Agus Lenyot

Penjelajahan Gitar Balawan

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Juli 8, 2010

Dengan gitar, Wayan Balawan tidak hanya menghibur tapi mengajak penonton meresapi musik. Bersama Batuan Ethnic Fusion, dia mengajarkan demokrasi berkesenian.

Bisa jadi Balawan miris melihat seniman tradisional terpinggirkan oleh musik modern. Diangkut dengan truk, dibayar dengan murah atau bahkan tidak bisa menikmati kesejahteraan karena berkesenian. “Karena itu saya mengajak seluruh personel duduk sejajar di panggung ini,” kata Balawan yang disambut tepuk tangan meriah.

Menurut dia, biar tidak hanya pemain gitar atau pemain bas saja yang menari-nari di atas panggung. Pemain lain juga harus mendapat kesempatan sama. Dinikmati dengan indah oleh penonton.

Itulah yang dilakukan Balawan ketika manggung bersama Band Batuan Ethnic Fusion pada Pesta Kesenian Bali di Gedung Ksirarnawa, Rabu (7/7) malam. Menurut Balawan, ini penampilan perdana mereka di ajang tahunan itu sejak terbentuk pada 1997 silam. “Kita sudah manggung di Eropa atau di Jepang. Tapi ini pertama kali kita manggung di PKB,” kata Balawan. Bisa jadi ini sebuah sindiran.

Baik lupakan itu. Mari kita nikmati penjelajahan musik ala Balawan. Pembawa acara menyebutkan, band ini melakukan eksplorasi bermusik dengan menampilkan kolaborasi antara pop, jazz, etnik dan blues tanpa meninggalkan unsur hiburan. Dia menyebutnya technical entertainment. Tapi, ternyata penampilan Balawan tidak sekadar itu. Balawan memunculkan humor dalam teknik tappingnya. Lihat saja celoteh Balawan kepada penonton.

“Masyarakat jangan panik dengan musik seperti ini. Musik seperti ini tidak hanya untuk dinikmati tapi juga diresapi,” kata Balawan. Ucapan ini disambut tawa oleh penonton yang sepertinya terpana suara melengking yang dihasilkan oleh gitar double neck Balawan.

Suara gitar ini, seperti diakui olehnya, sudah diset sedemikian rupa agar bisa menimbulkan bunyi-bunyian tidak terduga. Kadang seperti suara manusia: mendesah, melenguh, merintih dan berteriak melengking. Atau misalnya ketika seorang Jepang naik ke panggung, gitar Balawan harus beradu bunyi dengan suara gedebag gedebug kendang yang dibawa si Jepang itu. Ajaib. Petikan gitar Balawan berlangsung supercepat dan tanpa batas. Riang dan jenaka.

Lihat saja ketika band ini menampilkan lagu “Made Cerik”. Lagu yang memang ceria ini dibuat menghentak untuk menguras emosi penonton. Balutan unsur rock dengan sayatan gitar yang indah sudah cukup membuat penonton bingung sekaligus kagum atas ekplorasi musik Balawan. Pemain BEF tidak hanya menghibur tapi menikmati permainan sehingga mereka juga terkesan menghibur diri sendiri.

Mari kita lihat lagu yang lain: Berita Kepada Kawan-nya Ebiet. Balawan mengemas lagu ini dengan berbagai aliran. Kadang rock yang gahar, reggae yang riang atau blues yang menakjubkan. Intinya cuma satu, Balawan berhasil mengundang applaus meriah dari penonton.

penampilan ayu laksmi bersama nyoman sura kolaborasi dengan balawan dan batuan ethnic fusion

Penampilan lain yang ditunggu penonton tentu saja Ayu Laksmi. Seperti Balawan, ini juga debutnya di PKB. Pemain film Under the Three ini berhasil membawa suasana mistis dengan tarian asap dan wangi dupa ciri khasnya. Penampilan Ayu makin sempurna ketika berkolaborasi dengan Nyoman Sura, koreografer muda Bali.

Tembang “Wirama Totaka” yang dinyanyikan Ayu Laksmi malam itu disadur dari Kekawin Arjuna Wiwaha sebuah kitab Hindu. Nyanyiannya tidak hanya berupa pujaan terhadap semesta tetapi juga mengajarkan tentang ajaran hidup. Ini terdengar dari lantunan Tri Kaya Parisudha, diambil dari album Nyanyian Dharma. Berpikir, berkata dan berbuat yang baik.

Namun, bintang malam itu tetaplah Balawan dengan gitarnya. Bahkan ketika menutup lagu, penonton tidak sadar, jika penampilan Balawan malam itu sudah berakhir.

Seorang penonton berujar, “Meskipun terdengar ribet, tapi ini lebih menarik timbang musik lain.” Ya, Balawan berhasil menerbangkan imajinasi penonton dengan lengkingan gitarnya.

Iklan
Tagged with: ,

17 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Winarto said, on Juli 8, 2010 at 4:27

    Idola

  2. imadewira said, on Juli 9, 2010 at 4:27

    saya belum pernah nonton Balawan langsung dan juga tidak terlalu ngerti musik, tapi tetap bangga pada Balawan karena mengharumkan nama Bali

  3. joel said, on Juli 9, 2010 at 4:27

    hmmm … ga ada matinya…

  4. Agus Lenyot said, on Juli 9, 2010 at 4:27

    balawan memang mantap!! beruntung bali pernah melahirkan maestro gitar seperti dia..

  5. Jo Ratna said, on Juli 9, 2010 at 4:27

    Balawan — professional, kompeten, bikin bangga…..tetap bikin bangga blantika musik Indonesia ya………………

  6. wendra wijaya said, on Juli 9, 2010 at 4:27

    Salam kenal, bli.

    Ini tulisan yg menarik. Saya juga hadir dalam acara itu, dan memang seperti itulah kondisinya. Tapi yang paling penting menurut saya adalah, bagaimana berkesenian itu menjadi sebuah persembahan. Jika Balawan dengan musik (gitar), demikian pula dengan orang Bali lainnya, meski dengan cara yg berbeda.. 🙂

    Saya baru sadar jika judul postingan kita hampir sama. Mungkin karena kita merasakan hal yang sama, heheeee…

    Salam budaya

    • Agus Lenyot said, on Juli 10, 2010 at 4:27

      tapi di tengah dunia yang semakin materialis, berkesenian juga adalah ruang untuk mencari penghidupan.. hehehe

      • wendra wijaya said, on Juli 10, 2010 at 4:27

        saya justru berpikir sebaliknya. bagi saya, bukan berkesenian namanya jika hitungan angka-angka menjadi tolak ukurnya. bagi saya, berkesenian adalah bagaimana menyerahkan seluruh daya cipta terbaik yang dimiliki untuk “dilempar” ke publik. kalau pun ada timbal balik yang diterima sang seniman, itu merupakan sebentuk penghargaan. itu saja. jadi di sini bukan hanya sebatas ruang untuk mencari penghidupan saja..

        mungkin perlu dibedakan antara “berkesenian” dengan berkesenian, heheee..

  7. budiastawa said, on Juli 10, 2010 at 4:27

    Balawan itu unik. Ia adalah icon demokrasi musik lagi inovatif. Saya pernah ngantri beli ayam goreng di McD sama dia 😆

    • Agus Lenyot said, on Juli 10, 2010 at 4:27

      teman facebook saya yang pertama dia bli. hehe, tapi sekarang di facebook sudah jadi page tersendiri..

  8. bali bicara said, on Juli 11, 2010 at 4:27

    salam persahabatan dari bali bicara. semoga kita bisa saling bertukar informasi. salam.

  9. budiarnaya said, on Juli 11, 2010 at 4:27

    Saya belum pernah ke PKB 😦 tapi dengar – dengan Balawan itu menarik melalui karya – karyanya salam kenal Bli 🙂

    • Agus Lenyot said, on Juli 11, 2010 at 4:27

      saya cuma tiga kali ke pekabe,, dan itupun dengn penuh perjuangan karena harus melewati dagang2 yang penuh sesak..

  10. Agung Pushandaka said, on Juli 14, 2010 at 4:27

    Saya harap Balawan terus berkarya sebagai gitaris, bukan sebagai penyanyi. Kalau ndak salah saya pernah dengar 1 lagu lawas yang dinyanyikan kembali oleh Balawan. Ancur! Hehe..

  11. agung parameswara said, on Juli 14, 2010 at 4:27

    heeemmm,,,
    balawan nya mana omm???
    kok di potong di sebelah kiri foto????heheheh

  12. almaududi said, on Juli 29, 2010 at 4:27

    balawan tuh apa yaaa, kok aku lom tahu, malah baru kali ini kenal. kalo toko gitar online kunjungi aja ke http://gitargrosir.blogspot.com.
    ini tempatnya cari gitar baru harga grosir, semua langsung dari pengrajin, harga jelas lebih murah dari harga toko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: