Agus Lenyot

Wartawan Juga Perlu Peka Rasa

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Maret 23, 2011

Kenapa?

Bagi sebagian orang media massa selalu mengabarkan kebenaran. Mereka tidak peduli bagaimana politik media itu, siapa pemiliknya dan apa kepentingan bisnisnya. Bagi warga, media massa selalu benar. Di desa, wartawan itu keren.

Karena posisi penting itulah, media akan sangat gampang memainkan psikologis massa. Sebagai pekerja media kambuhan, saya kadang geregetan juga dengan cara penyajian berita di beberapa media, termasuk kadang-kadang media tempat saya bekerja.

Misalnya ketika media menyebarkan ketakutan dengan menayangkan detik-detik sebelum meledaknya bom buku di Utan Kayu. Masyarakat bisa melihat dengan detail seberapa besar ledakan itu. Saya sempat terguncang melihat tayangan itu. Tapi televisi menayangkannya berulang-ulang. Dalihnya: kepentingan publik. Saya menyebutnya berlebihan. Itu hanya demi kepentingan bisnis berupa rating.

Kali ini soal gaya penyajian berita tentang ‘teror bom’ di Bali. Soalnya mula-mula begini. Di Bali, bom itu isu yang sangat sensitif. Dua kali dihancurkan oleh bom di jantung pariwisata membuat kondisi ekonomi Bali hancur total. Bali limbung. Turis takut datang ke Bali karena sewaktu-waktu nyawa terancam ledakkan.
Bali, yang mengandalkan pariwisata, tentu membutuhkan jaminan rasa aman bagi mereka yang berkunjung. Saya, sekali lagi, sebagai pekerja media kambuhan, berusaha seminimal mungkin tidak menulis soal bom yang tidak terbukti kebenarannya.

Misalnya, ketika ada ransel di depan Lapas Kerobokan. Beberapa kawan media langsung menulis berita dengan mengatakan ‘ Ransel yang Diduga Bom’. Saya bertanya, dugaan siapa? Saya yakin Gegana tidak pernah menduga-duga. Mereka bekerja dengan kepastian dan alat yang canggih. Jadi siapa yang menduga? Masyarakat? Atau wartawan yang merekaya pikiran kita dengan menduga itu ransel yang berisi bom?

Selasa kemarin, saya mendengar ada berita bersliweran tentang adanya bom di Panjer dan Jalan Diponogoro. Saya cuek. Tidak percaya. Tapi saya memutuskan berangkat juga melihat apa yang terjadi. Takut juga melewatkan berita besar seandainya itu benar-benar bom. Sedikit pesimis tentu saja.

Waktu saya datang, Jalan Diponogoro sudah ditutup. Masyarakat sudah berkerumun ingin melihat apa yang terjadi. Garis polisi sudah dipasang melintang memotong jalan yang biasanya ramai. Tim Gegana sibuk memeriksa sana-sini. Ternyata setelah diperiksa, hanya ada sebuah mobil yang membawa peralatan listrik. Sementara bungkusan di Panjer setelah diledakkan oleh Gegana ternyata hanya berisi sampah.

Setelah pulang, saya menulis berita “Dua Paket Mencurigakan Diamankan Gegana Polda Bali” yang diubah judulnya oleh pak editor, “Gegana Amankan Dua Paket Mencurigakan di Bali”. Saya bilang, dua paket mencurigakan. Saya sama sekali tidak menyebut bom karena saya tahu psikologis masyarakat Bali yang traumatic terhadap bom.

Sayang, beberapa media justru menulis dengan sangat bombastis. Tidak perlulah saya sebutkan judul dan medianya. Keresahan lalu muncul di mana-mana. Nenek menelepon dari kampung. Jejaring sosial penuh dengan kutipan ketakutan. Padahal, isinya sama sekali jauh dari bom. Sangat jauh.

Begitulah. Ketakutan ternyata menular. Menyebar seperti radiasi dengan cepat. Penghantar yang paling manjur tentu saja media massa. Disokong dengan jejaring sosial macam twitter dan facebook, ketakutan bercampur penasaran tak pelak memenuhi ruang pikir kepala kita.

Oleh politik media, inilah yang disebut dengan pasar. Berita menarik. Momentum pas. Ketertarikan sekaligus ketakutan massa akan menjadi nilai jual. Segala sesuatu yang berkaitan dengan “seakan-akan bom” sangat layak dijual.

Barangkali, pada titik inilah media diajak bijaksana. Nggak hanya mengejar rating atau kuantitas berita. Tapi menyampaikan fakta yang menenangkan. Fakta yang jelas tanpa berusaha membumbui agar terlihat seolah-olah. Jangan sampai wartawan menjadi penghantar ketakutan. Media massa seharusnya memberikan rasa aman.

Yah, jurnalis juga harus peka rasa.

Iklan
Tagged with:

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Maret 25, 2011 at 4:27

    Pak, saya mau menambahkan, media BBM (Blackberry Messenger) juga ikut menjadi ajang penyebaran informasi yang seringkali menyesatkan. Apalagi pengguna sepertinya belum “dewasa”, seringkali informasi yang tidak jelas disebarkan begitu saja, mungkin karena mudahnya untuk melakukan “broadcast” (menyebarkan) pesan.

    Saya sering jengkel dengan mereka yang seenaknya menyebarnyakn informasi ndak jelas seperti itu. Jadi selain media, konsumen media dalam hal ini kita/masyarakat juga sebaiknya belajar untuk memilah dan memilih informasi.

    Maaf, ini cuma opini saya pribadi.

    • Agus Lenyot said, on Maret 26, 2011 at 4:27

      wah, sepakat bli. beberapa kawan memang mengeluh soal broadcast message yang tidak jelas di BBM. Untuk itulah, konsumen media harus jeli memilih dan memilih informasi yang didapat.
      Tapi beruntungnya kita hari ini, sumber informasi tidak lagi didominasi oleh media massa (IMHO) 🙂

  2. yodie said, on Juli 21, 2011 at 4:27

    Wah bagus nih, Nyot, tulisannya.

    • Agus Lenyot said, on Juli 21, 2011 at 4:27

      halo pak wartawan. apa kabar? si meqi lagi bikin proyek buku tuh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: