Agus Lenyot

Bagi Universitas Mahasiswa (Baru) Adalah Sumber Eksploitasi

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 22, 2011

Gambar diambil dari sini

Saya sadar itu karena saya pernah menjadi sumber eksploitasi dan pengeksploitasi.

Beberapa waktu lalu, saat mendaftar yudisium di kampus, saya sempat dengar jika ada kenaikan pembayaran SPP di Udayana semester ini. Saya tidak tahu komponen apa yang naik. Yang pasti, beberapa mahasiswa lama kaget karena harus bayar diatas 1,2 juta lebih saat hendak bayar di Bank Mandiri. Petugas tata usaha juga tidak bisa menjelaskan ke mahasiswa penyebab kenaikan ini. “Silakan Tanya ke rektorat,” begitu kata satu staf TU.

Padahal, biasanya mahasiswa angkatan 2006 ke atas cuma bayar 750 ribu. Angkatan 2005 ke bawah, malah bayar lebih murah lagi. 300an ribu. Bagi saya, kenaikan ini tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi jika dilakukan tanpa sosialisasi rasionalisasi kenaikan. Lebih lagi tanpa pemberitahuan. Prinsip transparansi dan akuntabel sudah dilanggar jika benar seperti ini.

Tahun 2006, Udayana juga pernah mengalami kenaikan SPP plus tambahan sumbangan sukarela dengan nominal yang ditentukan. Juga tanpa pemberitahuan. Suasana di tingkat kemahasiswaan agak hiruk pikuk. Mahasiswa protes. Sempat demonstrasi juga di rektoran waktu itu dipimpin Made Lapunggel, Presiden Mahasiswa saat itu. Pada akhirnya, titik komprominya adalah SPP yang naik cuma untuk mahasiswa angkatan baru.

Egois? Iya. Oportunis? Bisa saja.

Saya, jelek-jelek begini, pernah jadi Presiden Mahasiswa Unud. Saya pun tahu betapa lemahnya posisi politik mahasiswa baru. Gampang ditekan, gampang dipermaikan dan gampang diberdayakan. Gampang disuruh ini itu. Termasuk, meskipun tidak semua, gampang dirayu untuk dipacarin oleh senior di kampus.

Dulu saya gemas sendiri dengan kelakuan Udayana. Tahun 2009, saat mencuat kasus Bank Century, saya sampai harus mengiming-imingi mahasiswa baru dengan sertifikat Student Day, penerimaan mahasiswa baru di Udayana. Saya mengajak kawan-kawan di fakultas untuk bersikap terhadap isu ini. Hasilnya nihil. Lucu juga sih liat mahasiswa kece-kece diajak berjemur dan longmarch ke Bank Indonesia cabang Denpasar. Setelah diingat-ingat, pengalaman ini menggelikan.

Waktu jadi mahasiswa baru, enam tahun silam, saat ospek saya disuruh membawa susu kemasan tiap pagi. Ini pembodohan. Senior sialan itu tidak tahu jika untuk bayar kuliah saya harus nabung hasil jadi kernet truk Jakarta-Bali selama berbulan-bulan. Saya mengecam praktek senioritas macam begini. Belum lagi bermacam makanan untuk disuguhkan para senior.

Ironisnya, saat biaya SPP dinaikkan, hanya sedikit senior yang banyak omong ini berani melawan. Beberapa bahkan bungkam dan merasa aman berdiam di ketek dekanat. Omong besar saat ospek ternyata omong kosong.

Praktek penekanan ini masih berlanjut di pembayaran uang kuliah. Mahasiswa baru dipungut bayaran ini itu tanpa punya daya upaya untuk menolak. Mau menolak, takut nggak bisa kuliah. Mau bayar, harus ada yang jual tanah warisan. Inilah ironi absurd wajah pendidikan negeri ini. Saya pernah berada pada posisi itu.

Mahasiswa sudah seharusnya menyadari ketidakadilan. Lalu melawannya.

Iklan
Tagged with:

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on Juli 24, 2011 at 4:27

    He he…, saya ingat, kalau di tempat saya mahasiswa baru dapat pelajar demo, khusus menolak kebijakan yang dirasa merugikan :D.

  2. imadewira said, on Juli 27, 2011 at 4:27

    Gimana ya, saya ndak bisa komentar karena kuliah di swasta dan waktu itu kampus saya biaya-nya tergolong paling murah, ya murah meriah lah.

    Saat ini, kebetulan saya kerja di kampus negeri. Disini setahu saya biaya ditentukan oleh pemerintah di Jakarta (entah bagian apa), jadi tidak banyak (bahkan tidak ada) yang bisa protes.

    Untuk masalah ospek, disini masih ada dan karena saya sendiri setelah hampir 3 tahun kerja disini belum pernah menjadi panitia, jadi tidak bisa komentar juga.

  3. abro said, on Agustus 12, 2011 at 4:27

    jadi student day tuh ga ngaruh buat apa2? adek saya taun lalu sampe kecapekan katanya, dia juga lagi puasa (islam).. keterlaluan banget, ospek cuma buat BULLYing

  4. derek said, on Februari 11, 2013 at 4:27

    kenapa di UNUD harus bayar SPP, padahal sudah yudisium tinggal wisuda.
    seharusnya bagi mahasiswa yg sdh lulus yudisium sdh dinyatakan lulus dan tidak berhak untuk membayar SPP lagi.
    bagaimana kami harus protes, dan ke pada sapa kami harus melaporkan sistem yang buruk ini.
    terima kasih.

  5. esey wanimbo (@EseyWanimbo) said, on Juli 1, 2013 at 4:27

    PEMDA Kenapa tidak pernah melihat dimana kekurangan mahasiswa ini menjadi pertanyaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: