Agus Lenyot

Melihat Indonesia di Jalan Raya

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on November 27, 2011

Jika ingin lihat Indonesia dalam miniatur, tengoklah jalan raya hari ini. Itulah Indonesia yang sesungguhnya.

Aku berpikir macam begini setelah melalui hari-hari yang melelahkan di Jakarta. Jalanan adalah pertempuran berbagai macam kepentingan. Katakanlah destinasi menjadi piala yang harus diperebutkan. Dengan cara apapun.

Sebagai anak rantau yang tidak membawa kendaraan, daya jelajahku sangat bergantung pada transportasi publik. Kopaja, Metromini atau Bus Transjakarta. Selebihnya, tergantung seberapa kuat kaki melangkah. Untungnya, Jakarta terbilang lumayan menyediakan fasilitas ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kota asalku, Denpasar, yang sama sekali tidak ada ramah-ramahnya bagi perantau tanpa sepeda motor.

Oke, balik soal Indonesia di jalan raya.
Kepentingan orang banyak sering terabaikan di jalan raya. Aku, sebagai penumpang umum merasakan itu. Ilustrasinya begini: angkutan umum membawa orang banyak. Anggaplah dia mewakili kepentingan publik. Angkutan umum melayani banyak orang pada waktu dan ruang yang nyaris sama. Padanya disandarkan harapan tentang keamanan, kenyamanan dan keselamatan. Sekaligus tujuan akhir.

Karena angkutan ini menjadi harapan banyak orang, tentu saja harus ada perbaikan-perbaikan komprehensif. Aku mendambakan angkutan yang terjangkau, aman sekaligus nyaman. Tapi yang aku alami justru jauh panggang dari api. Sopir ugalan-ugalan, berhenti dimana saja, kotor dan tidak comfortable. Belum lagi jika ditambah ancaman copet dan todongan pengamen mabuk. Penumpang bahkan bukan jadi prioritas karena sewaktu-waktu harus dioper ke angkutan lain jika sepi penumpang.

Tapi begitulah, harapan orang banyak dan kelas menengah ke bawah biasanya bukan prioritas. Manis di tataran wacana tapi realisasi jalan di tempat. Dampaknya sederhana, kepentingan publik terabaikan. Gambaran tentang angkutan umum ini rasanya terjadi di semua daerah di Indonesia, tak hanya Jakarta.

Entitas kedua adalah sepeda motor. Dia mewakili sekaligus cerminan masyarakat kita yang agresif dan individualistis. Apalagi jika acuannya adalah pengendara Harley Davidson. Tengoklah bagaimana angkuhnya pesepeda motor kita bertingkah di jalanan. Ngebut, knalpot memekakkan telinga plus klakson yang menjerit-jerit.

Sedihnya lagi, mereka sering mengabaikan hak orang lain. Menyerempet mobil, melanggar marka jalan atau ambil jalur pengendara lain seperti bus Transjakarta. Menerobos lampu merah adalah hal paling jamak kita temui. Yang lain, mereka suka menyerobot trotoar, wilayah yang seharusnya menjadi hak pedestrian. Kacaunya, mereka tak malu membunyikan klakson dan menyuruh pejalan kaki minggir. Lihat, di wilayah yang bukan hak mereka berani menafikan hak pemilik sah ruang itu. Bukankah ini cerminan kelas menengah kita?

Angkuh, egois dan tak taat aturan.

Pejalan kaki kita ibaratkan bagian kelas bawah. Inilah perwakilan kaum tertindah negeri ini. Mereka entitas paling tak berdaya sekaligus paling lemah di jalanan. Sudah haknya diserobot pesepeda motor, mereka harus berbagi ruang dengan pedagang kaki lima. Belum lagi ancaman penjambretan dan pencopetan. Pejalan kaki ini tentu saja bagian dari pengguna angkutan umum. Berapa kali hak mereka diabaikan?

Terakhir, kelas paling memuakkan di jalan raya adalah pejabat. Mulai dari bupati, menteri hingga presiden. Kategori ini paling banyak mendapat keistimewaan. Saat melintas dikawal patroli polisi. Semua pihak wajib minggir! Ada motor polisi yang bertugas untuk sterilisasi jalanan. Raungan sirine itu, bagi saya itu adalah simbol keangkuhan sekaligus ketidakbecusan. Tanggungjawab keruwetan jalanan seharusnya dibebankan kepada mereka.

Karena itu, tidak pantas mereka diberi perlakuan istimewa. Bahkan, kelas ini harus diajak berbagi untuk merasakan bagaimana stress di jalanan. Toh, keruwetan jalanan juga akibat kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan publik. Harapannya, setelah turut merasakan, ada upaya signifikan untuk melakukan perbaikan. Kita harus memperbaiki logika ini. Enak betul mereka, sudah nggak becus mengelola mendapat keistimewaan pula.

Jadi begitulah, Indonesia yang sesungguhnya bisa ditemukan di jalanan. Ini adalah cerminan demokrasi, sistem yang selama ini kita junjung tinggi. Sistem yang sama sekali tidak pernah keberpihakan terhadap rakyat kecil. Kita selalu menjadi korban. Termasuk aku, kamu. Kita!

Sedihnya, itu terjadi di Indonesia. Negeri yang aku cintai hingga hari ini. Haruskan kita berdiam diri?

Iklan

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on November 28, 2011 at 4:27

    pas sekali, saya sangat amat setuju dengan tulisan ini! Ternyata memang jalanan menjadi cermin kondisi negara kita.

    Oya, masalah kemacetan di Bali Selatan belakangan ini, saya pernah bikin curhatnya di blog, ini dia :

    http://imadewira.com/macet-oh-macet/

  2. a! said, on Desember 13, 2011 at 4:27

    kalau tidak berdiam diri terus ngapain? mau lempar mobilnya pejabat pas lewat? 😀

  3. yodie said, on Desember 19, 2011 at 4:27

    kamu pindah ke jakarta skrg nyot?

    • Agus Lenyot said, on Desember 22, 2011 at 4:27

      kebetulan keterima di Jakarta pakbro. Ayook menyusul ke sini :))

  4. Jennifer Xuzyxis said, on Desember 23, 2011 at 4:27

    Atau jika dalam keseharian kita adalah seorang dokter, tapi memiliki bakat bagus melukis, kita bisa menjadi seorang dokter hebat sekaligus menjadi pelukis yang profesional dan komersial.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: