Agus Lenyot

Kita Sudah Lelah Jadi Pecundang

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 20, 2011

Sudah saatnya Indonesia Raya berkumandang setelah final sepak bola Sea Games.

Antusiasme penonton sepakbola Indonesia memang ajaib. Saat di Bali, aku selalu ingin merasakan atmosfer pertandingan di Gelora Bung Karno. Riuh dan bergemuruh luruh jadi satu. Aku membayangkan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama dengan puluhan ribu Indonesia lain. Bersyukur, aku merasakan atmosfer itu. Pertama saat melawan Thailand. Selanjutnya lawan Malaysia dan Myanmar. Lawan Malaysia, saya merinding mendengarkan koor lagu kebangsaan. Aku yakin, ribuan orang lain pasti merasakan emosi yang sama.

Atmosfer itu terlalu menggoda dan membuat ketagihan. Tidak peduli harus berdesakan, kehausan dan kelelahan untuk mencapai stadion. Apalagi, Indonesia masuk final. Rasanya, sudah terlalu lama Indonesia tidak merasakan gelar juara. Harapan kini dibebankan di pundak Titus Bonay dan kawan-kawan. Begitu tinggi.

Karena itu aku juga ikutan antre tiket final. Harga tiket masih sama. Loket, menurut panitia dibuka mulai jam 10 sampai jam 4 sore dan dibuka mulai hari ini. Aku datang ke Istora sekitar jam 3. Berharap, antrean sudah tidak terlalu panjang. Anjrit, antrian masih mengular! Sepertinya, ada ribuan orang yang berpikiran sama sepertiku. Barangkali masih ada seribuan orang yang antre berkeringat untuk mendapatkan tiket mahapenting itu (mulai lebay).

Melihat anteran, aku nyerah duluan dan balik badan. Lebih baik beli dari calo saja. Tidak ada pilihan yang lebih baik daripada harus meninggalkan kerjaan. Bayar lebih mahal nggak apa-apalah asal bisa masuk stadion, pikirku. Aku berlalu dan berhenti sekitar 100 meter dari loket. Seorang petugas keamanan di Gelora Bung Karno mengakui, kinerja panitia memang buruk. Tiket, kebanyakan ada di tangan calo.
Aku tak membantah.

Kemarin, saat semifinal Indonesia vs Myanmar, petugas tiket bilang, tiket kategori 4 sudah habis. Tiket kategori ini harganya paling murah, Rp 25ribu. Posisi duduknya di tribun paling atas. Kategori inilah yang paling banyak diburu oleh pembeli. Karena dibilang sudah habis, aku terpaksa membeli tiket kategori 3. Harganya dua kali lipat lebih mahal. Posisinya tidak terlalu enak, di belakang gawang. Tapi kalau mau nonton enak, ya cukup di rumah atau di café. Bisa sambil ngopi atau merokok. ke toilet kapan saja.

Tapi di stadion tidak melulu urusan nonton bola. Berteriak dan bertepuk bersama. Kami bisa melakukan itu bersama ribuan orang dengan semangat yang sama. Itulah sesungguhnya yang aku cari. Apalagi saat meneriakkan IN-DO-NE –SIA!! Pada titik ini, ternyata Indonesia sangat membanggakan. Kita memiliki potensi untuk menjadi bangsa besar.

Oke, balik ke topic. Kemarin, di dalam stadion, ucapan panitia soal tiket habis ternyata omong kosong. Hingga jelang kick off, tribun atas masih kosong. Aku prediksi masih ada sekitar 5ribuan kursi yang seharusnya bisa terisi. Kampret, aku merasa dibohongi. Sepertinya penonton enggan beli tiket dari calo yang harganya dua kali lipat lebih mahal.

Di luar stadion, calo bekerja sama dengan petugas keamanan. Saya sempat ngobrol dengan calo. “Ya yang penting hasilnya dibagi dengan petugas. Kita sama-sama cari makan.” Sial! Ternyata, banyak petugas dan polisi yang bekerja sama dengan calo menyelundupkan penonton tanpa tiket.

Aku tidak tahu, apakah untuk partai final ini tiket diborong calo. Panitia sepertinya tidak antisipatif terhadap antusiasme penonton. Panitia lupa, kita sudah bertahun-tahun tidak masuk final Sea Games. Kita sudah haus gelar juara. Kapan lagi menyaksikan juara sepakbola Sea Games di tanah air?

Lebih lagi, yang dihadapi di partai final adalah Malaysia. Saudara serumpun yang seringkali bertindak ugal-ugalan. Setiap ketemu orang Malaysia, pengen aku jitak saja mereka. Aku pikir, rivalitas ini mirip seperti Milan dengan Inter, Real Madrid dengan Barcelona dan Liverpool dengan Everton. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak datang ke stadion. Kalah dengan negara lain nggak apa-apa, asal tidak dengan Malaysia. Bisa makin besar kepala mereka.

Itulah yang terjadi sore tadi. Penonton membludak, tiket yang disediakan sedikit. Aku tidak tahu persis jumlahnya. Ketika tiket habis dengan antrian masih mengular, bisa ditebak apa yang terjadi. Penonton mulai berteriak histeris. Aku melihat asap hitam pekat membumbung ke atas. Segera saja aku merapat. Loket penjualan tiket dibakar oleh penonton yang marah.

Inilah loket tiket yang dibakar calon penonton

Petugas loket dievakuasi oleh polisi. Polisi tidak bisa menenangkan emosi massa. Tak ada hasil, penonton yang marah masih melanjutkan aksinya ke kantor PSSI. Meskipun, PSSI bukan pihak yang bertanggungjawab terhadap distribusi tiket. Barangkali penonton tidak punya sasaran pelampiansan kemarahan.

Calon penonton mengepung Kantor PSSI di Gelora Bung Karno

Aku sendiri tidak membenarkan pembakaran oleh penonton meski memahami kemarahan mereka. Sudah antre sejak jam 10 pagi tapi nggak dapat tiket. Siapa yang tidak kecewa? Panitia terkesan lepas tangan. Tidak ada satu panitia yang muncul untuk menjelaskan soal distribusi tiket. Apakah benar sudah habis atau ditahan untuk besok? Atau jangan2 sudah dibagikan ke calo? Aku tidak punya pikiran positif ke panitia.

Panitia, atau siapapun juga seharusnya belajar dari pengalaman Piala AFF kemarin. Distribusi tiket harusnya lebih transparan. Berapa jumlah tiket didistribusikan hari Minggu dan Senin. Berapa yang masih tersisa. Dan semua dilakukan dengan jujur. Jangan sampai ada kebohongan seperti semifinal. Tiket dikatakan sudah habis, ternyata tribun masih kosong. Dahaga kita, pendukung Indonesia harus dipuaskan. Oleh kemenangan dan pelayanan panitia, tentu saja.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi pecundang. Kita harus bisa berdiri dengan kepala tegak di hadapan Malaysia. Stop membuat mereka jumawa. Kita tidak akan lelah mendukung Indonesia. Kalah atau menang, Garuda tetap di dadaku!

Iklan

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on November 21, 2011 at 4:27

    Hmm…, saya nonton dari rumah saja, paling ndak bisa nonton beramai-ramai soalnya.

  2. kadekdoi said, on November 21, 2011 at 4:27

    mau dukung tim bola aja sulit,
    mau dukung indonesia aja dipersulit,
    ah,, Indonesia!

  3. imadewira said, on November 24, 2011 at 4:27

    Dan akhirnya, walaupun sudah berjuang maksimal kita kalah lagi, dari Malaysia pula dan dikandang juga. Nasib.. nasib..

    Ditambah lagi dengan tewasnya 2 orang penonton, lengkap sudah penderitaan.

  4. vinniemoore said, on November 27, 2011 at 4:27

    kerna kamu terlalu angkuh. maka datang la bala. datang la kekalahan.

  5. vinniemoore said, on November 27, 2011 at 4:27

    seharus nya cermin diri sendiri sebelum membina harapan. jgn menuduh kalu cuma mendengar dari orang lain. jgn terlalu emosi. ama jgn jadi nasionalis buta. kerana ini bikin kamu smua jadi tolol + g pernah mengukur kemampuan bangsa kamu sendiri. tanya sma bangsa lain di dunia kalu darjat nya indon itu pa ? kalu kluar negri sja , pasti rame yg cuma jadi TKW !!! Tapi mlalang nya ramai antara kalian TERLALAU BODOH untuk menilai diri sendiri, sehingga kalah sama malaysia berkali2 masih belum mengerti pa itu kekalahan, tau nya cuma bilang maling, malon, jancok, hahaha. mental bangsa kuli serata dunia memang begitu. maka begitu layak lah kalian selama lama nya menjadi bangsa kuli serata dunia. harap kamu sedar diri kamu itu siapa.

  6. Devi Justicia said, on November 28, 2011 at 4:27

    kreatif dikit dunk

  7. Devi Justicia said, on November 28, 2011 at 4:27

    Setiap permainan pasti selalu ada yang kalah & yang menang. Pertandingan bodoh itu cuma hiburan semata, jadi bukan sesuatu banget gitu loch..en guweh juga bukan nasionalis yg suka membela bangsa.
    Ga usah bercermin jauh2 tentang bangsa dech..guwe ga menuduh ato mendengar dari org laen, tepi liat tuh nama lo “vinniemoore”? emangnya lo http://en.wikipedia.org/wiki/Vinnie_Moore ? wkwkkwkw!!!
    dari nama lo aja kita bisa menilai betapa ga kreatifnya budak malingsia yg cuma bisa menjiplak & meniru.
    Jadi pantes aja dech klo GUWE bilang LO itu MALING GA KREATIF!!! masih lebih mulia jadi kuli yang bisa membantu membangun dunia daripada jadi maling.
    nb : ngomong2 nama asli lo siapa sich? ga pede yach nyebutin nama asli lo yang berbau “religius”? WkwkwkwkK
    SADAR? lo tuh yg seharusnya ngaca..
    WkWKWKWKWKWKW!!!!!

  8. Devi Justicia said, on November 28, 2011 at 4:27

    Ga usah bercermin jauh2 tentang bangsa dech..guwe ga menuduh ato mendengar dari org laen, tepi liat tuh nama lo “vinniemoore”? emangnya lo http://en.wikipedia.org/wiki/Vinnie_Moore ? wkwkkwkw!!!
    dari nama lo aja kita bisa menilai betapa ga kreatifnya budak malingsia yg cuma bisa menjiplak & meniru.
    Jadi pantes aja dech klo GUWE bilang LO itu MALING GA KREATIF!!! masih lebih mulia jadi kuli yang bisa membantu membangun dunia daripada jadi maling.
    nb : ngomong2 nama asli lo siapa sich? ga pede yach nyebutin nama asli lo yang berbau “religius”? WkwkwkwkK
    SADAR? lo tuh yg seharusnya ngaca..
    WkWKWKWKWKWKW!!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: