Agus Lenyot

Dialog Kehidupan Dialog Dini Hari

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Oktober 31, 2010

salah satu cover album Dialog Dini Hari. Foto diambil dari halaman Facebook Dialog Dini Hari

Biarkan penikmat yang memberi nama. Itu yang ingin dilakukan Dialog Dini Hari dengan album kedua mereka, sebuah album tanpa nama.

Album ini berisi enam lagu, lima lagu baru yakni Aku Dimana, Nyanyian Langit, Menutup Tirai, Lirih Penyair Murung dan Manuskrip Telaga. Sementara satu single, Aku Adalah Kamu, sudah sempat dirilis sebelumnya.

Album ini, seperti diakui oleh Dadang SH Pranoto (biduan dan gitaris), Brozio Orah (bassis) dan Denny Surya (drummer) adalah pergulatan intelektual dalam bermusik, realita kehidupan dan spiritual. Berbeda dengan album pertama mereka, Beranda Taman Hati yang bahasanya meskipun puitis tetapi gampang dicerna, album ini memerlukan interpretasi dan renungan agak mendalam jika ingin memaknainya. Namun, tema yang diangkat masih tetap sama: kehidupan. Hanya saja, album ini memiliki perspektif yang lebih luas.

Dialog seolah ingin mengajak kita memasuki realita kehidupan dalam imajinasi liar mereka. Namun mereka tetap menyajikan musik dengan genre grassy-folk-blues. Suara Dadang yang agak sengau dan berat, kadang mengingatkan band ini dengan Iwan Fals. Namun, DDH banyak memakai bahasa metaforis untuk menyampaikan pesan mereka.

Tapi tak apalah, justru itulah kelebihan mereka. Selain menawarkan alternatif bermusik, mereka juga menyediakan teks yang indah. Apa yang tersaji dalam album ini jika didengarkan sepintas, mirip dengan musikalisasi puisi. Tapi ketika kita dengarkan bait per bait, nada per nada maka kita akan menemukan eksplorasi kekayaan bermusik yang lebih luas dari sekadar musikalisasi puisi. Ada gesekan biola, perkusi, akordion, tabla dan sarod.

Album ini sejatinya bukan kumpulan lagu yang mudah diterima pasar. Bahasa yang penuh kiasan, musik yang tidak mendayu-dayu apalagi sendu membuat lagu-lagu DDH menjadi tidak biasa di kuping. Apalagi yang selera musiknya dipengaruhi acara beberapa televisi swasta setiap pagi. Jauh berbeda dengan ragam musik Indonesia hari ini. Akibatnya, ketika gagal memaknai tiap nada dan makna setiap lagu, kita akan merasakan DDH seolah mengambil jarak dengan pendengar.

Simak saja lagu Menutup Tirai. Pendengar mungkin saja menafsirkan lagu ini sebagai saat menjelang kematian. Namun ketika cakrawala berpikir diperluas, kita akan sadar, lagu ini bercerita tentang sebuah akhir dunia. DDH memberikan kebebasan berpikir untuk meresapi setiap kata dan menafsirkan teks yang mereka sajikan. Lagu ini sepintas mirip lantunan doa yang menenangkan tanpa bertendesi pada sebuah agama.

Renungan yang lebih spiritualis DDH hadirkan dalam lagu Lirih Penyair Murung. Lagu ini bercerita tentang keterasingan, kesepian yang berujung dengan kerinduan pada Tuhan. Namun kerinduan ini dihadirkan dengan lirik menyentuh berisi pujian kepada Tuhan. Sisi spiritual ini dihadirkan tanpa ada kesan menggurui kepada pendengarnya. Renungan spiritual ini juga dihadirkan dalam lagu Nyanyian Langit. Bahwa Tuhan dan manusia adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Keduanya dipererat dengan doa dan kenyataan.

Pada lagu Aku Dimana, kita diajak untuk merenungi keterasingan. Dalam lagu ini, keterasingan justru lahir dari sebuah persamaan. Keterasingan dalam persamaan ini membuat mereka memahami arti perbedaan. DDH mengajak kita menjadi bijak bagaimana kita melihat perbedaan. Dengan tempo yang lambat, lagu ini membiarkan kita untuk berpikir secara merdeka tentang siapa kita sebenarnya.

Lagu yang benar-benar mewakili roh album ini justru ada di lagu Manuskrip Telaga. Jika album ini ingin menghadirkan misteri dan teka-teki, dengan membiarkan pendengar memberikan tafsir atas mereka, lagu inilah yang mewakili ambisi mereka. Mereka ingin membuat kita merasa seperti telaga yang mampu menampung apa saja dalam kehidupan. Itu sebabnya, yang menghadiri launching album ini Jumat (29/10) lalu di Antida Cafe, Denpasar, beragam rupa manusia yang hadir. Aktivis mahasiswa, aktivis lembaga swadaya masyarakat, seniman, tukang tatto, hingga abgege labil semuanya berdendang menjadi satu.

Itulah keberagaman dan dunia Dialog Dini Hari. Tiap kata memperlihatkan kematangan mereka dalam berkarya. Kehidupan bagi mereka tidak hitam putih, tapi berada pada wilayan abu-abu yang bisa kita tafsirkan sendiri. Lagu Aku Adalah Kamu menunjukkan bagaimana sikap mereka terhadap pluralisme. ”kendati doa terucap beda, anugerah yang sama kita terima, aku adalah kamu.” Kesempurnaan lirik ini makin dipercantik dengan kolaborasi dengan Kikan dan Robi Navicula. DDH merupakan side project Dadang. Dadang sendiri merupakan gitaris Band Navicula.

Album ini menegaskan bagaimana band ini menafsirkan cinta, realita dan Tuhan dalam bentuk sederhana. Ruang makna yang sangat luas mampu mereka manfaatkan untuk merangkai kata-kata yang tidak cengeng, dogmatis apalagi tendensius. Semuanya mengalir begitu saja.

Iklan
Tagged with:

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. gustulank said, on Oktober 31, 2010 at 4:27

    meh ulasan yang sangat panjang dan indah nyot… 🙂

  2. wendra wijaya said, on Oktober 31, 2010 at 4:27

    Wah, ulasan yang menarik..
    Mantap..!!

  3. suara udayana fm said, on November 1, 2010 at 4:27

    sepertinya bisa menjadi referensi kami untuk lagu-lagu indie…
    terimakasih informasinya…

  4. Engga Candra said, on November 4, 2010 at 4:27

    Sebuah ulasan yang menarik dan berbobot 🙂

  5. lifeplaya said, on November 4, 2010 at 4:27

    they’re STUNNY !

  6. indra parusha said, on November 5, 2010 at 4:27

    pegel mata bacanya.. tapi setelah di paksa untuk baca, artikel ini menarik… @gustulank: slamat siang.

  7. kadek doi said, on November 5, 2010 at 4:27

    dan lagu2 tentang dialog kehidupan inilah yg memberikan saya semangat ketika bersahabat dg selang infus…^_^…

    Hati-hati di jalan liat kiri dan kanan lalu lalang kendaraan….salam beribu cintaaa,,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: