Agus Lenyot

Ini Soal Keganjenan Berbahasa

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Agustus 29, 2010

Soal keganjenan berbahasa ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis. Namun, baru kali ini menemukan momen yang pas. Penyebabnya mudah: Putri Indonesia 2009 kita gagap menggunakan Bahasa Inggris di ajang Miss Universe 2010.

Memalukan? Iya. Meskipun English saya juga acak kadut, tidak lebih baik dari dia namun kasus ini istimewa. Sebab apa? Saya bukan Puteri Indonesia. Sebagai duta bangsa, seharusnya dia tidak memperlihatkan hal konyol seperti itu.

Setidaknya ada dua hal yang ingin saya sorot. Pertama, sebagai duta bangsa, berEnglish ria sudah harus menjadi kewajaran. Sebab dia akan melakukan promosi Indodnesia ke seantero dunia. Kedua, sebagai duta bangsa, dia punya misi yang jauh lebih luas timbang memenangkan kontes itu. Misalnya misi kebudayaan.

Mungkin, Qory Sandioriva (kalau nggak salah begitu ejaannya) menganggap, menjawab pertanyaan juri dengan berEnglish ria akan dianggap bernilai lebih. Padahal, secara logika, menggunakan English di ajang seperti itu adalah lumrah. Tidak ada nilai plus. Alias sudah sewajarnya. Buktinya, beberapa pemenang Miss Universe justru jamak menggunakan bahasa asli mereka.

Buat saya, jika Puteri Indonesia berani berIndonesia, justru jauh memiliki keunggulan. Pertama, dia akan lebih lancar menjawab pertanyaan karena nggak perlu mikir dua kali. Memikirkan jawaban dan memikirkan terjemahan jawaban. Kedua, dia akan menjadi istimewa karena dia menggunakan bahasa yang tidak semua negara tahun Indonesia. Penonton dan juri tentu akan bertanya, bahasa apakah yang digunakan orang ini? Ketiga, ini akan menjadi promosi terhadap Indonesia. Dia bisa memperkenalkan bahasa Indonesia agar bisa bergaul dan sejajar dengan bahasa lain yang sudah lebih dulu populer.

Namun, inilah keganjenan berbahasa bangsa ini. Segala yang berbau asing, termasuk bahasa adalah hebat. Padahal tidak.

Inipula yang menjangkiti Bali. Pak Mangku mencanangkan Bali Clean and Green. Ini lucu sekaligus konyol menurut saya. Ah, pemerintah pun tak luput dari soal keganjenan berbahasa.

Kenapa Pak Mangku nggak menggunakan istilah yang lebih Bali? Bali Kedas lan Gadang misalnya (halah!). Kalau alasannya Bali adalah pulau internasional, saya juga kurang paham. Sebab, istilah English itu, dalam psikologi turis justru nggak menarik.

Kalau istilah yang lebih Bali kan turis akan bertanya. Apa artinya Bali Kedas Lan Gadang? Nah, disinilah peluang Bali melakukan promosi pariwisata sekaligus promosi Bali. Saya berharap, penggunaan istilah ini bukan karena pembantu-pembantu Pak Mangku baru lulus kursus English.

Di skala kampus, keganjenan berbahasa juga terjadi. Kali ini menimpa penerimaan mahasiswa baru. Di Udayana, namanya Student Day. Kalau diterjemahkan begitu saja, artinya hari mahasiswa. Padahal, dulu Udayana punya istilah yang lebih keren. Gempita namanya, Gema Penerimaan Intelektual Muda Universitas Udayan. Saya pernah mengusulkan agar diganti, tapi ternyata, pengelola universitas masih senang berganjen ria. Mirip seperti abege-abege labil.

Melihat fakta ini, nggak heran kita begitu mudah dijajah dan diinjak harga diri oleh bangsa lain, terutama Malaysia. Wong kita aja nggak pernah bangga dengan apa yang kita punya. Nonton wayang dianggap kampungan, musik dangdut dianggap kelas kuli, berbatik dianggap kuno atau pakai sepatu Cibaduyut dianggap menurunkan gengsi. Pokoknya yang luar negeri dianggap paling bagus! Ternyata semua pihak, pemerintah hingga kampus menjadi sedikit alay (ciaaat!)

Tapi kalau itu semua diklaim, kita marahnya minta mampus. Padahal, menjaga dan merasa memiliki aja kita nggak pernah.

Seharusnya perubahan mesti diikuti tanpa kehilangan jati diri. Persaingan global juga tidak mesti menyembunyikan apa yang kita miliki. Bahasa, budaya, atau tradisi leluhur adalah kekayaan yang tidak bisa kita ciptakan di masa depan. Itu kenapa China menjadi bangsa yang maju tanpa meninggalkan tradisi leluhur. Kita?

Iklan
Tagged with: , ,

16 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. iboy said, on Agustus 29, 2010 at 4:27

    tulisan yg menarik dan benar adanya 🙂

  2. christin said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    bener bgt thu ya… terlalu sok utk pake bhs inggris terkdg penggunaanny gag tepat….emg anehhh…
    brarti bljr bhs inggris gag bgtu pntg donk mnrtmu??

  3. imadewira said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    wuih, menusuk hati… terima kasih atas pencerahannya. hmm, benar juga, seharusnya kita bisa seperti pepatah bali, “sanggah pedidi, nyen kal orin mebanten”.

    • Agus Lenyot said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

      hehehe, kalau bukan kita yang bangga sapa lagi bli?

  4. indra said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    ya, ga bisa dipungkiri. Wong para petinggi2nya aja “lebih” bangga pake bahasa yang tidak semua orang paham. Biar keliatan pinter.

  5. Winarto said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    Lha kalau car free day diganti apa kalau dalam bahasa Bali? 😀

    • Agus Lenyot said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

      kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia kan udah ada: hari bebas kendaraan. kalau dalam bahasa bali, hari sing dadi negak montor (halah!)..

      atau kalau mau simple dan sesuai tujuan: minggu bersepeda…

  6. Agus Lenyot said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    heheh, pejabat dan termasuk kita mungkin, kan lebih senang begini: biar kelihatan ginilah, biar kelihatan gitulah. padahal biarkan orang lain yang melihat..

    *tadi ditambahin ma temenku, metrotipi paling sering menggunakan istilah asing yang, mungkin, belum menemukan terjemahan yang pas. misalnya, headlinenews, topninenews (sembilan berita terpopuler), breakingnews (sekilas berita), topofthetop (top markotop), toppicture , dan economiccalenge..
    Telkom juga nggak kalah genitnya, Telkom: The World in Your Hand.

    sekali lagi saya bukan anti bahasa inggris (term berikutnya saya berniat melanjutkan kursus bahasa inggris di lembaga Indonesia Australia). Namun, selama bisa diindonesiakan dan untuk kebaikan kita, kenapa nggak diindonesiakan..

  7. Agung Pushandaka said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    I couldn’t agree more. Maaf, saya jadi ikutan ganjen. 😛

  8. inten said, on Agustus 31, 2010 at 4:27

    Ada satu hal yang saya salut di Bali adalah bahwa artis bali selalu menyapa penontonnya dengan bahasa Bali, tidak peduli dia itu widi widiana ataupun [XXX]. tidak peduli aliran musiknya apa yang penting liriknya bahasa Bali. tidak peduli penggemarnya adalah anak-anak muda, bahasa Bali tetep di junjung tinggi. jadi siapa bilang anak muda tidak bangga berbahasa daerah. saya pun kalau ketemu sesama orang jawa sebisa mungkin berbahasa Jawa. Selain karena kangen dengan kampung halaman juga biar lebih akrab. Tidak ada alasan untuk bahasa daerah itu punah. Tinggal dari sudut pandang mana kita melihatnya.

    Tentang mengindonesiakan istilah yang masih bahasa asing, aku rasa sangat memaksakan diri. selain muncul istilah yang aneh-aneh terkadang tidak semua istilah asing bisa terwakili jika diindonesiakan. Yang ada malah jadi lebih bingung. Sampai sekarang pun penggunaan setting bhs indonesia di peralatan elektronik hp/komputer justru sangat membingungkan bagi saya. Menggunakan istilah asing bukanlah penunjuk bahwa kita tidak menghargai bahasa indoensia. Tergantung alasan pemakaiannya. Kadang istilah asing perllu untuk digunakan untuk menarik minat, lebih memiliki nilai jual, atau karena memang tidak ada istilah indonesia yang cocok mewakilinya. Asal jangan sampai salah tempat bahkan salah istilah saja.

    Tentang putri Indonesia ??? saya gak nonton sih jadi gak tahu. Tapi kayaknya menggunakan bahasa inggris lebih disarankan untuk menghindari kesalahan penterjemah dalam menterjemalkan jawaban kontestan. Jadi kasus Qori bukan bahasa inggrisnya yang salah tapi coba dia lebih giat lagi berlatih bahas inggris sebelum maju ke miss universe. ** nulis sambil garuk2 kepala karena berani-beraninya ngece putri indonesia

    • Agus Lenyot said, on Agustus 31, 2010 at 4:27

      menurut saya sih bukan memaksakan, tapi membuat jadi terbiasa. banyak contohnya, di iptek seperti unggah atau unduh atau jender untuk gender. persoalannya kita tidak terbiasa menggunakan istilah itu, makanya ketika ada seseorang yang menggunakannya, akan terlihat aneh karena kita dibiasakan dengan istilah asing.
      bahasa asing, terutama english, memerluka waktu bertahun-tahun untuk bisa eksis, dan itu karena bahasa diperkenalkan oleh sang empu. nah, dalam benak saya, jika bahasa indonesia ingin dikenal dan diakui, mau tidak mau empunya bahasa juga harus siap memperkenalkan bahasa itu..

  9. beni said, on September 19, 2010 at 4:27

    harusnya download jd ‘turun menampilkan’ ya,
    trs email jd e-surat 🙂

    • Agus Lenyot said, on September 21, 2010 at 4:27

      email kayaknya sudah diterjemahkan dah.. jadinya surat elektronik biasanya disingkat surel :))

  10. Apollo Lase said, on September 27, 2010 at 4:27

    Selamat pagi. Izin mampir bro. Saya menikmati artikel-artikel yang bermutu di sini. Salam kenal.

  11. domba garut! said, on September 30, 2010 at 4:27

    Think Globally Act Locally… secara konsisten – nampaknya itu yang memang harus dimiliki kuat dalam pemikiran intelektual muda /kalangan akademisi kita.. semua mesti mulai dari diri sendiri.. dan terus digelontorkan keluar pada banyak forum.

    Semoga akan lebih banyak pribadi yang bisa sadar bahwa bahasa dan kefasihan berbahasa serta kebanggaan bahasa adalah identitas bangsa, dalam cakupan nasionalisme ini penting yang diimplementasikan pada acara/program yang tepat. Sudah selayaknya kita semua lebih banyak mempergunakan bahasa kita sendiri.. memahami bahasa adalah memahami budaya, perilaku masyrakatnya.. sampai-sampai bagi kalangan militer Australia (yang notabene memandang strategis kekuatan dan ancaman militer Indonesia) memasukkan bahasa Indonesia sebagai bahan kajian strategis dan kuliah dasar bagi banyak perwiranya.

    Saat kita ditanah air, berbicara/berkomunikasilah dengan bahasa nasional kita, dalam forum internasional barulah kita bisa menggunakan bahasa Inggris/asing lainnya seperlunya. INtelektualitas bukanlah dilihat dari cas-cis-cus atau lebih sering menggunakan jargon/berbahasa asing – lebih kepada aksi nyata sebenarnya..

    Nah kita? – ayolah! – Yang ada ‘mbule’ itu lebih fasih berbahasa Indonesia atau bahasa Bali sekalian ketimbang kita semua. (Malu dong!).

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Kuwait.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: