Agus Lenyot

Mungkinkah Parkir Berlangganan di Denpasar?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 21, 2010

Parkir di Denpasar adalah lahan basah. Sayang, tarif parkir yang relatif mahal tidak diimbangi dengan pelayanan yang memuaskan.

I Gusti Hendra Saputra baru saja menghidupkan sepeda motornya. Saat hendak menarik gas dan bersiap jalan, priiiittt! Seorang lelaki tua berbaju biru dengan tergopoh menghampirinya. Juru parkir. Segera dia memasukkan tangan kanannya ke kantong hendak mencari pecahan Rp 500. Tidak ada. Tangannya menjulurkan uang bergambar Pattimura. Juru parkir hanya berucap, “Terima kasih.” Lalu pergi meninggalkan Hendra yang bengong menunggu kembalian.

Kejadian ini rasanya dialami oleh banyak pengguna jasa parkir di Kota Denpasar. Tidak mendapatkan karis parkir hingga tidak mendapatkan kembalian. Direktur Perusahaan Daerah Parkir Kota Denpasar I Nyoman Putrawan tidak menampik hal ini. Saat ini tarif parkir di Kota Denpasar adalah Rp 500 untuk sepeda motor di tepi jalan dan Rp 1000 untuk parkir pelataran. Sementara tarif parkir mobil adalah dua kali lipat.

“Kami akui masih banyak juru parkir nakal. Namun, kami juga mohon masyarakat membantu kami untuk mengingatkan mereka. Ini sekaligus menjadi bentuk control sosial kepada kami,” kata Putrawan di kantornya, Selasa (6/7) lalu. Kantor PD Parkir sendiri termasuk baru dan megah jika dibandingkan dengan instansi lain di Kota Denpasar. Menurut dia, PD Parkir terus melakukan pembinaan terhadap juru parkir nakal.

Putrawan menyatakan, masyarakat harus meminta haknya berupa karcis parkir ketika menggunakan layanan parkir. “Kalau misalnya ada kehilangan saat itu, kita tidak akan memberikan ganti rugi jika tidak bisa menunjukkan karcis parkir,” kata Putrawan.

Namun,pengguna jasa parkir menolak jika mereka harus terus-menerus minta karcis parkir. “Itu hak kami. Masa kami mesti menagih juga? Males juga berdebat kalau tiap parkir minta karcis,” kata Wayan Sumarta, pengguna jasa parkir ketika ditemui di Pasar Badung, pasar tradisional terbesar di Bali.

Penyediaan jasa parkir memang menjanjikan di Kota Denpasar. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor secara signifikan di Kota Denpasar ikut membuat pendapatan PD Parkir terus meningkat. Data di Kantor Samsat Bersama Badung tahun 2009 menunjukkan jumlah sepeda motor mencapai 462.177 unit sementara jumlah mobil mencapai 115.161 unit. Jumlah ini tentu amat menjanjikan dari segi nominal.

Hendra bahkan mengusulkan agar parkir di Denpasar menggunakan sistem parkir berlangganan. “Misalnya dalam setahun kita harus bayar berapa ribu rupiah,” kata dia. Dia menyatakan, dalam keadaan tertentu dia kadang mengeluarkan hingga belasan ribu untuk membayar parkir. “Setiap jengkal tanah di Denpasar pasti ada juru parkirnya,” keluhnyanya.

Namun, ide untuk menerapkan parkir berlangganan ini ditolak oleh PD Parkir. Menurut Putrawan, tingkat mobilitas masyarakat tidak sama. “Nanti mereka yang jarang menggunakan jasa parkir akan protes karena diharuskan membayar jumlah sama dengan mereka yang sering menggunakan jasa parkir,” tegas Putrawan. Lagian, terang Putrawan, setelah dikaji PD Parkir akan rugi jika parkir berlangganan ini diterapkan. Namun, hitung-hitungan bodoh saya justru mendapatkan hal berkebalikan.

Pendapatan PD Parkir Denpasar pada 2009 mencapai Rp 12.334.381.126 dengan rincian Rp 6.325.998.500 parkir tepi jalan, Rp 89.104.700 parkir insidental dan Rp 5.919.277.926 parkir gedung dan pelataran. Angka ini meningkat dari tahun 2008 yang hanya Rp 10.744.702.168.

Jika pukul rata, seandainya setiap kendaraan, termasuk mobil dan motor membayar Rp 22.000 maka pendapatan parkir pada 2009 itu sudah terlampaui. Ini belum termasuk dengan suplai kendaraan dari daerah penyangga seperti Kabupaten Badung, Tabanan dan Gianyar ke Kota Denpasar.

Sekarang mari kita pakai hitung-hitungan yang agak aneh. Andai Pemerintah Kota Denpasar berani menerapkan karcis berlangganan seperti Kota Sidoarjo dan DKI Jakarta, niscaya pendapatan parkir tidak akan bocor tangan oknum tukang parkir atau pihak lain yang tak terdeteksi. DKI Jakarta dan Sidoarjo memasang tarif Rp 25.000 untuk sepeda motor dan Rp 75.000 untuk mobil selama setahun. Pembayarannya dilakukan bersamaan dengan pembayaran pajak kendaraan bermotor.

Kalau angka ini juga diterapkan di Denpasar, maka PD Parkir akan memperoleh pendapatan sebesar Rp 11.554.425.000 dari sepeda motor dan Rp 8.637.075.000. Pendapatan ini naik hampir mencapai 40 persen dari pendapatan sebelumnya. Jika parkir gedung yang dikelola pihak swasta dibedakan, maka pundi-pundi PD Parkir jauh lebih meningkat.

Nominal yang masuk ke kantong PD Parkir akan jauh bertambah jika kendaraan bermotor dari daerah non Denpasar ikut berlangganan parkir ini. Saya pikir, banyak perantau yang menggunakan jasa parkir di Denpasar. Meskipun jumlahnya tidak sebanding dengan kendaraan asli Denpasar, namun mereka-mereka ini tentu menyumbang pendapatan yang sangat besar.

I Ketut Ariana, seorang pedagang di Pasar Badung menyambut baik tawaran ini. “Saya siap bayar lebih asal kualitas pelayan dan keamanan ditingkatkan,” kata dia. Tentu saja penerapan tarif parkir berlangganan ini harus diimbangi dengan kualitas pelayanan dan peningkatan kesejahteraan juru parkir. Selama ini alas an banyaknya juru parkir nakal adalah minimnya gaji yang diperoleh.

Seorang tukang parkir di Lapangan Puputan Badung, Nengah Budiana misalnya, mengaku harus menyetorkan uang sebanyak Rp 50.000 dalam sehari. Pagi Rp 25.000 dan sore Rp 25.000. “Pendapatan kita sebesar 35 persen dari total yang kita setor setiap bulan,” kata Nengah. Artinya dalam sebulan penghasilan Nengah adalah Rp 525.000. Dalam sehari, atau delapan jam kerja misalnya, Nyoman Budiana harus bisa menarik uang parkir kepada minimal 100 sepeda motor.

Ketika saya mengamati siang itu, sudah ada sekitar 40-an motor yang terparkir di sana. Target Nengah, dalam hitungan sederhana saya, rasanya terpenuhi dalam 3 jam. Padahal, menurut Nengah, kondisi siang itu termasuk biasa saja. Terus kalau kurang gimana? “Ya nombok,” kata Nengah. Saya pikir, terlalu berisiko jika harus nombok padahal gaji juga tidak seberapa. Saya teramat yakin, pendapatan yang diterima jauh lebih besar dari target yang diberikan.

Namun, lagi-lagi hal ini mampu dibantah oleh Putrawan. Terhadap suatu lokasi, PD Parkir sudah melakukan uji prospek jumlah kendaraan. “Artinya kita sudah memperhitungkan berapa pendapatan yang bisa kita dapat dari suatu lokasi. Potensinya ya memang segitu. Kalau memang ada lebih, ya itu rejekinya juru parkir,” kata Putrawan.

Menurut Nengah, target tukang parkir tidak sama. “Di kawasan yang ramai, targetnya lebih besar,” kata dia. Tapi, dia menambahkan, penghasilan tetap 35 persen dari total setoran. Saat saya ngobrol dengan Nengah, beberapa kali obrolan terputus karena dia harus mengejar pengunjung yang hendak meninggalkan Lapangan Puputan.

Dengan pendapatan yang meningkat, rasanya tidak ada alasan untuk tidak meningkatkan kesejahteraan juru parkir. Juru parkir harus lebih fokus untuk peningkatan keamanan. Tidak lagi harus berlarian mengejar pengendaran motor atau mobil hanya untuk sekadar meminta uang parkir. Sehingga tidak ada lagi cerita kehilangan barang atau kendaraan oleh pengguna jasa layanan parkir. Itu kalau kita memang mau menerapkan parkir berlangganan..

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Juli 22, 2010 at 4:27

    kalau di daerah lain sudah ada yang menerapkan dan terbukti berhasil, seharusnya kita tidak perlu khawatir dan ikut mencoba menerapkan parkir berlangganan. tentunya dengan dukungan semua pihak serta sosialisasi kepada masyarakat.

  2. Agus Lenyot said, on Juli 22, 2010 at 4:27

    kalau persoalan berhasil atau tidak, kan tergantung dari penyelenggara, tapi yang terpenting menurut saya, masyarakat tidak dirugikan, tidak ada sekelompok oknum yang diuntungkan serta pelayanan dan keamanan parkir bisa jauh lebih ditingkatkan. itu juga kalau masyarakat tidak keberatan membayar sekian ribu setahun..

  3. imsuryawan said, on Juli 23, 2010 at 4:27

    gimana kalo dibalik…
    kita beli karcis parkir di muka, trus pas mau bayar parkir kita kasi karcisnya ke tukang parkirnya… tapi tukang parkirnya juga tetep nerima bayaran duit, just in case karcis yang udah kita beli ketinggalan…

    tapi intinya, menurut saya sistem kayak gmn aja mungkin dijalankan dengan baik, yang penting oknumnya ditindak. Nah, masalahnya kalo di indonesia, kita sering bingung nyebut oknum, soalnya di satu instansi biasanya oknum semua sih… hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: