Agus Lenyot

Mencari Polisi Tanpa Pungli

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on April 25, 2011

Hari Minggu lalu, saya dan pacar saya, Kadek Doi, mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan terkait dengan perilaku polisi. Ceritanya begini: Hari Saraswati lalu saya pulang kampung ke Negara lewat terminal Ubung. Seperti biasa, saya pulang dengan menggunakan angkutan umum.

Beberapa kali pulang ke Negara, saya selalu menaruh sepeda motor di depan pos polisi Terminal Ubung. Saya pikir, di sana banyak ada sepeda motor yang parkir jadi memang lokasi parkir sepeda motor. Lagian pasti aman karena sudah ada polisi. Berangkatlah saya ke Negara dengan tenang.

Keesokan harinya, Minggu, saya tiba kembali di Denpasar. Begitu melihat motor, saya kaget karena bannya kempes. Saya pikir, ini pasti ulah orang iseng. Saat memeriksa ban, seorang polisi dengan berkacak pinggang bertanya kepada saya, “Ini motormu?” Saya mengiyakan.

Saya lalu digiring ke pos polisi. Di sana, polisi tadi menjelaskan bahwa jika menaruh motor di depan pos harus bayar Rp 10ribu. Karena lahan depan pos milik publik saya balik bertanya, Bisa minta kuitansi? Tak saya sangka meledaklah amarah polisi tadi.

Dengan membentak-bentak saya, dia mengatakan memang sudah begitu aturannya. “Kamu tahu, semua yang naruh di depan pos polisi ini bayar!” katanya keras sambil menunjukkan buku besar lengkap dengan setoran setiap motor.

Saya tetap ngotot minta kuitansi. Polisi tadi terus marah-marah. Empat polisi mengerubuti saya. Sementara pacar saya, yang dalam kondisi sakit, harus ketakutan melihat saya dibentak-bentak oleh polisi. Mereka mengerubungi saya. Semua mengajari saya soal etika.

Salah seorang polisi meminta STNK motor saya. Saya lalu menyerahkan surat kendaraan yang sudah dua tahun tidak bayar pajak, karena lupa. Oleh mereka saya dikatai tidak tahu etika. Saya terdiam mendengar ocehan bodoh mereka tentang etika. Saya pikir, percuma meladeni makhluk barbar. Preman berseragam.

Saya mendengar ocehan mereka sambil tertawa dalam hati. Keempat polisi gagah-gagahan mengajari soal etika. Saya tanya kepada mereka apa dasar hukum adanya pungutan ini. Mereka makin marah-marah. Karena saya dikejar waktu untuk rapat, saya akhirnya bilang, ya udah kalau salah, saya minta maaf.

Polisi tadi akhirnya menyuruh saya pergi. Tanpa membayar. Tanpa melihat dan menilang motor saya. Saya tahu mereka berempat polisi tanpa integritas. Mereka tak ubahnya seperti preman yang kebetulan memakai seragam.

Padahal slogan korps ini adalah pelindung dan pengayom masyarakat. Tapi dengan kejadian kemarin, mereka melindungi siapa? Mereka mengayomi siapa.

Kejadian kemarin, saya sebetulnya bersedia membayar asalkan mereka bisa menunjukkan kuitansi. Karena saya sadar, saya juga melakukan kesalahan dengan tidak bilang mau naruh sepeda motor di sana. Tapi iya itu tadi, mereka justru ketakutan dan langsung marah saat diminta menunjukkan kuitansi.

Saya cuma mikir, percuma ngobrol dengan polisi yang menjadikan pungli sebagai sandaran hidup. Barangkali gajinya nggak cukup. Mungkin anaknya nggak bisa sekolah. Tapi saya menyayangkan perilaku seperti itu. Integritas tidak mengenal alasan apapun.

Saya pikir, lahan depan Terminal Ubung bukan untuk disewakan. Polisi tidak pantas membuka bisnis penitipan sepeda motor. Kalau yang melakukan itu adalah pengangguran barangkali saya maklum. Tapi yang melakukan itu adalah aparat berseragam yang digaji dengan uang rakyat.

Yah, kalo mereka sadar gaji nggak cukup dengan menjadi polisi, ya tinggalkan profesi itu. Jangan dijual murah. Masa harga seragam cuma dihargai Rp 10ribu. Taruh seragam lalu lakukan bisnis lain. Jangan menjadikan seragam sebagai sampah. Cuih. Tukang sampah aja bayarannya Rp 15ribu. Tapi sayang aja membandingkan tukang sampah yang memiliki dedikasi dengan polisi yang hidup dari pungli.

Bukan kali ini saja saya coba diperas, saya menyebutnya dicoba diperas karena mereka selalu gagal, oleh polisi. Dulu saya diperas oleh petugas Lalu Lintas Polsek Denpasar Selatan. Tapi begitu saya bilang profesi wartawan polisi ini ketakutan. Kanitlantas malah meminta maaf ke saya.

Apakah polisi yang melakukan pungli tadi adalah oknum? Saya kira tidak. Mereka terlembaga. Jika satu diantara empat polisi tadi yang mungli, bolehlah yang seorang itu adalah oknum. Mereka berempat kompak memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk menikmati keuntungan finansial.

Selama ini kita selalu berlindung dibalik kata oknum untuk melindungi citra korps. Sudah seharusnya kata oknum tidak digunakan oleh preman berseragam. Agak susah, bukan mustahil menciptakan polisi tanpa pungli. Mereka sudah dididik dan dibiasakan memeras. Tidak percaya? Buktikan sendiri.

Iklan
Tagged with: ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. indablu said, on April 26, 2011 at 4:27

    jadi membayangkan, gimana ya kira-kira akhir kisah ini kalau pada saat itu Anda bilang bahwa Anda wartawan.. 🙂

  2. imadewira said, on Mei 4, 2011 at 4:27

    Saat SMP dan SMA, saya beberapa kali berurusan dengan polisi dan semua berakhir dengan tidak mengenakkan. Makanya hingga saat ini citra polisi selalu negatif di mata saya. Memang dari semuanya kasus waktu itu adalah kesalahan saya, tapi mereka berhasil memanfaatkan keadaan dan saya pun kalah.

    Andaikan hal itu terjadi saat ini, ingin rasanya saya debat mereka.

    Tahun 2007 pernah saya berdebat hebat dengan seorang polisi bernama Agus… yang bertugas di perempatan lampu merah Kerobokan. Ceritanya sempat saya tulis di blog tapi sayang sekarang sudah hangus.

  3. setsuna f yudha said, on Juli 21, 2011 at 4:27

    gampang nyot, buat notes di fb, tag ke teman-teman yang kritis, pejabat, wartawan? dan polisi, pastinya ini akan menjadi pergunjingan dan pastinya akan ditanya kapan kejadiannya. setelah tahu akan dicari polisinya, ya dan sudah pasti polisinya akan menerima sedikit hadiah dari atasanya,.. itu kalau mau balas dendam,…..

  4. dearKUR said, on November 20, 2011 at 4:27

    yaah, lembaga ini memang tak ada positif positifnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: