Agus Lenyot

Sebab, Kampuslah yang Mengajari Materialistis

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 29, 2010

Kesimpulan ini bisa jadi terlalu prematur. Tapi saya yakin banyak benarnya. Cerita tentang komersialisasi mungkin terlalu sering dibahas di lembaga pendidikan. Kata-kata ini juga menjadi jargon wajib bagi mahasiswa. UU BHP bisa jadi pemantiknya. Namun, saya juga yalin nggak banyak orang yang paham substansi aturan ini. Jangankan paham, tahu saja belum tentu.

Komersialisasi pendidikan mungkin istilah yang terlalu mengawang-awang. Bahasanya terlalu elitis dan bisa jadi hanya digemari oleh aktivis mahasiswa. Dia berada pada dimensi lain yang belum diakrabi oleh semua orang. Baik, mari kita bumikan diksi itu dalam kehidupan kampus. Sekadar membuktikan praktek itu memang benar ada.

Kita mulai dari mana? Oke, kita sederhanakan saja arti komersialisasi pendidikan. Di pikiran saya terlintas: entitas apapun dalam lembaga pendidikan yang bisa dikonversi menjadi uang tunai. Sepakat? Di kampus saya, Udayana, segala cara dilakukan untuk menguangkan aset-aset yang dimiliki. Tanah disewakan. Bikin SPBU. Bikin pusat perbelanjaan. Tak peduli itu legal atau tidak. Akibatnya, ketika diperiksa BPK, barulah pengelola kampus kalang kabut. Apalagi ketika dinyatakan, pengelolaan aset itu dinyatakan melanggar prosedur.

Contoh lain. Fakultas saya mewajibkan langganan majalah yang belum tentu saya baca. Harganya tidak murah, menurut saya yang anak petani ini. Dulu, masih Rp 30.000 dan dapat dua majalah Kertha Aksara dan Kerta Patrika. Tapi, sejak beberapa waktu terakhir, Kertha Aksara kolaps dan mati. Tersisa satu majalah.

Buat saya ini kejam. Padahal, majalah itu belum tentu saya baca. Saya, bersama beberapa kawan, Ruben dan Dedy, pernah menanyakan ini kepada Pak Dekan, namun tidak mendapat jawaban memuaskan. “Nanti kita diskusikan, sekarang, janganlah terlalu idealis,” kata Pak Dekan.

Bisa jadi permasalahan sepele. Namun, jika bentuk-bentuk pemaksaan seperti ini tidak kita tentang sekarang, siapa yang menjamin bentuk pemaksaan yang lain tidak akan diterapkan. Bukankah ini namanya praktek komersialisasi paling nyata? Lembaga kampus saya, nyaris tidak pernah terdengar memperjuangkan ini.

Di fakultas lain, ada dosen menjual diktat. Di kampus saya, ada juga sih. Tapi, dosen kawan saya itu, sangat lucu. Mereka yang membeli diktat, dicatat oleh mahasiswa. Yang tidak beli dicatat oleh dosen yang lucu

itu. Ini bentuk praktek komersialisasi secara halus. Gimana, sudah sangat nyata kan praktek komersialisasi itu? Di fakultas kedokteran bisa jadi lebih parah lagi. Mahasiswa, terutama yang masih segar, diwajibkan membayar sejumlah uang. Nominalnya tidak sedikit. Jutaaan hingga ratusan juta. Jadi, jangan heran lulusan
perguruan tinggi kita menjadi sangat komersil. Praktek dokter nggak ada yang murah. Pengacara bayarannya selangit. Dan orientasi sarjana kita adalah materi. Tidak semua memang. Tapi nyaris mayoritas seperti itu.

Pendidikan, seperti kata Ndoro Freire, tidak lagi menjadi sarana memanusiakan manusia. Mengaktualisasikan nilai-nilai sosial ke dalam teori-teori dalam diktat. Pendidikan hanya sarana untuk mencapai keuntungan materi. Kekayaan semata.

Sudah jelas, kenaikan SPP, bayar SKS mahal, menjual buku tanpa persetujuan kedua belah pihak, bayar ini-itu di kampus yang memberatkan orang tua adalah praktek komersialisasi. Hanya karena kita tidak punya pilihan lain terhadap institusi pendidikanlah kita tidak mampu menolak membayarnya. Mungkin, kita harus memikirkan bentuk pendidikan alternatif selain pendidikan formal dogmatis yang dikelola negara.

Apakah ini salah? Tentu saja, sebab tujuan pendidikan jauh lebih dari itu. Kapan-kapan kita boleh diskusi soal ini.

Iklan
Tagged with: , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. idhulaw said, on Agustus 29, 2010 at 4:27

    Kampus negeri saja seperti itu, apalagi kampus “luar negeri” (baca ; swasta)
    Praktek seperti itu sudah sangat biasa,,,
    dan parahnya lagi, belum ada yang mau dan mampu menguak semua itu kecuali beberapa teman di institut kesenian,.
    Kapan siapa dan dimana berikutnya???

  2. imadewira said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    mungkin benar kata orang, saat ini pendidikan masih mahal, butuh uang, padahal setelah berpendidikan belum tentu bisa menghasilkan uang.

  3. adin said, on Agustus 30, 2010 at 4:27

    dari lembaga pendidikannya udah dibentuk seperti itu, lulusannya juga bakal seperti itu, walaupun tidak semua, idealisme g ada lagi, yang penting materi dan balik modal judulnya…

  4. kakang web said, on September 30, 2010 at 4:27

    Menurut saya, judul diatas akan lebih tepat bila ditulis ” Sebab, Kampuslah yang Mengajarkan Materialisme”. Namun secara garis besarnya saya sependapat dengan ide yang tersirat dalam tulisan diatas. Membacanya mengingatkan saya pada buku karya Pak Darmaningtyas yang berjudul ” Pendidikan yang Memiskinkan”, memiskinkan bukannya hanya dalam ranah ekonomis, namun juga dalam ranah politis, sosiologis dan philosofis.

    Berkenaan dengan UU BHP, memang pemerintah terkesan kejar-kejaran dengan dunia pendidikana kita, berusaha menghindar dari constitutional obligation namun dengan terus menempel pada kata “menyejahterakan rakyat”. Sayangnya, hal ini bukannya diobati dengan mental para pencari intelektual kita yang bagus namun malah diperburuk. Maksud saya, realita dilapangan mengindikasikan adanya sebuah tendensi yang mengarah pada belum ditemukannya makna kata inteletualitas oleh kalangan mahasiswa itu sendiri, hal ini dibuktikan dengan masih maraknya aksi jiplak, copy-paste, dan aksi kontradiktif nan konyol lainnya yang dilakukan oleh masyarakat intelektual ini. Lalu apa sebenarnya yang bisa diandalkan negeri ini untuk memproyeksikan masa depannya?

  5. kampret nyasar said, on September 30, 2010 at 4:27

    Komersialisasi pendidikan – yang perlu disalahkan dan menanggung tanggungjawab terbesar adalah: regulator (Baca: Pemerintah). Pendidikan adalah masalah atau aspek strategis bangsa, dimana salah urus bisa berdampak pada generasi mendatang.

    Investasi bagi generus bangsa melalui pendidikan jauh lebih strategis dan menguntungkan ketimbang subsidi bagi bank-bank kolaps dari BLBI itu, dimana saat subsidi pendidikan itu tepat sasaran prinsip ‘carrots & sticks’ itu harus tetap berlaku.. yang pinter dapet subsidi yang kurang pinter ya berusaha agar bisa sama-sama atau mengejar agar pinter.

    Komersialisasi pendidikan itu berawal dari gaji guru/staff pengajar yang rendah, tidak heran semua dari segala lini berupaya mencari kesempatan memperbaiki mata pencaharian dengan jal diktat dan pungutan ngaco itu.. saat semua dibabat habis dnegan gantinya subsidi pendidikan – niscaya ini semau bisa dipangkas.

    Terlepas dari itu semua, pendidikan adalah tanggungjawab masing-masing individu.. jadi berupayalah menjadi invidu yang terdidik baik dan bagus akhlaknya. Salam hangat dari kita-kita yang bertugas pada misi PBB…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: