Agus Lenyot

Masih Keluhan tentang Birokrat!

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 19, 2010

Oke, episode ini masih tentang birokrasi. Entah mengapa saya begitu sentiment terhadap birokrasi negeri ini. Ceritanya begini kawan:

Saat ini saya sedang genit membahas soal transportasi publik di Denpasar. Ihwalnya sederhana saja: saya capek naik motor kemana-mana. Naik motor artinya panas. Kepala gampang panas. Hati mudah panas. Kalau keduanya sudah panas, mulut ini akan dengan mudah mengucapkan kata-kata pedas (Melayu dikit! Betul betul betul!)

Singkat cerita, datanglah saya ke Dinas Perhubungan Provinsi Bali di Renon. Ini kunjungan pertama saya. Karena debutan, bertanyalah saya ke pegawai pertama yang saya temui. Menanyakan tentang Trans Sarbagita yang akan segera beroperasi Nopember ini. Saya ingin tahu dengan lebih detail tentang sistem ini. Bagaimana trayeknya. Siapa pengelolanya. Bagaimana daya angkutnya. Bagaimana strategi jangka pendek dan jangka menengah sistem ini.

Singkat cerita lagi: sampailah saya di bagian informasi. Saya ditemui seorang bapak berambut jarang nyaris botak. Fantasi saya, bertemu dan berurusan dengan birokrat adalah menyebalkan. Itu sudah menjadi doktrin karatan di kepala saya. Akibatnya, tidak ada satupun profil birokrat di negeri ini yang pernah benar di mata saya (maafkan saya ya bapak-bapak penikmat uang rakyat!).

Kepada bapak botak berambut jarang itu saya bertanya: saya ingin tahu soal Trans Sarbagita. Bapak botak berambut jarang itu pun menunjukkan bahwa Trans Sarbagita sudah menjadi Badan Layanan Umum. Kantornya di sebelah Komisi Penyiaran Indonesia Bali di sebelah Jalan Drupadi.

Nadanya terlihat enggan melayani anak muda seperti saya yang datang dengan potongan preman. Pakai kaos oblong, celana jins buluk dan sepatu kets yang tak kalah busuknya. Apalagi saya datang dengan persoalan yang tidak mampu ditangani oleh lembaganya. Bapak botak berambut jarang itu menyuruh saya ke sana. Oh iya, bapak berambut botak itu bilang: Pak Kepala Dinas sedang ke Jakarta.

Saya pun ke tempat dimaksud. Namun, layanan khas birokrat kembali menghadang saya. Raut ramah penuh penuh basa-basi. Setidaknya itu yang saya rasakan. Kalau saya salah, silakan koreksi diri masing-masing. Jangan salahkan saya. Tapi saya akan tetap menyalahkan birokrat! Egois? Memang!

Disini, seorang bapak tua, sebut saja Semar (entah kenapa birokrat buat saya selalu identik dengan orang tua, lamban, kuno dan menyebalkan. Shit!) akan berbicara dengan bosnya ketika saya tanya soal Trans Sarbagita. Oh iya, saya lupa, menurut bapak botak berambut jarang di Dinas Perhubungan, Ketua BLU Sarbagita adalah mantan Kadis Perhubungan.

Setelah kembali dari ruangan bosnya, Si Semar bilang, bosnya tidak bertemu karena sedang ada tamu. Lagian, kata Si Semal yang dalam fantasi saya lamban dan menyebalkan ini, disini belum ada apa-apa. Belum bisa memberikan informasi. Begitu kata dia. “Lihat, kantor aja belum ada isinya,” jelas Si Semar. Lalu saya mesti bagaimana, tanya saya polos. Adik datang saja ke Dinas Perhubungan. Disana saja minta penjelasan. Buat saya, inilah tipe birokrat sesungguhnya. Senang maen oper sana oper sini. Tapi nggak mau mencetak gol.

Kembalilah saya ke Dinas Perhubungan. Dan bertemu dengan tokoh pertama. Kita sebut saja: Gareng. Si Gareng rupanya kaget dengan kedatangan saya. Saya bilang: disana tidak menyediakan informasi apa-apa soal Trans Sarbagita. Muka si Gareng agak bingung. Dia berujar, “Padahal sudah diserahkan ke sana urusannya.” Dia menyarankan menunggu bosnya pulang dari Jakarta. Karena sudah malas, saya pun mengiyakan permintaan si Gareng ini.

Sejujurnya saya melihat ini, saya pesimis Bus Trans Sarbagita mampu menyelesaikan kemacetan Denpasar. Apalagi melihat pembangunan halte yang nggak jelas juntrungannya hari ini. Sedihnya lagi, kenapa Trans Sarbagita dikelola oleh mantan Kadis Perhubungan? Mengapa menyerahkan persoalan baru kepada orang gagal. Mau tahu kenapa saya katakan gagal. Kita lihat saja sistem transportasi di Bali atau tepatnya Denpasar. Ah, rasa pesimis itu melanda lagi.

Mungkin benar, konsep birokrasi kita lahir bukan karena kebutuhan. Birokrasi kita lahir dari priyayi. Selalu ingin dilayani bukan dilayani. Mungkin kita bisa meniru konsep lahirnya birokrat di Inggris, kata Bli Jun yang wartawan The Jakarta Post itu. Birokrat di Inggris, masih menurut dia, lahir seperti ini: ada sekelompok orang yang bermasalah dengan air, misalnya. Orang-orang bermasalah itu kemudian dikumpulkan, dan dipilih kelompok kecil untuk menyelesaikan persoalan ini kepada Kerajaan. Karena dia tahu persoalan, maka dia tahu bagaimana persoalan itu muncul dan bagaimana mengatasi. Diangkatlah mereka menjadi birokrat yang mampu menyelesaikan masalah.

Tapi di Indonesia lain. Birokrat lahir karena keinginan. Untuk kasus transportasi misalnya. Taruhlah sepuluh orang dikumpulkan dari berbagai disiplin ilmu yang tidak memiliki masalah dengan transportasi. Mereka dikumpulkan dan disuruh menyelesaikan masalah ini. Jelaslah mereka nggak mampu. Orang mereka nggak bermasalah dengan apa yang harus mereka selesaikan. Bisa jadi inilah tipologi birokrat negeri ini. Akibatnya, negeri ini menjadi negeri salah urus karena birokratnya asal dikumpulin dan disuruh nyelesaiin kerjaan yang mereka pahami.

Berharap dari simpati dan empati mereka? No Way!
Kekesalan saya memuncak. Meluas. Merembet pada kinerja birokrat. Apa guna digaji mahal-mahal kalau nggak becus menyelesaikan masalah masyarakat? Apa guna Pak Beye naikkin gaji kalau kerjanya nggak ada yang bener? Pak Beye, nggak usahlah dinaikkin gaji PNS.

Mending bikin sekolah murah, biar nanti muridnya pintar. Kan nanti bisa menggantikan birokrat-birokrat yang lamban, tua dan konservatif itu. Mudah-mudahan saya salah dan ada yang menunjukkan kesalahan saya. Amin!

Iklan
Tagged with: ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Agustus 20, 2010 at 4:27

    bingung mau komen apa, karena sepertinya urusan birokrasi di Indonesia memang begitu.

  2. dwihardianti said, on Agustus 20, 2010 at 4:27

    hmfff dimana-mana birokrasi kok bikit ribet >_<

  3. Agung Pushandaka said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

    Ada saran untuk mengubah itu semua? Saya blum pernah separah pengalaman anda sih, tapi saya bisa mengerti karena memang seperti itulah kualitas birokrat di Indonesia.

    Kalau masalah macet sih, bukan bus trans jawabannya untuk sekarang ini. Bukan juga jalan yang terus menerus dibangun. Tapi masyarakat harus dipaksa meninggalkan kendaraan pribadinya. Naikkan pajak kendaraan, naikkan harga BBM untuk kendaraan pribadi, pasti mereka yang ndak mampu bayar pajak dan beli bensin akan meninggalkan kendaraan pribadi. Egois? Harus!

    Nah, di saat itulah baru kendaraan umum akan berguna untuk melindungi kebutuhan mereka. Jalanan pun akan lebih lengang karena ndak banyak kendaraan lalu lalang dan macet akan lebih bisa diurai. 🙂

    • Agus Lenyot said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

      saran? mengubah kultur yang yang diajegkan rasanya butuh waktu lama. tapi, harus ada kemauan yang kuat dari pemegang kebijakan (eks. gubernur, bupati atau walikota) untuk mengubah paradigma itu. beberapa daerah berhasil melakukannya. 🙂

      kalau untuk masalah transportasi, saya sepakat jika pajak dan harga bensin dinaikkan. tapi pemerintah juga wajib menyediakan alternatif lain, seperti trans-trans itu misalnya. artinya, masyarakat tidak dipaksa begitu saja meninggalkan kenyamanan yang dia miliki. pemerintah juga wajib menyediakan kenyamanan yang lain. dalam konteks ini, transportasi massal yang aman, nyaman dan terjangkau jawabannya. jadi masyarakat nggak akan punya ruang untuk protes kalau bensin dinaikkan. pemerintah tinggal jawab, “silakan gunakan angkutan yang kami sediakan kalau nggak mau bayar pajak dan beli bensin.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: