Agus Lenyot

Mengapa Keyakinan Mesti Dipaksakan?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Maret 22, 2011

Kita tidak perlu beragama untuk menjadi orang baik. Tidak hanya agama orang lain, tapi juga agama yang saya anut. Begitu pula sebaliknya, beragama tidak secara otomatis membuat manusia menjadi humanis.

Tuhan itu konsep imajiner. Saya percaya itu. Tidak terdefinisikan. Karena tidak terdefinisikan dan abstrak, Tuhan kemudian menjadi bagian imajinasi manusia? Karena sifatnya yang serba Maha itulah kemudian saya merasa heran, ada beberapa orang yang Tuhannya bisa terhina? Ini absurd bagi saya.

Jujur saya harus katakan, saya tidak memiliki dasar agama yang bagus. Itu yang membuat saya sering menanyakan konsep ketuhanan. Tentu saya tidak ingin berdebat. Ini keyakinan saya. Lagipula Tuhan bukan untuk diperdebatkan. Tuhan itu ada dalam pikiran. Pikiran itu kemudian mengendalikan laku kita. Laku itu pada akhirnya termanifes bagaimana kita menjalin relasi dengan manusia lain. Lalu apa artinya Tuhan itu tidak tunggal? Tentu saja. setiap manusia memiliki Tuhannya sendiri. Saya yakin itu.

Seperti yang saya saya katakan, keyakinan adalah soal rasa. Rasa setiap orang itu berbeda. Jangan diseragamkan apalagi disamaratakan. Percaya atau tidak itu urusannya vertikal bukan horizontal. Untuk itulah pikirannya letaknya di kepala, bagian tertinggi dalam kepala manusia. Tempat dimana Tuhan berada. Ya, kecuali mereka yang otaknya di dengkul, ceritanya mungkin akan berbeda.

Tuhan tidak pernah memaksa. Memaksa kita berdoa. Memaksa kita berbuat baik. Memaksa kita menolong. Atau memaksa beribadah dengan satu cara. Doa yang berbeda hanya alat. Tentu kita harus hargai ketika kita punya cara yang berbeda. Keyakinan adalah soal pilihan. Seperti itulah doa. Itu hanya kepercayaan.

Tentu saya heran dengan mereka yang begitu getol memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Memandang keyakinan seseorang tidak bisa kita lakukan secara hitam putih. Benar atau salah. Barangkali sebagian manusia memilih berbicara hitam putih. Tapi sebagian besar dari mereka justru memilih berada pada wilayah abu-abu. Ini kan yang disebut hipokrit?

Menghakimi keyakinan seseorang sesat itu adalah absurd juga. Siapa yang berwenang sesat atau tidak? Ulama, lembaga ulama atau kelompok polisi moral? Memaksa orang untuk sembahyang juga bukan pekerjaan bijak. Sembahyang hanya simbol. Banyak koruptor kok yang rajin beribadah. Beribadah di tengah dunia yang serba pencitraan ini hanya sebuah simbol religious. Bukankah mereka yang hanya percaya pada symbol yang sesat? Dan kita kadang memuja simbol-simbol itu secara berlebihan sehingga lupa dengan hal substansial: berbuat baik kepada sesama.

Jika ada yang mengatakan, tidak sembahyang akan menutup pintumu menuju surga, maka harus saya katakan, silakan ke surga sendiri-sendiri, biarlah nanti saya ke neraka sendirian. Nggak akan ngajak orang lain. Toh juga neraka saya belum tentu lebih buruk dari surganya polisi moral.

Lagipula berbuat baik bukan untuk berebut surga, menurut saya. Tapi kita berbuat baik agar mendapatkan kebaikan yang sama. Dimana kebaika itu kita terima? Apakah di surga? Tentu tidak.

Itulah, keyakinan memang bukan ruang untuk diperdebatkan. Kalau saya percaya diri saya ganteng, apakah saya membutuhkan orang lain untuk mengakui ini? Tidak. Toh, saya tidak akan berkoar-koar kepada banyak orang soal kegantengan saya misalnya. Dalam konteks ini, jika ada yang mengatakan saya jelek, bagi saya itu adalah fitnah dan sesat. Tidak perlu pula saya paksa mereka mengakui kegantengan saya. Sekian.

Iklan
Tagged with:

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mecicilan said, on Maret 22, 2011 at 4:27

    Mengapa Keyakinan Mesti Dipaksakan?

    Karena kalau gak dipaksa nanti gak yakin..jadi terpaksa deh 😀

  2. sukrasudiarsa said, on Maret 22, 2011 at 4:27

    Jangan2 kita telah sering memfitnah Tuhan selama ini dengan berbagai alasan ini dan itu. Peace.

  3. imadewira said, on Maret 23, 2011 at 4:27

    akhirnya ada lagi tulisan baru di blog ini 😀

    Saya setuju 100% dengan anda pak. Seringkali saya heran, saat agama yang seharusnya membawa kita ke arah kebaikan malah berubah arah.

  4. kadekdoi said, on Juli 5, 2011 at 4:27

    ya dan saya pikir kenyataan sekarang yang beragama pun malah menyakiti sesama dan mahluk lainnya. dan bukannya tidak mungkin jika org yang tak beragama pun akan menjadi orang baik dan mengasihi sesama. Toh itu semua kembali lagi ke individu dan bagaimana ia menghargai mahluk lainnya.
    agak miris mendengar, ketika agama dijadikan alasan untuk meyakinkan pembenaran (memaksakan benar) kepada orang lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: