Agus Lenyot

Ini Soal Empati, Bukan Rating dan Pencitraan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Oktober 27, 2010

Foto Gunung Merapi sebelum meletus. Foto diambil dari http://www.pbase.com

Ini tentang ketidakadilan tempat saya mencari rupiah. Tentang porsi dan bagaimana media mengabarkan suatu bencana. Oke, saya ganti: bukan mengabarkan, tapi menyiarkan kepada publik (takut dibilang tendensi terhadap salah satu tipi swasta berwarna berani).

Saya sering miris, betapa terhadap bencana pun kadang kita sering berlaku tidak adil. Pemerintah kadang harus ditegur dulu untuk menyelesaikan masalah. Kalau bahasa yang lebih halus: hati-hati. Tapi di tengah segala tindakan membutuhkan reaksi cepat, tindakan hati-hati berarti tidak tanggap, cepat dan responsif. Sederhananya: lamban!

Ketika bencana banjir bandang melanda Wasior beberapa waktu lalu, Presiden membutuhkan waktu beberapa hari sebelum memutuskan berangkat langsung ke sana. Banyak yang berkata sinis, Presiden mencari tanggal cantik 10-10-2010 untuk berangkat ke sana. Kunjungan itu pun tidak berlangsung lama. Padahal saya yakin, mereka yang terkena bencana, pasti sangat berharap dikunjungi oleh pemimpinnya dan ditemani. Tapi kunjungan presiden dilakukan dengan serba terburu-buru.

Hari ini, kita dihebohkan dengan adanya dua bencana alam yang datang bersamaan. Tsunami di Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi. Kedua bencana itu sama-sama memakan korban jiwa. Hanya kuantitasnya dan lokasinya berbeda. Yang satu berada di pulau sentra sekaligus jantung republik ini. Dekat dengan pusat kekuasaan dan padat dengan penduduk.

Sementara yang satu berada di kepulauan yang saya yakin tidak semua penduduk negeri ini pernah mendengarnya. Kepulauan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Saya tidak yakin, jika tidak terjadi bencana apakah pejabat pusat republik ini akan bersedia singgah di sana.

Saya hanya bisa mengutuk. Sekali lagi, hanya bisa mengutuk. Mungkin dengan sedikit doa agar saudara-saudara saya diberi ketabahan. Sekaligus berharap semua akan pulih seperti sedia kala.

Namun yang penyesalan saya, media massa kita justru tidak ada yang terbang atau datang ke sana dengan segera. Justru media asing justru jauh lebih tanggap membaca bencana ini. Sementara beberapa media malah asyik malah mengulik Mbah Maridjan hingga ke mayat-mayatnya. Sementara, derita saudara kita di Mentawai nyaris tidak tersentuh sama sekali. Saya berharap media massa berperan banyak bagaimana mempengaruhi penonton atau pembaca untuk bersimpati terhadap bencana ini.

Di satu sisi, saya kagum dengan Mbah Maridjan yang tetap setia dengan tugasnya hingga ajal menjelang. Namun disisi lain, saya juga menyesalkan sikapnya itu. Sebagai tokoh panutan, seharusnya Mbah Maridjan bisa mengajak masyarakat setempat untuk segera mengungsi. Seandainya dia mampu mengajak masyarakt mengungsi, mungkin korban tewas bisa diminimalisir. Meskipun begitu, saya akan tetap mengenang Mbah Maridjan sebagai tokoh berdedikasi dan loyalitas yang patut ditiru.

Saya berharap, media bisa segera mencapai Mentawai. Toh, media kita juga tidak miskin-miskin banget. Jangan sampai pemberitaan terhadap bencana di negeri ini justru menjadi tontonan di negara lain. Apalagi kalau dalam tayangan itu, tidak memperlihatkan keseriusan pemerintah untuk membantu korban bencana.

Saya berharap, pemerintah atau media tidak hanya mengejar rating, iklan dan popularitas atau pencitraan. Segeralah pulang, Pak Beye!

Iklan
Tagged with: , ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Oktober 28, 2010 at 4:27

    pantesan berita tsunami itu agak jarang terdengar..

    memang opini masyarakat kita (mungkin termasuk saya) sangat terpengaruh oleh berita di media massa.

  2. sayaregina said, on Oktober 30, 2010 at 4:27

    aku salah satu orang yang mengutuk tindakan maridjan..dia cuma orang bodoh yang hanya kegeeran kalo dia temenan ama Tuhan, lebih bodoh lagi ketika dia membiarkan orang mengikutinya melakukan tindakan bodoh..baguslah dia mati, biar pengganti selanjutnya bisa belajr, orang2 sana juga bisa belajr tentang kehendak tuhan dan apa artinya ketika gunung itu sudah status awas..biar mereka bisa belajar kalo juru kunci cuma manusia..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: