Agus Lenyot

Kekalahan ini Begitu Mahal Harganya

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 22, 2011

Kekisruhan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi sekaligus diantisipasi. Tapi, panitia dan petugas keamanan rupanya tak cukup tanggap. Tak ada tindakan antisipatif serius. Setidaknya itu pengamatanku. Panitia harusnya sadar lawan kita adalah Malaysia. Saudara serumpun yang sering bertindak tak senonoh. Laga ini bukan lagi soal kalah menang, tapi ada harga diri yang dipertaruhkan.

Gelagat tidak nyamannya laga final Sea Games Indonesia lawan Malaysia sudah terasa sejak distribusi tiket. Panitia tidak bekerja dengan maksimal. Kemarin, kekecewaan penonton ditumpahkan dengan membakar loket. Ribuan penonton tidak mendapat tiket padahal sudah antre berjam-jam. Calon penonton yang kesal membakar loket dan menggereduk PSSI. Ini kisruh pertama dan pemantik awal.

Jelang laga Senin kemarin, puluhan ribu penonton sudah memadati kawasan Gelora Bung Karno. Aku,yang baru pulang kerja, termasuk rombongan supporter yang datang dari arah Kota dengan Bus Transjakarta ke arah Blok M. Mereka didominasi abege tanggung. Di halte GBK, antrean penonton sudah merayap. Pada titik ini, potensi ricuh seharusnya sudah bisa diprediksi. Supporter ini secara perlahan merapat ke GBK. Kita nyaris nggak bisa bergerak.

Benar saja, ribuan orang, baik yang bertiket maupun tanpa tiket berkerumun di sejumlah pintu masuk. Apalagi sudah ada isu, petugas bisa disuap agar bisa masuk ke stadion. Yang tanpa tiket berharap dan bersabar petugas akan membuka pintu. Aku hanya nongkrong di depan PSSI sambil melihat situasi di dekat Sektor 21. Disamping sektor ini ada pintu masuk untuk kategori 1. Kondisi perut yang keroncongan tak cukup memungkinkan untuk ikutan berdesakan. Jujur saja, aku tidak senekat abege-abege itu.

Awalnya antrean berlangsung tertib. Tapi kesabaran penonton ada batasnya. Antrean semakin membludak sementara pertandingan akan segera dimulai. Suasana makin gaduh. Ricuh makin riuh. Penonton mulai marah dengan mengacungkan tiket mereka. Lucunya petugas kepolisian, dari Satuan Brimob, begitu mudah disogok. Mereka bekerja sama dengan sejumlah calo. Mulanya yang nyogok cuma satu dua orang. Tanpa tiket, mereka cuma cukup bayar 25 ribu sampai 50 ribu. Lalu ribuan orang lain mengikuti. Bisa dibayangkan, kemarahan penonton bertiket seperti apa.

Pintu ini sempat jebol. Penonton berhamburan masuk termasuk aku sendiri yang punya kesempatan menyelinap. Aku pengen tahu suasana di dalam seperti apa. Di pintu lain, suasananya aku yakin pasti sama. Akhirnya, dari portal berita aku tahu, dua orang meninggal dunia terinjak-injak. Siapa yang salah? Tentu saja karena petugas menyelundupkan tanpa tiket ke dalam stadion. Penonton di dalam stadion jauh melebihi kapasita. Seharusnya panitia tegas saja melarang penonton tanpa tiket masuk. Ini penyebab utama kedua.

Di kategori satu, belasan cewek pingsan karena kelelahan. Beberapa bahkan kesurupan. Di kategori ini juga banyak penonton yang membawa keluarga. Anak-anak kecil ikutan berdesakan. Akhirnya banyak juga orang tua yang menyerah dan hanya duduk saja di pelataran tribun. Sedihnya, tidak banyak petugas medis yang bersiaga. Hal ini diperparah dengan sinyal telepon yang memble. Kita tidak bisa menerima dan melakukan panggilan. Siapapun juga akan kesulitan berkomunikasi dengan kondisi macam begini.

Aku sedih mendengar dua supporter meninggal terinjak-injak. Aku bagian dari mereka. Aku juga ikutan antre dan berdesakan. Kemungkinan kematian yang mereka alami juga bisa saja juga menimpaku. Kita datang dengan sukacita tapi harus pulang dengan duka. Kita datang untuk bernyanyi bersama, mengumandangkan lagu kebangsaan bareng dan mendukung Garuda Muda. Nasib mereka berakhir tragis.

Sudah seharusnya ada pihak yang bertanggungjawab terhadap kekacauan ini. Panitia dan petugas keamanan harus ditagih tanggungjawabnya. Ini ada dua nyawa melayang sia-sia karena ada ketidakbecusan. Ada manajemen yang kacau balau soal tiket. Ada tanggungjawab yang dilalaikan oleh petugas keamanan. Lihat, secara sederhana, suap sudah membuat seorang dari kita kehilangan nyawa. Sepakbola seharusnya menjadi hiburan yang menyenangkan. Tapi dengan kondisi ini, menonton sepakbola seperti terror menakutkan. Baying-bayang kehilangan nyawa menghantui siapa saja dan kapan saja. Bahkan menjadi petaka bagi mereka yang datang dengan riang gembira. Polisi seharusnya tidak gampang disuap. Mereka menawarkan diri. Lalu disambut oleh orang yang punya hasrat tinggi untuk menonton secara langsung.

Soal lain, area GBK seharusnya steril dari kendaraan roda empat. Ini tentu saja membuat kita lebih nyaman berjalan kaki. Beberapa penonton VVIP dan entah siapapun begitu egois membawa mobil sampai ke halaman stadion. Mereka pikir, tak perlu berpayah-payah ikutan jalan seperti penonton kategori lain. Mereka bahkan dikawal petugas kepolisian.

Mobil yang masuk seharusnya diseleksi. Yang boleh masuk khusus bagi yang urgen dalam keadaan darurat seperti ambulance dan mobil patrol polisi. Namun yang ada, justru mobil pribadi yang bebas keluar masuk diantara kerumunan penonton. Ini menyulitkan ruang gerak penonton yang memang terbatas. Bodohnya, panitia tidak melakukan itu.

Indonesia kalah menyakitkan. Tapi penonton tidak tersulut emosi. Hanya beberapa saja yang yang melemparkan botol air mineral. Itupun langsung diteriakkin kampungan oleh penonton lain. Sisanya, penonton sudah cukup dewasa. Awal yang baik sebenarnya bagi manajemen supporter.

Kekalahan ini ternyata begitu mahal harganya. Meskipun begitu, Garuda tetap di dadaku. Di dada kita semua!

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on November 24, 2011 at 4:27

    Saya juga salut tidak ada insiden yang parah setelah kekalahan ini, penonton sepertinya cukup bisa menerima kekalahan dari Malaysia walaupun pasti menyakitkan. Tapi yang menyedihkan tentu saja tewasnya 2 orang penonton itu, benar-benar kasihan. Tidak terbayang bagaimana sedihnya keluarga mereka dirumah menerima kabar tersebut.

  2. Noah Pasagranto said, on Desember 20, 2011 at 4:27

    Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: