Agus Lenyot

Mereka Sudah Letih Mencintai Indonesia…

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 13, 2011

Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia.
Ini ucapan Sri Mulyani Indrawati. Tulisan ini dikutip oleh Partai Serikat Rakyat Independen, partai yang secara menjadikan SMI sebagai ikon. Partai ini, yang didirikan oleh kalangan intelektual kelas menengah, juga yakin akan mengusung SMI sebagai calon presiden. Jujur saja, saya tak terlalu tertarik dengan presiden. Saya lebih tertarik dengan apa yang diucapkan kemudian menjadi tagline populer ini.

Beberapa waktu terakhir, emosi saya terkuras. Awalnya begini: saya membaca laporan investigasi Komnas HAM ketika polisi, entah bersama TNI saya belum tahu, menyerbu peserta Kongres Papua III. Dokumen ini tidak beredar di publik. Saya kebetulan mendapatkannya dari seorang pegawai Komnas HAM yang baik hati. Pengakuan peserta, dua jam sudah berlalu. Kursi-kursi berwarna hijau, tempat duduk peserta sudah diangkut ke tepi lapangan. Mereka sudah bercengkerama satu sama lain. Peserta datang dari berbagai distrik, melewati hutan untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Mereka memakai momentum ini untuk saling bersilaturahmi. Belum tentu kesempatan baik akan datang dalam waktu dekat. Tiba-tiba saja serombongan pasukan berseragam dengan senapan, pentungan dan tembakan mendatangi mereka. Peserta berhamburan ke sana kemari menyelematkan diri. Seorang ibu tertembak di paha.

Dari cuplikan video di Youtube kita bisa saksikan sendiri suara tembakan, makian dan hinaan jadi satu. Mereka ditendang, ditembak dan diperlakukan seperti penjahat. Padahal, mereka hanya ingin diperlakukan secara adil. Mereka punya tanah yang kaya tapi penduduknya miskin dan kelaparan. Ketika Indonesia, negara penaung mereka tak mampu hadirkan itu, mereka memilih dengan cara sederhana. Biarkan kami menentukan nasib sendiri. Mati atau miskin di tangan kami sendiri. Tapi, kekerasan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda.

Tiga orang tewas, ratusan orang ditangkap meski akhirnya dibebaskan dan puluhan orang luka-luka. Yang tewas, bola matanya dicungkil dan ditembak di bagian dubur tembus kepala. Sadis. Kejamnya, tubuh mereka ditemukan jauh di luar arena kongres. Mereka yang ditangkap, dimaki seolah kemanusiaan sudah mati di negeri ini. Papua, yang telah banyak menerima ketidakjujuran, adalah contoh luka menganga yang diobati dengan popor senapan. Harga mahal untuk sebuah kemanusiaan yang adil dan beradab.

Terus terang, saya sejak lama bersimpati pada Papua meski secara personal hanya memiliki sedikit teman. Saya pun tak pernah ke sana. Visualisasi Papua hanya bisa saya dapatkan di beberapa film. Berita tentang Papua di televisi didominasi oleh sejarah kekerasan, keterbelakangan dan tuntutan kemerdekaan. Tentu saja dalam versi tentara. Semua itu menghasilkan kesimpulan prematur tapi faktual: Papua itu indah, kaya tapi sekaligus menderita. Kombinasi ironis dan tragis di negeri bernama Indonesia.

Beberapa kawan Papua yang saya kenal, kaya secara materi. Suatu ketika, saya pernah diajak belanja ke Pondok Indah Mal, pusat belanja mewah di selatan Jakarta. Saya hanya bermodalkan uang ratusan ribu. Tidak ada ekspektasi apapun karena saya sudah diwanti-wanti: barang di sana mahal. Tapi kawan saya, seorang pejabat di Merauke, rela mengeluarkan uang hingga Rp 10 juta hanya untuk beberapa potong kemeja, celana panjang dan sebuah ikat pinggang. Saya hanya geleng-geleng kepala.

Lain waktu, ketika menjadi buruh di sebuah event organizer, saya berurusan dengan beberapa pejabat Papua. Pejabat ini begitu mudah menggelontorkan uang untuk membeli sesuatu, yang sebenarnya tidak perlu. Mereka bahkan berani memberikan tips dalam jumlah besar ketika kita bisa menyenangkan hati mereka. Saya diberi tips Rp 100ribu hanya untuk membeli pulsa senilai sama. Kembali saya geleng-geleng kepala.

Ini ironi bagi saya. Saya tahu, dari berita, dalam versi pemerintah ada jutaan orang Papua yang hidup dibawah garis kemiskinan. Banyak orang Papua mati kelaparan. Hidup di kawasan terpencil tanpa sentuhan teknologi. Meski tentu saja, kemiskinan bagi birokrasi kita hanya sebuah statistik dan angka-angka. Maka dari itu diciptakanlah sebuah demarkasi: pembatas antara yang miskin dan tidak miskin. Solusi yang diberikan simple saja. Gelontorkan saja uang! Papua diberikan dana triliunan tanpa diawasi dengan ketat. Sudah bisa ditebak, triliunan uang hanya dinikmati segelintir orang. Yang mereka inginkan, kami bisa makan di atas tanah kami yang kaya raya ini secara adil dan bermartabat.

Beberapa hari setelah penembakan di Kongres Papua III, saya berbincang dengan seorang Papua di Kontras. Ketika saya datang, wajahnya menatap layar komputer jinjing, ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi panas. Melihat saya datang, awalnya dia curiga. Setelah memperkenalkan nama depan dan profesi, dia tertawa dan mempersilakan saya duduk. Berceritalah dia tentang Papua. Saya menyimak dengan seksama. Namanya Michael. Selain Michael ada lima orang lain. Mereka memperkenalkan diri tapi saya bukan orang yang gampang menghafal nama. Mereka sedang bersiap ke Komnas HAM, menyampaikan aspirasi pasca penembakan dan penyerbuan di Abepura seusai Kongres Papua III.

Seperti orang Papua yang sudah berada di luar pulau, dia lebih obyektif memandang Papua. Kitorang tak tahu apa lagi yang membuat kitorang bangga menjadi bangsa Indonesia, dia berkata. Dulu, dia begitu bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih. Tapi, perlakuan tentara terhadap Papua ternyata tak berubah. Mereka dituduh, dialienasi dan disiksa ketika meminta hak yang seharusnya mereka dapatkan.

Michael, adalah generasi terkini Papua yang sadar pentingnya kemanusiaan sekaligus kemerdekaan. Dia kuliah di Universitas Kristen Indonesia, kampus yang menjadi basis perjuangan mahasiswa saat Soeharto jatuh. Bagi dia, sejarah Papua adalah manipulasi. Sebuah tipu-tipu Indonesia untuk mengeruk sumber daya di sana. Dia tahu, Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969 yang 1025 rakyat Papua dilaksanakan dengan todongan popor senjata. Rakyat Papua, dipaksa memilih bergabung dengan Indonesia dan dibungkan hak-haknya secara politik, sosial dan ekonomi. Pepera adalah sebuah rekayasa Amerika Serikat dan Indonesia. Mereka diminta memilih: Indonesia atau dibunuh. Michael menentang ini karena menjadikan Papua sebagai wilayah kolonial Indonesia. Saya memperhatikan mimik wajahnya. Sesekali dia menyeka keringat dan giginya gemeretak menahan emosi.

Hasil Pepera menjadi legitimasi korporasi raksasa masuk Papua, tentu seijin Jakarta, centra ekonomi sekaligus sumber kebejatan politik negeri ini. Freeport McMoran, perusahaan New Orleans membangun tambang emas terbesar dunia di Grasberg, Timika. Freeport menjadi sapi perah militer Indonesia di Papua. Mereka membayar polisi dan tentaran untuk melindungi korporasi. Hal yang sudah diakui oleh Kapolri meski Panglima TNI menyangkal menerima dana. Kekayaan mereka dikeruk tapi tak pernah dikembalikan kepada pemilik sah tanah Papua. Kitorang dibuat bodoh selamanya, Michael berkata. Apa beda Indonesia dengan Belanda? Pertanyaan Michael mewakili jutaan pertanyaan generasi muda Papua.

Saya membaca laporan Andreas Harsono saat mewawancari Filep Karrma, tokoh pergerakan Papua. Filep, sebagaimana dikutip Andreas, adalah putra Andreas Karma, bupati populer di Papua. Filep belajar di Universitas Negeri Sebelas Maret. Dia mendukung kemerdekaan Papua dan terlibat pengibaran bendera bintang kejora. “Kalau terus ikut Indonesia, penduduk asli Papua akan terus dianiaya. Mungkin 20 atau 30 tahun lagi sudah habis kebudayaan Papua. Artinya, orang Papua juga sudah habis,” kata Filep.

Papua, dengan segala hormat, adalah Indonesia. Ada begitu banyak potensi emas, baik dalam arti sungguh-sungguh maupun yang konotatif. Film Denias sudah membuktikan mutiara hitam jika diasah bisa meledakkan dunia. Di dunia sepakbola, kita mengenal Ortisan Salossa dan Boaz Salossa. Kontribusi mereka tak terbantahkan bagi sang merah putih. Terbaru kita mengenal Patrick Wanggai, Titus Bonay dan Oktovianus Maniani. Mereka tak letih mencintai Indonesia meski saudara sesuku dibantai oleh mereka yang mengaku saudara. Saudara berseragam dan bersenjata.

Barangkali, Indonesia tak pernah tulus mencintai Papua. Orang lebih peduli komodo ketimbang kemanusiaan yang terinjak dengan telanjang. Orang lebih peduli kaum seagama meski jauh di luar sana. Kemanusiaan tidak pernah membedakan warna kulit, bentuk rambut dan agama.

Saya tentu saja lebih senang Papua tetap menjadi bagian besar bangsa Indonesia, sebuah komunitas imajiner yang dipersatukan oleh rasa senasib sepenanggungan. Tapi, saya akan lebih bahagia, jika saudara saya di Papua bisa menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Bukan kemerdekaan setengah hati ala pemerintah Indonesia. Kenapa kita tidak biarkan Papua memilih bila sudah tak satu nasib?

Barangkali, seperti kata Michael dan orang Papua pada umumnya, mereka sudah letih mencintai Indonesia. Indonesia tak pernah mencintai mereka.

Tiba-tiba saya teringat ucapan Sri Mulyani…

Iklan
Tagged with:

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on November 14, 2011 at 4:27

    Papua perlu pembangunan yang adil, dan memang di manapun tanah yang kaya akan sumber daya akan selalu menjadi rebutan, bukan hanya pemilik sendiri namun juga orang luar. Dan Indonesia adalah tanah seperti itu, kita mesti benar-benar merdeka atau hanya akan menjadi jajahan, baik oleh bangsa sendiri ataupun pihak asing.

  2. imadewira said, on November 16, 2011 at 4:27

    Jujur saja, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Papua sana, tapi kalau benar rakyat Papua diperlakukan seperti itu, maka tak salah jika mereka ingin cerai dengan Indonesia.

    Yang saya lihat di televisi maupun di media lain, kehidupan di Papua memang terlihat jauh dari kemajuan jaman, kasihan memang mereka yang sebenarnya kaya dan memiliki kemampuan tidak kalah dengan rakyat Indonesia lainnya. Saya rasa jika diberi perlakuan yang adil, Papua mampu bersaing dan hidup berdampingan dengan rakyat Indonesia lainnya.

  3. wahyu gayatri (@ayagayatri) said, on November 26, 2011 at 4:27

    jangan pernah lelah mencintai indonesia
    begitu juga sebaliknya bagi rakyat Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi pemerintah, jangan pernah lelah mencintai Papua, dengan tulus….

  4. Franky Xu said, on Desember 1, 2011 at 4:27

    Perasaan ku antara benci dan sayang akan Indonesia ini, Presiden kita yang harus membela rakyat malah menindas rakyat sendiri, sanggatlah pilu untuk memahami fakta yang selalu memilukan hati nurani ini, namun dimana nurani Pemerintahan Indonesia dan juga Presiden Indonesia ini?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: