Agus Lenyot

Kejutan itu Muncul di Waktu yang Tak terduga

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 17, 2011

Kejutan pertama saya ketemu dengan kawan lama UKM Kesenian di metromini. Daya kejutnya tidak tinggi meski tetap menyenangkan. Heran saja, kebetulan selalu datang di tempat yang tak terduga. Dia juga sedang berangkat nonton Indonesia lawan Malaysia. Bedanya, dia sudah pegang tiket. Saya, atau kami, saya bersama teman dari Kupang tanpa tiket. Kami hanya modal nekad.

Saya sudah punya niatan tinggi nonton partai Indonesia lawan Malaysia. Tekad ini bulat. Pertama karena lawannya Malaysia. Saudara serumpun yang selalu menghadirkan kejutan dinamis. Kedua, saya tahu atmosfernya akan sangat menakjubkan. Tanpa tiket kami berangkatlah kami ke stadion.

Benar saja, kemacetan sudah terasa meski belum masuk kawasan Senayan. Kemacetan semakin menjadi di kawasan Gelora Bung Karno. Seorang kawan mengirimkan pesan: antrean tiket mengular. Beberapa penonton pingsan saat antre. Kami tetap nekat. Pokoknya kami harus bisa masuk, bagaimanapun caranya. Beli lewat calo dengan harga dua kali lipat tidak masalah.

Nah, di pintu kawasan GBK inilah keajaiban sepertinya mulai terlihat. Loket penjualan tiket sudah tutup. Kami kecewa. Rasanya harapan akan pupus sampai tiba-tiba seorang pria berkepala plontos menghampiri. Anjrit, ini kawan lama di Pers Akademika! Saya tahu dia jadi liason officer Sea Games dari kicauannya di jejaring sosial. Cuma nggak nyangka akan ketemu di tempat ini. Namanya Lukman Benjamin. Kami di Akademika lebih sering memanggil dia dengan nama: Belo. Oke, saya tak akan bercerita tentang Belo. Lanjut.

Belo sedang menunggu kawannya. Rupanya panitia bisa menyelundupkan orang ke dalam stadion. Ini sebenarnya tidak terpuji. Tapi di Indonesia cara ini selalu mendapatkan tempat. Saya diajak ke dalam oleh Belo. Di depan pintu VVIP, saya menyadari bahwa mustahil bisa masuk dengan tiket. Kalaupun ada calo, antrean sudah mengular. Saya juga tidak mau tertipu tiket palsu. Oleh Belo, saya dijanjikan bisa masuk dengan menggunakan I’d panitia. Saya agak ragu, tapi tetap menerima tawaran itu. Kemungkinan harus selalu dijaga bukan?

Inilah kawan saya di Pers Akademika, Lukman Benjamin Mulia aka Belo

Ternyata, masuk dengan I’d panitia juga bukan perkara gampang. Seluruh pintu sudah dijejali dengan berbagai manusia. Baik yang bertiket maupun yang bermodal nekat. Belo menyuruh saya masuk duluan. Satu I’d akan disusupkan lewat pintu masuk. Kami akan masuk bergiliran dengan menggunakan I’d yang sama. Mengelabui penjaga pintu masuk tentunya. Begitulah rencana awal.

Rencana ini tak mulus. Saat masuk antrean, bersama dua LO lain, saya pesimis bisa masuk tepat saat kick off. Di dalam stadion, suara bergemuruh. 15 menit lagi pertandingan akan segera dimulai. Antrean benar-benar panjang padahal itu pintu tiket VIP Barat. Rupanya banyak orang salah pintu. Petugas menerapkan sistem buka tutup sambil memastikan keaslian tiket. Saya pasrah. Oleh seorang bapak, saya yang sedang memakai I’d panitia disarankan masuk lewat pintu 12. Katanya, pintu sana sepi.

Berlarilah kami, dengan beberapa panitia ke pintu 12. Benar, sepi. Hanya terlihat beberapa penonton dengan wajah lesu. Ternyata, pintu 12 terkunci. Saya menyeruak ke bagian terdepan. Seorang penonton menggoyang-goyangkan pintu. Tak ada hasil apapun. Seorang lagi menendang pintu. Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Pintu itu jebol. Berebutanlah saya masuk ke dalam. Saya sempat tergencet. Tapi berhasil lolos hingga ke dalam.

Saat sampai di tribun atas, kami bersorak kegirangan. Tak lama kemudian lagu Indonesia Raya berkumandang. Hikmat, menegangkan dan mengharukan. Jalannya pertandingan tak usahlah saya ceritakan. Kalian semua bisa menonton sendiri. Begitulah, ternyata kejutan-kejutan itu selalu menyenangkan. Sudah lama saya membayangkan atmosfer pertandingan. Stadion penuh dengan pendukung Indonesia. Lumayan tertib.

Kejutan terakhir malam ini adalah saat pulang, baru saya sadari: arloji di pergelangan tangan raib entah kemana. Arloji hadiah lomba menulis di Kompas. Cukup mahal untuk ukuran saya.

Tiba-tiba saya teringat Nagabonar…

Iklan

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on November 17, 2011 at 4:27

    hahaha…kemungkinan selalu menimbulkan kejutan, itu yang seharusnya aku tulis 🙂
    semangat deh kerjanya pak bro, biar bisa ganti jam tanggannya.
    Tp btw, nie nonton bolanya jadi gratis gitu?

    • Agus Lenyot said, on November 18, 2011 at 4:27

      nontonya gratis, dituker jam kesayangan. huhuhuhu.

  2. anggaramahendra said, on November 17, 2011 at 4:27

    perjuangan dan pertemuan… assik… blm pernah sekalipun nonton bola diantara riuhnya supporter… lain waktu pengen coba…

    eh iya aq baru juga nulis + foto + video ttg pagesahan, mampir ya… 🙂

    http://anggaramahendra.wordpress.com/2011/11/18/pagesahan/

  3. Cahya said, on November 18, 2011 at 4:27

    Itulah mengapa saya lebih suka nonton di layar kaca, arloji akan aman :D.

  4. imadewira said, on November 18, 2011 at 4:27

    enaknya… saya cuma mimpi bisa nonton di stadion..

  5. tarjo said, on November 18, 2011 at 4:27

    yahhh wartawan aja kelakuannya kayak gitu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: