Agus Lenyot

Bagi Universitas, Mahasiswa (Baru) Adalah Komoditas

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 21, 2010

Pikiran ini muncul begitu saja di tengah pikuk pendaftaran Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Udayana. Siang itu setelah demo UKM, Sabtu 21 Agustus, hari kedua Student Day Unud, penerimaan mahasiswa baru dengan judul yang sok Inggris (saya sudah pernah usulkan untuk ganti nama!). Saya duduk di sebuah meja di tengah sliweran mahasiswa baru yang kebingungan memilih UKM.

Saya pernah mengalami fase seperti mahasiswa baru itu. Berdesakan di tengah panas untuk mendaftarkan diri di salah satu UKM. Setelah berdesakkan mendaftar UKM, mereka akan berlarian di tengah debu dan terik. Kali ini pengumpulan fakultas. Dibentak dan berbaris dengan wajah ketakutan. Bukan dibentak, dimaki namanya jika intonasi suara yang membentak seperti yang saya dengar.

Dan senior itu, akan tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan di belakang panggung melihat tingkah polah mahasiswa baru yang berlarian kalang kabut. Wajah-wajah mahasiswa baru itu terlihat ketakutan. Bagi saya ini adalah dinamika artifisial mahasiswa. Sejujurnya, saya jijik, mual dan pengen muntah melihat bentakan-bentakan primitif itu.

Senior-senior yang sok galak sudah menanti mereka. Wajahnya terlihat sangar. Tepatnya, dibuat-buat. Beberapa diantara mereka memakai kacamata hitam. Mungkin palsu karena di Pasar Kereneng saya pernah lihat kacamata serupa. Dengan wajah berwibawa dan tegas dibuat-buat, mereka menjelma seolah-olah menjadi manusia paling benar. Saya teringat pecalang yang berjaga di perempatan. Nanti saya usulkan mereka direkrut jadi pecalang setelah lulus sarjana dengan wajah garang seperti itu. Ketika jadi mahasiswa baru, saya juga mengalami tindakan serupa. Dibentak dan diumpat.

Praktek ini, sering saya sebut sebagai praktek paling purba yang dilakukan mahasiswa yang mengacaukan intelektualitasnya. Tapi, kawan-kawan itu selalu punya alasan: pengujian mental dan disiplin. Tidak disiplin adalah memalukan nama fakultas. Itu yang saya dengar dari umpatan mereka. Saya tidak sepakat dengan argumentasi mereka.

Barangkali mereka adalah manusia krisis identitas. Tidak memiliki ruang untuk unjuk eksistensi. Satu-satunya ruang untuk pamer kebolehan adalah di depan mahasiswa baru yang, sekali lagi saya ingatkan, lemah secara politis. Ruang eksistensi itu pun datangnya sekali setahun. Jadi harus diajegkan.

Ketika memimpim BEM, saya mengharamkan tindakan-tindakan purba macam ini. Tapi saya juga tidak akan mendebatnya, karena objek eksploitasi itu akan sadar seiring berjalannya semester. Saya tidak mengatakan apa yang saya lakukan sudah baik. Namun, tindakan primitif itu adalah pengkerdilan martabat manusia.

Itu baru eksploitasi fisik dan psikis. Lebih tepatnya menurut saya, penjajahan terhadap mahasiswa baru. Mahasiswa baru adalah mahkluk lemah secara politis. Itu sangat disadari benar oleh universitas dan anak-anaknya. Untuk menjadi sarjana, mahasiswa ibarat harus melewati hutan belantara untuk mencapai titik akhir. Titik akhir itu, kita sebut sarjana. Pada konteks ini, universitaslah yang memegang peta. Dia membuat dan memegang aturan.

Untuk memperoleh ijin masuk hutan belantara itu, dia harus membeli tiket yang sudah ditentukan harganya oleh universitas. Di Udayana, harga tiket masuk berada dalam interval Rp 2,9 juta hingga Rp 30 juta. Tidak ada tawar menawar dalam transaksi ini. Tidak mampu bayar, cari kendaraan lain sebab Udayana tidak mungkin menunggu. Ini praktek kapital.

Pada titik ini, mulailah institusi pendidikan menjadi lembaga transaksional. Lembaga dagang. Ada uang ada cara menjadi sarjana. Kampus bukan lagi menjadi wadah untuk membebaskan manusia. Namun, dia menjadi media untuk mereproduksi orang-orang kaya. Kampus hanya milik mereka yang berduit. Pendidikan menjadi sesuatu yang istimewa. Karena istimewa diperlukan cara-cara istimewa untuk menikmatinya. Di Indonesia, istimewa sama dengan uang. Ah, rasanya tidak perlu lagi saya uraikan cita-cita pendidikan Paolo Freire. Sudah terlalu basi untuk didiskusikan.

Jika mampu bayar tiket masuk, jangan senang dulu. Universitas akan membuat aturan lagi. Syarat sarjana adalah lulus ini itu. Nah, ini itu, di Udayana salah satunya adalah penerimaan mahasiswa baru. Penerimaan mahasiswa artinya harus membeli barang aneh-aneh yang diperintahkan senior. Zaman saya dulu, saya disuruh beli susu kotak untuk dikasi makan senior. Asem!

Jangan harap ini gratis. Ini bayar, boy! Penerimaan mahasiswa baru ini berjenjang, di universitas, fakultas dan jurusan. Panjang dan melelahlan pastinya. Dan itu semua bayar! Tidak ada yang gratis di universitas sekarang. Tidak hanya itu, menjelang sarjana, kamu wajib bayar uang KKN.

Lalu, sampailah mereka, mahasiswa baru itu, pada saat tulisan ini ditulis. Mereka berjubel mendaftar UKM, yang sebagian besar tidak gratis. Untung masih ada UKM yang menggratiskan pendaftaran. Bukankah ini sudah menjadi bukti bahwa mahasiswa baru adalah komoditas yang mudah dieksploitasi? Belum lagi jika ditambah dengan tetek bengek atribut yang disuruh oleh seniornya.

Saya yakin, mereka, senior yang berteriak galak itu, pun belum tentu paham tentang gerakan mahasiswa. Lebih parah lagi, mereka hanya membaca daftar isi buku-buku gerakan mahasiswa. Atau hanya baca judulnya saja? Atau yang lebih parah lagi, nggak pernah baca buku itu sama sekali? Yah, mereka adalah makhluk meriang yang melampiaskan emosi dengan mengeksploitasi mahasiswa baru.

Buat saya, mereka adalah mahasiswa barbar yang hidup pada jaman Phitecantropus erectus, manusia yang tidak bisa ereksi!

Iklan
Tagged with: , ,

24 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Eka Putra Jayantara said, on Agustus 21, 2010 at 4:27

    amazing!!!
    aku liat kamu tadi duduk2 di meja sebelahku nyot. dan aku kaget kamu mikir sampe segitunya.

    anw,
    sori agak banyak ngebacot, cuman mau sharing dikit.

    memang namanya pembentakan yang kamu bilang ‘primitif’ itu memang salah. tapi pertanyaannya sekarang, cara apa yang memungkinkan mahasiswa baru belajar disiplin secara benar? maksudku, dengan dibentak cara kasar, mereka akan mendengarkan, tapi ketika kita kasi tau baek2, liat aja tingkah mereka yang seenaknya. semua ini, bisa dibilang, bawaan dari SMA. jujur aja, waktu SMA memang jamannya nakal, bolos sekolah, ngebentak guru, ngejahilin guru, kabur ke kantin, dan jadi murid favorit guru BK. itu semua memang sudah jadi kebiasaan beberapa murid (tidak bohong, dulu memang saya begitu, tapi sekarang sudah tobat). yang lebih parah lagi, yang murid baek2, waktu mulai kuliah, mereka semua “nyebeng” dan berlagak bengal (aku sempet memperhatikan beberapa mahasiswa2 yang bisa dibilang kalem waktu SMA dan jadi bengal mendadak waktu kuliah). saya pikir, untuk menetralkan mereka, perlu adanya suatu “tamparan” yang membuat mereka sadar.

    setengah hati aku nggak setuju sama yang namanya pembentakan ini. tapi kalo ada jalan lain yang bisa ngebuat mereka sadar pentingnya disiplin dengan tidak membentak, mengumpat dan ‘menjahili’, alangkah bagusnya.

    waktu di ekstensi sastra inggris, waktu kemah di buyan, senior dari sastra inggris yang mungkin kamu kenal, namanya Gus Dek, ngasi tau arti dari mahasiswa dengan cara yang menurutku sangat benar. dia nunjukin kita video tentang tragedi-tragedi di Jakarta (saking banyaknya aku lupa yang mana aja, maaf) dan nunjukin waktu mahasiswa akhirnya menggulingkan pemerintahan suharto. dimana sebagai mahasiswa, setiap individu harus menunjukan sikap yang intelektual dalam menyikapi sesuatu dan bukan petantang-petenteng bawa nama “mahasiswa” buat ngegebet beberapa cewek SMP (sumpah nggak bohong banyak yang gini), dan ngebawa nama “mahasiswa” cuman buat dapet potongan harga waktu masuk Waterbom.

    menurutku, krisis itu bisa diselesaikan dengan video yang aku sempet tonton itu. video itu bisa membuat beberapa mahasiswa (contohnya aku) jadi ngerti kekuatan mahasiswa, bahkan peran dari mahasiswa itu sendiri, meskipun aku selalu nolak untuk ikut demo. dan meskipun setelah 1 bulan aku langsung lupa.

    mungkin ini bisa diusulkan di student day tahun berikutnya? dan untuk nama Student Day, gimana kalo taon depan kita ganti namanya jadi HAMA? HAri MAhasiswa? (canda)

    ngomongin masalah pendidikan,
    mahalnya pendidikan memang sudah jadi suatu identitas bangsa indonesia, bahkan di luar negri juga. masalah di luar negri mungkin aku bakalan tag kamu di notesku tentang pendidikan, tapi maaf kalo bahasanya agak slenge’an, aku nggak begitu biasa buat sesuatu yang formal.

    singkat aja, memang masalah dari kemiskinan adalah kebodohan, jalan keluar dari kebodohan adalah pendidikan, tapi kalo pendidikan tidak bisa diakses oleh orang miskin, berarti sama aja boong. yang miskin tetep miskin, yang bodoh tetep bodoh, yang ancur ya ancur aja sekalian. ibarat terdampar di pulau berbahaya dan cuma ada 1 jembatan yang bisa membuat kita keluar dari pulau berbahaya itu, tapi di jembatan itu ada petugas yang minta ongkos. dan beberapa orang di pulau berbahaya ini melakukan hal yang tidak sewajarnya untuk membayar petugas yang minta ongkos ini (tindakan kriminal)

    kita nggak bisa memungkiri kalo orang bodoh pun juga manusia. manusia butuh makan. makan butuh duit. duit dari kerja. nggak bisa kerja ya nyuri aja sampe masuk penjara. ya, kebodohan identik dengan kriminal. dulu, waktu revolusi industri di inggris, jutaan orang di inggris yang “bodoh” sehingga nggak bisa kerja, lebih milih masuk penjara karena mencuri makanan karena mereka sangat miskin. mereka bilang, penjara bisa memberikan mereka makan gratis dan tempat berlindung. makanya mereka sampe memperluas penjaranya ke australia.

    ah, jadi ngelantur ke sejarah. maaf…
    yah, mungkin sekian dulu deh aku sharingnya, maaf kalo ngegantung tulisannya, dan maaf kalo aku malah jadi buat koran di postinganmu.

    keep it up ya tulisannya! buat mata masyarakat lebih terbuka akan tindakan kapitalis yang terjadi sehingga mereka sadar sedang dijajah saudara sendiri!

    quote dikit dari pak Pramoedya:
    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

    • Agus Lenyot said, on Agustus 22, 2010 at 4:27

      makasi eka atas tanggapannya.. pendapatku, ada kunci untuk membuat disiplin. apa itu, kedisiplinan. contoh, berikan mereka contoh disiplin itu seperti apa. atau lebih jelasnya, reward and punishment. membentak, mengumpat atau apalah sejenisnya tidak akan bisa membuat orang menjadi disiplin dalam waktu sekejap, apalagi hanya dalam penerimaan mahasiswa baru. menurut saya ini proses panjang dan berjenjang. kalau hanya dilakukan dengan cara-cara instan-instan, yang terjadi adalah proses peniruan.

      kita bisa lihat kan, mereka yang membentak itu kebanyakan angkatan muda. aku yang kuliahnya udah lima tahun saja tidak berani membentak dan menghardik mahasiswa baru. kenapa? karena aku belum tentu lebih baik dari mereka. menurutku, kalau memang tidak disiplin, hukumlah dengan tindakan yang mencerdaskan. ini salah satu dasar kenapa aku bilang membentak merupakan cara primitif.

      reward dan punishment kepada mahasiswa juga jelas, sistem kelulusan seperti apa. jangan sampai, nanti setelah dia jadi mahasiswa semester 6, dia bisa dengan mudah mendapatkan sertifikat student day dengan meminta kepada temannya. ini juga yang harus diperjelas karena praktek ini sering terjadi.

      tentang, film yang diputar itu, iya, aku sepakat, kita sepertinya perlu mengusulkan film itu diputar lagi atau mungkin kita cari cara lain untuk menunjukkan betapa pentingnya peran mahasiswa. biar mahasiswa nggak lupa sejarah. halah!

      atau, yang paling penting, pembentukkan karakter dan disiplin itu harus berkesinambungan yang tidak berhenti saat penerimaan mahasiswa baru atau kemah. harus dilanjutkan dengan diskusi atau apalah bentuknya. ini yang terlupakan dari kita. soalnya susah dibedakan mana organisasi mahasiswa dan mana event organizer. kerjaannya gitu doang, mengulang apa yang dilakukan tahun-tahun sebelumnya.

      *maap ngelindur gara-gara bangun pagi di hari minggu

  2. agung parameswara said, on Agustus 21, 2010 at 4:27

    manusia yang cuma bisa ereksi kalo pakek tngan nyot..
    ndak tau harus dengan cara apa lagi spaya bisa eksis..

  3. TUKANG CoLoNG said, on Agustus 21, 2010 at 4:27

    ulasan yang menarik. tentang sikap senior yg suka bentak2, emang gag usah didebatkan, itu begitu relatif bagi masing2 orang.

    untuk eksploitasi besar-besaran maba, itu betul banget, dan saya sendiri, meski punya posisi strategis sebagai stakeholder, belum bisa ngerubahnya. 😦

    untuk kata terakhir itu, saya lebih suka menyebutnya, manusia malu-malu kucing nafsu anjing.

    salam.

  4. Agus Lenyot said, on Agustus 22, 2010 at 4:27

    itu yang harus diperjuangkan,,
    kalau aku mah, cara gampang adalah dengan menulis..

  5. adi sumiarta said, on Agustus 22, 2010 at 4:27

    keren tulisannya bung….. bener tu, maba cm dimanfaatkan oleh senior2nya untuk cari muka saja,,, yang katanya itu wajib dilakukan disetiap penerimaan mahasiswa baru,,,, tp apakah dengan cara seperti itu efektif untuk mendidik mereka??? itu masih dipertanyakan di era seperti sekarang……

    • Agus Lenyot said, on Agustus 22, 2010 at 4:27

      ayo di, buktikan kalau kersos itu bermanfaat buat mereka dan membuat mereka terkesan. tantanganmu untuk membuktikan itu.

      • adi sumiarta said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

        sssiiiippppp doain aja revolusi konsepku berhasil n sukses pak pres…..

  6. putuprasasta said, on Agustus 22, 2010 at 4:27

    Ulasan yang bagus..
    Salam kenal sebelumnya. Sedikit sharing, menurut saya paradigma pendidikan tinggi itu sudah mengalami pergeseran, komersialisasi pendidikanlah yang terjadi. Mohon maaf sebelumnya, sekarang trendnya, yang bisa meneruskan kuliah yang berduit atau yang mempunyai relasi yang berhubungan dengan wewenang dan jabatan, saat ini uang adalah segalanya (dilatarbelakangi ketika saya mengunjungi kampus udayana di jimbaran dan sudirman dan melihat perbedaanya yang signifikan).

    Coba kita ide out of box seperti ini,” semua orang yang sudah mendapatkan manfaat perguruan tinggi, bayar balik” Contoh sederhananya, setelah orang bekerja 10 tahun pertama, mulailah dia membayar balik ke universitas, senilai biaya hari ini. Jadi tanggung jawab 1 orang memberi minimal beasiswa ke satu anak. Seandainya cara ini bisa berjalan mungkin “kapitalisme pendidikan” bisa dihentikan. Ide ini sudah diadopsi di Universitas Paramadina.

    Senioritas
    Menanggapi masalah senioritas ketika orientasi mahasiswa baru, menurut saya jika seperti yang diucapkan diatas, memang berlebihan. Masih banyak cara yang lebih baik dalam membentuk disiplin. Pengalaman ketika mengikuti kegiatan serupa di salah satu perguruan tinggi kedinasan di jakarta, cara-cara membentak tanpa alasan, budaya mencari barang-barang aneh sama sekali sudah dihilangkan. Yang ditekankan justru semangat korps, pengalaman saya yang berkesan, ketika seorang maba melakukan kesalahan, yang diberikan punisment justru bukan mabanya tetapi mentor (sejenis perwalian bagi maba yang anggotanya terdiri dari mahasiswa smt 3 keatas), jadi mereka (panitia) memberi contoh tentang korps kepada kami, dan menurut saya cara itu berhasil.
    Mohon maaf klo ada yang kurang berkenan, Suksma

    • Agus Lenyot said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

      salam kenal juga…

      persoalannya adalah kita, tepatnya pemerintah, tidak memiliki sistem penganggaran yang jelas untuk membiayai pendidikan kita. seberapapun anggaran pendidikan yang diberikan oleh negara, tanpa sistem penganggaran yang bagus, biaya pendidikan akan tetap mahal. *sekadar informasi, biaya pendidikan di Udayana relatif murah jika dibandingkan dengan universitas lain. saya sepakat, pendidikan berkualitas memerlukan biaya yang tidak sedikit. namun, pertanyaannya, apakah biaya yang tidak sedikit itu harus dibebankan kepada masyarakat?

      soal kredit yang harus dibebankan kepada mahasiswa, saya sepakat asal jelas dan terukur. namun, mampu dan maukah pemerintah menggratiskan dan mensubsidi pendidikan? persoalannya kan di sana…

      terima kasih atas diskusinya..
      suksma..

  7. eka virgia said, on Agustus 22, 2010 at 4:27

    Hidup Mahasiswa Indonesia!!!!!
    hehehehe….

    bangga liat coment kakak2…keren semua…..

    • Agus Lenyot said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

      halo eka,
      selamat datang di blog ini, selamat datang dinamika..

  8. imadewira said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

    di kampus saya di surabaya, tidak yang namanya senior bentak2, ospek pun tidak ada tekanan, sama sekali.

    entahlah sekarang

    • Agus Lenyot said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

      di kampus saya, Udayana, mahasiswanya masih barbar pak..
      jadi, nanti kalau punya saudara masuk Unud, siapkan mental aja.. hehehe..

  9. Agung Pushandaka said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

    Hmm, waktu saya jadi mahasiswa baru di UGM puluhan tahun silam, saya menikmati masa-masa ospek walaupun mendapat sedikit bentakan. Untungnya, setelah ndak jadi mahasiswa baru lagi, saya ndak pernah tertarik untuk gantian membentak-bentak mahasiswa baru. Mengurusi mereka saja ogah, karena urusan kuliah saya sendiri blum terurus dengan baik waktu itu, apalagi harus membentak-bentak mereka. Hehe!

    Dan untuk biaya-biaya, waktu itu saya cuma membayar maksimal 200 ribu rupiah untuk setiap semesternya di FH UGM. Cukup mahal waktu itu, tapi rasanya jauh kalau dibandingkan dengan biaya kuliah jaman sekarang. 🙂

    • Agus Lenyot said, on Agustus 23, 2010 at 4:27

      haha, saya tidak pernah bisa mendekati bentakan-bentakan itu, makanya setiap senior-senior itu mulai mengerubungi saya dulu, saya biasanya mengosongkan pikiran atau tertawa dalam hati melihat tingkah mereka…

  10. yohard said, on Agustus 24, 2010 at 4:27

    Wihiii…

    Seharusnya mahasiswi baru itu dibelai-belai, jangan dibentak :p

  11. Agus Lenyot said, on Agustus 24, 2010 at 4:27

    iya, aku juga heran. kalau aku mah akan menyayangi mahasiswi-mahasiswi yang bening dan segar itu…

    • kadekdoi said, on Agustus 27, 2010 at 4:27

      aitsss beehhh..pantesan ya betah kalo ospeek,,,ga mikir sprti kaum bar-bar tapi malah mikir yg bening-bening…kirrrrrrr

  12. lodegen said, on September 1, 2010 at 4:27

    wadow, yg komen sama panjangnya sama yg mosting. kosep dah bagus kmare student day. klo dah di fakultas, yah tunggu keberuntungan aja deh. tapi, sangat sulit bersikap gegabah ato slebor di masa pesbuk dan twitter saat ini. memancing di air keruh, malah jd boomerang. ntar malah dibuatin grup aneh2. itu hukuman seumur hidup tuh.

  13. Andi said, on September 10, 2011 at 4:27

    Kersos kami para maba udayana akan dihabisi dengan lambat tapi pasti
    Ini menimbulkan tekanan mental, aura muak, letih hanya dengan memikirkannya, trauma psikologi yang tinggi

  14. risaeffendi said, on April 7, 2017 at 4:27

    Kak, saya daftar unud, tidak tau di terima atau tidak,
    Kalau di terima, apa yg harus saya lqkukan jika menerima perlakuan seperti si atas…?? Diamkah, masa bodoh, menurut ??(q pengen cri aman)

  15. risaeffendi said, on April 7, 2017 at 4:27

    Kak, saya daftar unud, tidak tau di terima atau tidak,
    Kalau di terima, apa yg harus saya lqkukan jika menerima perlakuan seperti si atas…?? Diamkah, masa bodoh, menurut ??(q pengen cri aman)

    Mohon di balas…😟😟


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: