Agus Lenyot

Terima Kasih, Gayus…

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 19, 2010

Telanjang itu cuma soal kebiasaan. Bisa jadi ini hikmah atas plesiran Gayus ke Bali. Kita malu, kebobrokan mentalitas kita dipertontonkan dengan telanjang. Yang saya herankan, kenapa semua orang mengutuk Gayus?
Saya belum pernah menyuap. Menyuap dalam artian undang-undang pemberantasan korupsi tentu saja. Kalau menyuap teman atau saudara, itu sering saya lakukan. Alasan saya kenapa tidak mau menyuap adalah: saya tidak ingin itu jadi kebiasaan. Saya tidak rela member gratis kepada orang lain. Ketiga, saya pasti tidak punya uang lebih untuk diberikan kepada orang lain.

Saya pernah diperas. Oleh polisi tentu saja. Ruang hidup saya yang tidak begitu lebar hanya memungkinkan aparat inilah yang memeras saya. Kejadiannya sekira dua bulan lalu. Waktu itu saya baru selesai bertanding game dengan seorang kawan. Dekat tempat main, saya melihat ada razia polisi. Saya berhenti. Saat itulah saya sadar, saya lupa bawa dompet.

Saya katakan terus terang kepada polisi jika saya tidak membawa dompet. Otomatis saya juga tidak membawa STNK dan SIM. Kunci sepeda motor saya diambil oleh polisi (yang sialnya, saya tidak mencatat namanya). Dia berlalu memeriksa sepeda motor lain. Kebetulan, pacar saya nelepon. Ternyata STNK dan SIM dia yang bawa.

Saya katakana kepada polisi tadi.

“Sampai berapa lama razia ini, Pak?”

Polisi itu menjawab.

“Kira-kira setengah jam selesai.”

Saya berpikir, setengah jam tidak akan cukup untuk mengambil kelengkapan surat-surat. Saya termenung. Tiba-tiba polisi itu mendekat dan membisikkan.

“Sudah, sini bayar 50 ribu. Kamu bisa pulang.”

Mendengar ucapan itu, sontak saya marah. Buat saya ini pelecehan. Pelecehan terhadap harga seragam polisi sekaligus pelecehan terhadap jurusan yang saya ambil. Saya mengambil posisi idealis pada titik ini.

“Rugi Bapak pakai seragam kalau bisanya Cuma memeras.”

Setelah berkata demikian, saya pergi bersama kawan saya dan meninggalkan motor saya. Itu kesalahan saya. Saya tidak meminta surat tilang. Keesokan harinya kepala polisi itu meminta maaf kepada saya dan berjanji akan menasehati anak buahnya.

Buat saya, Gayus hanya melakukan pola umum yang sudah sering dilakukan oleh kita. Barangkali karena dia bosan di penjara di menyogok aparat. Atau justru sebaliknya, polisi yang menawarkan sesuatu kepada Gayus dengan imbalan tertentu. Kita tidak pernah tahu karena jarang saya melihat polisi jujur.

Kasus ini menjadi heboh karena kita malu mengakui sebenarnya, korupsi dan suap menjadi rutinitas. Malu mengakui hal yang sering dilakukan dan dipertontonkan dengan telanjang. Saya pikir, yang membuat kita gerah kepada Gayus adalah dia membuatnya menjadi telanjang. Korupsi dan suap menjadi nyata di penegak hukum. Jika semua dilakukan dengan telanjang, maka ketelanjangan itu bukan penyimpangan. Dia akan menjadi kebiasaan yang diterima dengan sadar.

Buat saya, kita seharusnya berterima kasih kepada Gayus. Menghujat boleh tapi juga jangan berlebihan. Yang harus kita hujat justru aparat penegak hukum. Serius atau tidak. Jangan membuat korupsi dan suap seolah-olah tidak ada.

Jika benar demikian, tidak heran negara kita menjadi negara seolah-olah. Negara teatrikal.

Iklan
Tagged with:

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadek doi said, on November 20, 2010 at 4:27

    buruk muka gayus di cerca,,,,
    Klo dipikir2 lagi kok kayaknya aparat malah berlindung di balik ketidak berdayaan sosok gayus,,,
    Lhaa mana org2 yg ngasi ijin gayus keluar rutan??kok ga pernah nongol di media,,tiap hari gayus doank yg dimunculkan,,,
    Ibaratnya gayuslah orang yang paling berdosa dlm hal ini…lha kalo dia mau nyogok pake duit, dan yg dsogok mau aja nrima suapan duit haram nie,,yaa jgn mojokin si gayus trusan donk,,si gayus juga malah ngenbantu kita ngungkapin gmn sesungguhnya muka bobrok hukum di indonesia… 😦 #efek air maata gayus di pengadilan,,

  2. imadewira said, on November 25, 2010 at 4:27

    Saya juga merasa bahwa KKN yang ada di negeri kita ini sudah sedemikian parahnya, hingga menjadi rahasia umum dan orang juga tidak heran melihatnya.

    Kita juga tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah, lihat dulu diri kita. Contoh kecil, kadang hanya untuk bisa diterima di SMP Negeri saja para orang tua rela menyuap. Apalagi nanti sudah kuliah dan mencari kerja sebagai PNS.

    Sejak kecil masyarakat sudah mendidik generasi mudanya untuk melakukan tindakan ilegal seperti itu. Lalu, siapa yang mesti disalahkan?

    Rasanya tidak elok kalau kita saling menyalahkan. Jauh lebih baik bila kita mulai dari hal-hal kecil seperti yang anda ceritakan diatas. Mulai dari diri sendiri, saya rasa ini jauh lebih efektif.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: