanya dua hari menjelang musker tentu tidak dapat diterima oleh akal sehat. saya pikir, anggota akademika harus berani mengklarifikasi persoalan ini.

yang lebih tragis tentu pengunduran diri sang pemimpin umum dua belas hari menjelang musker dimulai. saya sempat dikirimi pesan oleh seorang anggota akademika. saran saya waktu itu: ambil anggaran dasar/anggaran rumah tangga dan segera adakan musyawarah kerja luar biasa. tapi, saran saya ternyata tidak diterima. alhasil, pemimpin umum pun mundur dengan alasan yang hingga hari ini tidak saya ketahui.

saya pikir, ini perlu dipertanggungjawabkan secara moral. bahwa jabatan pemimpin umum akademika bukan persoalan main-main. untuk dipilih diperlukan mekanisme dalam musyawarah kerja. untuk mundurpun melalui mekanisme yang luar biasa. saya pikir, akademika harus merumuskan formula untuk mengatasi persoalan ini di masa datang. jangan sampai jabatan sepenting itu dipermainkan dalam ketidakpastian.

yah, mungkin saya tidak melakukan banyak hal di akademika. banyak mimpi saya tentang akademika yang belum tercapai. tapi setidaknya, akademika menjadikan saya memiliki militansi dan daya tahan lebih dibandingkan dengan orang lain. di akademika: yang kuatlah yang bertahan. yang lemah, akan mati pelan-pelan.

akhir kata: selamat buat dolly suarsana yang sudah menjadi ketua umum akademika periode ini!!

Iklan
Tagged with: , ,

26 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. a! said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    nyot, terima kasih sudah mewakiliku. 🙂 aku sudah lama banget pengen bikin tulisan kayak gini soal aka. entahlah. akademika memang mengubah banyak orang, termasuk kita berdua.

    aka adalah rumah tempat kita mengenal dunia.

    cuma, masalah terakhir, mundurnya PU terakhir sebelum musker kemarin itu memang benar2 memalukan. gak jelas sama sekali. tp, sudahlah. kita toh jd bisa menilainya sendiri.

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      iya mas anton. aku juga nggak ngerti alasan mundurnya pu kemarin, tapi ya sudahlah, saya pikir temen2 akademika pasti bisa, seperti kata mas anton, menilai sendiri..
      fiuuuuh, meskipun masih akan selalu ke aka, tapi serasa ada yang hilang setelah menjadi alumni (tapi emang waktunya nyari hal baru di tempat lain).
      sedih juga nggak bisa datang ke musker terakhir sebagai anggota tetap..

  2. dian purnama said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    waaaahhhhh..tunggu….ralat yaaaa…
    aku nggak berhenti. tapi diberhentikan. karena udah lulus, anak2 tanya apa aku masih mau melanjutkan kpemimpinan. aku bilang sih oke. aku mau melanjutkan sampe musker. kalau mreka bersedia menerima aku seperti adanya yang memiliki konsentrasi terpecah dg pkerjaan. lagian tabloid tinggal cetak doank kan.. kupikir masih bisalah…
    tapi ternata kputusannya ojeh jadi pjs-ku dg alasan aku punya ksibukan lain. ya,… aku sih bisa memahami kputusan itu… krn aku jg tau lah..aku sudah alumni. bukan anggota lagi. he…
    maaf…

    • dian purnama said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      sebagai mantan pemimpin redaksi…aku tau nggak terlalu maksimal…. mudah2an yang selanjutnya bisa jadi lebih baik dalam redaksinya….

      • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

        yah, semua orang juga akan mengatakan yang sama, tapi setidaknya kita pernah menjadi pemimpin redaksi. ayeee, hidup mantan pemred akademika!!!

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      hahaha, okelah apa namanya. tapi yang pasti pengunduran pu tanpa alasan yang jelas adalah memalukan menurutku (karena aku pernah mengundurkan diri dengan alasan yang jelas). hehe, iya diberhentikan karena otomatis menjadi alumni..

      • dian purnama said, on Juli 4, 2010 at 4:27

        anak2 lagi maen drama kayaknya…hheee…

  3. Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    halah, kasian juga waktu dengarnya musker kemarin nggak ada yang maju jadi pu..
    untung ada dolly yang maju dengan sukarela..
    pemandangan yang sama dari tahun ke tahun, calon pu harus dirayu dulu..

  4. doi said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    maaf ikut urun walaupun bukan termasuk keluarga inti tapi ingin berkomentar juga sebagai penikmat aka (hahaha,saya menamakan diri saya akamania:karena anak kost macam saya sangat menanti bacaan gratis apapun untuk literatur ataupun pengisi luang)…
    membaca tulisan ini saya ingat ketika dulu saya mendengarkan cerita sepotong2 atau kadang tidak utuh, saat agus lenyot bercerita tentang rumah keduanya(bahkan sempat menjadi rumah pertama), ttg kekeluargaan, serunya diskusi, sampai crita2 unik dirumah pencetak orang sukses(katanya bangga) tsb. Kadang sampai tertawa terpingkal2, kadang haru, iba, sedih atau bisa saja tiba2 jadi ‘cemburu’,,,hahahaha….
    Unik dan menarik,,tapi saya suka mendengarkan semuanya (kecuali yg bikin ‘…’,
    Sip, pesan untuk agus lenyot setelah menjadi alumni ya ditunggu tulisannya di blog,,,,,,mudah2an nantinya bisa menyusul kesuksesan alumni yg lain,,,,
    Chayoo,smangat kriitinggg
    Untuk akademika,,saya mahasiswi udayana menunggu karyanya,,emm tulisannya jgn terlalu mepet, fotonya keren2 diperbanyak,,lebih kritis dan up to date,
    Buat a.ditha,,,akuu sukaa tulisanmu…
    Mohon maaf malah jadi kaya radio nie,,hehehe

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      ah, paling kamu “…” sama yang nongol di foto. iya kan? hahah. nggak ada foto lain nok, jadi terpaksa dah pasang foto yang itu..

  5. Kiud said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    Terima kasih, sangat menginspirasi saya.Sy sdg introspeksi diri,sblum bnr2 siap di AKA.
    Bgi sy tak ada snsasi,drama,telenovela itu di aka,Tp proses pembelajaran dan pematangan karakter.
    Terima kasih. Tulisan anda menyadarkan sy,
    Thx senior.mhn bimbinganny

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      saya menyayangkan kamu keluar dari akademika. serius! saya berharap kamu bisa mengubah keputusanmu sebenarnya. akademika akan sangat kehilangan salah satu potensi terbaiknya. saya berharap pimpinan yang sekarng bisa mendiskusikannya. di akademika, setahu saya tidak ada senioritas dan kami menentang konsep senioritas yang kadang-kadang membodohi. kami sangat menghargai egalitarianisme. bahwa manusia dilahirkan sama dengan kemampuan yang sama. yang membedakan kita ketika mati adalah usaha yang kita lakukan, proses yang kita jalani, hasil yang kita dapatkan dan amal yang sudah diperbuat. perbedaan antara saya dan kamu adalah aku cuma lebih dulu tahu. tidak lebih.

      akademika memang keras. saya tidak tahu apa yang menjadi sebab. mungkin karena ruangan itu memang memiliki karakter untuk menjadikan kita manusia yang tangguh, yang berani dan yang tegas. itulah proses pendewasaan dan pembelajaran. jangan pernah merasa sendiri di akademika. sebab ketika kamu merasa sendiri, justru kamu sendirilah yang tidak merasakan kehadiran orang lain di akademika.
      oke? chayooo..
      🙂

  6. agung parameswara said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    waahhh….
    waaahhh///
    sebelum asuk k topik akademika, saya mengucapkan selamat tinggal buat argentina..
    (karena mas anton dan lenyot mendukung argentina,wkwkwkwk)///

    semoga saya bisa naik pesawat,krna akademika..

    buat doi..
    foto nya sudah mulai keren2 kok.,.
    liat tabloid yang sekarang..
    hehehe

    • Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

      klarifikasi: sebenarnya aku nggak mendukung argentina, cuma mendukung buat taruhan aja. aku pendukung brazil sejati. argentina cuma menang gondrong doang..

      ayo gung, kejar pesawatmu, masa kalah sama cewekmu..

    • Agus Lenyot said, on Juli 8, 2010 at 4:27

      saya ucapkan selamat tinggal buat jerman. nanti pesan tiket pesawatnya yang kelas ekonomi saja yah..

  7. Agus Lenyot said, on Juli 4, 2010 at 4:27

    ada banyak pengalaman berharga yang lupa aku tulis. misalnya, aku pernah merusak kamera digital akademika. ceritanya: sehabis nyepi tahun 2006, aku bersama genitri dan mas andik berencana nonton med-medan di sesetan. niat itu terlaksana. sayang, waktu itu hujan cukup deras. alhasil kamera digital yang saya bawa basah kena air hujan dan cipratan air yang disiran panitia. kamipun panik karena kamera digital itu kena air juga. pas saya hidupkan ternyata mau. tapi giliran dimatikan, ternyata nggak mau. kami tambah panik.

    saya pun mencopot baterai dengan harapan bisa berfungsi kembali. tapi ternyata kamera itu benar-benar rusak. parah. dibenerin nggak bisa, hingga hari ini saya tidak tahu dimana bangkai itu kamera. hahahaha…

    oia, orang-orang yang saya anggap sukses di akademika juga setahu adalah orang-orang yang berjuang dari bawah. silakan dicek ke mereka-mereka yang saya anggap sukses, gimana jalan hidup mereka. ini benar-benar menjadi inspirasi saya, minimal, bisa mendekati mereka..

    salam akademika. ayeee!

  8. dewi said, on Juli 5, 2010 at 4:27

    Jujur, sebenarnya aku kangeeeen bnged sm anak2 AKA…aq mnta maaf sm kalyan smwa udah ngilang dari peredaran slama ni..(tiap mw maen k AKA slalu gag ad org n pintu trkunci, sdangkan aq gtw kode gembokna T.T)…bkn’na brniat mnelantarkan AKA, tp tgs d arsitek ckp bqn aq g brkutik, g tdr brhari2 n g bs ngebagi wkt bwt AKA, slain itu aq lg mrintis bisnis fashionqu (passionqu dr dlu)…jd tnpa dsadari aq jd ngorbanin AKA…skali lg maaf tman2..aq tw loyalitas aq g sbrapa bwt AKA, tp AKA dan kalyan tman2..sngat amat brarti bwt aq…dlu aq pna janji gag akan pna ninggalin AKA, dan itu gag akan aq ingkarin…mski scr fisik aq g bs hadir ataupun absen k AKA, tp aq akan sll bantu ap yg qu bs bantu…klo btuh bntuan nulis ataupun dana, silakan hub aq, aq brusaha bntu sbisa mngkin…mkasi bgd bqt AKA, snior2, n tman2 yg udah ngjarin aq byk hal trutama dlm bidang tulis menulis, skrg aq lg merintis majalah untuk arsitek, jd mhon doa’na y tman2, smoga pnerbitan perdana ini bs sukses…God Bless u all…love u all ^^

    NB: dolly…congrat yha…ayo bw AKA biar mkin maju ^^
    kak dian, koq g bs dhub??gnti numb hp y??message d fbqu y nona kak dian yg baru..i need it..miss u sist…

  9. happy said, on Juli 5, 2010 at 4:27

    huwaa,,sy jg naik pesawat pertama kali krn akademika,pny bnyk teman jg krn aka,bnyk hal berharga di aka..meskipun sy belum bisa apa2, sy mw tetap bertahan di aka sampe d trunkan status mnjdi alumni,,huhu…
    hidup Aka…

  10. Andy said, on Juli 5, 2010 at 4:27

    wahhhhhhh senang banget baca episode melankolia kak lenyot dibawah siraman mapel-mapel rumah akademika hahhahahahhahaha lebay gue*

    maafkan saya yang tidak bisa seperti kalian semua
    maafkan saya karena nyali saya terlalu kecil-maafkan karena mental sy terlalu lemah-maafkan jika saya lebih memilih ‘passion-egoisme’
    sampai saat ini saya belum bisa menempatkan bagaimana status saya di akademika, sepertinya saya sudah terbang menjauh, namun masih ada hasrat dan kerinduan yang saya tinggalkan di rumah itu….. mungkin anda benar hanya yang kuat yang dapat bertahan dan saya ternyata bukan orang yang kuat meski awal2nya saya berusaha untuk kuat tapi sepertinya saya sudah lelah menipu diri sendiri…
    dan saya memang berterimakasih banyakk karena diperkenalkan dengan orang2 sukses dan berbagai personalisasi orang-orang serta berorganisasi dengan ritme konflik yang keras…..itu cukup sebagai bekal saya menghadapi gula-gula kehidupan (ahh ciripulala bgt bahasa gue) dan terimakasih satu hal yang saya pelajari dari akademika saya mendapati banyak kosakata baru nan ekstrimmm dan itu mempengaruhi tulisan saya menjadi menterenggggggggggggg … ditha memang buku eyd berjalan wakekkekekek

    saya benar2 menyadari akademika bukan sekedar organisasi biasa

    xoxo.GAGAlover wekekekekke

    • Agus Lenyot said, on Juli 5, 2010 at 4:27

      ah gayamu gung.. ditunggu kepulanganmu ke rumah ma kawan-kawan tuh…
      kalau masih nyali, ntar aku cariin di peken badung..

  11. luhde said, on Juli 5, 2010 at 4:27

    tadi siang aku ke aka. boleh juga ntar napak tilas kuliner anak aka jadul. jelang tengah malam jalan rame2 trus ke genteng biru..or seputaran sanglah.

    kalau kalian angkatan di atas 2000, langganan kulinenrya dimana? bikin artikelnya yuk.. kalau angkatan 97-99, biasanya makan:
    1. naik tembok belakang kampus trus langsung ketemu warungnya bu sayuti
    2. nasi padang di jalan goris
    3. lesehan genteng biru
    4. nasi goreng murmer di sebelah mushola jalan apa ya namanya??

    • Agus Lenyot said, on Juli 6, 2010 at 4:27

      kalau dulu jaman angkatanku masuk, biasanya jalan ke angkringan depan safari dharma raya renon, atau kalau nggak masak sendiri di aka trus beli lauknya di sana. biasanya juga makan sate sapi di sanglah atau warung pojok sanglah. selain itu favorit makan ada di jalan goris, lalapan tahu dan tempe (tapi sekarang udah nggak ada).. kalau ke genteng biru juga pernah, tapi cuma momen tertentu aja. hahaha..

  12. Thoso said, on Juli 5, 2010 at 4:27

    Terima kasih untuk tautannya, Bro 🙂 Selamat menjelajahi petualangan baru. Salam

    • a! said, on Juli 7, 2010 at 4:27

      ah, balesannya thoso gaya birokrat banged. 😀

  13. regina said, on Juli 7, 2010 at 4:27

    Wuuuuiiiicccchhh!!!!! Tulisanmu nyooot!!! bikin balik lagi ke masa lalu…maap ngga sempet mengunjungi akademika kemarin…hiks..hiks..hiks..ketemu mba budi di pesawat nok!!

    nyort, kapan2 kita jalan bareng yuuk…kamu, aku, intan, andi, genitri, komang…nining…kayaknya seru tuuuch….

    waaaaaaccchhh…pengen nangiiisss lagi…

    btw..yang permusuhan diam2 itu sapa nyot???

    • Agus Lenyot said, on Juli 7, 2010 at 4:27

      hahha, aku kemarin juga ke jakarta, tapi cuma dua hari doang.. yah, permusuhan diam2 ya termasuk kamu re. wkwkkw.. pura2 nggak ngerti lagi. karena aku temenmu yang bertahun2 aja jadi nggak enak nyebut merek..
      boleh2, kita jalan bareng lagi. ah kamu sih ke bali nggak pernah ngabarin..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: