Agus Lenyot

Selamat Puasa Kawan!

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 13, 2010

Saya selalu heran dengan relasi manusia dengan tuhan. Sungguh. Heran karena relasi ini sangat unik. Satu arah dan berat sebelah. Tuhan tidak pernah meminta tapi manusia selalu meronta dan mengiba dengan doa. Tuhan tidak pernah memberi namun manusia kadang menganggap Tuhan itu adil atau tidak adil. Keheranan saya selalu muncul tatkala ada perdebatan tentang tafsir ajarannya. Buat tafsir atas teks tidak bisa tunggal. Tergantung dari sudut mana saya melihat. Itu pikiran sederhana saya.

Lalu relasi antara manusia dengan Tuhan kembali menggelitik pikiran saya. Soalnya begini: ada ormas agama tertentu yang memaksa rumah makan tutup pada siang hari pada saat puasa. Atau lebih ekstrem lagi, ada sekelompok orang yang mengatasnamakan agama tertentu merusak tempat hiburan malam hanya karena masih buka di bulan puasa. Semua itu atas dalih toleransi dan agama.

Keheranan saya adalah kenapa setan penggoda mesti diikat dan dipenjarakan ketika puasa? Bukankah dia seharusnya dibiarkan berkeliaran untuk mengetahui kadar kekuatan iman dan kesungguhan niat kita? Lalu apa guna puasa kalau tidak ada godaan yang mengelilingi? Bukankah tiada guna menjadi benar kalau kita tidak dikelilingi oleh orang yang salah?

Keheranan serupa pernah saya alami saat Nyepi tahun ini. Untuk pertama kalinya Nyepi tahun ini tanpa siaran tipi di Bali. Alasannya: menghormati umat Hindu yang merayakan Nyepi. Buat saya ini aneh. Kenapa menghormati umat Hindu dan hati raya Nyepi harus dengan membunuh siaran tipi? Sama herannya ketika nyepi ada pecalang yang berjaga mengawasi pelaksanaan Nyepi? Untuk apa pula diawasi? Kenapa umat Hindu tidak dibiarkan untuk menghormati dirinya, apakah mau merayakan Nyepi atau tidak.

Ibadah, menurut saya adalah kewajiban sedangkan menonton tipi adalah pilihan. Pertanyaannya: mana yang harus didahulukan? Kewajiban atau pilihan? Seharusnya relasi antara manusia dengan tuhan menjadi relasi yang amat personal. Siapapun tidak berhak menghakimi seseorang atas relasi. Bukankah Tuhan itu sesuatu yang abstrak dan imajiner? Membuktikan tuhan itu tidak ada sama mustahilnya bagaimana membuktikan Tuhan itu ada? Atau membuktikam Tuhan itu tunggal sama susahnya dengan pembuktian Tuhan itu tidak satu?

Namun, saya pikir nilai-nilai universal terhadap relasi personal yang mestinya dijunjung tinggi. Orang seharusnya takut membunuh bukan karena dosa terhadap ajaran tuhan? Tapi membunuh itu membuat seseorang akan kehilangam orang berharga. Sekarang posisinya tinggal dibalik saja. Bagaimana kalau keluarganya dibunuh? Atau mencuri adalah dosa dan dilarang oleh Tuhan. Kenapa tidak dilogikakan secara sederhana. Mencuri berarti mengambil milik orang lain tanpa ijin dan membuat orang lain kehilangan sesuatu yang pasti pernah dimiliki. Kehilangan, apalagi sesuatu yang dianggap berharga adalah menyakitkan. Kenapa tidak logika itu dipakai untuk menghakimi pencuri. Bukan logika relasi manusia dengan Tuhan.

Atau yang lucu lagi, adalah ada manusia aneh yang berteriak jika Tuhan mereka bisa terhina. Lha, darimana tahu kalau Tuhan merasa terhina? Bukankah Tuhan, kalau dianggap ada, adalah sesuatu yang maha segala? Lalu, logika darimana Tuhan bisa dihina dan terhina? Lucu!

Rasanya agak janggal kalau orang takut berbuat salah karena takut Tuhan dan takut masuk neraka? Wong membuktikam sorga dan neraka itu ada belum tentu ada yang mampu? Lalu kenapa kita mesti takut kepada tuhan? Toh Tuhan tidak pernah marah pada kita?

Selamat menjalankan ibadah puasa!

Iklan

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. isdiyanto said, on Agustus 13, 2010 at 4:27

    Selamat Berpuasa…

  2. imadewira said, on Agustus 16, 2010 at 4:27

    buat rekan2 muslim, selamat berpuasa, semoga semua berjalan lancar

  3. gustulank said, on Agustus 17, 2010 at 4:27

    Yah, Tuhan diobrolin… Biarkan Tuhan beritirahat dengan tenang Nyot.

    salam.

  4. Agung Pushandaka said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

    Terima kasih untuk ucapan selamat puasanya. Semoga dengan banyak orang yang beramal baik di bulan ini memberikan pahala baik bukan cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang banyak dan alam semesta.

    Tentang puasa yang dipaksakan seperti yang dilakukan FPI dan Pemda Bali dengan menutup hak orang-orang yang berpuasa, menunjukkan bahwa banyak orang yang ndak mengerti apa itu ibadah. Menurut saya ibadah itu seharusnya adalah sebuah pilihan. Jadi biarkan manusia memilih untuk beribadah dengan cara yang mana sesuai dengan keyakinannya. Kalau mereka dianggap salah karena ndak menjalankan ibadah, biarlah itu jadi urusan dia dengan Tuhannya saja.

    Selamat berpuasa untuk semua warga bumi yang menjalankan ibadah puasa.

  5. ryiobudiutomo said, on September 6, 2010 at 4:27

    Lebaran sebentar lagi…
    Selamat hari raya idul fitri semuanya… !!! ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: