Agus Lenyot

Sebuah Cerita Tentang Kebebasan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 19, 2011

Kapan kita pernah merasakan kebebasan? Tentu saja saat pernah merasa terikat.

Seorang teman datang bercerita pada suatu ketika. Dia mengeluh dengan hubungan yang sedang dia jalan bersama pacarnya. Curhatan kawan sejak lama memang seputar hubungan dua manusia beda jenis. Sudah terbiasa. Saya mendengarkan keluhan ini di sela jemari lincah menari di atas keybord. Awalnya sih baik-baik saja. Sang pacar, cowok tentu saja, memberi dia keleluasaan untuk berteman dengan siapa saja.

Sang pacar tidak pernah melarangnya ikut organisasi, pulang sampai malam, nongkrong di pinggir jalan dan ketawa sampai ngakak. Tapi, cerita bahagia itu tak berlangsung lama. Petaka berawal di sini: dia dikenalkan kepada ibu sang pacar. Sang calon mertua, ternyata punya kriteria tinggi terhadap calon istri anaknya. Sejak saat itu, mulailah aturan selalu datang mengepung..

“Sayang, bisa nggak cara berpakaianmu diubah dikit saja?”. Itu pertama. Kawan saya masih menurut. “Sayang, boleh nggak kalau ketawa nggak usah ngakak gitu.” Itu kedua. Dia masih manut. Cewek memang seharusnya jaga sikap, pikirnya. Apalagi di tempat umum. Kawan saya, memaklumi permintaan ini. “Sayang mulai hari ini kamu harus belajar masak deh.” Kawan saya manggut-manggut. Logikanya masuk akal.

Sampai muncul permintaan kesekian dari sang pacar, “Sayang, aku nggak suka ya kamu bergaul dengan sembarang laki-laki. Tolong deh, kurangin itu waktu berorganisasimu.” Sayang, kamu jangan terlalu gini. Sayang, kamu jangan terlalu gitu.

Pada titik ini, kawan saya itu panas. Tapi kedongkolan itu dia simpan di dalam hati. Berceritalah dia kepada saya. Perempuan, dalam teori yang berlaku umum, ketika gagal menyelesaikan masalah dengan pacar tentu saja hal yang paling sering dilakukan adalah menangis. Toh, perempuan meskin sering mengeluhkan sikap pacarnya, mereka umumnya mengalah. Menuruti permintaan pacar. Apologinya sederhana: aku nggak mau kehilangan dia.

Sejak saat itu, kawan ini mulai jarang ikut kegiatan. Kumpul-kumpul sudah nggak pernah dan sms jarang berbalas. Ketika ketemu di waktu tertentu dia bilang, pacarnya marah dia terima sms dari cowok lain. Pernah dia datang ke tempat saya sambil menangis. Dia bilang, saya terasing dari pergaulan karena batasan-batasan yang diterapkan sang pacar. Sambil acuh tak acuh saya jawab, putusin saja.

Lihat apa reaksinya kawan? Dia justru marah-marah kepada saya. Lelaki, seperti dakwaan semua perempuan, tidak pernah memakai perasaan! Saya bengong. Oke, saya berusaha meredakan kemarahannya dengan menyarankan dia ngomong baik-baik dengan sang pacar. “Usaha itu sudah saya lakukan berkali-kali!”

Ada juga teman lain, perempuan tentu saja, sudah diselingkuhan, dipukul, dilarang ini itu, masih saja ngeyel untuk bertahan dengan sang pacar. Klise, rasa cinta mengalahkan logika!

Friends, lihat betapa kompleksnya perempuan memandang soal yang sederhana. Kalau sudah nggak nyaman, kenapa tidak ditinggalkan saja? Pernah dia datang nangis-nangis: kebebasan itu ternyata memang mahal. Teman saya ini menebus kebebasan yang dia miliki dengan sebuah hubungan yang menyiksa. Dan lucunya, dipertahankan hingga hari ini.

Kebebasan itu soal jiwa, sekaligus keberanian menghadapi kejutan yang tak terduga. Karena itulah, kebebasan adalah sebuah ketidakpastian, penantian terhadap kemungkinan-kemungkinan yang mungkin menyenangkann, mungkin juga tidak. Kebebasan adalah lawan ketidakteraturan. Meski banyak orang yang mengaku mencintai kebebasan, tidak semua orang berani melakukannya.

Saya, termasuk yang masih bimbang dengan kebebasan ini. Jujur, saya terkadang iri dengan orang lain yang punya keteraturan kerja. Berangkat kerja jam 8 pagi pulang sore. Sampai di rumah ada ketenangan tidak diganggu oleh rutinitas pekerjaan. Hasil kerja keras diganti dengan gaji yang juga besarannya tetap. Boleh dibilang, pada titik-titik tertentu, saya iri dengan kepastian dan keteraturan.

Seorang kawan, di dalam blognya juga pernah mengutarakan kegalauan serupa. Tawaran untuk kerja reguler datang. Lengkap dengan gaji menggiurkan dan jenjang karir menjanjikan. Kerja ini menghadirkan kepastian dan zona nyaman bagi orang dengan tipe tertentu. Hebatnya, kawan saya ini tidak mengambil pilihan ini. “Ketidakpastian itulah sebenarnya kepastian buat saya.” Kini saya yang menghadapi kegalauan yang sama. Sedihnya, saya belum berani mengambil kepastian apapun.

Sebenarnya saya tidak suka dengan keteraturan. Pola seperti ini hanya akan menumpulkan kreatifitas. Penyeragaman berpakaian menunjukkan keteraturan adalah militer dalam rupa berbeda.

Saya percaya dengan, “Powers of Kepepet.” Saat terdesak, pikiran-pikiran nakal mulai timbul. Kepepet hanyalah milik mereka yang menyukai kebebasan. Kebebasan memberikan ruang kepada kita untuk berpikir merdeka. Menulis semaunya. Dan yang terpenting, tidak ada ikatan waktu.

Kebebasan penting untuk membangun demokrasi yang sehat. Tentu dengan segala batasan dan aturan yang mesti dihormati. Kebebasan membuat kita menyadari hak dan kewajiban.

Teringat kebebasan ini, saya teringat kawan perempuan saya. Buat yang jomblo, tidak semua mereka yang berpacaran itu bahagia. Kalian memiliki kebebasan yang bisa ditukar kapan saja.

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. youngladyjunsu said, on November 19, 2011 at 4:27

    bagus sekaliii… terharu dehh O_o

  2. Ipan Gardieq said, on Desember 31, 2011 at 4:27

    Mas tolong dong akun ffb ku di retas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: