Agus Lenyot

Inspirasi Anak Negeri Menjelalah Pasifik

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on April 5, 2011

Bagi Rob Rambini alias Rama, laut adalah tempat untuk menemukan ketenangan. Sekaligus keberanian mewujudkan mimpi.

Rama, 52 tahun, menyatakan, teknik dan kemampuan berlayar tidak lagi penting untuk mengarungi Samudra Pasifik seorang diri. Dia memerlukan waktu hampir 5 tahun untuk mewujudkan niatnya. “Saya harus yakin mental saya cukup kuat,” kata dia di Sanur.

Niatnya sudah bulat. Sejak meninggalkan Indonesia pada 1983, dia tidak pernah kembali ke tanah leluhurnya. Kerinduan terhadap sang ibu, Kanjeng Ayu Tristutji Kamal, sudah tidak tertahankan. Rama sudah menjelajah tanah Eropa, seperti Jerman, Belanda dan Rusia. Dia pernah tinggal di Italia. Kini, sudah saatnya dia kembali ke Indonesia dan menemui bunda tercinta.

Selama setahun dia belajar kepada Richard Mars tentang ilmu-ilmu berlayar di California. Lelaki tua berusia 86 tahun mengajarinya bagaimana menghadapi kondisi darurat di air dan ilmu berlayar yang tidak ada dalam buku. “Dia sudah puluhan tahun berlayar keliling dunia,” kata putra almarhum Sardono Wondowisastro ini.

Meyakinkan niatnya serius, Rama membeli kapal type Jensen Marine Cal 30 dengan nama KONA, ukuran 30 feet atau 10 meter. Kapal ini dia beli dari seorang juragan kapal di California seharga Rp 100 juta. Dengan kapal keluaran tahun 1986 ini, setahun lebih dia mondar-mandir latihan di sekitar Laut California.

“Laut di sana susah ditebak. Anginnya nggak teratur dan arusnya kesana kemari.” Cuaca dan kondisi gelombang di sana mirip dengan lautan Indonesia.

Niatnya mengarungi samudra dipancangkan pada 2006. Sayang, mentalnya tidak cukup kuat. “Mau dipaksakan bagaimanapun juga, saya tetap tidak berani berangkat,” kata pria kelahiran Roma, Italia ini. Niatnya baru terealisasi empat tahun kemudian, 8 Mei 2010. Tekadnya bulat, Samudra Pasifik harus ditaklukkan. Berangkatlah ia seorang diri.

Lalu, apa reaksi keluarga Anda?

“Mereka bilang, kamu sudah gila. Tidak, saya katakan kepada mereka. Saya hanya setengah gila,” dia tergelak.

Di tengah jalan, dia bersua dengan dua kapal yang balapan menuju Hawai. Dia diledek habis-habisan oleh sang pemilik kapal. Kata mereka sambil tertawa terbahak, Rama mengutip, kapal macam begini mana bisa cepat. Mereka bisa sampai Hawaii dalam 10 hari. Bandingkan dengan Rama yang menempuh perjalanan 4000 mil ini selama hampir 2 bulan.

Perjalanan Rama tak mulus. Pelayaran tahap pertama harus berhadapan dengan ganasnya Lautan Pasifik. Perahunya dihantam ombak setinggi 12 meter dan angin berkecepatan 100 kilometer per jam. Dia hari berturut-turut dia mengalami kondisi buruk ini. Terombang ambing di lautan, dia bertahan sebisanya.

“Kita tidak mungkin melawan alam. Saya hanya berusaha agar tidak terlempar dari perahu.” Hanya itu cara satu-satunya bertahan hidup di lautan lepas. Syukur, dia bisa merapat di Hawaii dengan selamat.

Setelah membeli perbekalan di Honolulu, dia mengarahkan kemudinya ke selatan. Dia melalui rute Kepulauan Solomon, Vanuatu dan Laut Coral, dia akhirnya merapat di Port Moresby, Papua Nugini. Makanannya kebanyakan makanan kaleng, seperti mie instan dan pisang. Lebih praktis dan awet. Dia tidak makan nasi karena memasaknya lama. “Lagian cepat basi kalau tidak dimakan cepat.” Ikan juga menjadi hidangan sehari-hari. Dia menyesal tidak membawa kulkas di kapalnya untuk menyimpan ikan.

Dari California hingga tiba di negara ini, dia mengaku hanya menghabiskan 35 liter bahan bakar. Kebanyakan digunakan untuk mengisi batera ponsel dan komputer jinjing. Di negara tetangga sebelah timur Indonesia ini dia memperoleh pengalaman menarik, passpornya ditahan petugas imigrasi.

“Kata mereka bentuk passpornya lusuh. Hancur. Saya katakan pada mereka, ini passpor sudah berlayar berbulan-bulan jadi wajar saja bentuknya seperti itu.” Rama curiga, petugas imigrasi hanya ingin memerasnya. Tak ingin diperas di darat, dia melapor ke Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia Papua Nugini untuk menyelesaikan masalah yang membelitnya.

Setelah urusan passpor beres, dia meninggalkan Port Moresby pada 12 Nopember 2010. Dia masuk ke wilayah Indonesia melalui Pulau Tanimbar, Saumlaki. Rama mengaku, diantara semua laut yang dia lewati, laut Indonesialah yang paling susah ditaklukkan.

“Anginnya tidak teratur dan arusnya tidak bisa ditebak. Pernah, saya malah tidak mendapat angin sama sekali,” dia mengenang. Beberapa lama dia harus terapung di lautan tak tentu arah.

Tantangan lain, nelayan Indonesia masih tradisional. Kebanyakan pakai tradisi nenek moyang dengan mengandalkan rasi bintang sebagai penunjuk arah. Nelayan Indonesia, menurut Rama, masih banyak yang tidak memakai radio. “Saya masuk ke kapal mereka. Saya tidak menemukan peralatan komunikasi. Saya tanya, mana alat-alat kalian?” dia tertawa.

Tak ingin mengambil risiko agar tidak ditabrak kapal lain, dia hanya tidur 4 jam. Jam tidurnya mulai jam 8 malam hingga dini hari. “Saya melek saat jam nelayan Indonesia tidur,” kata dia.

Di lautan, dia melawan ketakutan lain; cerita seram tentang hantu laut. Suatu ketika, dia terbangun jam 3 pagi, matanya silau melihat ada cahaya terang. Dia mengira sumber cahaya terang itu adalah mercusuar. Tak ingin terkecoh, dia memeriksa global positioning system yang dia bawa. Ternyata tidak ada tanda-tanda terdapat menara penunjuk arah itu.

Mengobati rasa penasaran yang berbaur ketakutan, dia mendekati sumber cahaya. Semakin dekat, cahaya itu bentuknya semakin tidak jelas dan berpendar kuat. Begitu dia tiba di sumber cahaya, kilauan itu hilang seketika. Saat mendarat, dia tanya kepada nelayan lain. Itulah yang disebut hantu laut. Seketika bulu kuduknya merinding.

Pengalaman lain, saat tidur, dia merasa ada orang yang menungguinya. Toh, dia berusaha melawan ketakutan itu dengan meyakinkan bahwa apa yang dia rasakan adalah halusinasi.

“Saya suka dengar cerita. Tapi mereka tidak mengganggu,” kata pria berkepala plontos ini. Rama mengungkapkan, di laut dia bisa menemukan ketenangan. Selama hampir setahun, di kapal kecil itu dia menghabiskan waktu untuk membaca dan merenung.

“Generasi muda kita kurang suka bertualang,” dia bertutur. Dia tidak tahu penyebabnya. Puluhan tahun meninggalkan Indonesia membuat dia kurang paham situasi dalam negeri. Bandingkan, dia melanjutkan, dengan anak-anak dari negara lain yang pada usia belasan berani keliling dunia meninggalkan kampung halaman.

Tak heran, ketika merapat di Dermaga Malina, Pelabuhan Benoa, Bali awal April lalu, dia disambut bak pahlawan. Dia dianugerahi Museum Rekor Indonesia. Meski terlambat hampir 10 jam dari jadwal, dia tetap disambut meriah. Hentakan baleganjur dan jegog, keduanya musik tradisional Bali dengan tempo tinggi dan cepat mengiringi kedatangannya di pagi buta.

“Saya ingin menjadi inspirasi. Anak muda Indonesia harus memiliki keberanian,” dia menerawang. Di Bali dia berencana berbisnis pelayaran keliling nusantara terhadap turis asing. “Saya lihat, pantai Indonesia bagian timur indahnya bukan main.”

Saat ini sambil memulihkan diri, dia bercita-cita mengeliling dunia. Pada 2012 nanti, dia berencana berlayar melewati Samudra Hindia, Samudra Atlantik dan Amerika Latin.

“Saya akan berlayar sampai tubuh saya tak sanggup lagi,” dia berucap, mantap.

Iklan
Tagged with:

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. luhde said, on April 6, 2011 at 4:27

    ini perlu dan bisa ditampilken di balebengong ndak, om?

    • Agus Lenyot said, on April 6, 2011 at 4:27

      silaken mbok. maunya bikin versi lain apa daya nggak ada ide lagi 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: