Agus Lenyot

dan saya pun menjadi alumni akademika..

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 8, 2010

Dan Saya Pun Menjadi Alumni Akademika..

Tidak terasa, hampir lima tahun saya berada di Akademika. Pers mahasiswa yang sudah banyak mengubah jalan hidup saya. Namun, pada musker tahun 2010 ini, saya resmi dinyatakan sebagai alumni (jika tidak ada perubahan di anggaran rumah tangga). Senang karena saya merasa tanggung jawab di akademika sedikit berkurang. Sedih karena hingga dinyatakan sebagai alumni masih menyandang status mahasiswa dan tidak bisa hadir di musker. Apalagi saya tidak bisa hadir di dua Musker terakhir. Musker kemarin saya masih ada acara di bandung, baru datang kemarin malam dengan kondisi capek. Musker tahun lalu saya juga sedang di jakarta. praktis, cerita tentang musker hanya saya dengar lewat kawan-kawan.

Saya ingin beromantika sedikit tentang perjalanan di Akademika selama hampir lima tahun. Boleh kan saya bercerita kawan-kawan?

Saya lupa kapan pertama kali ke sekretariat Akademika. Namun yang pasti, kondisi Akademika tidak pernah berubah. Selalu berantakan! Saya masih ingat reaksi orang-orang yang ada di sana waktu itu. ”Ada kembaran Komang!” Begitu kira-kira reaksi Regina dengan heboh di tempat pendaftaran sebelah barat padmasana kala itu. Setelah sekian lama, saya baru tahu, ternyata saya dibilang mirip dengan Komang Adnyana, cerpenis muda berbakat Bali. Saya juga ingat dengan kehebohan trio FTP yaitu Ade, Ratih dan Febi kawan yang lama sekali tak bersua.

Waktu PJM di GDLN (lokasi PJM termewah yang pernah saya tahu), ketika Mas Anton memberi materi dan melihat saya, spontan dia menyapa, ”Eh, ada Lenyot.” Saya bangga sebab dia masih ingat. Saya adalah korban Gema Jurnalistik 2000 yang diadakan Akademika di Negara sekaligus Workshop Jurnalistik 2003 di kota yang sama. Beberapa kawan Akademika yang masih saya ingat adalah Mas Heru, Mas Anton, Bang Tamba, Regina, Mpok Santi dan Mbak Meydianawati.

Saya, ketika di Akademika, membayangkan rumah yang sempit ini akan menemukan sesuatu yang damai dan ‘baik-baik’ saja. Pikiran saya, toh orang-orangnya segini-gini aja. Tapi dugaan saya meleset. Ketika wisata jurnalistik di Lovina, saya terhenyak dengan perdebatan paling ajaib dalam hidup saya kala itu. Beberapa alumni mengkritik (untuk mengganti bahasa mencaci) kinerja panitia pengarah dan panitia PJM 2005. Diujung perdebatan, sedikit ada perkelahian kecil (entah disengaja atau tidak hingga hari saya tidak tahu).

Saya syok! Terkejut sekaligus ngeri. Apakah saya mampu bertahan dengan orang-orang yang berani berkonflik dengan terbuka. Tapi keterkejutan saya langsung mengendap. Sebab setelah itu, kawan-kawan yang terlibat konflik itu bisa cair membersihkan tubuh dan makan bareng lagi. Ajaib! Habis gontok-gontokan bisa makan bareng. Ini membuat saya semakin tertarik dengan rumah Akademika.

Saya mendapat banyak pelajaran di akademika. Sungguh! Saya menemukan keluarga baru. Saya pernah menemukan cinta di sana meskipun pada akhirnya harus kandas karena perbedaan prinsip. Saya pernah menemukan konflik yang terbuka dan yang diam-diam. Saya pernah merasa senang. Saya pernah merasa tidak bisa melepaskan hari tanpa berkunjung ke akademika. Saya pun bisa pertama kali naik pesawat terbang karena Akademika. Akademika memberikan banyak hal buat saya. Saya juga bisa bertemu banyak orang hebat di akademika. Ada Bli Artha dan Bli Ngurah yang tulisannya sangat memikat. Banyak orang yang menjadi inspirasi saya di Akademika. Beberapa diantara mereka bahkan pernah saya temui dan mau membagi ilmunya dengan saya. Akademika mengajarkan saya untuk berkorban demi organisasi.

Saya masih ingat ketika Akademika mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut di tahun kedua saya di Akademika. Panitia yang hanya sedikit harus pontang-panting mengadakan kegiatan skala nasional itu. Saya harus bolak-balik mengantar proposal, menjemput peserta dan mengajak peserta jalan-jalan. Saya tidak tahu berapa bensin dan uang yang sudah saya habiskan. namun, saya tidak pernah menghitung itu semua. Buat saya, tidak akan ada mendapatkan pengalaman hebat ini jika saya harus menghitung kerugian materi. Akademika hanya mengganti uang transpor sebanyak sepuluh ribu rupiah sebagai uang bensin.

Tapi, di pelatihan ini saya akhirnya mendapat banyak cerita dari Amarzan Loebis, Redaktur Senior Tempo kawan Pramoedya Ananta Toer dan Mas Buset alias Mas Budi dari Yayasan Pantau. Bertemu mereka adalah pengalaman berharga buat saya.

Karena mengenal kawan-kawan Balairung di pelatihan itu saya akhirnya punya mimpi untuk menerbitkan buletin bulanan. Saya bersama Ketua Umum kala itu, Mas Andi Akrimil, akhirnya mencoba mewujudkan itu dengan meminimalkan penerbitan tabloid. Meskipun ada beberapa suara sinis dari alumni yang mengatakan tabloid memiliki historis di Akademika. Tapi saya pikir, setiap jaman punya karakternya masing-masing. kami jalan terus dengan ide ini.

Akademika juga tidak pernah lepas dari konflik. Buat saya, konflik itulah yang menjadikan Akademika tetap bertahan hingga hari ini. Pada Musker 2006, pada pemilihan PU, terjadi perdebatan yang alot (hingga hari ini itulah satu-satunya musker yang tidak diiringi dengan rayuan kepada calon PU yang saya ikuti). Perdebatan itu benar-benar alot menjurus keras. Tapi saya menikmati itu. Itulah dinamika yang seharusnya kita hidupkan di Akademika. Bermusuhan dalam forum itu wajib. Tapi setelah itu, kita biasa makan malam bareng dan jalan bareng. Ini yang membuat saya betah di Akademika.

Saya teringat dengan sebuah rapat anggota. Mas Andik harus menerima kritikan tajam dari anggota waktu itu. Semua kritikan dijawab dengan tenang. Sementara Okrina dan Ari DJ yang waktu masih anak baru sepertinya bengong dengan cara Akademika mengkritik kawan lain secara terbuka.

Di Akademika ada juga permusuhan diam-diam. Yah, saya tidak perlu sebut namanya. Saya yakin, orang-orang Akademika akan mengerti sendiri siapa yang saya maksud. Tapi belakangan ini, saya banyak melihat konflik di Akademika. Namun, tidak ada yang dikelola dengan baik. Pada akhirnya, konflik-konflik itu menjadi permusuhan pribadi.

Silakan direnungkan kawan-kawan. Saya percaya, Akademika mengajarkan kita pada proses pendewasaan diri.

Saya kangen dengan suasana rapat yang hangat penuh kritik. Hal yang nyaris tidak saya temui belakangan ini. Semua memendam konflik diam-diam. Ketika mereka tidak tahan dengan konflik, merekapun pergi diam-diam.

Peristiwa yang mungkin tidak akan saya lupakan sepanjang perjalanan saya di Akademika ketika saya mencalonkan diri sebagai ketua senat di kampus. Hati kecil saya bertarung hebat. Apakah saya mesti mundur atau bertahan? Terus terang saya waktu itu ingin menemukan tantangan baru di luar Akademika. Sementara, saya pun belum tega meninggalkan Akademika. Namun, setelah melalui pergulatan yang panjang saya memutuskan mundur dari Akademika.

Rapat Akademika di sore itu pun menjadi ajang penghakiman buat saya. Saya berusaha tegar. Saya sudah memilih dengan sadar dan harus siap dengan cacian kawan-kawan. Benar saja, rapat sore itu diiringi dengan tangis yang membuat saya cukup terharu. Terima kasih kawan-kawan saya ucapkan terhadap penghargaan atas kehadiran saya. Meskipun saya gagal maju menjadi ketua senat di kampus, saya tidak menyesali keputusan besar untuk mundur dari jabatan pemred.

Saya masih ingat. karena benar-benar terinspirasi dari Balairung saya berniat menerbitkan jurnal. Kerangka acuan sudah saya siapkan. Namun, energi yang saya miliki ternyata terbatas. Saya bersama Intan, KU/PU kala itu pun berniat menjadikan ide ini sebagai seminar. Atas saran beberapa alumni, kami pun menghadirkan calon-calon Gubernur Bali. Jadilah, Akademika menjadi organisasi pertama yang bisa menghadirkan calon gubernur/wakil gubernur dalam satu forum.

Yah, kalau boleh saya bilang Akademika berperan besar dalam perjalanan hidup saya. Jika mungkin tidak mengenal akademika, mungkin saya tidak akan bisa menikmati apa yang saya dapatkan sekarang. Sekali terima kasih Akademika. Banyak yang menemukan cinta. Banyak pula yang menemukan nestapa. Saya pikir, itulah dinamika yang wajar. Ada yang bertahan ada pula yang mati pelan-pelan. Tapi saya percaya, kawan yang menyingkir pelan-pelan akan menemukan dirinya di tempat lain.

Cerita di Musker tahun ini pun sepertinya harus berujung tragis. Dua pimpinan harus hilang dengan alasan yang berbeda. Pemimpin redaksi harus berhenti karena telah menjadi sarjana sementara sekretaris umum mundur hanya dua menjelang musyawarah kerja. Mundurnya pemimpin redaksi mungkin bisa dipahami. Tapi mundurnya sekretaris umum hanya dua hari menjelang musker tentu tidak dapat diterima oleh akal sehat. Saya pikir, anggota Akademika harus berani mengklarifikasi persoalan ini.

Yang lebih tragis tentu pengunduran diri sang Pemimpin Umum dua belas hari menjelang musker dimulai. Saya sempat dikirimi pesan oleh seorang anggota Akademika. Saran saya waktu itu: ambil Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan segera adakan Musyawarah Kerja Luar Biasa. Tapi, saran saya ternyata tidak diterima. Alhasil, Pemimpin Umum pun mundur dengan alasan yang hingga hari ini tidak saya ketahui.

Saya pikir, ini perlu dipertanggungjawabkan secara moral. Bahwa jabatan Pemimpin Umum Akademika bukan persoalan main-main. Untuk dipilih diperlukan mekanisme dalam musyawarah kerja. Untuk mundurpun melalui mekanisme yang luar biasa. Saya pikir, Akademika harus merumuskan formula untuk mengatasi persoalan ini di masa datang. Jangan sampai jabatan sepenting itu dipermainkan dalam ketidakpastian.

Yah, mungkin saya tidak melakukan banyak hal di Akademika. Banyak mimpi saya tentang Akademika yang belum tercapai. Tapi setidaknya, Akademika menjadikan saya memiliki militansi dan daya tahan lebih dibandingkan dengan orang lain. Di akademika: yang kuatlah yang bertahan. yang lemah, akan mati pelan-pelan.

Akhir kata: selamat buat Dolly Suarsana yang sudah menjadi Ketua Umum Akademika periode ini!!

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. antonemus said, on November 19, 2011 at 4:27

    ini tulisan lama ya, nyot? tetap menyenangkan sih bacanya. cuma perlu diperjelas waktunya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: