Agus Lenyot

Bijak Berjejaring Sosial

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Oktober 8, 2010

Tulisan ini pendek saja. Bukan untuk sok-sokan jadi polisi moral di jejaring sosial. Awal ihwalnya begini, beberapa waktu lalu, saya diancam oleh kawan saya ditwiiter untuk diunfollow. Alasannya: kicauan saya memenuhi halaman timelinenya gara-gara saya membalas tweet dengan menggunakan ReTweet bukan dengan reply.

Saya kaget sekaligus malu. Kaget karena belum pernah dikritik dengan terbuka soal pemakaian jejaring sosial. Malu karena mungkin saya tidak paham dengan etika berjejaring sosial. Tapi tak apalah. Saya mendapatkan banyak pelajaran dari kasus ini.

Iseng-iseng pun saya bertanya pada mbah Google: fungsi RT di Twiiter. Ternyata fungsi RT untuk membalas kicauan ini masih menjadi perdebatan. Ada yang pro dan kontra. Yang pro menganggap bahwa, kebebasan seseorang untuk berekspresi tidak bisa dibatasi dengan penggunaan ReTweet ini. Jika tidak suka, tinggal klik unfollow, beres.

Yang kontra menganggap, penggunaan Retweet ini hanya untuk kicauan yang bermutu dan dianggap penting. Jika mau berbalas kicauan, silakan gunakan fungsi reply. Bagi yang kontra ini, penggunaan Retweet ini membuat halaman follower kita penuh dengan obrolan nggak penting yang harus kita ketahui. Beberapa kawan bahkan mengeluh jika halaman timelinenya dipenuhi oleh salah satu follower karena keaktifannya berbalas kicau dengan Retweet ini.

Saya harus jujur mengakui, bukan pakar etika telematika. Saya adalah pengguna aktif. Saya memiliki beberapa akun jejaring sosial seperti facebook, foursquare, temansekolah, koprol hingga twitter. Tapi, diantara jejaring sosial itu, hanya facebook dan twitterlah yang benar-benar aktif. Saya harus jujur mengakui pula jika belum paham sepenuhnya dengan etika dunia maya sehingga harus banyak belajar.

Kembali lagi pada soal Retweet ini. Saya pun mengira, fungsi ReTweet adalah untuk membalas kicau. Saya pun awalnya menggunakan ini untuk berbalas kicau. Tapi ternyata tidak. Saya juga tidak tahu jika penggunaan ReTweet ini akan memenuhi halaman follower kita. Beberapa kawan, yang agak saklek, berbalas kicau tentang sesuatu yang nggak penting, malah disebut nyampah. Saya belum sampai pada penggunaan kosakata itu. Saya hanya menganggap, kita terlalu girang menggunakan teknologi.

Untuk persoalan penggunaan ReTweet ini, kita kembalikan kepada pemilik akun masing-masing. Tapi, bagi saya belakang ini, akun twitter saya gunakan untuk berbagi informasi yang penting, termasuk berdiskusi meskipun sesekali juga saya pakai untuk informasi yang tidak penting.

Konklusinya: saya juga kadang-kadang muak dengan status facebook yang isinya makian, keluhan dan sumpah serapah. Terus terang, saya pernah melakukan itu. Tapi tidak sering. Dari peringatan kawan saya itu, saya akhirnya diajak berpikir bijak untuk menggunakan jejaring sosial.

Setiap orang rasanya tidak ingin rumahnya dipenuhi sampah yang dihasilkan oleh orang lain.

Iklan
Tagged with:

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. luhde said, on Oktober 8, 2010 at 4:27

    tenang, om. aku aja baru tau fungsi RT. soale ak ga pernah trganggu RT2 orang krn pake tweetdeck. untungnya ada temen yg mo ngasi tau baik2. ada juga yg ngancam aja tanpa ngasi tau. yap, begitulah socialmedia. ada sente ada plendo, ada kene ada keto. yg penting bermanfaat dan kita memanfaatkan.

    • Agus Lenyot said, on Oktober 11, 2010 at 4:27

      hahaha, aku tahunya setelah googling kesana kemari mbok. aku sih juga ndak terganggu, biasa saja, dan itu hak mereka. tapi menjadi terganggu kalau isinya udah pake tanda seru banyak, makian atau sumpah serapah. kalau obrolan biasa sih, itu hak dia. selama nggak bikin timeline macet. hehehe.

  2. ia Wibawa said, on Oktober 8, 2010 at 4:27

    “Setiap orang rasanya tidak ingin rumahnya dipenuhi sampah yang dihasilkan oleh orang lain.”

    setuju!!

    masih sering terheran-heran dengan halaman jejaring yang isinya melulu keluhan, sumpah serapah dan…
    Doa.
    Helloow.. bukannya doa itu urusanmu dgn Tuhan. Sepertinya ndak perlu digembar gemborkan ke org lain dweh. Meski bahasanya indah, kayaknya ndak perlulah dipamerin..

    • Agus Lenyot said, on Oktober 11, 2010 at 4:27

      sekarang tergantung pemilik rumah, membiarkan rumahnya disinggahi orang atau beriklhas halaman rumahnya menjadi arena segala macam kata. 🙂

  3. imadewira said, on Oktober 11, 2010 at 4:27

    saya juga baru tahu beberapa waktu lalu, tapi entah kenapa masih agak males Twitteran

  4. Andy Putera said, on Oktober 11, 2010 at 4:27

    hahahhaha…kalo gag pengen rumahnya disampahi tinggal di unfollow aja (taktik setan), tapi emang gitu rule nya kalo emang udah enek sama RT -annya yowes di unfollow aja orgnya….

    kenapa org addict bgt pake RT???? kayaknya sih karena biar yg bersangkutan tau topik apa yg direply kan untuknya, jadi untuk menghnidari make RT jangan lupa pas menggunakan reply di akhir pesan kasik (RE: topik yg direply kan )…bgitu setahu saya..kalo salah ya tinggal diunfollow saja sy hehhehehehhehehe

  5. Putu Adi Susanta said, on Oktober 15, 2010 at 4:27

    “Tulisan ini pendek saja. ”

    Tulisan ini tergolong panjang menurut saya bung. Tapi tak masalah saya suka membacanya 🙂

    Saya juga tahu etika RT dkk belum lama ini, sejak dokter @deddyandaka kampanye RTabuse. Dari sana saya jadi tahu bahwa kalo mau balas twit pake “reply” dan kalo mau mengkutip pake” RT”. Digunakan karena tidak semua orang suka dan perlu dengan percakapan kita.

    Saya sampai meng-unfollow @wimar Witoelar karena katos masalah ini. Saya katakan pada beliau anda golongan RTabuse, eh follower dia malah mencaci maki saya, hasilnya seminggu lebih perang twit dengan orang-orang itu #curhat. Eka @sigilahoror tau kisahnya :D. Jangan ditiru!

    Happy twitteran!
    mampir di @blijunk ya *eh* #spam

    • Agus Lenyot said, on Oktober 15, 2010 at 4:27

      sudah bli, saya juga baru paham sih. hehe. maklum, selama ini hanya jadi penikmat jejaring sosial tanpa tahu bagaimana memanfaatkan.

      wah, hebat dong sampai berani kayak gitu. beberapa orang yang saya ikuti juga RTabuse, tapi masih toleransi, soalnya beberapa RT mereka juga kadang bermanfaat..

  6. kadekdoi said, on Oktober 26, 2010 at 4:27

    kalau unfolow yang doyan ng-rT dosa ga ya? kadang gerah juga…tapi saya jg masih suk nge-rT kadang2..hehehe…
    yuph,,masih dalam proses sbg penikmat jarsos yg bijak,,,sebelumnya bajak sana bajak sini dulu….
    hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: