Agus Lenyot

Kebersamaan dalam Sebuah Perang

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 1, 2010

Perang Pandan tidak hanya tentang sebuah keberanian. Namun, dia juga mengajarkan tanggung jawab, semangat juang dan kebersamaan.

Wajah Noah Velte terlihat sumringah. Bocah 7 tahun asal Jerman ini begitu girang melihat pemuda bertelanjang dada dengan pakaian adat Bali berupa kamen (sarung) dan udeng (ikat kepala). Di pinggang terselip sebuah keris. Para pemuda ini sedang menyongsong perang pandan di Desa Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, Jumat (30/7) kemarin. Kepada ayahnya, Attila Velte, dia meminta ijin untuk turut serta. ”It’s amazing and I want to try it,” kata Noah. Sang ayah mengiakan.

Noah Velte, bocah asal Jerman turut menjadi peserta Perang Pandan di Desa Tenganan Dauh Tukad

Ketika sudah harus berhadapan dengan ’lawannya’, seorang bocah Tenganan, wajahnya kecut. Toh, dia ketakutan juga ketika sudah turun ke arena pertarungan. Nyali yang dia coba kumpulkan, rupanya menguap entah kemana. Darah segar yang mengucur dari punggung peserta perang rupanya cukup membuat dia takut.

Seikat pandan di tangan kanan dan perisai di tangan kiri tidak cukup baginya untuk menumbuhkan keberanian. Dia pun menghindar sekuat tenaga dan berlari menghindari geretan tajam duri pandan yang menghajar kulit punggungnya. ”Ternyata sakit,” katanya setelah pertunjukkan.

Attila, ayahnya pun tak berhenti berdecak kagum terhadap upacara Perang Pandan ini. ”Kita melihat keberanian, semangat juang dan kebersamaan,” kata Attila. Ini perang pandan pertama yang dia tonton. Dia kagum, dua pasang lelaki dewasa yang sudah bergelut, saling menggeret punggung hingga mengucurkan darah segar dengan pandan berduri, masih bisa berangkulan dan tertawa bersama. ”Hebat!” katanya.

Perang pandan tidak hanya melulu didominasi oleh lelaki dewasa Tenganan. Sejak kecil, anak-anak di Tenganan sudah dianjurkan untuk turut dalam perang pandan. I Kadek Disna Dwi Putra contohnya. Ini adalah pengalaman ketiga kalinya dia berperang pandan. Pelajar kelas 2 SMP Sengkidu ini mengaku tidak pernah takut melihat darah yang mengucur dari punggungnya.

’Lawannya’, Ketut Agus juga merasakan hal sama. ”Ada kebanggaan seusai berperang,” kata Kadek. Kesakitan akibat darah yang mengucur di punggung tidak bisa diukur dengan kebanggaan yang didapat seusai berperang pandan.

I Ketut Ardana, Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, desa sejauh 80 kilometer timur laut Denpasar, tempat perang pandan dilakukan, menyatakan, tidak ada ketentuan apapaun bagi wisatawan yang ingin berpartisipasi dalam Perang Pandan. ”Yang penting mereka mematuhi aturan tidak tidak bikin ribut,” kata Ardana.

Perang pandan, menurut Ardana bukanlah sebuah pertarungan. Menurut dia, perang pandan bermakna semangat melindungi desa dalam menghadapi bahaya yang datang dari luar desa. ”Spirit perang pandan adalah penghormataan terhadap Dewa Indra,” kata dia. Dewa Indra dalam Hindu berarti dewa perang. Setelah ritual ini, upacara dilanjutkan dengan pementasan tari Rejang Dewa di Pura Desa setempat.

Perang pandan atau mekare-kare dilakukan setiap tahun untuk menyambut upacara Ngusaba Desa. Ardana mengungkapkan perang pandan kali ini diikuti hampir 200 peserta. Masing-masing peserta berhadapan dan dipimpin oleh seorang wasit, biasanya orang yang dituakan dalam perang pandan.

Kedua kubu dibekali dengan seikat pandan dan perisai dari pohon ate. Mereka lalu bergumul dan menggeretkan pandan di punggung lawan hingga berdarah-darah. Dari perjanjian, mereka dilarang menggeretkan pandan ke wajah. Meskipun bertarung, dalam pergumulan kadang ada keceriaan berupa pekik untuk menambah semangat ketika menggeretkan pandan ke punggung lawan.

Iringin baleganjur menambah semangat peserta perang pandan. Iramanya yang menghentak dan bertempo tinggi menjadikan geretan pandan membuat semangat pemain untuk menghujamkan pandan berduri di punggung lawan juga semakin keras. Bahkan, ketika lawan sudah jatuh dan mengucurkan darah, geretan pandan tidak berhenti dilakukan.

Namun, seperti kata Ardana, ”Perang pandan juga mengajarkan sportivitas. Begitu semua selesai, kita akan berangkulan.” Benar, begitu perang pandan selesai, mereka pun berangkulan, tertawa dan bersembahyang bersama. WAYAN AGUS PURNOMO

Iklan
Tagged with:

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Andy said, on Agustus 2, 2010 at 4:27

    cihui banget tuh anak bule !!!

  2. imadewira said, on Agustus 3, 2010 at 4:27

    keren, saya sendiri kalau disuruh ikut belum tentu punya nyali, hehe

  3. imsuryawan said, on Agustus 3, 2010 at 4:27

    si bule ini kecil2 cabe rawit rupanya…

  4. Agung Pushandaka said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

    Kenapa ya, londo itu ndak pernah jago kandang. Di mana pun mereka mampu melakukan apa yang mereka mau. Jadi terbayang apa yang bisa mereka lakukan saat berada di kandangnya sendiri. Saya harus belajar banyak dari mereka. Hehe!

    Salut sama itu bocah bule! 🙂

    • Agus Lenyot said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

      oia, tadi saya baca kutipan menarik, “orang bule akan dengan mudah belajar dan menguasai kebudayaan kita, tapi kita susah minta ampun ketika menguasai teknologi mereka..”

  5. Agnes Herdiasti (@miss_aggie) said, on Juni 13, 2012 at 4:27

    bagus tulisannya. minta ijin share yak. thank you banget!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: